• Home
  • Opini
  • Tulisan Kedua: Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 06 Mei 2017 17:46:00

Tulisan Kedua: Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?

BAGIKAN:
Ist
Ephorus Emeritus HKBP Pdt Dr JR Hutauruk
Oleh: Ephorus Emeritus HKBP Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk
 
Paparan ini merupakan lanjutan dari paparan terdahulu yang telah terkirim kepada Komisi Teologi HKBP via email, 17 April lalu. Pada kesempatan ini kita akan mencari pemahaman tentang "Parhalado Huria" dari dokumen HKBP:  "Panindangion Haporseaon"/"Pengakuan Iman"/"Konfesi HKBP". Berangkat dari dokumen tersebutlah kita memahami isi dokumen-dokumen lainnya seperti Aturan Peraturan HKBP (AP HKBP), Agenda HKBP, Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon HKBP (RPP HKBP).
 
Konfesi HKBP: Para Pelayan HKBP
 
Konfesi HKBP memberi pemahaman dasar tentang para pelayan (parhalado atau parhobas) gereja, termaktub dalam Konfesi HKBP 1951, Pasal 9 dan Konfesi HKBP 1996, Pasal 9. Kedua pasal inilah dasar teologis/dogmatis  untuk mengkaji dan memahami seperti apa para pelayan HKBP dalam gereja Tuhan dan di dunia ini, khususnya di HKBP. 
 
Kedua pasal tersebut merumuskan tentang "Parhalado Huria". Rumusannya tidak sama, namun saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Dalam Konfesi HKBP 1996, Pasal 9 terdapat penambahan rumusan-rumusan teologis-dogmatis yang menandakan pergumulan iman orang-orang percaya di HKBP dalam menghadapi dan menjawab  pergumulannya di tengah dunia   yang selalu berubah.
 
Konfesi HKBP mengingatkan setiap warga HKBP bahwa sumber dari segala sumber pengetahuan adalah Alkitab (Bibel): "awal dan akhir semua pemikiran, pengetahuan dan usaha di dalam Gereja dan bagi setiap orang percaya..." (Konfesi HKBP 1951, Pasal 4, alinea 4). Konfesi HKBP 1996, Pasal 2 alinea 3 menambahkan  bahwa setiap orang-orang percaya, baik warga gereja  maupun para pelayan tahbisan (partohonan/parhalado) wajib mempelajari dan menghayatinya: "Kita menekankan bahwa bukan hanya orang yang ditahbiskan yang menerima tugas, tetapi semua warga jemaat mendapat bagian akan pengetahuan yang perlu untuk mempelajari dan menghayati Firman Allah...."  
 
Dengan demikian, Konfesi HKBP menyatakan bahwa setiap warga gereja (HKBP) mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menyampaikan pikiran, pendapat dan pergumulannya tentang Firman Allah, yang menyinari setiap buah pikiran dan perbuatan setiap orang Kristen di dalam gereja dan di dunia ini. Pernyataan ini tetap seiring dan seirama dengan prinsip "Imamat Am orang-orang percaya". Prinsip ini lahir dari pergumulan Martin Luther saat mengembalikan dasar setiap pelayan gereja di dunia ini (dulu Gereja Katolik Roma dan Paks Romana). Martin Luther menegaskan dasar setiap pelayan gereja bukan klerikalisme, tetapi jabatan imam orang-orang percaya. 
 
Martin Luther mengatakan kepada para raja Jerman (semua Kristen - Katolik): "Semua orang Kristen mempunyai kedudukan rohani dan tidak ada perbedaan di antara mereka, hanya tugas mereka yang berlainan. Oleh baptisan kita semua ditahbis menjadi imam, seperti yang dikatakan oleh Petrus dalam suratnya I Petrus 2. Sebab oleh baptisan orang boleh bermegah, bahwa ia telah dibaptis menjadi imam, uskup dan paus, sekalipun tidak semua orang layak melaksanakan pekerjaan itu." 
 
Dengan ucapan tersebut, jelas Prof. Dr. Dieter Becker, Martin Luther bukan hendak melawan keharusan penugasan orang-orang tertentu dalam jemaat. "Tetapi menurut Luther berlaku, bahwa tiap-tiap orang yang telah dibaptis dilihat dari segi sakramental sudah memenuhi syarat-syarat  untuk ditugaskan sebagai pendeta (pastor), uskup dll. Dia telah memiliki harkat rohaninya tetapi tidak berarti bahwa dia sudah memangku jabatan itu. 
 
Semua orang Kristen yang dibaptis adalah imam demi harkatnya, tetapi hanya mereka yang ditugaskan dengannya, memangku jabatan itu. Luther sangat menekankan vocatio atau ordinatio (Konfesi Agustana XIV); penugasan itu penting baik bagi pemangku jabatan sewaktu dia dicobai maupun bagi jemaat yang menerimanya..."    
Vocatio atau ordinatio ialah akta liturgis untuk menyerahkan tugas pelayanan kepada seseorang, jadi bukan menyerahkan sebuah posisi yang lebih tinggi ditengah para pelayan lainnya. Ordinatio adalah sebatas fungsi bukan posisi. Posisi itu diurus oleh apa yang kita kenal dengan dokumen "Tata Gereja" atau oleh HKBP "Aturan Peraturan" (AP).
 
Dalam konteks HKBP dapatlah kita katakan bahwa formula liturgis di Agenda HKBP bukan mengurangi atau menambahkan sesuatu  kepada pribadi calon pendeta saat dia ditahbiskan jadi pendeta. Harkatnya sebagai pemangku imamat am orang-orang percaya adalah tetap, dan secara teologis sudah sempurna. Ordinasinya adalah akta penugasan yang sah untuk menjadi gembala (parmahan) di HKBP.
 
Dengan demikian formula liturgis dari Agenda HKBP tidak layak dianalisa dan diinterpretasi untuk menetapkan bahwa pendeta HKBP adalah "representasi figur Kristus".  Agenda HKBP (1998) punya empat formula liturgis dengan judul yang sama: "Pasahathon tohonan...", yaitu tohonan haguruon, tohonan hapanditaon, tohonan parjamita ina (bibelvrouw) dan tohonan diakones. Setiap partohonan tersebut memperoleh tugas umum (pemberitaan Injil dan penggembalaan) dan tugas khusus. Komisi Teologi HKBP telah sering menerima usul supaya judul akta liturgis untuk para pelayan sintua supaya diubah dari "Manjangkon Sintua" menjadi "Pasahathon tohonan sintua." Usul itu baiklah menjadi bahan diskusi berdasarkan prinsip teologis-dogmatis yang sudah lama mengakar dalam tradisi HKBP, yaitu: imamat am orang-orang percaya. 
 
Setiap pelayan (parhobas) di HKBP itu mempunyai sakramental yang sama, yaitu baptisan kudus. Akta liturgis "Pasahathon tohonan" adalah akta penugasan pelayan tahbisan sesuai dengan uraian tugas masing-masing yang dibacakan oleh Ephorus dari Agenda HKBP. Akta liturgis itu menjadi pedoman bagi HKBP untuk mengetahui garis-garis tugas pelayanan para pelayan HKBP yang majemuk itu. Akta liturgis bukan akta yang mengubah harkatnya yang sudah sempurna jadi super-sempurna, tetapi seorang pendeta tetap jadi pelayan berdasarkan prinsip imamat am orang-orang percaya (1 Petrus 2: 9-10).
 
Formula Konfesi 1996 jauh lebih luas cakupannya dari Konfesi 1951, namun kedua formula itu adalah hasil pergumulan konfesional HKBP 1951 dan HKBP 1996.  Isi Konfesi HKBP 1996,  Pasal 9: "Majelis Jemaat", akan kita kutip sembari memilahnya dalam beberapa  isu teologis-dogmatis:
 
Pertama: Imamat Am Orang-orang Percaya
 
Penegasan atas prinsip imamat am orang-orang percaya di HKBP: "Kita mempercayai dan menyaksikan: Semua orang Kristen, laki-laki atau perempuan, terpanggil untuk menjadi saksi Kristus di dunia ini, selaku kaum yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, kaum yang dipimpin oleh Kristus untuk memberitakan pendamaian yang dilakukan Kristus, yang memanggil Gereja dari kegelapan ke terang. Jabatan gerejawi semua orang Kristen adalah jabatan pelayanan..."
 
Kedua: Allah yang Memanggil
 
Allah memanggil pelayan jemaat melalui Gereja bekerja sesuai tiga jabatan Kristus: "Tetapi untuk memelihara pelaksanaan pelayanan di tengah Gereja, Allah memanggil pelayan jemaat melalui Gereja untuk bekerja sesuai dengan tiga jabatan Kristus, yaitu: nabi, imam, raja (1 Kor 2: 28; 1 Tim 6: 5; Yoh 1: 49; 1 Petr 2: 9).
 
Ketiga: Penampakan Ketiga Jabatan Kristus 
 
Penampakan ketiga jabatan Kristus (nabi, imam dan raja) adalah tugas bersama setiap warga dan para pelayan. Masing-masing partohonan sesuai akta liturgis telah menerima tugas mereka sebagai penjabaran dari penampakan ketiga jabatan Kristus.   Keenam tohonan di HKBP mencakup semua ragam pelayanan, dan secara khusus pelayanan dua sakramen yang diakui oleh HKBP yaitu baptisan kudus dan perjamuan kudus dilayankan oleh pelayan pendeta. 
 
Pembagian tugas sebagai "Penampakan ketiga jabatan Kristus" adalah:1. Mengkhotbahkan Kabar Baik di tengah Gereja, di dunia ini dan kepada segala makhluk; 2. Memelihara dan melayankan dua sakramen, yaitu baptisan kudus dan perjamuan kudus; 3. Menggembalakan warga Gereja; 4. Mengawasi seluruh kegiatan Gereja; 5. Mengajarkan dan memelihara ajaran yang murni; 6. Menjalankan hukum siasat gereja dan penggembalaan, dan menentang ajaran sesat; 7. Menjalankan pelayanan kasih; 8. Membebaskan orang dari berbagai kemiskinan dan kebodohan; 9. Ikut serta melaksanakan pembangunan yang berdasarkan kebenaran dan keadilan, dan menjunjung tinggi nilai manusia selaku citra Allah (Imago Dei).
 
Keempat: Kontinuitas Sejarah Pelayan
 
Konfesi HKBP menyebut nama-nama pelayan pada Gereja perdana abad I di Palestina dan sekitarnya, yang dilayani oleh ragam pelayan: "Bagi pelayanan di Gereja mula-mula diangkatlah: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar, diaken dan diakones, penatua, episkopos (pengawas) untuk melayani Tubuh Kristus.  Walaupun pelayanan di tengah Gereja beraneka ragam, Tuhan yang empunya pelayanan itu adalah satu (Ef 4: 11; Kis 6: 1-7; 14: 23; 15: 2; 20: 28; Pilp 1: 1; 1 Tim 3: 1; Tit 1: 7; 1 Tim 3: 3; 4: 11; Mat 23: 11; 1 Kor 12: 5-7)."
 
Dalam bahasa Agenda HKBP, nama kolektif semua pelayan gereja abad I itu adalah pendeta:"...sai dipabangkit Debata do di tongatonga ni HuriaNa angka Pandita , mulai intap ni dung ojak Huria i di tano on ro di tingki nuaeng."  (Agenda HKBP 1996, hl. 39).
 
Sejarah para pelayan HKBP yang enam ragam itu adalah lanjutan dari sejarah para pelayan sejak awal gereja berdiri di dunia ini. Para pelayan HKBP bukan berdiri di luar sejarah gereja Tuhan di dunia ini, tetapi di dalam sejarah gereja Tuhan di dunia ini,  bergumul bersama untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. 
 
Lahirnya keenam jabatan gerejani di HKBP mencerminkan proses historis penginjilan dan kebutuhan warga Kristen dari etnis Batak dengan latar belakang budaya Batak. Tohonan pertama yang dibutuhkan ialah tohonan yang konteks sosialnya melekat pada fungsi dan struktur masyarakat desa Batak, yaitu "Sintua" yang padanannya di tengah desa ialah "pangituai ni huta", yang mempunyai wibawa menegakkan hukum adat dan hukum parsahutaon. 
Sintua adalah gembala di tengah desa-desa yang penduduknya sudah ada yang menerima sakramen baptisan kudus. Seorang sintua di desanya bukan lagi memakai hukum adat, tetapi menerapkan hukum Injil, yang lebih mengedepankan penggembalaan ketimbang mengenakan hukuman. 
 
Jemaat-jemaat perdana di HKBP pada zaman zending hidup di kalangan kerabat, tetangga dan masyarakat Batak yang masih menganut agama animis-magis, sehingga dari antara sintua yang berbakat penginjil diangkat jadi evangelis. 
 
Ketika jemaat dan sekolah sudah semakin melembaga, maka jemaat sangat membutuhkan tenaga guru yang dipersiapkan melalui pendidikan formal. Seorang guru adalah pendidik di jemaat maupun di sekolah dengan memakai pedoman tersendiri untuk kedua lembaga yang dilayankannya (kadangkala disebut "teacher-preacher"). Seorang guru mendapatkan tugas menjadi guru di jemaat dan juga di sekolah. Di sekolah, seorang guru harus bertanggung jawab kepada dua lembaga, yaitu lembaga kegerejaan dan lembaga pendidikan umum oleh Departemen Pendidikan Pemerintah. 
 
Dari kalangan guru yang berdedikasi dan  kemampuan yang tinggi dipilih menjadi pendeta sesudah melalui pendidikan kependetaan di Seminari Sipoholon. Mereka ditempatkan di jemaat-jemaat untuk membantu tugas pelayanan para tuan pandita (misionaris Jerman). 
 
Pada kurun waktu yang lain, lahir pula jabatan "Parjamita Ina" atau "Bibelvrouw", kemudian "Diakones". Pada kurun waktu yang lain, HKBP mengutus anak-anak HKBP yang terbaik untuk studi di Sekolah Tinggi Teologi di Jakarta (dulu dengan nama "H.Th.S.") dengan tujuan kelak jadi pengganti tugas dan posisi para "tuan pandita" (Ephorus, Praeses dan Pendeta Resort pada dekade zaman Zending). Mereka diberi gelar "Domine" (Ds.). Kepemimpinan gereja (HKBP) kelak akan diserahkan kepada para Domine. 
 
Demikian sekilas latar belakang keenam partohonan di HKBP. Masing-masing mereka menerima tugas pelayanannya pada sebuah ibadah minggu melalui satu akta liturgis oleh Ephorus. 
Setiap golongan partohonan mengadakan rapat sekali dalam dua atau empat tahun. Rapat Pendeta membicarakan dan memutuskan hal-hal tentang ajaran, etika gereja melalui RPP, perkembangan teologi dan ajaran sekitar kehidupan gereja di dunia dan penggembalaan, tanpa membicarakan tentang urusan kepemimpinan di HKBP. 
 
Urusan ajaran dan pemberitaan Injil dengan urusan organisasi kegerejaan tidak dapat disatukan dalam Rapat Pendeta. Inilah komitmen teologis dari para pendeta HKBP hingga kini, yang menunjukkan bahwa HKBP bukan Gereja Pendeta (Klerikalisme).
 
Kelima: Martin Luther dan Jabatan Pendeta
 
Konfesi 1996 menyatakan demikian: "Dalam Gereja Reformasi, jabatan kependetaanlah yang mencakup semua jabatan yang tersebut di atas. Karena itu kita menolak seseorang melayankan sakramen tanpa dia menerima tahbisan kependetaan, demikian juga seseorang yang mencari dan memakai jabatan kependetaan tanpa melalui proses yang benar (2 Kor 13: 13; Kisah Rasul 8: 16)." Bagian ini tidak ada dalam Konfesi 1951. 
 
Pernyataan dalam Konfesi 1996 itu berguna bagi kita untuk mengenalkan keadaan Martin Luther di tengah gereja di mana dia lahir dan melayani, yaitu Gereja Katolik Roma yang dipimpin oleh pimpinan tunggal Paus di Roma. Para imam Katolik yang ikut Reformasi jadi pendeta Protestan seperti Martin Luther. Luther mengikuti tradisi Katolik yang mengenal hanya satu jabatan di gereja, yaitu pendeta. Pendeta mempunyai tugas berkhotbah, mengajar, menggembalakan dan melayankan kedua sakramen yang diakui oleh kaum Protestan, yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus serta pemberkatan nikah. Semua ini ada kaitannya dengan hukum yang berlaku di negara/bangsa Jerman, karena bentuk gereja Protestan itu adalah bentuk Gereja-Negara. 
 
Pendeta merupakan satu-satunya pelayan tahbisan di gereja yang lahir oleh Reformasi Martin Luther, maka jabatan kependetaan konteks Luther (manunggal) itulah yang "mencakup semua jabatan" di HKBP, yang kini terdiri dari enam jabatan (majemuk). Di dalam kemanunggalan jabatan itu nampak  kemajemukannya, karena mereka semua menuaikan  "tugas pelayanan yang satu itu (Ef 4: 11; Kis 6: 1-7; 14: 23; 15: 2; 20: 28; Flp 1: 1; 1 Tim 3: 1; Tit 1: 7; 1 Tim 3: 3; 4: 11; Mat 23: 11; 1 Kor 12: 5-7)", seperti pernyataan Konfesi 1996.
 
Pemahaman itu seirama dengan penjelasan di atas bahwa kemajemukan tohonan adalah tanda pembagian tugas sesuai  uraian tugas masing-masing partohonan di Agenda HKBP. Posisi mereka dalam sistem kepemimpinan di HKBP telah diatur pada Tata Gereja (Aturan Peraturan) HKBP. 
 
Keenam: Etika Pelayanan di HKBP
 
Konfesi 1996 menyatakan: "Dengan ajaran ini kita menekankan, setiap orang harus merendahkan dirinya dalam melaksanakan tugasnya di tengah Gereja, seperti Kristus, Gembala Agung itu yang adalah teladan bagi semua pelayan di Gereja (1 Ptr 5: 4; 2: 25). Mereka yang ditahbiskan harus berani menyatakan kebenaran Yesus Kristus di hadapan sesama manusia dan penguasa. Kita menolak sikap dan perilaku pelayan yang cinta akan harta emas karena pelayanan di dalam Gereja adalah pengorbanan diri."
Dalam Konfesi HKBP terdapat tiga aspek etika jabatan (etika tohonan):
 
Satu, etika tohonan yang harus melekat pada kehidupan seorang pelayan adalah kerendahan hati. Teladan setiap pelayan gerejani adalah Kristus, Gembala Agung. Seberapa tinggi pun posisi seorang pelayan, dia harus menampilkan diri seolah-olah tidak punya posisi apapun, sama halnya seperti Kristus mengosongkan diri supaya setiap orang percaya terbebas dari segala kekuasaan yang membelenggunya. Etika pribadi ini harus nampak pada setiap perjumpaannya dengan warga HKBP dan warga gereja lainnya.
 
Dua, etika tohonan yang menyangkut "kebenaran Yesus Kristus di hadapan sesama manusia dan penguasa".
 
Tiga, etika tohonan yang menyangkut perilaku pelayan terhadap kuasa materi ("cinta akan harta emas"). Perilaku demikian jangan terjadi di kalangan partohonan, bahkan harus "ditolak".  Setiap partohonan harus mengingat bahwa pelayanan itu adalah "pengorbanan diri".
 
Kesimpulan
1. Konfesi HKBP adalah dokumen utama untuk memahami siapa dan apa tugas setiap pelayan di HKBP. Konfesi HKBP selalu merujuk pada Firman Tuhan dan sejarah gereja perdana dalam memberikan uraian konfesional HKBP.
 
2. Dasar tohonan di HKBP adalah prinsip alkitabiah-reformatoris: Imamat am orang-orang percaya (1 Petrus 2: 9-10).
 
3. Sebagai salah satu gereja di dunia ini, HKBP dilayankan oleh ragam pelayan (partohonan), yaitu: sintua, evangelis, guru, pendeta, bibelvrouw dan diakones. Setiap pelayan diberi tugas pelayanan bersama dan khusus.
 
4. Akta liturgis di Agenda HKBP adalah akta penugasan (fungsi tohonan) kepada pelayan tahbisan bersangkutan. Dia diangkat jadi pemangku sebuah tohonan, karena dia adalah anggota jemaat dan mempunyai tohonan imamat am orang-orang percaya.(*)
  BeritaTerkait
  • Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?

    2 tahun lalu

    Tulisan ini ditujukan kepada Komisi Teologi HKBP yang sedang menggelar Seminar Ekklesiologi HKBP di tiga kota sesuai dengan informasi Ephorus HKBP Pdt.Dr.Darwin Lmbantobing pada  kata sambutan

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan KeempatJabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal

  • Robinson Butarbutar Effect, KRP, dan Masa Depan HKBP

    12 bulan lalu

    KETIKA Ketua Rapat Pendeta HKBP 2017-2021 mampu membawa kualitas pelayanan pendeta naik kelas dengan sejumlah prestasi yang bermulplipief effect (efek besar) bagi jemaat HKBP, saya menyebutnya dengan

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Pertama)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukPendahuluanTulisan ini merupakan sambutan ketiga atas seminar Ekklesiologi HKBP, April 2017 lalu, yang kali ini fokus tentang ungkapan figuratif  "Pendeta Repres

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb