• Home
  • Budaya
  • Tentang Tortor dan Tari Batak Toba itu....(Bagian 2)
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 12 Mei 2020 06:00:00

Tentang Tortor dan Tari Batak Toba itu....(Bagian 2)

BAGIKAN:
Courtesy Youtube
Berbagai konten tortor di Youtube
Oleh : Sampe L. Purba

NAMUN DEMIKIAN/ Nang pe songoni , setelah saya coba sampaikan pandangan saya ini kepada beberapa akademisi, praktisi dan budayawan, mereka memberikan view yang beragam, a.l  sebagai berikut :

Prof Mauly   :  Tortor adalah perlakuan adat. Karena itulah ada yang disebut adat ni tortor, seperti seseorang tidak akan menari sebelum sarune dimainkan. Tradisi gondang adalah the musical symbol of adat, karena itulah ada adat ni gondang. Semua gondang ada tortornya, kecuali gondang ni pargonsi (sipitu gondang). 

Selain gondang sabangunan, juga dikenal gondang hasapi. Gondang hasapi ini agak longgar penggunaannya, namun tidak digunakan untuk ulaon adat seperti adat saur matua misalnya. Komunitas Ugamo Malim dalam Upacara Sipaha Sada menggunakan gondang hasapi dalam acaranya. Sedangkan dalam upacara Sipaha Lima - pameleon bolon - yang dipakai adalah ensambel gondang sabangunan. 

Improvisasi gondang hasapi semakin berkembang dan variatif ketika di tahun 60 an seniman folklore Batak, Tilhang Gultom memperkenalkan opera Batak. Langgam lagu lagunya compatible dengan gerak tarian tumba tumba yang menghibur. 
Rizal Siagian  : 

Dalam teori difusi kebudayaan, seperti yang diungkapkan tokoh etnomusikologi, Curt Sach, dalam mengukur budaya kreatif di tengah persebaran benda, konsep musikal maupun elemen kesenian seperti tari, ada dua pandangan/ teori, yaitu teori mono genesis dan teori poly genesis. 

Teori monogenesis berpandangan bahwa suatu tradisi seperti alat musik dan komposisi yang berasal dari satu budaya, memberi pengaruh dan warna yang kuat kepada budaya lain di luar budaya asalnya. Teori polygenesis adalah kebalikannya. Satu benda - seperti gong misalnya - bisa diciptakan di tempat yang berbeda beda. Dengan demikian, kebudayaannya tidaklah lebih rendah dari budaya baru yang masuk. 

Pandangan yang lebih berorientasi kepada kepentingan ekonomi atau pariwisata, yang meninggalkan kontekstualitas ekspresi esensi seni itu, dapat berubah menjadi pendangkalan yang kehilangan rohnya. 

Seniman akademisi ini justru mengingatkan dan berharap agar kreativitas kebudayaan Batak seperti kesenian Batak kelak mampu menyajikan layer-layer kesejarahan, yang tidak menghilangkan dan terserabut dari akar aslinya.

My view (SP) : Saya dapat memahami jalan berfikir kedua pakar ini. Namun demikian, saya selalu berpendapat bahwa kita berada di dunia nyata. Kita tidak sedang berada di lab atau ruang isolasi atau ruang magnetik di mana kita menjad epicentrum dari budaya luar.  Ada kompetisi, ada ruang untuk kompromi. Pragmatisme itu tidak jelek jelek amat, jika dimaksudkan adalah untuk penyesuaian dan mempertahankan ruang hidup. Benang merahnya yang penting kita pegang. 

Antara yang  ideal (seharusnya / das sollen) dengan yang hidup berkembang (das sein) terkadang harus ada ruang dialog kompromi. 
Lagi pula, bukankah bahwa kebanyakan dewasa ini, tortor misalnya, tidak lagi dalam fungsi aslinya sebagai medium dan instrumen ritual. Pengecualian tentu diberikan kepada Penganut Ugamo Malim misalnya. Sebagaimana diungkapkan dalam Irwansyah Harahap "Hata ni Debata - etnografi kebudayaan spritual - musikal Parmalim Batak Toba", gondang, baik gondang sabangunan atau gondang hasapi maupun tortor adalah bagian yang integral dari ritual religiositas itu. 

Apakah para Seniman dan praktisi musik kita tidak dapat menyajikan tari atau tumba atau performance yang juga ada unsur tortornya, tetapi dengan kemasan kontemporer ?. Dalam istilah yang saya pergunakan kemarin "Tontonan - Tuntunan". Adalah fakta bahwa para musisi dan praktisi musik tradisi telah jauh tertinggal dan tersingkir dibandingkan dengan musisi kontemporer. 

Wayang dalam konteks budaya Jawa adalah salah satu contoh yang baik. Kalau mengikuti pakem aslinya bisa berlangsung semalam suntuk. Terbagi dalam 3 babak, yang memiliki 7 jejeran (adegan) dan 7 adegan perang. Ki Dalang pun harus taat kepada pakem dan bahasa kromo inggil tingkat dewa. Tetapi faktanya ... sejak zaman dulu pun... adegan yang ditunggu tunggu rakyat kebanyakan adalah adegan goro-goro. Adegan bahasa rakyat...ketika dalam lakonnya para punggawa dan kesatrya sedang berasyik masyuk di peraduan. Wayang modern ? Sekarang cukup dua jam. Itu telah meliputi hiburan, falsafah hidup maupun pesan pesan yang ingin diselipkan. Ki dalangpun melengkapi pengetahuannya dengan hal hal yang kekinian. 

Saya pernah menghadiri satu acara pagelaran musik malam panjang di Toba Dream, di bilangan Jakarta Saharjo. Pengunjung di malam itu bervariasi. Ada yang sudah di atas setengah baya seangkatan saya, tetapi lebih banyak yang muda-muda energik. Para penyanyi yang ditampilkan bervariasi. Termasuk artis penyanyi yang sudah menelurkan album bahkan di tahun 80 an.  Suasana adem, biasa biasa saja. Bagi orang sebaya  saya itu adalah lagu lagu romantisme nostalgik. 

Kemudian tampillah Bung Viky Sianipar... musisi modern yang mampu mengharmonikan dan memberi ruang hidup bermartabat terhadap musik musik era lama. Lagu yang dibawa adalah lagu tahun 60 an ... Jamila - sebuah lagu opera rakyat tahun 60 an, karya Tilhang Gultom.  Begitu lagu tersebut dibawakan, dengan hentakan dan komposisi bernuansa modern, hall musik itu mendadak hidup. Bersemangat. Anak anak muda itu berjingkrak jingkrak. Fenomena ini menunjukkan ke saya bahwa bung Viky berhasil melakukan riset pasar, menjaga marwah musik,  namun tetap dapat merawat konstituen stakeholdersnya. Ya komunitas yang muda muda itu. Merekalah renewable energy untuk sustainabilitas pasar musik batak di masa depan. 

Para Pelaku Seni, memiliki kapasitas, kapabilitas dan bakat alami yang kuat. Hanya, menurut pendapat saya - sekali lagi pendapat saya - mereka perlu mendengar dan menyesuaikan dengan stakeholders. Pasar adalah stakeholders utama. Asahlah kreativitas, yang tetap mengandung roh musik tradisi, dalam nuansa kekinian. 
Horas 
  BeritaTerkait
  • Tentang Tortor dan Tari Batak Toba itu....(Bagian 1)

    4 minggu lalu

    Oleh : Sampe L. Purba Belum lama ini ada perbincangan serius di satu komunitas, sehubungan dengan dipostingnya satu "tutorial gerak dasar tari batak toba", yang sepertinya diperankan oleh bukan o

  • Persiapan Festival Danau Toba di Taput Dimantapkan

    4 tahun lalu

    Tarutung (Pelita Batak) :Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) terus bersiap dan mematangkan segala kelengkapan untuk pelaksanaan Festival Danau Toba (FDT) tahun 2016. Dimana Taput menjadi tuan rumah Festival Danau Toba (FDT) 2016, yang akan diselen

  • Pawai Pembangunan Semarakkan HUT Kemerdekaan RI Diikuti Barisan Wartawan

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Puluhan ribu warga masyarakat antusias menyaksikan pawai pembangunan dalam rangka memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia  di sepanjang Jalan Diponegoro Medan, K

  • Siapa yang Mau Menari Tor Tor? Datang Saja ke CFD

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak):Siapa yang berani membantah keindahan dan eksotisme Danau Toba. Danau terbesar di Indonesia ini selalu mampu menarik perhatian wisatawan. Minggu (4/11), pesona Danau Toba bisa d

  • Wapres Buka Musyawarah Masyarakat Adat Batak 2016

    4 tahun lalu

    Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengatakan, perbedaan suku, adat istiadat dan agama justeru membuat Indonesia kuat. Perbedaan tersebut juga merupakan kekayaan khazanah bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb