KSP Makmur Mandiri
Rabu, 07 Oktober 2020 16:42:00

HKBP, Huria Na Matoras

BAGIKAN:
Ist
Bachtiar Sitanggang
Oleh Bachtiar Sitanggang

Pada tanggal 7 Oktober 1861 empat Pendeta (Pdt) mengadakan pertemuan di Parau Sorat Sipirok (Tapanuli Selatan) Sumatera Utara,   untuk membagi tugas pelayanan pekabaran Injil di Tano Batak yaitu Pdt. Carl Wilheim Heine, Pdt. Karl Johann Klammer, Pdt. Friederich Wilhelm Betz dan Pdt Gerrit van Asselt. 

Hari itu pulalah awal pelayanan dari Rheinische Mission Gesellschaft (RMG-misionaris dari Jerman dan Belanda) di Tanah Batak, yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestant (HKBP) yang di ambil dari huruf awal nama para misionaris tersebut yaitu H (Heine), K (Klammer), B (Betz) dan Van Asselt (yang dalam bahasa Batak V disebut P).

Hari ini usia HKBP genap 159 tahun, dan telah menjadi gereja yang sudah dewasa atau HURIA NA MATORAS. Perjalanan penginjilan atau penyebaran berita keselamatan di Tapanuli bukanlah mulus, sejak awal penolakan itu sudah merupakan bagian dari penyebaran injil itu sendiri.

Setelah 159 tahun telah banyak asam garam yang mewarnai pelayanan HKBP di tengah-tengah masyarakat dan bangsa Indonesia. Perkembangan pelayanan semakin terasa di Tapanuli setelah Pdt. Dr. IL Nommensen membangun perkampungan Huta Dame (terjemahan dari Yerusalem) di Saitnihuta, menghantarkan HKBP menjadi gereja protestan terbesar di Indonesia dan organisasi keagamaan terbesar ke tiga di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

HKBP sekarang diperkirakan memiliki kurang lebih 6,5 juta jemaat, 1.784 pendeta, 214 guru jemat, 394 Bobelvrouw, 255 diakones dengan 3.627 gereja di dalam dan luar negeri serta 32 distrik.

Dengan motto “Gabe pasu-pasu tu saluhut bangso” (Menjadi berkat bagi seluruh dunia) memiliki tanggungjawab yang besar dan berat dalam memenuhi kebutuhannya sendiri, oleh karenanya harus memiliki kemampuan manajerial yang baik dan benar sesuai dengan perkembangan dan keberadaan jemaat.

Sebagai organisasi gerejawi, HKBP sering terbawa arus dan pengaruh dari kekuasaan dan politik seperti di era Orde Baru sampai mengganggu internal, menimbulkan korban jiwa, harta dan “moral”.

Dari jemat HKBP ada yang mendirikan gereja baru yaitu: Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) dan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD).

Agak menarik tulisan HMT Oppusunggu tentang lahirnya GKPI, sebagai berikut........ “tidak menerima Peraturan Baru Sinode Godang  HKBP, 1962, yang pada gilirannya dianggap mengguncang fondasi Gereja kita (HKBP)...Humuntal Ojahan Ni Huria i: Masa’ Ketua Parhalado Pusat HKBP menetapkan Ephorus Dr. Justin Sihombing harus diganti dengan Ephorus  baru Ds. Tunggul Sihombing sedang Pendeta-Pendeta yang tidak menyetujui perubahan Ephorus tersebut dipindahkan ke ‘PISPIS-RI’. Jadi, di luar Kristologi, Ephorus-baru dijadikan boneka Birokrasi saja sebagai pemimpin HKBP!!! ....

Menurut penulis ini, bahwa huria itu bukan lagi diatur atau peraturan Aturan dan Peraturan huria itu tidak lagi berdasarkan dan tidak sesuai lagi dengan Kristologi atau kehendak Kristus sesuai Alkitab, melainkan sudah berdasarkan pemikiran manusia (Suarakristen.com, Selasa, 3 April 2018). 

Setuju atau tidak setuju dengan tulisan tersebut, terserah penafsiran, tetapi menjelang Sinode Godang HKBP ke 65 Oktober ini (mungkin tertunda karena pandemi Covid-19) perlu belajar dari sejarah, sekaligus introspekti apakah para pelayan HKBP sebagai Huria Na Matoras benar-benar menjadi berkat bagi seluruh dunia? Apakah Aturan dan Peraturan HKBP masih berdasarkan Firman Tuhan atau sudah birokratis-perhitungan duniawi tidak lagi berdasarkan Alkitab seperti yang dikemukakan HMT Oppusungguh di atas?  

Kita tertarik juga dengan khotbah Epohrus (Emiritus) WTP Simarmata (di youtube), -tidak tahu kapan dan dimana- mengingatkan kita bahwa HKBP sebagai Huria Na Matoras, parhalado dan jemat sudah berbuat apa? Apakah sebagai obat nyamuk bakar saja berkutat di dalam? Apakah para “gembala” masih pekerja di ladang Tuhan atau sudah bertindak sebagai pemilik gereja (tubuh Kristus) itu?
Kericuhan jemat berani menarik pendeta dari mimbar sampai jubah robek, sudah keterlaluan. Apakah tindakan itu bukan penyaliban-penyaliban Kristus jaman sekarang? Apakah Huria Na Matoras tidak sekaligus matoras dalam mengelola dan menyelesaikan permasalahan? 

Gembala yang baik selalu didengar domba-dombanya, apakah gembala itu tidak lagi mengedepankan penyertaan Roh Kudus dan mendahulukan suara hati dan keinginan dunia, sehingga ditolak gembalaannya? 

Di ulang tahun ke 159 ini perlu ada perenungan sekaligus kembali ke jalanNYA, agar para gembala itu diberkati Tuhan untuk menjaga domba-dombaNYA, agar HKBP benar-benar menjadi berkat bagi dunia. Selamat Hari Ulang Tahun.*

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.
  BeritaTerkait
  • Jamita Evangelium, Minggu Jubilate, 22 April 2018: Marlas ni Roha di Bagasan Tuhan i (1 Tessalonik 2: 13-20)

    3 tahun lalu

    Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Sian Parsameanta, STT-HKBPJubilate = Marolopolop tu Debata Sandok Tanoon1.Molo tajaha surat 1 Tessalonika on sian bona sahat tu ujung, tangkas situtu do digurithon&n

  • Jamita Evangelium Minggu Pentakosta I, 20 Mei 2018 "Nunga Dilehon Debata Tondi Porbadia tu Nasa Bangso" (Ulaon Apostel 10: 44-48)

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Parsameanta, STT-HKBP, PematangsiantarPatujoloSomal do di parmingguon parningotan di hasasaor ni Tondi Porbadia di angka huria di portibion nasailaon dienet ba

  • Jamita Evangelium 28 April 2019, Minggu Quasigodogeniti Manongtong Mangihuthon Jesus (Johannes 21: 15-19)

    2 tahun lalu

    Sian Parsameanta di PematangsiantarSTT-HKBP.Pdt Dr. Robinson Butarbutar Hp/WA: 0812-62472015Marasing sian isi ni bagian pangujungi ni Evangelium Markus (disurathon taon 69/70), Lukas (disurathon taon

  • Warga HKBP Harus Mangaplikasikan Firman Tuhan dalam Keluarga yang Berbudaya

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) Panitia Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan Aceh akan menggelar Seminar Budaya, Sabtu (21/5/2016) di HDTI Convention Hall Medan. Seminar ini merupakan rangkaian kegiatan yang

  • Otoritas Jasa Keuangan dan HKBP Gelar Seminar Keuangan di Kupang

    4 tahun lalu

    Kupang (Pelita Batak):   Otoritas Jasa Keuangan dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menggelar seminar sehari tentang keuangan di Aula Hotel Sotis Kupang, Senin 6 Juni 2016. &n

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb