Rabu, 13 Maret 2019 13:27:00

Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah (3-Selesai)

Pdt Dr Robinson Butarbutar (kanan)
Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP


4. Masa Kerajaan (Saul hingga Yoyakhin).
a. Seruan pertobatan para nabi sebelum pembuangan dan membisunya umat
Para nabi dipanggil oleh Tuhan untuk menyerukan panggilan pertobatan. Kesediaan raja-raja melakukan seruan para nabi mendatangkan kebaikan, seperti ditiadakannya hukuman sama sekali, dikuranginya hukuman, dan ditundanya hukuman. Tetapi ketidaksetiaan para pemimpin Israel Utara dan Selatan mendengarkan dan melakukan seruan para nabi, malah sebaliknya menolak para nabi dengan mengejar dan menghukum mereka telah mengakibatkan terbuangnya Israel Utara dan Israel Selatan. 
Para nabiyang datang dari keluarga kaum imam maupun bukan imam merespon secara positif panggilan politis Allah yang menugaskan mereka untuk mengingatkan dengan bahasa yang jelas, tegas dan keras agar terjadi pertobatan. Ada yang bertobat, seperti Daud, Josia dan khususnya Manasseh (2 Kronika 33:1-25 dan 2 Kings 21:1-26. Tetapi kebanyakan tidak bertobat, berbeda dengan seluruh pemimpin Ninive and rakyat mereka yang dalam semangat pertobatan melakukan tindakan puasa dan mengenakan debu di atas kepala sehingga hukuman yang sudah direncanakan Allah sebagaimana dikumandangkan oleh nabi Jona tidak terjadi.

Karena itu mengapa hampir semua usaha mereka tidak menghasilkan pertobatan yang dapat menyelamatkan bangsa itu dari kehancuran? Pada kesempatan lain penulis mengungkapkan bahwa kegagalan para nabi menobatkan para pemimpin jahat untuk menghindari kehancuran bukan karena para nabi itu tidak piawai melakukan tugasnya, melainkan karena rakyat tidak ikut bergerak menolak para raja yang lalim dan tidak adil.2 Kerjasama di antara para nabi dengan rakyat yang diberdayakan untuk menolak keadilan tidak terjadi, karena rakyat sangat tergantung kepada para raja yang dilihat merupakan perwakilan Tuhan di dunia. Para nabi-nabi modern yang menyerukan pertobatan dari para pemimpin yang tidak adil mau tidak mau harus bekerja sama dengan masyarakat sipil untuk menguak dan menolak segala bentuk ketidakadilan. Itulah tindakan politis yang dapat dilakukan oleh para nabi dan kepentingan rakyat yang ditidakadili.

5. Masa pembuangan dan sesudahnya
a. Aktif membangun kesejahteraan kota

Kita mengetahui bahwa nabi-nabi yang menyuarakan suara Allah pada masyarakat Judea yang hidup di negeri penakluknya, Babilonia, selama 70 tahun masa pembuangan memberitakan janji-janji keselamatan bangsa Judea tanpa mengharuskan mereka terlebih dahulu harus mengadakan pertobatan. Walaupun dosa-dosa mereka disebut, itu dilakukan dalam rangka menyebutkan bahwa Allah mengampuninya. Pengalaman menjadi bangsa kalah yang hidup di tengah-tengah bangsa penghancur negeri sendiri merupakan pengalaman yang sangat kelam. Karena itu, dapat dimaklumi jika bangsa itu kehilangan semangat dan pengharapan. Tetapi justru kepada bangsa yang tinggal di negeri orang Babilonia Allah melalui nabi Jeremia menyarakan agar sementara menunggu waktu kembali dari pembuangan mereka melakukan tanggung jawab mereka sebagai umat Allah, yaitu membangun membangun, bertumbuh dan mengusahakan sesejahteraan kota: "Dirikanlahrumah untuk diambil; buatlah kebun untuk kamu nikmati, ambillah istri untuk memeranakkan ana laki-laki dan perempuan...agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang. Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalan untuk kota itu kepada Tuhan sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Jer 29: 5-8, bnd 29: 11). Inilah peran politis yang paling komprehensif, karena membangun bukan di negeri sendiri melainkan di dan untuk kesejahteraan penduduk kota orang lain yang pada gilirannya menyejahterakan hidup mereka sendiri. Mendahulukan menyejahterakan orang lain di dalam kota.

b. Aktif membangun tembok Jerusalem dari puing-puing kehancuran
Walaupun kehancuran Jerusalem sebagai ibu kota yang hancur dan tidak terurus selama 70 tahun, seorang pejabat pemerintahan Persia pimpinan raja Artaxerxes yang ditugaskan selama beberapa tahun terbatas, Nehemia yang melihat reruntuhan parah kota tidak tinggal diam dan meratap, tetapi dengan energi tak biasa membangun tembok kota selama 52 hari (Neh 6: 15) walaupun mendapat tantangan yang luar biasa dari pihak dalam dan pihak luar (Neh 3: 5; 4: 4, 10; 5: 1, 6: 16-19, 13:4). Apa yang dilakukannya bersama dengan Ezra telah membangkitkan sepenuhnya rasa percaya diri dari bangsa Judea yang kembali dari pembuangan dan menjada fundasi kuat bagi bertumbuhnya Kejahudian.

c. Kesetiaan menyembah Tuhan Allah walaupun diancam bunuh
Peran politis aktif dilakukan oleh Daniel dan kawan-kawannya dengan segala resiko. Kesediaan mereka menanggung resiko sudah tiba pada tahap mampu memertahankan imannya kepada Allah walaupun Allah tidak menyelamatkannya dari ancaman kematian oleh raja Nebukadnezar: Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puji sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu" (Daniel 3: 16-18).

d. Melepaskan bangsa dari ancaman pembersihan etnis
Kesaksian Alkitab Perjanjian Lama tentang peran dan tanggung jawab politis untuk kesejahteraan sesama sebangsa yang tengah diancam oleh pembersihan etnis walau dengan resiko kehilangan kenyamanan malah nyawa sendiri ditunjukkan oleh seorang perempuan putri Jahudi di diaspora bernama Esther. Terhadap panggilan Allah melalui Mordechai keberuntungannya berhasil terpilih menjadi pengganti Wasti permaisuri raja Ahasyweros (memerintah tahun 485-465 seb M), Ester tidak melipat tangan dalam menjawab tantangan Mordechai agar ia melakukan sesuatu untuk menghancurkan rencana persekongkolan jahat Haman anak dari Hamedata. Memang ia sempat agak bersikap acuh. Akan tetapi setelah disadarkan oleh Mordechai tentang tidak adanya masa depan Ester dan keluarganya sendiri jika ia tinggal diam tidak mencegah pemusnahan Jahudi tersebut dan Allah dapat mencegahnya lewat orang lain, Ester pun melakukan sesuatu di luar batas-batas yang diijinkan baginya untuk menghentikan pemusnahan tersebut, yaitu dengan meminta seluruh bangsa Jahudi di Susan berpuasa penuh selama tiga hari sama seperti dirinya dan dayang-dayangnya agar ia mendapat kekuatan untuk memasuki menghadap raja walau berlawanan dengan undang-undang, dengan resiko kehilangan nyawana (Ester 4:14-16). Tindakan penyelamatan seluruh bangsa Yahudi dilakukan Ester dengan memasuki pelataran dalam istana raja saat raja bersemayam di atas tahtanya.

Dengan hikmat dan kehati-hatian akhirnya Ester berhasil membukakan rencana jahat Haman dengan mengundangnya dan raja untuk makan pada perjamuan yang disajikan ester di tempatnya di mana ia membeberkan rencana jahat Haman. (Ester 5-7, khususnya 7: 3-4). Lebih jauh peran politis Ester tidak berhenti sampai di situ saja. Ia selanjutnya memohon kepada raja agar segala surat-surat tulisan Haman berisi rencana membinasakan orang Yahudi di seluruh kerajaan dicabut, sebaliknya apa yang baik untuk orang Yahudi diperintahkan raja untuk Ester tuliskan menggantikan tulisan-tulisan jahat Haman untuk diberlakukan di seluruh kekuasaan raja, yaitu dari India dia Asia sampai Etiopia di Afrika mencakup 120 daerah, dengan meterai raja berbunyi: "raja mengijinkan orang Yahudi di tiap-tiap kota untuk berkumpul dan memertahankan nyawanya serta memunahkan, membunuh atau membinasakan segala tentara, bahkan anak-anak dan perempuan-perempuan dari bangsa dan daerah yang hendak menyerang mereka untuk merampas harta miliknya" (8: 4-17, khusus ayat 11), suatu tindakan yang membuat orang Yahudi di Susan dan di kota-kota lain memeroleh "kelapangan hati dan sukacita, kegirangan dan kehormatan" (Ester 8: 16). Hal itu terus menerus diingat dan dirayakan oleh orang Yahudi setiap tahun pada hari keempat belas dan lima belas bulan Adar karena pada hari itu dukacita mereka berubah menjadi sukacita, hari perkabungan menjadi hari gembira dan hari untuk mengantar makanan sebagai sedekah kepada orang-orang miskin (9: 22). Mereka menamakan hari itu sebagai Purim (9: 26). Itulah hasil partisipasi politis Ester untuk kemaslahatan bangsaNya yang sempat diancam pemunahan.

Tindakan Esther dapat sedemikian rupa karena ia disadarkan dan diberdayakan oleh Mordechai untuk melakukan peran politisnya yang sangat beresiko. Jika Mordechai tidak memberdayakan Ester, maka lenyaplah orang-orang Jahudi oleh kejahatan Haman.

6. Masa Perjanjian Baru
Gerakan Yesus selama tiga tahun sebagaimana dicatat oleh keempat injil Markus, Lukas, Mateus dan Johanes 40, 50, 55 dan 60 tahun setelah kematian dan kebangkitannya terjadi di dalam suatu entitas politik yang dikuasai oleh kerajaan Herodes, pejabat Romawi dan pemimpin agama selama tiga tahun. Gerakan para pengikutnya dari Judea ke daerah-daerah lain di propinsi Romawi selain Syrio-Palestina, baik yang dilakukan oleh ke-12 muridnya di Jerusalem dan kemudian oleh Petrus keluar Judea, maupun yang dilakukan oleh para pemberita injil termasuk rasul Paulus untuk bangsa-bangsa bukan Jahudi di luar propinsi Syrio-Palestina terjadi secara intensif selama dua puluh tahun setelah Jesus sejarah. Setelah jemaat-jemaat berdiri dan bertumbuh di kota-kota tersebut surat-surat yang ada di dalam Perjanjian Baru ditulis mulai tahun 49/50-an hingga menjelang akhir abad pertama, yaitu tahun 90-an. Surat-surat itu tidak mengungkapkan Jesus sejarah, yaitu tentang karyanya di Palestina, melainkan tentang dampak dari tokoh Yesus bagi kehidupan orang-orang yang memercayaiNya sebagai Mesias. Surat-surat mengungkapkan tentang iman kepada Yesus dan etika hidup dalam paradigma baru dari para pengikutnya selama dua puluh hingga 60 tahun setelah peristiwa Yesus. Paradigma etis baru itu disodorkan oleh para penulisnya untuk dihidupi oleh jemaat-jemaat penerima surat itu. Oleh karena itu apa yang dituliskan oleh kitab-kitab injil maupun surat-surat Perjanjian Baru memuat peristiwa historis hanya selama maksimum 63 tahun dari hidup dan karya dari Yesus dan para pengikutnya, jauh lebih singkat dari waktu dan peristiwa yang dikisahkan dan dibahas oleh kitab-kitab Perjanjian Lama.

Walaupun begitu peran Yesus yang sangat bersahaja itu telah berhasil menumbuhkan suatu gerakan yang besar, yang tadinya hanya merupakan satu dari sekte di tengah Kejahudian, yang kemudian dilanjutkan dengan terbentuknya komunitas para pengiman dan pengikut Yesus di berbagai kota. Ajaran dan keteladanan peran Yesus di entitas politiknya di Palestina begitu berperan sehingga diemulasi oleh para pengikutnya di kota-kota tersebut.

a. Jesus
Yesus melaksanakan tugasnya dari Allah Bapa yang mengutusnya selama tiga tahun, dimulai dari Galilea dan diakhir di Judea yang berada di bawah kuasa kekaisaran Romawi di mana ketiga kelompok elite kekuasaan ini mengatur kehidupan rakyat, kebanyakan di antaranya miskin, rentan terhadap penyakit dan hidup di dalam ketidakberdayaan, yaitu raja-raja keluarga Herodes dan para aristokrat yang merupakan klien dari satu-satunya Patron Kaisar, para procurator Romawi angkatan Kaisar, dan Imam besar di Bait Allah. Raja-raja menguasai tanah dan perairan, yaitu pekerjanya, produknya dan pemasaran hasil-hasilnya. Di Galilea secara khusus tetapi juga di Judea khususnya di ibu kota Jerusalem terdapat ketidakseimbangan yang begitu jelas, jurang yang sangat lebar dan dalam di antara segelintir para elite penguasa itu beserta agen-agen yang mengurusi pertanian, perikanan dan usaha kepemilikan bangunan, maupun para pemimpin bait Allah dengan keluarga besar para imam. Jurang yang sangat lebar dan dalam itu diperparah oleh ketidakmampuan rakyat (petani, nelayan dan pekerja bangunan) miskin membayar pajak yang dibebankan kepada mereka oleh kekaisaran dan penguasa bait Allah. Akibat ketidakmampuan membayar beraneka pajak tersebut, rakyat kebanyakan hidup di dalam kemiskinan dan rentan terhadap penyakit dan kematian.

Bertugas di dalam suasana kehidupan yang tidak seimbang dengan jurang yang besar dan dalam seperti itu Yesus melakukan pemberitaan, pengajaran, pelayanan (pengusiran setan, penyembuhan orang sakit, dan tanda mujizat lainnya) secara sangat aktif untuk menciptakan kemerdekaan dari segala kungkungan kusa-kuasa yang mematikan. Ia memberitakan Kerajaan Allah yang mendesak diadakannya keadilan, kebenaran dan tindakan kasih, sedemikian rupa sehingga para penguasa elit tersebut di atas merasa terancam. Keterancaman mereka oleh pekerjaan Yesuslah yang menyebabkan mereka berusaha menghalang-halangi pelaksanaan tugasnya dengan beraneka cara dan malah pada akhirnya harus menyalibkannya. Walaupun ia memisahkan milik kaisar dan milik Allah dan walaupun pemberitaannya tentang kerajaan Allah tidak menganjurkan tindakan kekerasan terhadap para penguasa elit seperti yang dilakukan oleh kaum Zelotes yang mendapat dukungan dari rakyat, tetapi pemberitaannya tentang hadirnya kerajaan Allah melalui perumpamaan-perumpaannya menyebutkan kehadiran kerajaan itu di dalam tindakan-tindakannya dan kesegeraan kehadiran kerajaan yang harus direspon dengan segera, juga membuat para wakil dan klien dari kekaisaran Romawi menganggapnya merupakan ancaman besar. Yesus tidak memihaki status quo. Ia juga menyuarakan suara nabiah menentang penggunaan Bait Allah bukan sebagai rumah doa melainkan sebagai sarang penyamun lewat pembersihan Bait Allah, suatu tindakan yang menyebabkan para penguasa Bait Allah memutuskan untuk membunuhnya.

Pengajarannya yang mengoreksi pengajaran-pengajaran dari para guru Israel di Palestina dan mereformasi pemahaman dan pelaksanaan hukum Taurat sebagaimana dilakukan oleh para guru Israel lainnya dimaksudkan untuk mengangkat beban yang ditaruh oleh mereka ke pundak rakyat kebanyakan khususnya rakyat miskin. Pelayanan penyembuhan yang dilakukannya terhadap sangat banyak orang sakit yang ditemukannya atau yang datang kepadanya dari seluruh daerah, maupun pengusiran kuasa-kuasa jahat dari orang-orang yang dirasuki mereka, maupun perbuatan tanda-tanda mujizat termasuk memberi makan lima ribu orang hanya dengan bahan yang sangat terbatas, demikian juga dengan khotbah-khotbahnya di bukit yang mengajarkan hikmat hidup semuanya dilakukan sebagai tindakan politis yang sangat aktif, yaitu menghadirkan Kerajaan Allah di bumi di mana kebebasan, keadilan, perdamaian dan kasih sayang menaungi hidup manusia.

Sehingga boleh dikatakan bahwa Yesus adalah teladan sangat baik untuk pelaksanaan peran politis bagi para muridNya dahulu dan sekarang. Itu sebabnya tidak mengherankan jika para muridnya mengingat, meneruskan dan memberitakan apa yang Yesus sendiri ungkapkan tentang maksud kedatangannya: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10: 45, Mat 20: 28). Pelayanan yang dilakukan oleh Yesus tidak sempit, melainkan komprehensif dan sempurna (Matius 4: 23). Dari pengjarannyalah keluar dasar pijak yang kuat untuk pemenuhan tanggung jawab dan peran politis para pengikutnya terhadap kemaslahatan umat: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum taurat dan kitab para nabi" (Mat 7: 12). Hal ini ditekankan oleh Yesus dengan menyamakan nilai dari mengasihi Allah dengan mengasihi sesama manusia (Mat 22: 37-40). Bagi Yesus, peran aktif melayani kesejahteraan manusia itu tidak sekedar pembicaraan, melainkan harus melakukan pengajaran Yesus (Mat 7: 24, 24: 46), sama seperti yang ditekankan oleh Yakobus 1: 22, dan oleh rasul Paulus yang mengajarkan pada surat Roma bahwa harus terjadi perobahan paradigma hidup dari orang-orang yang telah dibenarkan oleh Kristus, yaitu dengan memersembahkan hidupnya kepada Allah dengan melayani sesamanya manusia. Yesus memandang serius kebutuhan mendesak fisik dan psikhis manusia.

Di dalam pelaksanaan pengajaran-pengajarannya tentang pentingnya mengasihi sesama manusia Yesus juga mengajarkan di dalam khotbahnya di bukit bahwa para murid harus bersedia menempuh jalan-jalan sempit dan sulit, bukan jalan-jalan yang luas (Mat 7: 13-14). Jalan-jalan sempit dimaksud dapat diteladani dari tindakan-tindakan pelayanan kemanusiaan Yesus yang keluar dari praxis yang sudah biasa dilakukan oleh rekan-rekan sebangsanya. Misalnya, prinsip mengasihi sesama itu dinampakkan oleh Yesus dengan tindakannya yang melayani orang-orang selain orang bukan Yahudi, beberapa di antaranya disebut sebagai memiliki iman yang lebih besar dari keturunan fisik Abraham. Sebagaimana dibeberkan dengan sangat gamblang oleh injil Lukas, khususnya pada pasal 4: 16 hingga pasal 21, setiap tindakan Yesus selalu dibarengi atau diikuti oleh tindakan melayani orang-orang kecil dan pinggiran. Ia juga melayani orang-orang yang tidak dilayani oleh orang-orang Yahudi maupun para pemimpin agamawi mereka. Para murid Yesus disebut Yesus merupakan garam dan terang dunia.

2. Para pengikut Yesus/orang-orang Kristen mula-mula: Perobahan paradigma, kesatuan iman dan aksi

Ketika gerakan Yesus berproses di Palestina, orang-orang yang berinteraksi dengan gerakan-gerakan sangat aktif Yesus adalah bangsa Yahudi yang telah memiliki nilai-nilai yang baku di dalam tindakan melayani sesama manusia. Yesus secara khusus telah mereformasi pemahaman mereka tentang tindakan terhadap sesama manusia, yaitu tidak memandang batas-batas sosial dan budaya. Pengajaran dan tindakan Yesus tersebut dicoba diterapkan oleh orang-orang Kristen mula-mula di luar Palestina, yaitu di kota-kota Romawi di Timur selain Palestina, ke mana injil tentang Yesus Kristus telah diberitakan, dan orang-orang percaya dari beraneka latar belakang, khususnya orang-orang kecil dan budak, tetapi juga beberapa orang-orang yang berpengaruh telah membentuk komunitas Kristen yang berkumpul di rumah-rumah para patron mereka. Bagi orang-orang Kristen iman tidak terpisah dari perbuatan, hidup yang dibenarkan dalam dalam perilaku-perilaku hidup baru di dalam interaksi dengan sesama manusia.

Di dalam konteks kehidupan di mana orang-orang Kristen merupakan bagian dari penduduk kota, penduduk berwarga negara Romawi maupun bukan, mereka berusaha menunjukkan peran politis mereka untuk kebaikan masyarakat. Rasul Paulus dan para murid Yesus dari generasi kedua yang dekat dengan dia dan para rasul lainnya seperti rasul Yohanes dan rasul Petrus membantu mereka untuk mendefenisikan bagaimana peran politis mereka di tengah-tengah kehidupan mereka di kekaisaran Romawi yang hidup dalam pengaruh budaya Yunani dan Romawi. Karena anggota jemaat Kristen itu berasal dari budaya Yunani dan Romawi, sebagai anggota suatu komunitas baru mereka harus melakukan perobahan paradigma memandang dan bertindak di tengah-tengah kekaisaran. Secara prinsipil orang-orang Kristen yang sudah dibenarkan oleh Kristus diminta untuk memersembahkan hidupnya sebagai logiken latreia dengan terlebih dahulu membaharui akal budi mereka sehingga mereka mengetahui mana kehendak Allah (Roma 12: 1-2).

Ketika mereka masih di Jerusalem orang-orang Kristen menujukkan gerakan kebersamaan untuk saling mendukung anggota komunitas yang tidak memiliki cukup untuk kehidupannya (Kis 4: 32-37, 6: 1-7). Demikinlah orang-orang Kristen di kota-kota lain diminta oleh rasul Paulus untuk secara aktif melakukan tindakan solidaritas membantu orang-orang kudus di Jerusalem yang hidup dalam kemiskinan (2 Kor 8-9). Bukan saja orang-orang Kristen di kota ekonomi bertumbuh Korintus di propinsi Achaia yang diminta untuk melakukan tindakan solidaritas terhadap orang-orang kudus di Yerusalem, tetapi juga jemaat-jemaat Kristen di propinsi lain seperti Makedonia yang diminta untuk melakukannya dari kemiskinan mereka.

Setelah jemaat-jemaat bertumbuh di kota-kota di kekaisaran Romawi para warga jemaat di rumah-rumah patron itu diminta untuk memastikan bahwa keselamatan yang dari Allah tidak sekedar untuk keselamatan yang sempit, melainkan keselamatan yang menujukkan bentuk di dalam hidup yang baru dengan pekerjaan-pekerjaan baik (Titus 3:1). Iman tanpa perbuatan itu mati (Yak 2: 20). Iman yang Paulus ajarkan adalah iman yang terungkap dalam tindakan kasih (Gal 5:6). Orang-orang yang telah dibenarkan diminta untuk hidup dipimpin Roh Kudus dengan menjauhkan aneka perbuatan daging, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal 5: 19-20). Sebalikna mereka diminta untuk melakukan buah-buah Roh Kudus, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5: 22-23a). Perbuatan baik di antara dan yang dilihat oleh orang-orang bukan Kristen akan memampukan mereka memuji Allah pada waktunya (1 Pet 3: 1).

Hubungan di antara sesama warga jemaat-jemaat Kristen itupun harus dilakukan dalam paradigma baru, yaitu saling menghargai karena masing-masing memiliki karunia dari Allah yang satu, tidak menganggap yang satu lebih tinggi dari yang lain (Philippi 2: 1-11). Demikian juga terhadap bukan Kristen prinsip mengasihi sesama diperankan oleh orang-orang Kristen di kekaisaran Romawi. Tindakan mengasihi sesama semaksimal mungkin itulah yang merupakan salah satu faktor utama mengapa dalam dua abad Kekristenan sudah dikenal di kekaisaran. Sama seperti Kristus datang untuk melayani dan memberikan nyawanya di kayu salib (Rom 15:8, Phil 2: 11), demikianlah eksistensi orang-orang Kristen yang melayani sesamanya (2 Kor: 14; Rom 8: 35, 37).

Walaupun karena perbuatan baiknya mereka mendapat tantangan malah disuliti kehidupannya oleh orang-orang bukan Kristen, mereka harus menganggap penderitaan karena berbuat baik itu sebagai berkat. Mereka tidak diijinkan membalaskan kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan, dan menyerahkan pembalasan kepada Allah, karena Yesus Kristus telah mengalami hal sama (Roma 12: 17, 19, 21). Itu sebabnya kepada jemaat Kristen di Filipi Paulus menulis agar orang-orang Kristen memikirkan semua yang mulia, semua yang adil, semua yang manis, semua yang sedap didengar semua yang disebut kebajikan oatut diperiksa (Fil 4: 8).

Orang-orang Kristen di Korintus diminta oleh rasul Paulus untuk tidak meneruskan pola hidup orang-orang kaya yang bertindak diskriminatif terhadap orang-orang yang miskin di dalam jemaat itu di dalam perjamuan makan mereka (1 Kor 11: 17-34). Menyadari adanya sistim perhambaan yang merupakan sistim masyarakat Romawi, jemaat diminta untuk memergunakan kesempatan bebas jika kesempatan itu muncul melalui para patron yang baik hati (1 Kor 7: 17-24). Orang-orang yang sudah dimerdekakan Kristus diminta untuk tidak lagi dikenakan kuk perhambaan (Gal 5: 1). Filemon (Fil 16) juga diminta untuk memandang hambanya Onesimus tidak lagi sebagai hamba, melainkan sebagai saudara secara fisik dan dalam Tuhan.

Orang-orang Kristen Jahudi yang hidup di diaspora diminta untuk hidup damai dengan semua orang (Ibr 12: 14; Roma 12: 18). Orang-orang Kristen diminta untuk merobah paradigma cara pandang segregatif terhadap bangsa-bangsa, laki-laki dan perempuan, tuan dan hama, barbarian dan bukan (Gal 3: 26-28 dan Kolosse 3: 10-11). Orang-orang Kristen di Epesus diminta untuk menyadari karya Yesus yang menghancurkan tembok pemisah di antara orang-orang Jahudi dan bukan Jahudi (Ef 2: 14-22). Hal itu dilakukan walaupun sistim relasi sosial di tengah-tengah masyarakat tidak serta merta ditolak oleh jemaat-jemaat (Ef 5:22-6:9 dan Kol 3:18-4:1. Bandingkan 1 Timothy 2:1., 8.; 3:1., 8.; 5:17.; 6:1.; Titus 2:1-10 and 1 Peter 2:13-3:7. Begitupun, paradigma cara pandanga baru telah diterapkan secara perlahan terhadap sistim relasi sosial politik tersebut.

Secara politis, orang-orang Kristen diberi pengajaran untuk tunduk kepada pemerintah yang berwibawa (Roma 13: 1-7), tetapi tatkala pemerintah mengancam komitmen orang-orang Kristen yang menyembah Yesus Kristus mereka berani menyaksikan bahwa mereka lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia (Kis 5: 39). Walaupun orang-orang Kristen diminta untuk secara aktif mendoakan pemerintah, mereka juga berani menolak menyembah patung Kaisar yang dipaksakan Kaisar Dominitanus, dengan segala resiko, termasuk kematian. Terhadap pemerintah segila Kaisar Dominitanus yang meminta patungnya untuk disembah sebagai ilah, orang-orang Kristen di Asia Kecil diminta untuk aktif keluar dari mental para pebisnis beruntung besar atau malah ikut menjatuhkan kaisar Domitianus (Wahyu 18: 4-13).

Mengingat bahwa tidak lebih dari dua abad nilai-nilai Kristen telah dibicarakan di rumah-rumah seluruh penduduk di kekaisaran Romawi, seperti dituliskan oleh sejarawan bukan Kristen Tacitus, maka dapat dipastikan bahwa orang-orang Kristen mula-mula di dalam Kekaisaran Romawi memerankan peran politis mereka secara aktif untuk merobah secara perlahan nilai-nilai kehidupan Yunani-Romawi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan paradigma baru orang-orang yang sudah dibenarkan menurut iman. Kesatuan di antara iman Kristen dengan tindakan-tindakan hidup di dunia Romawi merupakan ciri dari Kekristenan. Kekristenan memang belum dianggap sebagai agama yang resmi oleh kekaisaran, masih belum sejajar dengan Yudaisme, malah dianggap sebagai tahyul. Tetapi akibat dari tindakan-tindakan mereka yang baik dalam kehidupan sosial dan politis terhadap penduduk kekaisaran meniru tindakan Yesus Kekristenan pada abad mula-mula telah membuka jalan bagi dikenalnya Kekristenan di seluruh kekaisaran pada abad kedua. Mereka sungguh-sungguh adalah garam dan terang dunia.

II. Penutup
Uraian singkat tentang tinjauan biblis terhadap peran politis beberapa orang percaya pilihan di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, menunjukkan bahwa Alkitab berisikan banyak contoh peran aktif politis dari tokoh-tokoh Alkitab yang merubah keadaan dari yang tidak baik menjadi baik untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Apa yang mereka lakukan membebaskan dan menyelamatkan hidup, menyejahterakan hidup, menciptakan damai dan menegakkan keadilan. Mereka juga mengadakan perobahan-perobahan paradigma sikap pandang, relasi dan perilaku di dalam realitas sosial dan politik mereka. Oleh karena itu, warga HKBP yang mengenal Alkitabnya tidak kehilangan contoh dan motivasi tentang pentingnya membangun dan memberdayakan peran politis warga.(**)