• Home
  • Agama
  • Khotbah Minggu III Setelah Trinitatis, 28 Juni 2020: "Membangun Keluarga Bahagia" (Kol. 3:18-21)
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 27 Juni 2020 07:38:00

Khotbah Minggu III Setelah Trinitatis, 28 Juni 2020: "Membangun Keluarga Bahagia" (Kol. 3:18-21)

BAGIKAN:
ist
Pdt Dr Robinson Butarbutar
Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP


Saudara-saudara terkasih di mana pun berada...

       Tidak semua orang mau menikah. Ada orang yang meyakini bahwa tidak menikah adalah panggilan Tuhan baginya (1 Kor. 7:32-35). Itu adalah pilihan yang harus dihormati, sebab itu pun kudus di mata Tuhan. Namun, di mata Tuhan, rumah tangga pun adalah sesuatu yang kudus. Kalau rumah tangga itu baik adanya, maka berbahagialah mereka yang tinggal di dalamnya. Rumah tangga itu menjadi surga, dipenuhi kedamaian, kegembiraan, keadilan, dan kebenaran. Namun, bila rumah tangga itu tidak baik, maka ia akan menjadi 'neraka' bagi pengisinya. Dari rumah tangga lahir kebaikan-kebaikan, tetapi dari rumah tangga juga bisa lahir kejahatan-kejahatan. Oleh sebab itu, di dalam Alkitab kita, tidak hanya dasar rumah tangga yang diajarkan di sana. Alkitab juga mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga yang berbahagia dan diberkati.   

Belakangan ini, ajaran atau nasehat menjalani kehidupan rumah tangga atau keluarga yang baik semakin kita butuhkan. Kehidupan kita sekarang berbeda dengan masa dulu. Misalnya tentang kesetaraan (emansipasi) antara laki-laki dan perempuan, jika tidak disikapi dengan baik mungkin saja akan menjadi masalah dalam keluarga. Era digital ini juga mengubah komunikasi dan relasi antara anak-anak dan orangtua. Anak-anak lebih asyik sendiri. Jika perubahan-perubahan ini tidak diolah dengan baik tentu bisa menjadi persoalan dalam keluarga.

Oleh sebab itu, lewat Kolose 3:18-21, kita hendak mendengarkan kembali dua nasehat untuk membangun keluarga yang berbahagia, yaitu (1) melakukan yang baik, dan (2) menjauhi yang tidak baik. Pertama, nasehat kepada perempuan (Yunani: gunaika), supaya tunduk (Yunani: hupotasso) kepada suami sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Sementara kepada laki-laki (Yunani: hoi andres) diserukan untuk mengasihi (Yunani: agavao) istri. Kasih di sini adalah kasih yang membebaskan dan bahkan siap untuk kehilangan nyawa bagi orang yang dikasihinya sebagaimana yang dilakukan Kristus. Kepada anak-anak dikatakan untuk menaati (Yunani: hupakuo) orangtua mereka. Pertanyaannya, manakah yang lebih sulit untuk dilakukan? Bukankah sama sulitnya? Sulit bagi perempuan untuk tunduk kepada suaminya, dan sulit juga bagi suami untuk mengasihi istrinya. Begitu juga anak-anak sulit untuk menaati orangtua mereka. Namun, berbahagia dan diberkatilah keluarga yang melakukannya. Hari ini menjadi saat yang tepat bagi kita untuk introspeksi diri, apakah keluarga kita sudah berada di jalur yang tepat sesuai dengan firman Tuhan?

Kedua, nasehat 'larangan,' dengan menggunakan kata 'jangan' (Yunani: me). Nasehat 'larangan' ini disampaikan kepada laki-laki dan atau orangtua laki-laki (Yunani: pater). Laki-laki 'jangan' berlaku kasar (Yunani: pikrainomai, membuat menderita, Inggris: to make bitter) terhadap perempuan! Laki-laki 'jangan' menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga, entah itu verbal atau nonverbal. Bagaimana bisa laki-laki mengatakan bahwa dia mengasihi istrinya sementara dia melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya tersebut? Kemudian kepada orangtua laki-laki dikatakan, 'janganlah' sakiti hati (Yunani: erethizeste, Inggris: provoke) anakmu. Provokasi dari orangtua bisa saja membuat anak-anak melawan, sedih, depresi, dan sebagainya, dan berujung pada kekerasan domestik. Marilah kita renungkan, bagaimana kita memperlakukan istri kita masing-masing selama ini? Bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita? Pernahkah kita berlaku kasar dan melukai hati mereka? Kalau pernah, bertobatlah, jangan lakukan lagi. Kalau tidak pernah, teruslah menjadi suami dan orangtua yang mengasihi keluarga dan menjauhi kekerasan. Selamat berbahagia.  Amin!
  BeritaTerkait
  • Khotbah Minggu II Setelah Trinitatis, 21 Juni 2020: "Panggilan untuk Merawat Ciptaan" (Im. 25:1-13)

    2 minggu lalu

    Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPSaudara-saudara terkasih di mana pun berada...Sudah menjadi hakikatnya bahwa manusia harus bekerja. Rasul Paulus berpesan: "Jika seseorang ti

  • Khotbah Evangelium Minggu XXIII Dung Trinitatis 19 Nopember 2017 Teks: Zephania 1: 7, 12-18 "Bersiaplah Menyambut Hari Tuhan"

    3 tahun lalu

    Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Parsamean STT-HKBP Pematangsiantar. 1.Bagi komunitas orang-orang yang percaya kepada Allah yang tidak hanya menciptakan umat manusia tetapi  juga menuntunny

  • Ephorus HKBP Pesankan Pentingnya Kesatuan Jemaat Dalam Kristus pada Pesta Pembangunan HKBP Sidorame Medan

    2 tahun lalu

     Medan (Pelita Batak):  Ibadah Minggu XV Setelah Trinitatis yang dipadu dengan Pesta Pembangunan HKBP Sidorame Distrik X Medan Aceh dilayani oleh Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbanto

  • Khotbah Minggu Jubilate, 3 Mei 2020: "Bersoraklah bagi Tuhan" (1 Taw. 16:31-36)

    2 bulan lalu

    Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPSaudara-saudara terkasih di mana pun berada, salah satu keistimewaan dari orang-orang yang teguh beriman kepada Allah, adalah meskipun di dal

  • Khotbah Minggu Rogate, 17 Mei 2020: "Doa Ucapan Syukur" (1 Taw. 17:16-27)

    2 bulan lalu

    Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPSaudara-saudara terkasih di mana pun berada, mungkin kita sama-sama tahu dan mengakui, dalam berdoa, biasanya isi doa kita didominasi oleh da

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb