• Home
  • Agama
  • Gereja Perlu Bentuk Lembaga Jaminan Pembiayaan untuk Bisnis UKM Rakyat
KSP Makmur Mandiri
Senin, 24 Oktober 2016 12:22:00

PGI Sumut Gelar Seminar Ekonomi Kerakyatan, Pendeta dan Jemaat Berminat Wirausaha

Gereja Perlu Bentuk Lembaga Jaminan Pembiayaan untuk Bisnis UKM Rakyat

BAGIKAN:

Medan (Pelita Batak) :
Kalangan gereja atau lembaga-lembaga dan komunitas Nasrani di negeri ini sudah saatnya membentuk semacam lembaga jasa pembiayaan (multi finance) untuk mendorong perwujudan dan pengembangan usaha kecil menengah (UKM) masyarakat, khususnya bagi kalangan jemaat gereja atau para pendeta yang berjiwa wirausaha.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Wilayah Sumatera Utara, Pdt DR Jamilin Sirait dan Wakil Sekretaris Umum Pdt Hotman Hutasoit MTh selaku Plt Sekretaris Umum PGI Sumut, menyatakan kalangan gereja atau para pendeta (gembala sidang pemimpin gereja) maupun para calon pendeta, juga harus memiliki kemampuan dan menunjukkan kesiapan menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), karena berinteraksi dengan hal-hal ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

“Ada wacana dan peluang agar gereja-gereja atau komunitas Nasrani membentuk semacam lembaga pembiayaan untuk mendorong pertumbuhan dan peningkatan ekonomi masyarakat di kalangan gereja atau pendeta. Misalnya untuk menjamin agar lebih mudah memperoleh penyaluran kredit usaha kecil menengah (UKM) dengan mengurangi volume persyaratan atau agunan (kepada bank), juga untuk menjamin agar dana-dana kredit dari koperasi (CUM) termasuk yang dikelola gereja-gereja itu bisa tersalur efektif kepada anggota gereja yang memang benar-benar menjalankan usaha atau bisnisnya,” ujar Djamilin Sirait kepada pers di Medan, Kamis (20/10/2016).

Secara khusus Djamilin menyebutkan contoh kasus lembaga pembiayaan atau koperasi (CU) yang vakum dan maca, sehingga, jangankan mengembangkan usaha, mengembalikan dana masyarakat pun tak mampu lagi karena tidak adanya pihak atau lembaga penjaminan.

“Bayangkan, karena tak ada pihak atau lembaga yang menjamin (untuk pembiayaan usaha), uang para pemodal, jadi tak jelas. Para korbannya kebetulan ada yang pendeta senior, uangnya dari CU itu belum dikembalikan sampai sekarang,” katanya prihatin sembari menyebutkan salah satu koperasi yang dikelola secara kerja sama dengan salah satu gereja besar di daerah ini.

Dia mencetuskan hal itu ketika memaparkan konklusi seminar seusai pelaksanaan seminar ekonomi kerakyatan di kalangan gereja (pendeta dan jemaat), di aula PGI Wilayah Sumut. Seminar yang dipandu moderator Hotman Huitasoit itu menampilkan pembicara Junita Panjaitan mewakili Kadis Koperasi Propinsi Sumut dengan topik defenisi dan mekanisme pendirian koperasi, dan Drs Ads Franse Sihombing (wartawan SIB) selaku jurnalis pemerhati ekonomi, dengan topik Peran Gereja dalam Penggalangan Ekonomi Jemaat untuk Kesejahteraan Rakyat.

Seminar itu diikuti 50-an peserta dari kalangan pendeta, calon-calon pendeta dan para penatua (Sintua) yang mayoritas kaum wanita (kaum ibu gereja) dari berbagai denominasi gereja. Sejumlah pendeta dan jemaat dari kalangan wanita gereja menyatakan minatnya di bidang wirausaha. Misalnya Pendeta BPH Sianturi STh MPd dari Gereja Gerakan Pantekosta (GGP) yang selama ini menjalankan bisnis jasa tempel ban dekat gerejanya.

Demikian juga pendeta muda (Pdm) Sarah Zendrato MPd bersama suaminya Pdt E Butar-butar MPdK dari Gereja Tuhan di Indonesia (GTDI) yang sudah sempat menjalankan bisnis UKM di lingkungan Rutan Tanjung Gusta, berupa jasa perbaikan perabotan (kursi sofa, spring bed), merangkai bunga-bunga hias, dan jasa katering. Namun, bisnis mereka saat ini terkendala karena butuh dana tambahan modal.

“Dari seminar ini para pendeta atau kalangan gereja termotivasi untuk berperan menggalang potensi ekonomi. Misalnya Pendeta Sianturi yang merespon peluang kembangkan bisnis membuka depot pulsa, kantin mini, jasa pangkas, gerai koran dan jasa cuci motor (door smeer) di samping  jasa tambal bannya. Konsumen sambil menunggui tambal ban, bisa sampil minum (ngopi), mengisi pulsa, pangkas atau baca koran. Tapi yang menarik dan hal baru dari seminar ini adalah peluang penggalangan ekonomi dan bisnis rakyat melalui potensi ’12 bakul sisa roti dan ikan’ yang selama ini menjadi misteri dan diungkap pembicara Ads Franse Sihombing, dari salah satu kisah di Alkitab (Matius 14, Markus 6, Lukas 9). Bahwa, ikan-ikan yang tersisa sebagai simbol potensi SDA atau hasil bumi, dan sisa roti sebagai simbol produk SDM atau kreasi manusia itu, ternyata merupakan potensi produk  yang bisa dan harus diolah untuk kebutuhan ekonomi umat,” ujar Hotman Hutasoit sembari mengakui nyaris tak ada ‘pihak’ yang mencermati ‘sisa ikan dan roti’ yang menjadi misteri selama ini. (TAp)

  BeritaTerkait
  • Hak Milik Atas Tanah: Hak Terkuat dan Masalahnya

    4 tahun lalu

    Oleh Ronsen LM Pasaribu   Pasal 16 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, atau disebut UUPA membedakan jenis Hak Atas Tanah yaitu Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan,

  • Masa Depan Serikat Buruh Pada Revolusi Industri 4.0

    2 tahun lalu

    Oleh: Rekson Silaban (Analis Indonesia Labor Institute)Tidak perlu buang waktu lagi membahas apakah revolusi industri 4.0 memberikan keuntungan atau kerugian buat buruh. Karena apapun jawabannya kesim

  • Restorasi dan Reformasi Mar-Adat Pasca Covid 19

    2 bulan lalu

    Oleh : Sampe L. PurbaPendahuluan Terjadinya pandemik CoronaVirus 19 (CoVid 19) yang melanda seluruh dunia, telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi saat ini

  • OJK dan Satgas Waspada Investasi Ungkap Dua kasus Investasi Ilegal dan Satu Penipuan Pelunasan Kredit

    4 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Otoritas Jasa Keuangan dan Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi (Satgas Waspada Investasi) m

  • Dirgahayu ke 14 Humbahas: Sekilas Sejarah Peran Serta Masyarakat yang Ada di Parserahan Atas Berdirinya Kabupaten Humbang Hasundutan

    3 tahun lalu

    Oleh: Gandhi PakpahanPARNADOS (PARSAHUTAON NAHUMALIANG DOLOKSANGGUL)PARNADOS yang berdiri pada tanggal 27 Januari 1995 mempunyai benang merah dengan PERNADOS yang berdiri sebelumnya dan wadah lain set

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb