• Home
  • Agama
  • Prof Dr Musdah Mulia MA, Dosen UIN Syarif Hidayatullah :Ada 400 Perda yang Diskriminasi Perempuan
KSP Makmur Mandiri
Senin, 04 November 2019 16:26:00

Pertemuan Raya Perempuan Gereja (PRPrG) Pra-Sidang Raya PGI

Prof Dr Musdah Mulia MA, Dosen UIN Syarif Hidayatullah :Ada 400 Perda yang Diskriminasi Perempuan

BAGIKAN:
Musdah Mulia sampaikan pemaparan
Martin
Weetabula, Tambolaka(Pelita Batak): Prof Dr Musdah Mulia MA, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, meminta perempuan gereja tidak diam terhadap diskriminasi. Sebab dengan diam, petaka akan muncul bagi kemanusiaan. Ada banyak cara untuk menyuarakan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan.

"Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun demokrasi di Indonesia. Sebab jumlah perempuan separuh dari penduduk Indonesia. Untuk membangun demokrasi, semua harus terlibat, termasuk perempuan," ujar Musdah Mulia, pada Pertemuan Raya Perempuan Gereja (PRPrG) Pra-Sidang Raya PGI dengan tajuk "Peran Perempuan dalam Demokrasi", di Gereja Kristen Sumba Jemaat Mata, Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Senin (4/11). Hadir pembicara yang lain Puansari Siregar, Institute Leimena (Demokrasi Indonesia dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika Dalam Konteks NKRI), dan Ketua PGI Pdt Dr Albertus Patty.
 
Menjawab pertanyaan peserta tentang kasus di Bekasi Utara, menurut Musdah Mulia, warna pakaian sebenarnya boleh diatur secara internal. "Tetapi tak boleh memaksakan pakaian muslim di sekolah," tegasnya 

Musdah Mulia menceritakan pengalaman pribadinya, tentang guru agama anaknya yang menyampaikan di depan siswanya agar tak bergaul dengan yang nonmuslim. "Saya tak mau diam. Kemudian datangi sekolah dan protes. Saya marah dan meminta guru tersebut pindah, atau anak saya yang pindah," tuturnya.

Menurut Musdah Mulia, ada banyak yang bisa dilakukan kaum perempuan. Pertama melakukan kontruksi budaya, antara lain budaya patriarki dan feodalisme. Perempuan memiliki peran penting dalam mengubah budaya ini.  Kedua, reform terhadap berbagai kebijakan publik. Ada banyak UU dan Perda yang diskriminatif. 

"Ada sekitar 400 perda yang mendiskriminasi perempuan. Kita harus bergerak mengubah UU dan Perda ini menjadi lebih demokratis" katanya. 

Ketiga, harus ada upaya-upaya membuat interpretasi baru yang lebih "friendly women", manusiawi, menghargai nilai-nilai kesetaraan dan keadilan.  Perempuan gereja harus lebih proaktif menawarkan interpretasi baru agama yang lebih mengedepankan kemanusiaan dan kesetaraan.

"Semua perempuan harus bergerak, jangan diam.  Diamnya orang-orang baik inilah yang menjadi petaka bagi berbangsa dan bernegara. Saya ingin orang bicara tentang terjadinya diskriminasi, dan kekerasan, sehingga masyarakat mengerti ada kelompok," tegasnya. 

Menurutnya, perempuan bisa melawan diskriminasi melalui edukasi di rumah tangga, lingkungan dan masyarakat.  Pendidikan merupakan kata kunci bagi perempuan dalam mengubah yang diskriminatif menjadi setara dan berkeadilan.(**)
  BeritaTerkait
  • Pdt Dr Albertus Patty: Demokrasi Cacat Jika Abaikan Perempuan

    2 minggu lalu

    Weetabula, Tambolaka(Pelita Batak): Pendiri bangsa yang dari Kristen menolak dengan tegas negara agama. Mereka menuntut negara harus didasarkan pada demokrasi. Sebab sesuai prinsip Firman Tuhan, manus

  • Pdt Dr Albertus Patty: Perempuan Gereja Lawan Radikalisme dan Diskriminasi

    2 minggu lalu

    Weetabula, Tambolaka(Pelita Batak): Ketua PGI Albertus Patty menyebutkan dengan memilih demokrasi, bangsa  Indonesia bisa mengontrol pejabat dan  penguasa, mencegah anarkisme masyarakat. Kem

  • "Politik Kenegaraan Berbasis Pengabdian"

    3 bulan lalu

    SEBUAH Seminar Nasional berlangsung di Kota Salatiga, Jateng, Selasa, 30 Juli 2019. Seminar bertemakan "Politik Kenegaraan Berbasis Pengabdian", yang berlangsung atas Kerjasama Perguruan Tinggi UKSW (

  • Enni Martalena Pasaribu Motivasi Ratusan Siswa SMA Methodist

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Enni Martalena Pasaribu, SH, MH selaku Kordinator Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) Sumatera Utara (Sumut)  memberikan motivasi kepada sekitar 500 siswa SMA kelas XII

  • Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Khawatirkan Perkembangan LGBT

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP-PIKI) menilai hehadiran  kaum Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT) yang semakin terang-teranga

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb