KSP Makmur Mandiri
Kamis, 08 Juli 2021 13:43:00

Bupati Sibuk “Mencuci Piring Kotor”

Oleh: Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak
Ilustrasi

MUNGKIN tidak hanya di Kabupaten Samosir, Bupati-nya yang baru dilantik seratusan hari masih harus “gamang” dan masih mencari-cari apa yang akan dilakukan dan mau mulai dari mana, di samping menjalankan roda pemerintahan dan hal-hal rutin.

Tapi mungkin khusus bagi Vandiko Timotius Gultom dan wakilnya Martua Sitanggang, jauh lebih berat dibanding Bupati atau Walikota lain yang baru menjabat. 

Mengapa lebih berat, ada dua alasan. Pertama, si anak muda Vandiko lahir di Kalimantan dan besar serta berkarier di Surabaya. Wakilnya Martua Sitanggang, lahir di Pangururan Samosir tetapi besar dan berkarier di Jambi sebagai ASN. Kedua, 17 tahun Kabupaten Samosir belum memiliki dasar-dasar pembangunan yang sesuai dengan kondisi daerah apalagi masyarakat setempat.

Pemerintah sebelumnya menitik beratkan sektor pariwisata sementara rakyatnya 80-85 % adalah petani, dengan kata lain kehidupan rakyatnya sebagai petani belum terprogram kalau tidak terabaikan.

Mungkin, maaf terlalu banyak menggunakan kata “mungkin”, karena Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya tidak memadai, maka anggaran yang ada menjadi “inceran” semua pihak, akhirnya pelayanan kepada masyarakat menjadi lambat, dan dengan kondisi masyarakatnya yang “makan” saja sulit, karenanya, ada pihak tertentu menempuh jalan melanggar hukum, dengan melihara perjudian.

Begitulah kabar yang beredar Selasa lalu (6/7) Bupati Samosir Vandiko dan wakilnya, seusai memimpin rapat penanggulangan Covid-19 langsung menggrebek perjudian tembak ikan di empat tempat sekitar kantornya dan menemukan 6 mesin judi.

Vandiko melakukan penggrebekan itu, karena dia menerima laporan perjudian itu dengan tiga foto. Setelah menggrebek tempat perjudian itu, dari dialognya dengan pemilik tempat perjudian itu, bahwa perjudian itu justru lebih aman di dekat kantor Bupati dan, bahwa Bupati juga dapat bagian dari usaha haram itu.

Wajar kalau Vandiko marah, kalau dituding Bupati dapat bagian dan lebih aman kalau dekat kantor Bupati.

Mudah-mudahanlah Bupati muda ini tidak suam-suam kuku dalam memberantas penyakit masyarakat, sebab hal-hal seperti itu sudah tiga-empat tahun lalu, masalah narkoba; perjudian tembak-tembak ikan dan toto gelap serta biliard; minuman keras dengan warung tuak yang buka sampai pukul 12 malam.

Bupati juga perlu cek, alat judi, sepertinya sama dengan yang sudah disita beberapa waktu, apa tidak dimusnahkan? Apa tidak ada proses hukumnya?

Seyogianya Bupati  tidak jalan sendiri, dimana Kepala Desa dan apa kerja Camat? Polres-Polsek punya Tim Serse.

Selain penyakit masyarakat Pemkab Samosir membutuhkan ASN yang handal bebas dari KKN. Jangan seperti di derah lain yang baru dimekarkan. Katanya (katanya ya) para pejabatnya banyak  bekas guru, sehingga penyelenggaraan pemerintahannya juga “gaya guru” mendidik dan mengajar dalam ruangan dengan jumlah terbatas beda dengan Pamong betugas memenuhi kebutuhan orang banyak.  Mudah-mudahan itu hanya asumsi saja.

Di daerah lain  banyaknya guru diangkat menjadi pejabat daerah, karena golongannya memenuhi syarat walau pembidangannya tidak sesuai,  jenjang pendidikan memadai dan golongan memenuhi, secara administratif tidak menyalahi.

Sementera para pejabat dari instansi lain enggan pindah ke daerah pemekaran walaupun golongan dan jabatan memungkinkan, kecuali yang mau pensiun “kembali ke kampung”. Kurang lebih demikian, kata orang.

Oleh karena itulah, tugas berat bagi bupati/walikota baru, antara lain “mencuci piring” yang kotor ditinggal pendahulunya, salah satunya penyakit masyarakat yang tidak diberantas sebelumnya.

Kemudian memperbaiki sistem, meletakkan dasar-dasar pembangunan bagi masyarakat termasuk menempatkan orang yang sesuai dengan kebutuhan, kompetensi, integritas, ditambah terutama untuk menghadapi tekanan berat pandemi Covid-19 dan akibatnya. 

Tugas pertama Bupati Samosir adalah meningkatkan taraf hidup  masyarakatnya yaitu tercukupinya pangan.  Sebab mengejutkan kalau ada yang bilang anak-anak sedang mengalami stunting sebagai akibat dari kurangnya asupan gizi yang cukup lama sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. 

Berbagai masalah akan mudah diatasi kalau kelaparan dapat dihalau, dan seluruh lapisan masyarakat akan mudah digerakkan untuk meningkatkan kesadaran untuk kebaikan bersama. Kalau masyarakat sehat  Pemerintah Daerah pasti akan kuat.***


Penulis adalah watawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

  BeritaTerkait
  • Bobby Berantas “Ingot-ingot”

    2 minggu lalu

    MEMBACA kegiatan Walikota Medan, Sumut, Muhammad Bobby Afif Nasution dapat  menambah immun (ketahanan) tubuh menghadapi pandemi Covid-19 ini, selain seolah “menantang maut” juga &ldqu

  • GAMKI Berkabung, Ketua DPC Medan Parulian Tampubolon Meninggal Akibat Covid-19

    10 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Kabar duka datang dari keluarga besar Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia. Parulian Tampubolon yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GAMKI Medan dan juga menjabat K

  • Sosialisasikan Perbup Nomor 40 Tahun 2020, Wabup Taput Tekankan Disiplin Protokol Kesehatan

    11 bulan lalu

    Taput (Pelita Batak):Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan, M. Si diwakili Wakil Bupati Sarlandy Hutabarat, SH didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesra Parsaoran Hutagalung memimpin rapat Sosialisasi Pe

  • Bupati Tapsel : Jangan Anggap Enteng, Pandemi Covid-19 Belum Berakhir

    4 bulan lalu

    Tapanuli Selatan (Pelita Batak) : Bupati Tapanuli Selatan  Dolly Putra Parlindungan Pasaribu, mengimbau segenap masyarakatnya, agar jangan pernah menganggap enteng Covid 19 yang masih belum

  • Penggemukan Keluarga Dan Kroni

    9 bulan lalu

    SAYA hampir setiap saat “terganggu” sekaligus “terhibur” akibat ulah seorang teman, selalu dia mengirim WA dengan ide brilian, hampir semua masalah internasional, nasional dan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb