Sabtu, 25 November 2017 14:48:00

Ini Sejarah Raja Sihotang

BAGIKAN:
Ist
Robinson Hasugian, empat dari kiri
Oleh: Drs Robinson Hasugian dan Mader Hasugian, S.Kom

Sihotang Orang Kaya Tua (Hasugian Sitolu Tali) merupakan anak ke-7 dari Raja Sigodang Ulu Sihotang yang pergi meninggalkan Negeri Sihotang (Samosir) bersama dengan abangnya Raja Tunggal dengan membawa serta ibunda tercinta Boru Simbolon, karena dibenci oleh abang-abangnya (Sipardabuan, Sorganimusu, Sitorban Dolok, Sirandos dan Simarsoit). Latar belakang kebencian abang-abangnya karena sebagai anak yang paling kecil, mereka tidak ikut bekerja di ladang dan pergi ke hutan mencari rotan, akan tetapi oleh Raja Sigodang Ulu mereka diajari ilmu kesaktian (hadatuon) dan alat perang berupa ULTOP (didalami oleh Raja Tunggal) dan TALI SOLANG (didalami oleh Orang Kaya Tua).  Sehingga oleh kelima abangnya menganggap bahwa orang tuanya pilih kasih kepada keduanya. 

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan agar hubungan diantara mereka tetap terjalin akhirnya Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua memilih pergi meninggalkan negeri Sihotang, ibunda boru Simbolon dan abang-abangnya. Akan tetapi ibunda boru Simbolon tidak mau ditinggalkan oleh kedua anaknya dan memilih ikut bersama mereka. Akhirnya bersama-sama dengan ibunda boru Simbolon mereka berangkat meninggalkan Negeri Sihotang tanpa sepengetahuan abang-abangnya dengan tujuan yang tidak pasti. Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan pakaian mereka pun sudah mulai terkoyak-koyak, akhirnya mereka sampai di suatu dolok yang kemudian dolok itu dinamai Dolok Martimpus. Akibat menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melewati hutan dan gunung, akhirnya ibunda boru Simbolon jatuh sakit. 

Mader Hasugian

Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua berusaha mengobati penyakit ibunya, namun mereka tidak berdaya akhirnya ibunda boru Simbolon meninggal dunia. Kepergian ibunya membuat keduanya sangat sedih, apalagi ibunya meninggal di hutan belantara. setelah ibunya meninggal lalu Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua melanjutkan perjalanan, akan tetapi anehnya setelah mereka berangkat pagi sore harinya mereka selalu kembali ke tempat dimana ibunya meninggal. Mereka pun bingung kenapa bisa seperti itu. 

Suatu hari mereka mendengar suara burung elang (lali) " hulis, hulis, tutung omakmi, tutung omakmi asa boi boanonmuna abuna i". Mereka bingung dengan suara burung elang tersebut, namun kemudian mereka melaksanakan seperti yang disampaikan burung elang tadi. Kemudian mereka membakar mayat ibunya dan membungkus abunya dan membawanya. Anehnya setelah hal itu dilaksanakan mereka baru bisa melanjutkan perjalanan.

Setelah sekian lama mereka melakukan perjalanan akhirnya mereka sampai ke suatu perladangan (Negeri Pusuk ?) dan di sana ada pondok (sopo). Ketika mereka sampai di tempat itu, hari sudah gelap dan pemilik ladang sudah pulang ke rumahnya. Akhirnya mereka masuk ke pondok dan bermalam di sana. Dan biasanya pemilik ladang selalu menyediakan perbekalan di pondok. Perbekalan itulah yang kemudian mereka santap. Dan ketika menjelang pagi mereka berdua meninggalkan pondok dan pergi ke hutan. Mereka merasa malu dengan pemilik ladang karena mereka tidak berbusana lagi (marsaemara). Namun ketika hari menjelang gelap mereka kembali ke pondok dengan membawa hasil buruannya. Hal itu mereka lakukan beberapa lama. Kejadian itu membuat pemilik ladang dan pondok (boru Sumangge) bingung dan bertanya-tanya, siapa gerangan yang menghabiskan perbekalan dan menaruh daging hasil buruan di pondok? Kemudian boru Sumangge menceritakan kejadian tersebut kepada Ayahnya Datu Parulas. Ayah boru Sumangge pun bingung mendengar cerita putrinya boru Sumangge.

Suatu hari boru Sumangge berangkat lebih pagi ke ladang, dengan tujuan untuk mengetahui siapa sebenarnya yang selama ini tinggal di pondoknya dan memakan perbekalan serta menaruh hasil buruannya di pondok. Sambil mengendap-endap boru Sumangge mendekati pondok dan mendengar suara manusia dari dalam. Kemudian boru Sumangge bertanya: Ise do hamu na di bagas i? Jolma do manang Begu? (Siapa yang ada di dalam? Manusia apa Hantu?). Mendengar suara boru Sumangge Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua merasa terkejut. Mereka tidak menduga boru Sumangge datang sepagi itu ke pondok. Lalu keduanya menjawab : Jolma do hami, alai ala namarsaemara hami maila hami (Kami manusia akan tetapi karena kami tidak berbusana kami merasa malu). Mendengar itu, boru Sumangge melemparkan kain laman ke dalam pondok. Kemudian Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua melilitkan kain laman itu ke tubuhnya, dan membuka pintu pondok. Mereka lalu menceritakan kisah perjalanan mereka hingga sampai ke tempat itu. Setelah mendengar cerita keduanya, boru Sumangge pun meminta keduanya tetap tinggal di pondok dan boru Sumangge sendiri pulang ke rumah untuk menyampaikan hal itu kepada ayahnya Datu Parulas. Mendengar cerita putrinya, Datu Parulas pun segera menyuruh putrinya boru Sumangge menjumpai Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua sambil membawa pakaian dan mengajak keduanya ke rumah.

Datu Parulas pun sangat senang akan kedatangan Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua. Sebab  Datu Parulas merasa yakin bahwa kedua tamunya yang menurut penglihatannya  bukan seperti manusia biasa akan dapat membantunya yang pada saat itu sedang berperang melawan Marga Manullang (?) dari Banuarea.  Lalu Datu Parulas pun menceritakan permusuhannya dengan marga Manullang (?) dari Banuarea, serta tidak lupa menyampaikan kepada Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua, barang siapa yang dapat membantunya mengalahkan musuhnya maka dia akan dijadikan helanya (menantunya). Keduanya pun menyanggupi membantu Datu Parulas untuk berperang menghadapi musuh, dengan catatan tujuan utama bukan untuk dijadikan hela akan tetapi murni untuk menolong sesama yang dilanda kesusahan. Dengan mengandalkan kesaktian dan peralatan perang ULTOP dan TALI SOLANG, keduanya berhasil mengalahkan musuh Datu Parulas.

Kemenangan Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua disambut gembira oleh Datu Parulas. Dan sesuai dengan janjinya Datu Parulas pun memanggil keduanya dan menyerahkan kepada Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua siapa di antara keduanya yang akan menjadi helanya (menantunya). Karena putri Datu Parulas hanya satu yaitu Boru Sumangge. Keduanya pun bingung dan saling pandang-pandangan. Menurut cerita sifat diantara keduanya berbeda. Raja Tunggal orangnya lebih berani sedangkan Orang Kaya Tua lebih kalem. Kemudian Orang Kaya Tua menyampaikan kepada Raja Tunggal : Kaulah yang jadi helanya. Akan tetapi dalam hatinya Orang Kaya Tua pun ingin menjadi menantu Datu Parulas. Mendengar perkataan Orang Kaya Tua , Raja Tunggal pun setuju. Akhirnya dilangsungkanlah perkawinan antara Raja Tunggal dengan Boru Sumangge putri Datu Parulas. Akan tetapi dalam hati si Orang Kaya Tua ada sedikit kekecawaan, yang kekecewaan itu kemudian dilampiaskan dengan menikahi Tagan Sombereng boru Tinambunan yang merupakan bayo dari si Raja Tunggal.

Setelah Raja Tunggal menikah dengan boru Sumangge, kemudian mereka menetap di Huta Batu bersama-sama dengan si Orang Kaya Tua. Suatu saat boru Sumangge meminta kepada Datu Parulas ayahnya agar mereka diberikan ULOS NA SO RA BURUK (Tano) yang akan menjadi perladangan mereka. Permintaan putrinya pun dikabulkan oleh Datu Parulas karena putrinya hanya meminta ukuran tanah nasa bobak ni horbo. Tetapi ternyata boru Sumangge sangat cerdik, bobak ni horbo tadi diiris tipis-tipis dan ketika diadakan pengukuran ternyata tanah itu sangat luas. Karena sebagian besar wilayah kerajaan Datu Parulas dililiti bobak ni horba yang sudah diris tipis-tipis oleh boru Sumangge. Tanah itu kemudian dikenal dengan PARLILITAN  yang artinya yang dililiti oleh kulit kerbau tadi (Parlilitan kemudian menjadi BONA PASOGIT KEDUA keturunan Sigodang Ulu Sihotang setelah Negeri Sihotang di Samosir).

Seperti yang diceritakan di atas, kekecewaan si Orang Kaya Tua atas pernikahan si Raja Tunggal dengan boru Sumangge,  dilampiaskan dengan menikahi Tagan Sombereng boru Tinambunan yang merupakan bayo dari si Raja Tunggal.Sebenarnya si Raja Tunggal telah mengingatkan si Orang Kaya Tua bahwa Tagan Sombereng adalah bayo mereka,  namun si Orang Kaya tua menjawab : bayom do i dang bayongku i, paribanku do i, ai boru Parna do i (karena ibu mereka adalah boru Simbolon yang juga boru Parna). Si Raja Tunggal berusaha menghalang-halangi perkawinan si Orang Kaya Tua dengan Tagan Sombereng boru Tinambunan, akan tetapi tekad si Orang Kaya Tua sudah bulat dan mengatakan : Molo binsar dope mata ni ari dang boi oraanmu ahu, jolo so binsar pe mata ni ari asa dang saut ahu tu si. (Kalau matahari masih terbit , siapapun tidak boleh melarang saya, akan tetapi kalau matahari sudah tidak terbit lagi, saya pun tidak akan berkeras). Akibat perkawinan si Orang Kaya Tua  dengan Tagan Sombereng boru Tinambunan, ada keretakan diantara keduanya, yang kemudian ditengahi oleh boru Sumangge yang bijaksana dengan memberikan tanah ke arah Huta Tinggi kepada si Orang Kaya Tua. Mengenai Pusaka Ultop kemudian dijadikan si Raja Tunggal sebagai mahar kepada mertuanya, sedangkan Tali Solang dibawa si Orang Kaya Tua ke Huta Tinggi yang kemudian hilang secara gaib masuk ke dalam batu besar di Aek Gaman ketika si Orang Kaya Tua mandi, yang kemudian tempat hilangnya tali solang dinamai Namo Pahat.

Setelah si Orang Kaya Tua menikah dengan Tagan Sombereng boru Tinambunan dan bertempat tinggal di Huta Tinggi, mereka dikarunia 3 orang anak laki-laki, yaitu Orang Kaya Bale, Orang Kaya Penali dan Orang Kaya Muda dan (?) anak perempuan. Ketiga putranya itu masing-masing mendiami dua perkampungan yaitu Orang Kaya Bale dan keturunannya mendiami GAMAN-NAMBADIA, Orang Kaya Penali mendiami ONGGOL_NAPAHORSIK, dan Orang Kaya Muda mendiami NAMOGANA-SITUMEANG, yang selanjutnya dikenal dengan sebutan GAMAN-NAMBADIA, ONGGOL-NAPAHORSIK, NAMOGANA-SITUMEANG SANTIK MULDUKULDUK. Santik muldukulduk merupaka pusakko si Orang Kaya Tua, beruapa Loting (mancis) yang apabila menurut si Orang Kaya Tua ada yang perlu dibicarakan dengan ke-3 putranya hanya menyalakan santik muldukulduk di Huta Tinggi maka ke-3 putranya akan datang dari enam kampung tadi. (sampai sekarang santik muldukulduk tidak diketahui dimana, kalau ada yang mengetahui keberadaannya mohon diinformasikan). Diantara enam perkampungan yang menjadi wilayah keturunan si Orang Kaya Tua, yang sampai tulisan ini dibuat belum diketahui keturunan si Orang Kaya Tua yang dulunya mendiami huta Situmeang dimana kini keberadaannya.

(Diceritakan dan ditulis kembali oleh St. Drs. Robinson Hasugian (Pak Jeremia) Keturunan Raja Onggol, berdomisili di Doloksanggul, Kab. Humbang Hasundutan dengan catatan bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami sangat mengharapkan masukan, saran dan kritik dari siapa pun yang mengetahui sejarah Sihotang Orang Kaya Tua (Hasugian Sitolu Tali) demi penyempurnaan tulisan ini. Atas kekurang sempurnaan tulisan ini kami mohon maaf).**
  BeritaTerkait
  • Mewujudkan Tao Silalahi Sebagai Tujuan Wisata Berwawasan Geopark Kaldera Toba

    12 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak) : Silahisabungan Arts Festival berlangsung selama tiga hari, Jum’at-Minggu/ 2-4 Desember 2016.Kegiatan seni budaya berbasis kearifan local wilayah Tao Silalahi ini di

  • 6 Lokasi Wisata Alam di Tanah Batak

    tahun lalu

    Sejumlah lokasi wisata terbaik di Tanah Batak, berikut ini bisa menjadi panduan bagi Anda yang ingin bepergian bersama keluarga atau teman-teman di sekitar Tanah Batak.

  • Banyak Tokoh Batak Masuk Tim Pemenangan Ahok

    tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Banyak tokoh Batak yang lintas partai menjadi tim pemenangan Basuki Tjahaja Purnama, yang akrab dipanggil Ahok. Ini menunjukkan makin derasnya dukungan terhadap menantu oran

  • Salahkah Ahok Dalam Kasus Surat Al Maidah 51

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : <br></br> Kisruh yang menggelayut penduduk DKI Jakarta jelang Pilkada, terlebih dengan munculnya kasus dugaan penghinaan terhadap ayat suci Alquran yang dituduhkan kepada calon Petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

  • HKBP Petra Pematangsiantar Tentukan Utusan ke Sinode Godang untuk Pilih Ephorus

    2 tahun lalu

    Siantar (Pelita Batak): Empat utusan sinode HKBP Petra Pematangsiantar, Beslon Samosir MPd dan St Romauli br Manik (utusan sinode distrik Juni) St Kasan Purba MPdK dan Pendeta Mora Nahampun&nb

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online