• Home
  • Agama
  • Khotbah Minggu XVIII Setelah Trinitatis, 11 Oktober 2020: Hamba yang Melayani (Markus 10:35-45)
KSP Makmur Mandiri
Jumat, 09 Oktober 2020 12:15:00

Khotbah Minggu XVIII Setelah Trinitatis, 11 Oktober 2020: Hamba yang Melayani (Markus 10:35-45)

BAGIKAN:
Ist
Pdt Dr Robinson Butarbutar
Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar (Ketua Rapat Pendeta HKBP)


Saudara-saudara dalam nama Yesus Kristus... 

      Sedikit berbeda dari tema Minggu di almanak HKBP, yaitu 'Kepemimpinan yang Menghamba' (Naposo na gabe pangoloi), tema dalam khotbah ini adalah 'Hamba yang Melayani.' Hal ini didasarkan pada ucapan Yesus dalam ayat 45. Pada ayat 45, kata yang digunakan Yesus ialah diakonothenai (dilayani, dihobasi) dan diakonesai (melayani, manghobasi). Kedua kata tersebut datang dari akar kata yang sama diakoneo (melayani, marhobas). Jadi, bukan 'patuh' atau pangoloi. Kata 'melayani' di sini merupakan lawan dari dua kata yang disebutkan Yesus dalam ayat 42, 'pemerintah bangsa-bangsa' (Yunani: hoi dokountes archein), yaitu kata-kurie-ousin (menguasai), dan 'pembesar-pembesar (Yunani: megaloi), yaitu kata-eksousia-zousin (memaksa dengan menggunakan kekuasaan).  
 
Sahabat-sahabat terkasih, kita sudah memasuki bulan kedelapan pandemi Covid-19. Saat ini, bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia, terus berusaha untuk mengalahkan pandemi ini. Per tanggal 6 Oktober 2020, sudah 35 juta lebih orang terinfeksi virus ini, dan lebih satu juta orang meninggal dunia. Selain dampak kesehatan, dampak perekonomian pun semakin kita rasakan. Pertumbuhan ekonomi sudah minus, resesi ekonomi sudah terjadi di beberapa negara. Sudah sangat banyak yang kehilangan pekerjaan. Pada pidatonya di Sidang Umum PBB tanggal 23 September lalu, presiden Jokowi menyerukan agar bangsa-bangsa bekerja sama dan saling membantu dalam menghadapi pandemi ini. Sudah bukan waktunya lagi hanya memikirkan kepentingan bangsa masing-masing, tetapi harus bekerja sama, terutama dalam pendistribusian vaksin Covid-19 jika sudah ditemukan nantinya. Harus setara. Semua bangsa dilayani, termasuk yang miskin.

Dalam situasi seperti ini, firman Tuhan menyapa kita para murid-Nya, agar menunjukkan bahwa kita adalah hamba-hamba Allah yang terus bekerja dan melayani dalam hidup kita. Firman Tuhan hari ini menegaskan kembali kepada kita, bahwa setiap orang Kristen adalah hamba-hamba Tuhan, hamba yang setia melayani demi kebaikan dunia, bukan hamba yang menguasai dan memaksa kehendak melalui kekuasaan yang ada pada kita. Hal ini harus tertanam, berakar, bertumbuh, mendewasa dalam hati, pikiran kita, dan berbuah  dalam perbuatan kita. Hal ini mesti menjadi perenungan bagi kita: bahwa saya lahir ke dunia, dipanggil Kristus menjadi murid-Nya, dilepaskan dari dosan dan kematian kekal, diberkati bersama keluargaku, adalah untuk menjadi hamba-Nya, menjadi tangan-tangan-Nya yang melayani dalam kehidupanku sehari-hari. Itulah cara agar umat Allah, khususnya warga HKBP, dapat menjadi berkat bagi dunia.

Itulah pesan Yesus kepada para murid-Nya yang pertama. Pesan itu didengar, diaminkan, dikhotbahkan, dan disampaikan kepada murid-murid lain setelah Yesus naik ke surga. Pesan ini pula yang ditulis Markus dari kota Roma tahun 69/70, sebagai kabar baik yang dibaca dan diberitakan pula sejak itu ke seluruh dunia. Pesan untuk melayani ini memang sempat terabaikan pada abad ke-4 sampai abad ke-16. Namun, oleh reformator Martin Luther pada abad ke-16, pesan kabar baik ini kembali dijadikan sebagai misi utama kekristenan. Tradisi ini diteruskan oleh para pembaru gereja sampai saat ini, bahwa melayani tidak hanya bagi sesama orang Kristen, tetapi juga untuk dunia. Kabar baik melalui melayani ini kita beritakan di mana pun dan kapan pun dalam hidup kita sehari-hari, dalam kata dan melalui perbuatan, di dunia nyata maupun melalui media sosial.

Dalam Injil Markus ini, pesan ini disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya setelah Dia menolak permintaan dua muridnya, Yakobus dan Yohanes, agar mereka berdua ditempatkan di tempat yang mulia di kiri dan kanan Yesus (ay. 36-40). Pesan ini Dia sampaikan setelah Dia mengajarkan mereka, jika ada yang ingin menjadi besar (Yunani: megas), hendaklah dia menjadi pelayan (diakonos) bagi sesamanya. Dan kalau ada yang ingin menjadi terkemuka, hendaklah ia menjadi hamba (doulos) untuk semuanya (ay. 43-44). Apa yang dikatakan Yesus ini adalah posisi yang berlawanan dengan apa yang biasanya dilakukan oleh para penguasa dari sejak zaman dahulu sampai saat ini, yang menggunakan kekuasaannya untuk menguasai dan memaksakan kehendak kepada orang lain. Yesus mengambil posisi yang jelas bahwa Dia berseberangan dengan orang-orang berkuasa dan yang menggunakan kekuasaannya untuk memaksakan kehendak bagi orang lain. Sebaliknya, entah apa pun jabatan dan kekuasaan yang kita miliki, setiap orang harus menjadi diakonos dan doulos bagi yang lain. Inilah keteladanan yang diberikan Yesus. Dia datang bukan untuk dilayani, tetapi melayani, bahkan sampai memberikan nyawanya menjadi tebusan (Yunani: lutron) bagi banyak orang (Yunani: polloi).
Saudara-saudara sekalian, melalui kesaksian Injil, kita menjadi tahu bagaimana Yesus hidup dan melayani selama tiga tahun masa pelayanan-Nya. Dia tidak hanya melayani di Galilea, tetapi juga ke Yudea dan sekitarnya. Dia tidak hanya memenuhi undangan orang Farisi, tetapi datang ke tempat-tempat orang yang dipinggirkan. Dia tidak menunggu, melainkan mengambil inisiatif untuk pergi melayani dan menyentuh orang-orang miskin, sakit, menderita, dan sebagainya. Dia berdialog juga dengan perempuan. Menggendong anak-anak. Dia hadir bagi mereka. Dia memberi makan, menyembuhkan, mengusir roh jahat, dan mengajari mereka kehendak Allah serta memberitakan kabar baik. Dalam pelayanan-Nya ini pun Yesus tidak sendiri. Ada para murid dan simpatisan yang membantu Dia. Mereka menjadi tim pelayanan yang sangat baik kala itu.

Di tengah-tengah pandemi yang belum tahu kapan berakhir ini, tepat sekali rasanya jika kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Bagaimana dan sudah seperti apa pelayanan kita sebagai hamba-hamba Allah bagi keluarga dan orang-orang di sekitar kita? Sudahkah kita hadir bagi sesama? Apakah kita saling menopang? Apakah kita dan gereja kita sudah menjadi berkat bagi dunia? Marilah kita renungkan. Jika kira merasa masih banyak kekurangan dalam pelayanan kita, marilah sama-sama kita perbaiki, sebab untuk itulah kita dipanggil, untuk menjadi seperti Yesus ketika Dia berkarya di dunia, menjadi 'hamba yang melayani,' bahkan sampai memberikan diri-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Kita bukan dipanggil untuk menjadi hamba yang menguasai dan menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendak! 

      Biarlah dunia bersuka cita dan terberkati karena pelayanan kita, dan nama Allah dimuliakan. Amin!      

  BeritaTerkait
  • Bishop GKPI Resmikan Koordinasi Wilayah VII untuk Dukung Perayaan Natal Nasional di Doloksanggul

    4 tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Bishop GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) Pdt Oloan Pasaribu MTh meresmikan wilayah VII yang meliputi Humbang Hasundutan - Tobasa – Samosir, dan sekaligus m

  • Ephorus HKBP Pesankan Pentingnya Kesatuan Jemaat Dalam Kristus pada Pesta Pembangunan HKBP Sidorame Medan

    2 tahun lalu

     Medan (Pelita Batak):  Ibadah Minggu XV Setelah Trinitatis yang dipadu dengan Pesta Pembangunan HKBP Sidorame Distrik X Medan Aceh dilayani oleh Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbanto

  • Khotbah Natal Pemprovsu, 19 Desember 2018 di Hotel Danau Toba, Medan, pkl 17.00: "Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita" (1 Korintus 1:30)

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPHP/WA: 0812-62472015Sub Tema: "Dengan Perayaan Natal Pemprovsu Berhikmat Melayani Masyarakat Menuju Sumut Lebih Bermartabat."PengantarSaudara

  • Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah (3-Selesai)

    2 tahun lalu

    Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP4. Masa Kerajaan (Saul hingga Yoyakhin).a. Seruan pertobatan para nabi sebelum pembuangan dan membisunya umatPara nabi dipanggil oleh Tuhan un

  • Jamita Evangelium, Minggu XVIII Dung Trinitatis, 11 Oktober 2020: “Naposo na manghobasi” (Markus 10: 35-45)

    3 minggu lalu

    Pdt Dr. Robinson Butarbutar sian ParsameantaPinutushon manggoari topik ni jamitanta di minggu on ndang songon na di Almanakta i – na marojahan tu Terjemahan Bibel Bahasa Batakta, i ma ‘Nap

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb