Senin, 03 Juni 2019 19:13:00

Toba Caldera World Music Festival 2019 Berlangsung 14-16 Juni

Medan (Pelita Batak):
Toba Caldera World Music Festival (TCWMF) 2019 kembali akan digelar pada tanggal 14-16 Juni 2019 mendatang, bertempat di lapangan terbuka bukit Singgolom desa Lintong Ni Huta kecamatan Tampahan Toba Samosir. Kegiatan yang digagas oleh lembaga Rumah Musik Suarasama ini akan dilaksanakan secara bekerjasama dengan berbagai komunitas di kota Balige dan masyarakat kecamatan Tampahan Tobasa.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan dan mempromosikan destinasi wisata Danau Toba kepada masyarakat di Sumatera Utara, Indonesia dan dunia lewat sebuah festival musik. 

Dalam keterangan tertulisnya, Irwansyah Harahap sebagai director of festival TCWMF menyatakan bahwa festival tahun ini merupakan sebuah tantangan yang baru. "Kalau tahun lalu kami mengadakannya dalam format indoor di TB Silalahi Center selama satu hari saja, tahun ini kita mencoba melakukannya di lapangan terbuka (outdoor) selama tiga hari, dimana segala sesuatu menyangkut persiapan teknis maupun non teknis benar-benar dipersiapkan secara matang. Tak mudah memang, namun dengan keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan festival ini membuat kita menjadi lebih optimis," katanya.

Dijelaskan, tentang genre world music sendiri dijelaskan oleh Rithaony Hutajulu (co-director sekaligus manejer produksi TCWMF), "World music itu awalnya istilah yg dipakai dalam dunia ethnomusicology untuk menyebutkan musik-musik tradisi dari seluruh kebudayaan dunia (1980an). Di akhir abad 20an istilah ini diadopsi oleh industri musik menjadi sebuah genre musik baru yg ada hubungannya dgn ekspresi musik tradisi dunia; misalnya pemusik pop/jazz berkolaborasi dgn para pemusik tradisi dari India, Timur Tengah, Afrika, Jawa, Bali dan lainnya," jelasnya. 

Karya-karya world music umumnya mereprsentasikan musik-musik tradisi dunia yg sdh berakar di masyarakatnya ("roots music") dan juga musik-musik baru yg memiliki unsur tradisi dunia-sering disebut 'world fusion', karena memfusikan beberapa unsur-unsur musik dari beberapa tradisi dunia. World music kemudian berkembang dan menjadi sangat popular dalam bentuk-bentuk festival di dunia. Di Indonesia sendiri festival world music pertama pernah dibuat di Bali-Bali Wolrd Music Festival-pada tahun 2002, kemudiaan di ikuti beberapa kota-kota lain seperti, Bandung (Jabar), Pekanbaru (Riau), Sawahlunto dan Padang (Sumbar) dan Banda Aceh (NAD). 

TCWMF 2019 pada tahun ini didukung oleh berbagai lembaga, diantaranya Kementrian Pariwisata RI, Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT), Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF); Pemkab Toba Samosir; Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan; Kementrian Koperasi-UKM; dan beberapa lembaga lainnya. Sebagaimana yang dikatakan Basar Simanjuntak (Direktur Pemasaran BOPDT), "Kita sengaja memilih dan memproyeksikan tempat kegiatan festival ini yang hanya berjarak kurang lebih duapuluh lima menit dari Bandara Silangit dan kota Balige, agar para pengunjung dapat secara lebih mudah mengakses dan hadir meramaikan kegiatan festival."

Ditambahkan Basar, TCWMF 2019 ini merupakan bagian dari salah satu yang mengawali kalender event kepariwisataan di Danau Toba pada tahun ini. Festival ini diharapkan juga menjadi satu model pengembangan pariwisata berbasis kegiatan (event-based tourism development) yang berkelanjutan di Danau Toba, dan juga diharapkan dapat menjadi ajang berkumpulnya para komunitas world music dunia.  

Kegiatan tiga hari TCWMF 2019 akan diramaikan oleh beberapa kelompok musisi bergenre "world music" yang sudah tidak asing lagi di Indonesia dan sudah memiliki reputasi internasional diantaranya SUARASAMA (Irwansyah Harahap) dan Kua Etnika (Jaduk Ferianto); Mataniari (Toba roots music) feat "Si Raja Seruling" Marsius Sitohang. Disamping itu festival ini juga akan menghadirkan kelompok world/roots music dari luar negeri seperti FieldPlayers  (Malaysia); Jade School Guzheng Ensemble feat Prof. Xiaoxin Xiao (China); Daniel Milan Cabrera-Deva Baumbach (Mexico).; Community Creative (UNP Padang); Communal Primitive (USU Medan); Ensamble Musik Univ HKBP Nomensen Medan; Ensambel Gendang Kampung (UNIMED Medan); dan beberapa talent lokal lainnya. 

Disamping kegiatan pertunjukan musik, TCWMF 2019 juga akan diramaikan dengan berbagai eksibisi pameran, mulai dari kerajinan, kuliner, dan workshop tentang tenun dan world/roots music.  "Di acara pembukaan TCWMF 2019 pada tanggal 14 Juni 2019 nanti akan disuguhkan satu pentas kolaborasi 'Lintas Bunyi' dari beberapa etnis, Toba-Simalungun-Nias, China, dan Pakpak, dan Mandailing; menggambarkan tema festival tahun ini, 'Earth Vibaration.' Di penutup acara hari ketiga tgl 16 Juni 2019 juga akan dihadirkan kolaborasi musik antar musisi," demikian ditambahkan oleh Rithaony Hutajulu.(*|TAp)