KSP Makmur Mandiri
Jumat, 07 Agustus 2020 19:06:00

"......PORA PORA NIUSEHON....."

Oleh Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
ist
Bachtiar Sitanggang
KMP PORA PORA menambah kemudahan bagi masyarakat Pulau Samosir menyatu dengan Pulau Sumatera yang dipisah oleh Danau Toba, pulau indah yang di dalam pulau Sumatera ini semakin dilengkapi dengan transportasi penyeberangan.

Kapal motor milik PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (PT ASDP, Persero) itu Kamis, 16 Juli 2020 lalu mulai melayani penumpang dari Balige (Kab. Toba) ke Onanrunggu Pulau Samosir (Kab. Samosir) pulang pergi.

PT ASDP sebelumnya telah mengoperasikan KMP IHAN BATAK melayani Ambarita (Samosir) dengan Ajibata (Kab. Toba) yang berdekatn dengan kota turis Prapat (Kab. Simalungun).

Pora-pora adalah jenis ikan kecil yang banyak di Danau Toba, karena begitu terkenalnya ikan ini, sampai dijadikan lagu (maaf, saya tidak tahu pengarangnya) yang liriknya "Dekke Julung-julung.....disuruk ho da bona ni tolong.....", refreinnya dilanjutkan, ....."sibahut nidurung inang da, Da pora-pora niusehon inang da, sai tangis-tangis tarlungun-lungun inang da, na so adong da inang da naparosehon", artinya: menangis tersedu-sedu tidak ada yang memperdulikan.

Lagu tersebut mengisahkan percintaan muda-mudi, tetapi ada kaitannya dengan kehadiran KMP Pora-pora, bagi masyarakat Pulau Samosir yang tidak perlu lagi "tersedu-sedu" dengan terbatasnya transportasi, sebab dulu sungguh menyengsarakan.
Tujuhpuluh lima tahun RI merdeka, baru Joko Widodo "parosehon" (mempedulikan) Samosir, sama seperti bandara Silangit. Samosir selama ini hampir berdiri di atas kaki sendiri dalam hal transportasi penyeberangan Danau Toba, hanya dengan jasa para pengusaha swasta pemilik kapal kayu dan atas kepeloporan pengusaha OTB Sitanggang  sejak tahun 1982 dengan PT Bintang Sakti Maju membangun KPM TAO TOBA I dan TAO TOBA II menghubungkan Ajibata (Toba) dan Tomok (Pulau Samosir) sampai sekarang. Bagi sebagian masyarakat menganggap usaha itu sebagai "memanusiakan manusia" masyarakat Samosir.

Mengapa dianggap  "memanusiakan manusia" masyarakat  Samosir, ada alasannya. Orang Samosir ke luar atau kembali ke Pulau Samosir tergantung pada ketersediaan kapal kayu angkutan penyeberangan  yang sangat terbatas, sebab tidak ada setiap hari, kalaupun ada jam 13.00 atau jam 14.00 harus  kembali ke Samosir, dan calon penumpang yang terlambat akan  terlunta-lunta menunggu besok atau dua tiga hari lagi ada kapal  dari Samosir, dapat dibayangkan kalau ada orang sakit atau membawa anak bayi.
Pintu masuk dan keluar Samosir adalah melalui Haranggaol, Tigaras, Tigaraja (Kab. Simalungun) dan Ajibata sekarang, Balige yang setiap minggu ada hari onan (pekan/pasar), selain tertinggal kapal (tongkang) calon penumpang sering juga mengalami kehilangan barang bawaan atau dagangan, termasuk perlakuan tidak baik dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

 Dulu, penumpang bawa tiga karung beras, sekejap mata bisa hilanh dua karung. Untung ada keluarga atau Toko/Kedai Kopi yang baik hati tempat menginap bagi calon penumpang yang tertinggal semalam dua malam. atau penyimpanan barang di dekat pelabuhan.

Suatu hari Sabtu di Pangururan, Hotraja Sitanggang siswa SMA di Medan (terakhir Kolonel TNI AD) adik bungsu OTB Sitanggang (Pengusaha ferry Tao Toba), datang meminta jasa seorang polisi Krisman Sitanggang, untuk  mengantar dia pulang ke Medan dengan mengawal dari kapal sampai ke bis jurusan Medan di Tigaraja. Namun tidak bisa hari Minggu itu sang polisi piket. Hot Raja akhirnya memutuskan lewat Balige, ke Medan. 

Hot Raja pelajar SMA di Medan ketika libur pulang lewat Tigaraja mau naik kapal ke Pangururan. Saat turun dari bis, dia melihat seorang gadis menangis ditarik dan dipaksa beberapa orang agen (calo) bis PMH, sementra sang gadis mau naik bis Sariburaja.
Naluri Hotraja bertindak melepaskan gadis itu dan masuk bis Sariburaja, namun perkelahiantak seimbang terjadi. Hotraja menghindar dan masuk kapal, dan aman.

Persoalan belum selesai, sebab mau pulang ke Medan harus lewat Tigaraja, karena tidak aman maka dia lewat Balige. 
Di awal Orde Baru di pelabuhan atau stasiun bis, angkutan dan penumpang diatur organisasi kesatuan pekerja dari partai politik, akibatnya bongkar-muat dan pengangkut barang bermasalah menganggu keberangkatan kapal ke Samosir. Di Haranggaol Senin dan Kamis hari pekan (onan), terjadi perselisihan "terpaksa" kapal dari Pangururan dikawal polisi.

Konon, di Balige, hari Jumat, barang bawaan atau dagangan yang dalam keranjang sering diinjak seseorang agar jatuh dari kapal ke air, bahkan ayam dan babi juga sering lepas. Akibatnya, pedangang gigit jari dengan tangan hampa pulang, mungkin tidak makan. Setelah kapal pulaNG, beberapa orang menyelam mengumpulkannya.

 Itulah sekelumit "tangis tarlungun-lungun" orang Samosir jaman dulu, "tangis tersedu-sedu tiada yang mempedulikan", sekarang tidak begitu lagi.

Sekarang  masyarakat Samosir tinggal menikmati dan mensyukurinya, kehadiran  KMP IHAN BATAK dan KMP PORA-PORA. Masyarakat Samosir seyogyanya memperlakukan kapal itu sebagai milik sendiri,  karenanya harus dirawat kebersihannya, sebab yang menggunakannya hanyalah orang Samosir, kalaupun ada orang luar hanya sesekali doang (parsahalian).

Orangtua dan guru perlu menanamkan rasa kepemilikan kepada anak-anak agar tidak main corat-coret, membuang sampah ditempat. Pemuka agama dan masyarakat supaya mengingatkan warganya mensyukuri berkat Tuhan, kalau tidak bisa membantu paling tidak jangan merusak. 

Khusus para Pamong dan aparat,  parpol dan ormas, supaya menjadi panutan, memarkir kendaraan, antri tiket,  sebagai orang terpandang jangan  main terobos. Mari kita tunjukkan rasa syukur dengan memeliharan berkat, asa tanda "Anak ni Raja". Selamat bagi masyarakat  Pulo Samosir Nauli.***  

Penulis adalah watawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta. 

  BeritaTerkait
  • Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah (3-Selesai)

    2 tahun lalu

    Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP4. Masa Kerajaan (Saul hingga Yoyakhin).a. Seruan pertobatan para nabi sebelum pembuangan dan membisunya umatPara nabi dipanggil oleh Tuhan un

  • Sekdakab Humbahas Berangkatkan Atlet Wushu mengikuti Kejurda Wushu Sumut

    4 tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Sekdakab Humbahas Saul Situmorang memberangkatkan atlet wushu sanda (tarung bebas) untuk mengikuti Kejurda Wushu Sumut tahun 2016 di Medan. Ikut hadir Kadis Perindagkop

  • Awal 2017, Ribuan Benih Ikan Tawes dan Nila untuk Danau Toba

    4 tahun lalu

    Parapat (Pelita Batak) :Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) HT Erry Nuradi menabur ribuan benih ikan tawes dan ikan nila ke Danau Toba, Minggu (8/1/2017). Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Provsu Evi Diana Erry Nuradi, Sekda Provsu Hasban Riton

  • Raker di Tepian Danau Toba, Harapkan Ide Segar Menuju Sumut Lebih Paten

    4 tahun lalu

    Parapat (Pelita Batak) : Membuka lembaran tahun 2017 ini Pemerintahan Provinsi Sumut dibawah kepemimpinan Ir H Tengku Erry Nuradi MSi (Gubsu HT Erry Nuradi) langsung menunjukan kinerjanya. Setela

  • Mess Tengku Rizal Nurdin Sekelas Bintang Tiga Diresmikan di Parapat

    4 tahun lalu

    Parapat (Pelita Batak) :Setelah pembangunannya sempat terhambat dan kurang mendapat perawatan secara baik akhirnya Mess Pora-pora Tengku Rizal Nurdin menjelma menjadi salah satu Icon di kawasan wisata Danau Toba. Mess yang sejatinya telah dibangun sejak 2

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb