Sabtu, 24 September 2016 10:04:00

Buku 'Sonduk Hela' Jadi Referensi Hata Batak

BAGIKAN:

 

Medan (Pelita Batak) :
 

 

Buku 'sonduk Hela' yang dituklis dalam bahasa batak toba diharapkan menjadi referensi 'hata batak' yang sudah nyaris hilang. Sebab, belakangan ini banya kosa kata dalam bahasa Batak yang sudah tidak lagi dipakai dalam komunikasi sehari-hari masyarakat Batak khususnya.

 

 
Karya Tansiswo Siagian terbitan Selasar Pena Talenta telah resmi diluncurkan dan dibedah atas kerjasama dengan Yayasan Pusat Kajian Dan Dokumentasi Sumatera (Institut Sumatera) bekerjasama dengan Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan melakukan, Sabtu, 10 September 2016 di Ruang VIP Lt.3 Fakultas Ilmu Sosial UNIMED.
 
Seperti disampaikan Manguji Nababan yang turut hadir dalam acara bedah buku, bahwa dalam buku 'Sonduk Hela' penulis menggunakan bahasa Batak yang baku. sehingga, bisa menjadi referensi untuk menggali kembali kosa kata 'hata Batak' yang tidak lagi digunakan di kehidupan sehari-hari saat ini.
 
Buku Sonduk Hela dibedah oleh berbagai narasumber yaitu : Prof. DR. Robert Sibarani, Prof. DR. Ibrahim Gultom, Prof. DR. Albiner Siagian, Dra. Flores Tanjung, MA. Dan S. Mida Silaban, MN serta di Moderatori oleh Corry Paroma Panjaitan SH.
 
Sonduk Hela merupakan buku Torsa-Torsa ( Kumpulan Cerita ) Batak Toba, buku ini menjadi salah satu upaya dalam melestarikan bahasa ibu dan kearifan lokal di tengah keberagaman etnik dan modernitas di Indonesia. Sehingga bahasa daerah tetap hidup ditengah tengah masyarakat.
 
Buku Sonduk Hela bukan saja sebagai upaya terhadap pelestarian bahasa Ibu namun menjadi sebuah kritikan terhadap masyarakat Batak ditengah mulai terjadinya penyimpangan yang terjadi dalam batak itu sendiri.
 
Yayasan Pusat Kajian dan Dokumentasi Sumatera sangat berterima kasih kepada Tansiswo Siagian atas kerja kerasnya dalam melakukan penulisan buku ini, harapannya kelak semoga dengan munculnya buku berbahasa Batak Toba ini akan muncul lagi buku-buku berbahasa daerah lainnya khusunya di Nusantara ini.(TAp/rel)
 
 
 
 
  BeritaTerkait
  • Ini Kata Vicktor E Simanjuntak Tentang Pelestarian Budaya Batak

    9 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak) :Putra/putri Bangso Batak akhir-akhir ini mengatakan khawatir akan semakin tersingkirnya budaya asli Batak dari zaman ini. Namun ada kalanya, generasi Batak saat ini tidak lagi menunjukkan kebanggaannya sebagai seorang yang terlahir d

  • Hari Ketiga Jong Bataks Festival Arts #3 Angkat Tradisi PakPak dan Simalungun

    8 bulan lalu

    Medan(Pelita Batak): Setelah mempersembahkan kebudayaan Karo dan Mandailing di hari pertama dan dilanjutkan dengan kebudayaan Toba di hari kedua, maka pada hari ketiga, Kamis  27 OKtober 2016,

  • Partandang na Bitik

    2 bulan lalu

    Adong do sada boru ni Ama ni Panukkunan, margoar si Lastiar Christina Margareth. Biasa dijou si Lastri. Na burju do Si Lastiar on jala pargaul. Nang pe boru siampudan. Unduk marnatua tua. Uli rupan

  • Menelusuri Liku-liku Jalan di Bonapasogit dan Merajut Semangat Leluhur

    2 bulan lalu

    Pulang ke kampung saya, Sigolang di lereng pebukitan Bukit Barisan di deretan Tapanuli Selatan sangat berkesan. Keberangkatan kali ini, diawali dihari Kamis, tanggal 27 April 2017 dengan bangun san

  • Mangain Boru, Perlukah ?

    3 minggu lalu

    TELAH menjadi praktek yang lazim bagi orang Batak Toba, apabila menikah dengan wanita dari luar sukunya, wanita itu diberi marga. Umumnya marga yang diberikan adalah sama dengan marganya ibu dari pria

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet