Sabtu, 27 Juli 2019 09:49:00

Surat Terbuka kepada Presiden

Bachtiar Sitanggang
Oleh Bachtiar Sitanggang

BAPAK Presiden Ir. Joko Widodo yang terhormat. Terima kasih kepada Bapak.  Menurut berita, Bapak akan menginjakkan kaki di Pulau Samosir, untuk melihat secara langsung pembangunan kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata unggulan,  seperti daerah lain di Tanah Air. 
Kabupaten Samosir adalah "cicit" dari Kabupaten Tapanuli, yang kemudian menjadi Kabupaten Tapanuli Utara. Kemudian Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan dan terbentuk Kabupaten Toba Samosir.

Kemudian  pemekaran Toba Samosir menghasilkan Kabupaten Samosir. 
Pada tahun 1983-an wilayah Tapanuli terkenal  sebagai Peta Kemiskinan di Sumatera Utara, setelah terbit hasil liputan wartawan Harian Umum Sinar Harapan (waktu itu), sehingga walaupun kemudian sudah menjadi kabupaten, fasilitas di Samosir belum standar kabupaten, seperti,  Pengadilan Negeri, Dinas Kehutanan,  dan mungkin banyak lagi. Barangkali jadi kawasan wisata sifat dan sikap pejabat setempat perlu standar internasional, sebab selama ini rakyat yang disalahkan, ternyata pamongnya saja tidak ramah. 

Bapak akan melihat dari Sipinsur bahwa Pulau Samosir  hampir gundul, karena Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) kurang berhasil. Malah program ini pernah diusut Kejaksaan,  tetapi tidak ada ujungnya.

Mengenai pertanian di Samosir,  Bapak akan menyaksikan di kiri-kanan jalan,  dari Tomok ke Pangururan, jauh lebih hebat pada zaman komponis Guru Nahum Situmorang, yang dalam salah satu lagu gubahannya,  "Pulo Samosir", disebutkan,  gok di si hassang, eme nang bawang (penuh kacang, padi, dan bawang). Demikian juga hewan, menurut Nahum, rarak do pinahan di dolok i, artinya berserakan hewan di pegunungan itu. 

Tapi, sayang, Bapak hanya melintasi jalan mulus, yang sudah baik dari zaman penjajahan. Begitu juga halnya dengan di tepi pantai.  Kalau Bapak melintasi jalan dari Tomok ke Pangururan via Ronggur ni Huta, memotong Pulau Samosir,  Bapak akan saksikan bagaimana Samosir itu sebenarnya, termasuk hutan alam yang telah dirambah PT Inti Indorayon Utama dulu dan sekarang telah menjadi hutan eukaliptus, yang menurut para ahli, tidak lagi menyimpan air.

Kalau Bapak melintas dari tengah hutan itu, Bapak akan menyaksikan tumpukan sampah yang diangkut bertruk-truk setiap hari dari Pangururan ke tengah hutan.  Bagaimana daerah pariwisata sampah ditaruh di pegunungan?

Mungkin lain kali, ada baiknya Bapak  mengunjungi kantor pemerintahan Kabupaten Samosir yang hanya sekitar 5 km dari Tano Ponggol yang akan Bapak lewati ke Geopark Kaldera Toba. Dengan melihat Samosir itu secara utuh, mungkin akan lebih cepat upaya Bapak terwujud. Dengan demikian, Bapak akan dapat gambaran termasuk penggunaan kata "Samosir, Negeri Indah Kepingan Surga", sebab kalau "kepingan surga" itu apa tidak sama dengan neraka?  Maaf Bapak Presiden, Surga adalah hak prerogatif Tuhan Yang Maha Esa.   

Bapak Presiden Jokowi yang terhormat. 
Rakyat yang mencintai keadilan berterima kasih dengan amnesti yang akan dianugerahkan kepada Baiq Nuril, karena DPR telah menyetujuinya. Dengan demikian akan menjadi pelajaran bagi para penegak hukum untuk menelaah sebab-akibat dari kasus hukum, tidak asal menghukum.

Bapak Presiden yang terhormat, 
Tahukah Bapak bahwa sekarang ada tiga orang ibu rumah tangga berada di Rumah Tahanan (Rutan)  di Pangururan,  sejak  11 Juli 2019,   karena tuduhan merusak pompa penyemprot rumput? Romauli boru Simbolon alias Mak Irma, Serialam boru Situmorang alias Mak Noni, dan Jetti Rusliani Gultom alias Mak Harapan, telah disidangkan, Kamis, 25 Juli 2019 di Pengadilan Negeri Balige,  dari Rutan Pangururan, dan kabarnya akan disidangkan  1 Agustus 2019 di Pangururan.

Bapak Presiden, hukum harus ditegakkan, tetapi harus memenuhi keadilan. Merusak barang (seharga Rp 3.000.000) wajar diadili, tetapi betapa ruginya bangsa ini dan ketidakadilan yang ditimbulkan akibat dari proses hukum  tersebut.

Hanya jarak 1,5 km dari jalan yang akan Bapak lewati Rutan tempat ke-3 ibu itu ditahan. Lapas/Rutan Pangururan peninggalan Belanda dan sampai sekarang berada di tengah pemukiman elit Pangururan, sungguh tidak elok, barangkali satu-satunya di Indonesia.
Mungkin Bapak Kapolri dan Bapak Jaksa Agung tidak mengetahui proses yang mengantarkan ketiganya   ke meja hijau. 

Kabarnya, peristiwa yang memenderitakan keluarga dan anak-anak emak-emak itu  berkaitan dengan objek pariwisata, menyangkut lahan.
Barangkali perlu juga menjadi perhatian Bapak Presiden tentang  tanah di sekitar Danau Toba, masih tanah ulayat, milik bersama, bukan "siapa kuat dia yang punya".

Selamat menikmati keindahan Tao Toba dan Samosir Nauli, Bapak Presiden. Horas.*
(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)