• Home
  • Turi-turian
  • Segera Diterbitkan Novel 'SENJA DI TAPANULI' karya Azari Tumanggor
Selasa, 04 Juli 2017 22:55:00

Segera Diterbitkan Novel 'SENJA DI TAPANULI' karya Azari Tumanggor

BAGIKAN:
ist|PelitaBatak
Cover buku novel SENJA DI TAPANULI
SEBUAH Novel yang diperuntukkan bagi semua yang bisa membaca, memahami, memaparkan dan mengimplementasikan bagi mereka yang mempunyai kecintaan terhadap kemanusiaan terlebih kepada orang-orang muda yang nantinya akan membawa negeri ini terbang ketempat yang semestinya. Yaitu kesejahteraan sosial sebagai tujuan awal kita merdeka.

STOP BUNGKAM !!!

Kebanyakan generasi muda terjebak dalam kepentingan masing-masing ideologis. Hingga melupakan tujuan kemanusiaan yang semestinya dibangun oleh sebuah bangsa dan Negara. Novel ini menggambarkan  hilangnya sebuah generasi dalam sebuah tatanam peradaban modern akibat dialektika yang tak berarti.
-    AZARI TUMANGGOR

Ya, aku, kau dan dia tidak bisa. Tapi, kita bisa. Hari ini takkan ada tanpa peristiwa kemarin. Besok takkan kita, tanpa cita - cita bersama
-    BERNATA MANALU



Kupandangi dunia barat sore itu. Sepertinya aku lebih nyaman duduk sendiri di trotoar yang semakin mendingin. Terlihat cahaya merah di ujung yang sangat jauh. Sangat jauh seperti harapanku yang sudah memudar. Entah kenapa mataku ingin menatap lebih lama, melihat matahari bersama diriku yang akan jatuh dan secepatnya bersemanyam dengan bumi. Pikiranku berkecambuk, sungguh aku tak rela dibuai oleh malam yang pahit!

"Ini adil buatku?" aku bergumam. Akhir-akhir ini memang begitu rumit, seolah alam enggan melahirkan kehidupan yang layak bagi manusia. Hasil pertanian desa pun tak laku lagi di pasaran. Apakah manusia sudah seharga dengan kotorannya sendiri? Aku mencoba menjawab sendiri setiap pertanyaan yang timbul dalam pikiranku. Belum lagi wanita itu. Ahhh.. mengapa dia begitu beradad?

Mataku kembali menatap sunset. Terlihat  seperti cahaya terakhir yang akan diberikan pada kehidupan. Tiba-tiba, mataku meneteskan air bening. "Mengapa?" hatiku terbata-bata. Air mata yang selama ini jadi bukti kelemahan ternyata jatuh juga bahkan membanjiri wajahku. Kehormatanku tumbang.
Kuingat bisikan dirinya kemarin malam bahwa dia mencintaiku. Dan itu juga telah membuatku menjerit dan terperangkap dalam kedinginan jiwa sepanjang malam.

"Apa dia akan peduli?" kali ini pertanyaan itu muncul bertubi-tubi. Hanya butuh waktu sedikit dia sudah mampu menggoncang batinku. Sekarang aku tiba-tiba terlihat seperti Romeo yang tergila-gila dengan cinta.
Impianku yang dulu sudah sampai kelangit dan menembus bintang-bintang, kini terjatuh ke dasar lautan. Lautan yang paling dalam hingga tak mampu jatuh lagi. Apa itu nyata?
Sering kali itu muncul ketika tanganku bergerak menggoreskan pena di ujung buku hitamku yang lusuh. Namun  sekarang semua tak lagi sama. Seolah waktu sudah tak ada lagi harganya dalam peradaban.

"Ah, tidak. Aku mencintainya. Dan aku merelakan apa pun untuk cinta," seperti biasa aku bertempur dalam pikiranku.

"Bukankah nenek moyangmu dulu telah mengorbankan hidupnya selama 350 tahun untuk kemauan Belanda? Telah melayani mereka seperti Tuhannya sendiri di tiap sudut Hindia yang luas ini? Barangkali semenjak pejuang kebebasan telah ditumpas, seperti Diponegoro, Sisingamangaraja XII, Cut Nyak Dien, dan masih banyak lainnya, baru bermunculan pengecut sepertimu. Yang takut karna cinta pada anak, dan istrinya kemudian merelakan apa pun menjadi kaki tangan kolonial untuk menjajah bangsanya sendiri? Dan kau Putra, bukankah kau juga telah menghina pendidikan? Orang semacam generasimu hanya bisa disadarkan oleh ajaran kebajikan. Seperti Soekarno, keturunan bangsawan itu, sadar setelah mendapat pendidikan Eropa kemudian berjuang melalui organisasi. Tan Malaka, juga pulang ke negerinya untuk menyadarkan anak bangsa setelah mengetahui segala kebusukan kapitalisme dan kolonial. Kau sudah baca beberapa bukunya Putra, tetapi apa yang sudah  dilakukan generasi pengecut sepertimu?" entah alam dari mana mencoba menjejaki kemauanku.

Ku ingat dulu waktu aku mengatakan tidak untuk cinta. Setelah berakhir dengan wanita sekelasku, aku memang sudah mulai belajar hal baru. Belajar tentang peradaban dan pemikiran-pemikiran yang muncul di Eropa. Bahkan aku menuangkan sendiri kepercayaan itu terhadapku. Seolah-olah aku disana dengan prinsip yang kokoh, bahwa manusia akan terus berada dalam kesepian, menghianati kemauan ilmu pengetahuan bila berpaut pada cinta. Itu mengapa pria-pria  telah banyak berada dalam bayang-bayang mereka sendiri. Juga pejabat-pejabat negeri ini, banyak pindah ke jeruji penjara akibat berpaut pada istrinya, pada cintanya, memaksa untuk korupsi, dan akhirnya tenggelam dalam sejarah kejahatan manusia.
Setidaknya pemikiran kerdil itu menjadi langit tertinggi yang pernah kucapai ketika baru memasuki bangku kuliah.

Kemudian datang Hotmaita, wanita kelahiran batak itu hadir dengan perhatiannya dan perlahan mengisi hati yang dulu sudah kupaksa kering. Perlahan aku menyukainya, lalu jatuh cinta seperti anak kecil pada Ibunya. Seperti ukiran sejarah, kutelan sisi indah dan pahitnya cinta, segala ego, prinsip satu persatu ku buang di pinggir jalan dan berlari mendekatinya. Aku bahkan mirip seperti mahadewa yang mengejar cinta, dan coba bersekutu dengan imannya.
"Sudahlah, ini tak akan jadi seperti dulu".
Aku tersadar dalam pikiran panjang ini.
Senja rupanya tak lagi bersamaku. Dia meninggal dalam hitamnya dunia. Membawaku dan terjebak dalam perputaran tatasurya tanpa bintang. Semuanya gelap...

<<<Bersambung>>>

  BeritaTerkait
  • Gubernur Berharap Program PATEN Segera Dijalankan

    10 bulan lalu

    Deliserdang (Pelita Batak) :Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) HT Erry Nuradi menyerahkan Tunggul Kecamatan Terbaik tingkat Sumut tahun 2016 kepada Camat Tanjung Morawa Timur Tumanggor di lapangan SMAN 1 Tanjung Morawa, Kab. Deli Serdang, Selasa (20/12/2016)

  • Ini Dia Enam Rekomendasi FP3HH kepada Bupati dan DPRD Humbahas

    satu bulan lalu

    Laporan Djalan Sihombing SH, Wartawan Pelita BatakBahwa berdasarkan hasil diskusi dan masukan yang telah dirumuskan oleh tim perumus dalam forum diskusi yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 02 September

  • Arif Menyikapi Keramba Jaring Apung Danau Toba

    tahun lalu

    Danau Toba menjadi pembicaraan hangat beberapa hari terakhir. Kali ini bukan soal rencana pembentukan badan otorita, tetapi tentang keramba jaring apung (KJA). Dipicu matinya ikan sebanyak 850 ton

  • Poles Bandara Silangit, AP II Siram Rp 119 Miliar

    tahun lalu

    Kapasitas dan kualitas Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara terus ditingkatkan. PT Angkasa Pura II selaku Operator bandara ini, menggelontorkan dana Rp 119 miliar untuk membenahi bandara ini.

  • Bank Sumut Diminta Berikan Bunga Nol Persen Bagi Pedagang Pasar Tarutung yang Terbakar

    5 bulan lalu

    Tarutung (Pelita Batak) :Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi meminta para pedagang yang kiosnya terbakar di Pasar Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara untuk tetap tenang dan sabar sembari

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online