• Home
  • Agama
  • Khotbah Jumat Agung, Peringatan Hari Kematian Tuhan Yesus, 10 April 2020
KSP Makmur Mandiri
Rabu, 08 April 2020 12:24:00

Khotbah Jumat Agung, Peringatan Hari Kematian Tuhan Yesus, 10 April 2020

BAGIKAN:
ist
Pdt Dr Robin Butarbutar
Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP

"Pengorbanan Yesus yang Menyelamatkan" (Mat. 27: 45-56)

Damai  Sejahtera Allah yang melampaui segala akal dan pikiran kiranya menyertai hati dan pikiran saudara-saudaraku sekalian, di dalam Kristus Jesus Tuhan kita, Amin.

Saudara-saudaraku seiman di seluruh tanah air, pada tahun ini, kita merayakan Hari Kematian Yesus Kristus di tengah-tengah pandemi global yang disebut dengan Covid-19. Situasi masih belum menentu. Vaksin untuk virus ini pun belum ditemukan. Sudah puluhan ribu orang meninggal di seluruh dunia. 

Mungkin, ada dari antara yang meninggal itu adalah sahabat kita, saudara kita, atau bahkan kekasih hati kita sendiri. Hati kita remuk. Namun, banyak pula pula dari antara mereka yang terinfeksi virus itu berhasil sembuh. Ini tentu saja pantas untuk kita syukuri. Oleh sebab itu, di dalam iman yang teguh kita berharap keadaan akan segera membaik dan hati kita terhibur.

Khotbah kita pada hari ini didasarkan pada Matius 27: 45-56, teks yang menarasikan penderitaan Yesus yang sangat tragis di kayu salib. Yesus sampai menjerit dengan suara besar (Yunani: phone megale) karena merasa ditinggal oleh Bapa-Nya. Dia berkata: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"  

Selain itu, lewat teks ini kita juga dapat menyaksikan tindakan keji seseorang  yang memberi Yesus minum bunga karang yang sudah dicelupkan ke dalam anggur asam, ditambah dengan olok-olok dengan bertanya apakah Elia akan datang untuk menurunkan-Nya dari salib. 

Namun, saudara-saudara, di samping penderitaan itu, dalam teks ini disebutkan juga tujuh peristiwa lain yang mengiringi kematian Yesus, yang menarik untuk kita perhatikan lebih jauh. 

Apakah ketujuh peristiwa itu? Pertama, gempa bumi. Kedua, bukit-bukit batu terbelah. Ketiga, kuburan-kuburan terbuka. Keempat, banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Kelima, mereka yang telah bangkit itu disebut masuk ke kota kudus, yaitu Yerusalem, dan menampakkan diri kepada banyak orang. 

Lebih lagi, keenam, dengan sedikit lebih variatif dibanding catatan injil Markus, terjadinya gempa bumi itulah yang menyebabkan kepala Pasukan dan prajurit-prajurit Romawi dalam rasa sangat takut mempersaksikan: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." 

Dan, ketujuh, yang tak kalah penting, dicatat bahwa kejadian-kejadian itu disaksikan dari jauh oleh tiga perempuan murid Yesus yang setia mengikuti Yesus dari Galilea, yaitu: Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu dari anak-anak Zebedeus. Artinya, kematian Yesus dan keenam peristiwa di atas adalah nyata, ada saksinya. Peristiwa salib bukan hoax. 

Apa yang hendak disampaikan khotbah ini kepada kita di tengah pandemi virus ini? Mengapa pada saat-saat kita memeringati kematian Yesus di rumah kita pada musim wabah ini kita disuguhi oleh kisah kematian Yesus yang tidak saja menyajikan kematian tragis dari Yesus, tetapi juga yang justru mencatat bahwa peristiwa kematian Yesus di salib itu, dan kebangkitan-Nya nanti, telah menyebabkan orang-orang kudus bangkit dari kubur mereka dan malah menampakkan diri pada banyak orang di sana? 

Apakah ini hendak berkata kepada kita bahwa, seperti tema khotbah kita, pengorbanan Yesus itu bukan hanya mampu menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, melainkan memiliki kuasa membangkitkan orang-orang yang telah terkubur sekalipun, orang-orang yang telah dikuduskan-Nya, dan yang untuk dan atas nama-Nya meninggal, termasuk akibat Covid-19, termasuk mereka yang kehilangan nyawa karena berkorban untuk menyelamatkan para korban virus ini dari kematian, sehingga kisah itu menghibur kita dalam saat-saat duka ini, menghibur kita semua yang tengah menangis? Satu hal yang pasti, Yesus ingin kita hidup. Hidup dalam damai sejahtera.

Oleh sebab itu, saudara-saudara sekalian, kita bisa juga memaknai khotbah ini dengan melihat penderitaan kita karena Covid-19, dan kematian sesama kita korban Covid 19, sebagai pemicu dan pemacu untuk menghargai kehidupan dan terus memperjuangkannya. Berapa pun jumlah korban saat ini, itu sudah terlalu banyak. Kita tidak ingin ada korban jiwa lagi. Kita juga tidak boleh pasrah tanpa melakukan apa pun. 

Kematian Yesus di kayu salib dan kematian para sahabat kita karena Covid-19 kiranya membangkitkan semangat kita untuk memperjuangkan kehidupan kita, kehidupan sesama kita, lewat usaha-usaha serius menghentikan penyebaran virus Covid-19, mengobati yang terjangkit, menolak menulari yang lain tanpa sengaja dengan tidak berkumpul-kumpul, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan seterusnya, termasuk dengan mengikuti sepenuhnya anjuran pemerintah.  

Kita juga berharap Perpu No 1/2020 dan Peraturan Menteri Kesehatan No 9/2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka percepatan Penanganan Covid 19 dapat berhasil. 

Ia berkorban di kayu salib untuk keselamatan kita. Kematian-Nya itu sendiri membangkitkan harapan bagi kita bahwa kita tidak dibiarkan begitu saja dalam menghentikan penyebaran Covid-19. Ia bersama kita.  Kuasa kematian-Nya itu melindungi para tenaga kesehatan yang berjuang menyelamatkan korban-korban terinfeksi, bersama dengan disiplin tinggi kita menjaga jarak fisik sosial, dan memberkati usaha-usaha kita menolong sesama yang berkekurangan akibat kesetiaan kita menjaga jarak fisik sosial ini.  

Dia yang adalah sumber pengetahuan juga akan menyertai para peneliti dan ilmuwan untuk sesegera mungkin menemukan vaksin penakluk virus ini. Biarlah hati kita terus memercayai kuasa kematian Yesus yang menyelamatkan kita, yang dahulu telah menyebabkan orang-orang yang sudah lama berada di kubur bangkit dan menampakkan diri kepada orang-orang banyak. Kuasa kematian Yesus itu kini juga bersama kita mengalahkan penyebaran virus Covid-19 ini. 
Percayalah, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Dia menyertai kita senantiasa. Mari bersemangat mengalahkan Covid-19 bersama Tuhan Yesus. Di dalam iman yang teguh kita telah dan akan selalu mempersaksikan: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." Amin.
  BeritaTerkait
  • Khotbah Paskah I, Peringatan Hari Kebangkitan Tuhan Yesus, 12 April 2020

    3 bulan lalu

    Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP"Kuasa Kebangkitan Yesus" (Mat. 28:1-10)Saudara-saudara seiman di mana pun berada, selamat Paskah untuk kita semua. Kabar baik yang hendak ki

  • Kalender Hari Raya Jumat Agung dan Hari Paskah

    3 tahun lalu

    HARI Jumat Agung adalah hari raya umat kristiani untuk memperingati peristiwa penyaliban dan wafat Yesus Kristus di Kalvari. Adapun tanggal yang pasti mengenai peristiwa Jumat Agung tidak dicatat d

  • Khotbah Minggu Misericordias Domini, 26 April 2020: "KESETIAAN ALLAH" (Roma 3: 1-8)

    3 bulan lalu

    Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar (Ketua Rapot Pandita HKBP)Saudara-saudara seiman di dalam Kristus YesusSetiap kali kita memasuki Minggu Misericordias Domini, Firman Tuhan mengarahkan hati, pikiran,

  • Khotbah Pesta Peringatan Hari Kenaikan Tuhan Yesus, Kamis 21 Mei 2020: "Memberitakan Kabar Baik ke Segala Makhluk" (Mrk. 16: 15-20)

    2 bulan lalu

    Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPSaudara-saudara terkasih di mana pun berada, kiranya damai sejahtera Allah menyertai kita semua. Dua minggu lalu saya membaca sebuah berita d

  • Khotbah Evangelium Minggu XXIII Dung Trinitatis 19 Nopember 2017 Teks: Zephania 1: 7, 12-18 "Bersiaplah Menyambut Hari Tuhan"

    3 tahun lalu

    Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Parsamean STT-HKBP Pematangsiantar. 1.Bagi komunitas orang-orang yang percaya kepada Allah yang tidak hanya menciptakan umat manusia tetapi  juga menuntunny

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb