• Home
  • Agama
  • Renungan pada Ibadah Pembukaan Konas Remapping HKBP, Menyongsong Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) 28 Pebruari 2020 di Balikpapan
KSP Makmur Mandiri
Jumat, 06 Maret 2020 06:56:00

Renungan pada Ibadah Pembukaan Konas Remapping HKBP, Menyongsong Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) 28 Pebruari 2020 di Balikpapan

BAGIKAN:
ist
Robinson Butarbutar
Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP

Teks: Jeremia 29: 7 Usahakanlah kesejahteraaan/syalom kota ke mana kamu Aku telah kubuang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan sebab di dalam kesejahteraan/syalomnya menjadi kesejahteraan/syalommu (Terjemahan sendiri).
RSV: But seek the welfare of the city where I have sent you into exile, and pray to the LORD on its behalf, for in its welfare you will find your welfare.

Para Pemimpin HKBP, para pendeta, para pelayan, warga dan undangan yang saya hormati dan sayangi.
Alkitab kita ini mencatat banyak tindakan, nasehat, nilai-nilai, malah prinsip-prinsip dan inspirasi-inspirasi dari Allah yang paradoxis.
Menurut Oxford Dictionary, paradox berarti:  "A seemingly absurd or contradictory statement or proposition which, when investigated, may prove to be well founded or true" (Terj: Suatu parnyataan atau usulan yang kelihatannya aneh yang, jika diinvestigasi, bisa sangat berdasar dan benar.").

Sebagai contoh, saat dikritisi pemberitaan injil olehnya tidak memakai hikmat kaum filsuf Sophist yang sifatnya mempertontonkan kepiawaian orasi,rasul Paulus menyebut menyebut ketika bertugas di Korintus tidak ada yang lain yang ia beritakan kecuali Yesus yang tersalib. Untuk itu ia mengargumentasikan bahwa salib Yesus yang bagi orang Jahudi merupakan kelemahan adalah kekuatan Allah, bagi orang Yunani merupakan kebodohan baginya merupakan hikmat Allah (1 Kor 1: 18-31).
  
Satu tahun kemudian, saat menghadapi para rasul superlatif yang merendahkan kemampuan orasinya, bukannya menunjukkan kehebatan-kehebatannya sebagai professor Farisaisme, lulusan gymnasium Tarsus kota filsafat kedua termasyur setelah Atena, ia malah menyebut-nyebut kelemahannya sebagai kekuatan, seperti tidak dijawabnya tiga kali doanya untuk kesembuhan penyakitnya:"Di dalam kelemahan kekuatan Allah nyata" (2 Kor 12: 10).  

Pada kesempatan lain, pada saat menceritakan kinerjanya sebagai rasul yang bekerja tanpa membebani pendengar injilnya di tengah-tengah mereka,  kepada para penatua jemaat-jemaat Kristen di kota Epesus yang telah datang ke Miletus mengutip sebuah logion Yesus yang telah beredar yang berbunyi demikian: "Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima" (Kis 20: 35). 
Yesus sang Rabbi par-excellence juga mengajarkan kepada para muridNya, begini: "Barang siapa memertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapakehilangan nayawanya karena Aku, ia akan memerolehnya" (Mat 10: 39). 

Terakhir, tentu kita tidak lupa salah satu ucapan bahagian yang Yesus ajarkan di bukit yang telah menjadi khotbah di tengah-tengah kebaktian Minggu HKBP tgl 2 Pebruari i: "Berbahagialah orang yang lapar karena mereka akan dikenyangkan (Mat 5:6). 
Demikianlah halnya juga apa yang Allah firmankan lewat nabiNya Jeremia kepada kaum terbuang mantan orang-orang penting, terdidik, pemimpin dan bangsawanJuda di Babiloniadi mana tenaga dan keahlian mereka yang pernah hidup di ibu kota termasyur Jerusalem yang pernah dipenuhi Gedung-gedung termasuk Bait Allah buatan ahli arsitek dan bangunan kelas wahid dengan bahan kayu kelas tertinggi dari Libanon akan dipakai untuk membangun kota di negeri asing.  Bukannya mereka dinasehati untuk membangun kota di Babilonia apa adanya saja, karena toh suatu saat mereka akan pulang ke negeri asal entah kapan, sebagaimana biasanya bangsa-bangsa yang terbuang buat. Bukannya mereka disabdain untuk mengusahakan shalom mereka dahulu. Tetapi shalom kotalah yang diutamakan, shalom kita menjadi dari shalom kota. Malah mereka diminta menggabungkan usaha dengan doa untuk shalom kota.

Sebaliknya, firman Allah justru meminta mereka untuk  mengusahakan yaitu memikirkan dengan cermat, merencanakan dengan baik dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh(Ibrani:Daras)agar pertama-tama kota di mana mereka tinggal berada dalam suasana di mana terdapathidup yang aman, damai, adil dan sejahtera, mengusahakanShalom, karena di dalam shalom kota itulah men-jadi(Ibrani: haya ) hidup yang ber¬-syalombagi mereka.
 
(a) Nabi Jeremia mengungkapkan hal itu bukan semata-mata karena ia tahu bahwa bangsa terbuang itu akan berada di pembuangan selama 70 tahun, dan firman itu disampaikan tak lama sesudah mereka terbuang. Akan tetapi Allah menyampaikan firman itu karena Ia mau mengajarkan kepada mereka bahwa membangun kota itu dilakukan orang-orang percaya bukan hanya di kampung halamannya, bukan hanya untuk bangsa sendiri, melainkan untuk kota di mana pun mereka tinggal dan bekerja. Untuk bangsa yang lain. 

(b) Hal seperti itulah yang selalu dilakukan oleh orang-orang Jahudi di seluruh tempat di diaspora sejak itu di masa kuno hingga di masa modern dan postmodern. 

(c) Itulah juga yang diteruskan dan dikembangkan oleh para pengikut Yesus di kampung, desa, kota kecil, kota besar, dan ibu kota di mana mereka tinggal.  Itulah yang menjadi dasar mengapa orang-orang Kristen, termasuk orang Kristen Batak di dalam sejarahnya, selalu membangun di daerah di luar kampung halaman aslinya. Malah selama Indonesia merdeka, orang-orang Kristen Batak lebih suka membangun di tempat di mana mereka tinggal. Sering sedemikian rupa sehingga kampung halaman mereka sendiri tidak mereka bangun. Cukup lama ditelantarkan. 

(d) Konas Remapping HKBP ini diadakan atas prakarsa Ephorus HKBP bukan karena beliau menganut pemahaman bahwa seluruh warga HKBP di Kalimantan ini, 25 jemaat, 11 resort berada di tengah pengasingan apalagi pembuangan. Kita berada di bumi Nusantara. Kita adalah anak-anak bangsa sama seperti anak-anak bangsa lainnya. Sebagai anak-anak bangsa kita bertanggung jawab membangun negeri. Kalau kepada bangsa yang berada di tengah kota di Babilonia Allah meminta kaum cendekiawan, bangsawan dan terdidik Juda agar mengusahakan, daras, syalom, kedamaian yang holistik di negeri lain, maka tidak ada alasan bagi orang-orang Kristen Batak yang tinggal di dan datang ke Ibu Kota yang baru itu untuk tidak ikut mengusahakan di dalam pembangunan Ibu Kota Negara yang baru di Kalimantan ini. 

Menjadi urutan pertama bukan shalom kita, melainkan shalom kota itu. Di dalamnyalah menjadi, manjadi (Ibrani: yihye, dari kata dasarhaya)shalom kita.

Refleksi: Ijinkan saya berefleksi lebih konkrit.

Dalam kurun waktu lima tahun periode pemerintahan Kabinet Indonesia Maju (2019-2024) Ibu Kota Negara yang baru akan hadir. Presiden akan tinggal di sini, Semoi Dua, Kabupaten Penajam Paser, Kalimantan Timur.  Sekitar dua juta orang akan hadir di Ibu Kota Baru dari seluruh nusantara. Ke kota-kota satelit di sekitarnya juga akan datang sejumlah besar anak-anak bangsa dan anak-anak bangsa lain. Perkiraan maksimal umat Kristen adalah 20 persen daripadanya, sekitar 200 ribu orang. Dari antaranya mungkin warga HKBP yang suka mengexpresikan kehidupannya di daerah-daerah selain kampung halamannya itu akan hadir 40 ribu jiwa ke Ibu Kota. Di samping itu, ke kota-kota lain di selitar Ibu Kota mungkin bisa mencapai 20.000 orang dalam masa satu  ke dua dekade. Total akan ada 60.000 orang warga HKBP yang baru yang akan datang. Kepada angka itu kita tambahkan sekitar 17 ribu orang yang sudah berada di sini. Total 77.000 orang.

Bukankah itu merupakan potensi yang besar untuk bagi HKBP mengusahakan shalom pada era Ibu Kota Negara baru di Kalimantan Timur ini?

(a) Jika kita memandang dari kaca mata yang biasa, yaitu kita akan datang ke sini untuk berkompetisi memikirkan untuk diri kita sendiri, maka mungkin kita tidak akan merasa khawatir bahwa kita akan menjadi penonton saja di sini, karena dari sisi SDM warga HKBP memiliki kemampuan yang tinggi. Kita di sini akan mencari kehidupan. Tetapi jika kita memikirkan diri sendiri semata, dapatkah kita mengkategorikan diri kita sebagai orang-orang yang mengusahakan shalom di Ibu Kota Negara baru?

(b) Tetapi jika kita mengikuti paradoks Alkitabiah, paradox Kekristenan, yang sering dilupakan oleh orang-orang Kristen ketika mengadakan urbanisasi pada masa-masa lalu, dengan mengikuti paradox Jeremia 29: 7, maka kehadiran kita di Ibu Kota Negara dan di kota-kota sekitar Ibu Kota Negara ini adalah untuk Mengusahakan shalom di Ibu Kota Negara dan di kota-kota sekitarnya, karena dengan hadirnya shalom di sini, maka di dalamnya jugalah menjadi shalom kita.
- Di sana jelas, urutan utamanya bukan mengusahakan shalom kita, sehingga kita bertindak egoistis, memikirkan diri sendiri, melainkan kita pertama-tama mengusahakan shalom di Ibu Kota Negara dan kota-kota lainnya itu. 
- Di dalam Ibu Kota Negara yang baru akan muncul masalah-masalah yang dapat menjadikan Ibu Kota Negara bukan sebagai shalom bagi penduduk, sebaliknya yang akan terjadi.

(c) Karena itu, di dalam konsultasi remapping kita hari ini, kita berdoa Tuhan melalui Roh Hikmatnya menuntut kita untuk menjawab bagaimana HKBP memersiapkan warganya di sini dan yang akan datang untuk mengusahakan shalom di Ibu Kota Negara yang baru itu sebagai prioritas kita?

(d) Dari arahan dan visi Bapak Presiden dan juga ungkapan konkrit dari para Menteri pembantunya, kita mengetahui bahwa Pemindahan Ibu Kota dan Pembangunan Ibu Kota Baru di atas lahan 410.000 hektar itu:

(i) Bukan hanya hendak mengatasi masalah laten yang tak kunjung terselesaikan di Jakarta Raya yaitu kepadatan penduduk, polusi udara yang tinggi, kemacetan lalu lintas, penurunan permukaan tanah yang ekstrim di DKI Jakarta

(ii) Tetapi hendak mengusung visi sebagai kota pintar hijau dengan teknologi tinggi.  Kita dengar di Ibu kota baru nanti di dalam kota hanya kendaraan elektrik yang diijinkan beroperasi. Yang non-elektrik akan diminta parkir sebelum memasuki kota. Ia akan menjadi Kota ramah lingkungan. Ia akan menjadi kota hijau.

(iii) Juga menjadi jalan pembuka bagi pemerataan ekonomi dan pembangunan hingga pelosok Indonesia hingga dinikmati generasi-generasi berikut.
Mengingat ketiga tujuan itu, apakah paradox Allah yang diungkapkan oleh nabi Yeremia kepada orang Juda buangan di Babilonia itu dan hari ini berbicara kepada kita dapat menjadi pendorong bagi kita, yaitu agar kita yang kini di Kalimantan dan yang akan datang ke Kalimantan sudah siap dengan sungguh-sungguh dari hati, jiwa, pikiran dan kemampuan kita ikut membangun kota hijau ini dan ikut memersiapkan bangunan pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia? 

(a) Secara visi kita sudah berada pada arah yang jelas: Menjadi berkat bagi dunia.Secara tahun kita juga berada pada arah yang jelas: Pada tahun ini kita mereposisi pekabaran injil kita: Isinya, arahnya, penerimanya, pelakunya, tujuannya, metodenya, keuangannya, prioritasnya, dstnya.

(b) Tetapi bagaimana kita hadir bukan untuk pertama-tama mengusahakan shalom kita, melainkan mengusahakan semampu kita shalom di Ibu Kota Negara dan di kota-kota dan daerah sekitarnya maupun di seluruh pelosok negeri dari Ibu Kota Negara itu karena di sanalah juga menjadi shalom kita merupakan hal yang harus kita pikirkan dan rancang di dalam Konsultasi Nasional yang hanya tiga sessi hari ini. 

(c) Saya mengusulkan lewat khotbah ini agar konsultasi ini mengusulkan dibentuknya oleh HKBP tim kerja komprehensif yang anggota-anggotanya holistik dan lintas keilmuan, termasuk pebisnis muda Kristen Batak, termasuk kaum milenial, jika perlu juga dengan masukan dari teman-teman beriman selain HKBP, untuk lewat Tim Renstra HKBP Ompu i tawarkan ke Sinode Godang yang akan datang menjadi rencana pasti HKBP sebagai bentuk nyata dari kita sebagai HKBP sebagai Gereja milik Kristus bervisi menjadi berkat bagi dunia mengusahakan Kesejahteraan Ibu Kota Negara.  Rencana aksi nyata itu dilakukan di seluruh distrik HKBP karena dari sanalah warga kita akan datang ke sini. Rencana aksi itu sudah harus mencakup pengembangan SDM warga HKBP dan SDM seluruh Pelayan HKBP. 

Rencana itu juga harus mencakup pemberdayaan warga HKBP menjadi pihak-pihak yang mengusahakan shalom. Rencana pemberdayaan itu bukan saja pada warga kita yang sudah mampu dalam berbagai bidang. Rencana pasti itu juga dibuat setelah mendapat informasi pasti dari pemangku tugas pemerintahan tentang tahapan-tahapan pembangunan itu. Tetapi rencana SDM itu juga menjangkau juga yang masih belum mampu, yang kurang mampu, dan malah yang tidak mampu, yang tidak bermodal.Rencana itu bukan hanya memberdayakan SDM Pelayan dan Warga kita, tetapi juga SDM anak-anak bangsa kita yang lainnya dalam aneka bentuk dan intensitas. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.

  BeritaTerkait
  • MENKUMHAM RI Apresiasi HKBP Adakan Konsultasi Nasional Remapping

    8 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak):Pimpinan HKBP, Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing bersama rombongan bersilaturahmi dengan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Prof. Yasonna Hamonangan Laoly, SH, M.Sc, Ph

  • Akankah pemindahan ibukota Indonesia menjadi kisah sukses?

    10 bulan lalu

    Bisakah Indonesia mengatasi masalah yang mengganggu ibu kotanya yang sudah terlalu padat, Jakarta, dengan memindahkan 1,5 juta orang pegawai negeri ke Kalimantan Timur?Inisiatif tersebut telah direnca

  • Edwin P Situmorang Ajak Generasi Muda Maknai Natal Sebagai Wadah Evaluasi Diri

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Generasi muda di tengah warga gereja, harus mengambil makna perayaan natal yang tengah berlangsung dengan ephorianya. Bukan hanya melakukan seremonial, dan mengikuti segudang jadw

  • Perayaan Natal Keluarga Besar DPRD Medan 2019: Jadilah Garam dan Terang Dunia

    10 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Perayaan Natal Keluarga Besar DPRD Kota Medan 2019 yang mengusung tema, "Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang" berlangsung penuh khidmat di Tiara Convention Center Medan, Sen

  • Remapping: HKBP Centre-Borneo

    7 bulan lalu

    Balikpapan (Pelita Batak):Pembangunan HKBP CENTRE Distrik XXVII Borneo dimulai pada 15 Agustus 2014. Seiring perkembangana jaman, awalnya HKBP Centrer ini memiliki satu lahal yang cukup luas seluas 1

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb