• Home
  • Turi-turian
  • Asal Muasal Sigalegale, Patung Penari dari Tanah Batak (5)
Rabu, 31 Agustus 2016 16:52:00

Asal Muasal Sigalegale, Patung Penari dari Tanah Batak (5)

BAGIKAN:

Diciptakan sebuah boneka kayu yang diberi peran sebagai anak kandung almarhum. Di atas mata boneka tersebut, ditempelkan lumut berisi air dan jika ditekan akan mengeluarkan air, seakan-akan air matanya jatuh bercucuran. Patung kayu itu dibuat seakan-akan dia adalah anak kandung almarhum yang sedang meratapi ayahnya.

Dia menari dengan menggerakkan jari-jarinya yang lemah gemulai sehingga roh jahat terkecoh, dan mengira bahwa yang menari tersebut adalah anak almarhum. Selama acara kematian, boneka itu menari terus, maksudnya untuk memberi kedamaian kepada roh orang yang meninggal.

Jika seorang pria meninggal sebelum berumah tangga, berarti tidak mempunyai anak yang akan melanjutkan keturunannya. Di dunia roh dia akan dihina bahkan dikucilkan dari lingkungannya karena dianggap roh yang tidak berguna. Untuk menghiburnya supaya merasa aman dan damai, keluarga terdekat menempatkan sebuah joro (rumah tradisional dalam bentuk mini) di atas kuburannya. Pada joro itu digantungkan berbagai persembahan dan sesajen serta barang yang biasa dipakai almarhum sewaktu masih hidup. Lebih kurang dua bulan setelah kematian pria tersebut, diadakan pesta tarian Sigalegale di kampung.

Semua keluarga dan sanak saudara serta seisi kampung diundang turut serta. Tamu-tamu disuguhi jamuan makan dan tuak yang berlimpah. Pesta itu berlangsung selama satu minggu, diiringi gondang Batak (orkes Batak). Sigalegale menari tiada henti-hentinya, di siang hari di bawah pohon hariara, di malam hari di udara terbuka diterangi bintang di langit. Pada hari terakhir tuan rumah membagi-bagikan daging kepada semua yang hadir. Sementara itu kepada Sigalegale dikenakan pakaian adat yang indah bertatakan perhiasan. Di pelataran kampung, Sigalegale menari terus diikuti “suhut (tuan rumah)”, beserta keluarga dan sanak saudara. Di penghujung acara semua yang hadir berpawai menuju kuburan, di barisan paling depan terlihat Sigalegale beserta joronya digotong beramai-ramai.

Setelah tiba di makam, dipanjatkan doa takzim (tonggo-tonggo) memohon kepada roh leluhur supaya tidak terulang lagi nasib sial, meninggal sebelum memperoleh keturunan. Setelah selesai melakukan tugasnya, orang yang mengendalikan Sigalegale, bergegas pergi ke luar kampung; di sanalah dia mengasingkan diri selama satu malam. Tak seorang pun berani menampungnya di kampung, karena dianggap masih dirasuki oleh roh-roh orang mati yang belum puas dengan acara pesta kematian. Di kesunyian malam, roh-roh itu meninggalkannya tergeletak sendirian di lapangan terbuka.

Bersambung >>> hal 6 | Kembali<<<< hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4 | hal 5 |
 

  BeritaTerkait
  • Asal Muasal Sigalegale, Patung Penari dari Tanah Batak

    tahun lalu

    I. Pendahuluan   Tapanuli sebagai kampung halaman suku Batak memiliki berbagai cerita rakyat sebagaimana cerita rakyat yang dimiliki suku-suku lain di Indonesia.  Berbagai peristi

  • Asal Muasal Sigalegale, Patung Penari dari Tanah Batak (1)

    12 bulan lalu

    Pada masa yang silam, apabila seorang terkemuka meninggal sebelum mempunyai anak sebagai penyambung keturunan, dianggap merupakan kesialan. Untuk mencegah supaya nestapa seperti itu tidak berulang kembali, maka diadakanlah tarian duka menggunakan boneka d

  • Asal Muasal Sigalegale, Patung Penari dari Tanah Batak (2)

    12 bulan lalu

    Tidak ada sumber yang pasti untuk legenda Sigalegale ini. Banyak versi yang beredar untuk menceritakan legenda tersebut. Namun semuanya itu mengandung makna dan pesan yang sama. Untuk itu kami memi

  • Asal Muasal Sigalegale, Patung Penari dari Tanah Batak (3)

    12 bulan lalu

    Akhirnya, ia mengumpulkan datu-datu besar sebanyak enam orang. (Menurut cerita dari Bapak Jimmy Sigiro, salah satu dari para datu yang membuat patung tersebut adalah marga Sinaga yang sampai saat i

  • Asal Muasal Sigalegale, Patung Penari dari Tanah Batak (4)

    12 bulan lalu

    Di dalam sebuah kampung di Toba, terjadi duka yang sangat dalam karena putra, tunggal seorang pemimpin yang terpandang meninggal dunia. Ayahnya sangat terpukul, karena tidak ada lagi anaknya yang a

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online