• Home
  • Opini
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)
Selasa, 11 Juli 2017 14:11:00

Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

BAGIKAN:
Ist
Pdt Dr JR Hutauruk
Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk

3. Refleksi: Ordinasi
Seperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba meramunya melalui contoh-contoh di atas. 

Figur pendeta sebagaimana dilukiskan warga jemaat berada pada spektrum yang sangat luas, mulai dari figur yang 'baik', 'sopan', 'penolong', 'pandai berkotbah', 'penuh kharisma'  hingga sampai kepada figur 'selebritis', 'materialistis', 'gila kuasa', 'tanpa kharisma pendeta'. 

Demikian figur pendeta hasil lukisan para warga jemaat. Figur pendeta yang sedemikian rupa adalah tanda bahwa pendeta tetap manusia biasa ciptaan Tuhan yang berada di bawah kuasa dosa dan hanya karena anugerah Tuhan Allah maka dosanya diampuni. Demikian kira-kira rumusannya dalam bahasa figural-teologis. 

Kemanusiaan yang sedemikian rupa, tidak berubah kala manusia itu memperoleh jabatan pendeta melalui suatu akta gerejawi yang dikenal dengan nama 'ordinasi'. Bahasa  yang disampaikan pimpinan ordinasi (ephorus) adalah bahasa liturgis, yang adalah bahasa biasa, bukan bahasa yang dapat mengubah pribadi manusia karena diucapkan oleh seorang pendeta yang melayankan jabatan ephorus. Tugas ini tidak pernah jadi rebutan di kalangan pengemban kepemimpinan pusat, sejak Ephorus Nommensen (1881) hingga kini 2017.

Ordinasi yang dilakukan di HKBP tidak sama dengan ordinasi yang dilakukan di gereja Katolik Roma. Bagi gereja Katolik Roma, ordinasi merupakan suatu akta sakral yang mengubah pribadi calon imam, di mana imam itu dianugerahi suatu sifat baru yang melekat padanya-suatu charakter indelebilis. Mudah-mudahan interpretasi yang saya berikan ini tidak sesuai dengan apa yang tersirat pada kalimat berikut: "Perbedaan tahbisan pendeta dari tahbisan lain di HKBP adalah representasi figur Kristus yang melekat pada pribadi penerima tahbisan pendeta.."  Andaikan kita mau menghargai tradisi ordinasi yang plural dalam Alkitab Perjanjian Baru, maka kita akan berhati-hati melakukan interpretasi yang anomali ini. 

Bersama Prof. Dr. Dieter Becker kita mau menyatakan: "Mengenai upacara ordinasi itu dalam Perjanjian Baru tampak kepelbagaian yang besar: sebagian dilaksanakan hanya oleh para pemegang jabatan saja (Kis 14:23; 2 Tim 1:8; Tit 1:5), sebagian lagi oleh seluruh anggota jemaat (Kis 6:3-6; 2 Kor 8:19). Ordinasi itu tidak selalu dilaksanakan dengan penumpangan tangan (Kis 14:23). Dalam Perjanjian Baru nampak suatu kebebasan terhadap upacara ordinasi yang menunjukkan bahwa upacara itu tidaklah berlandaskan 'hak manusiawi' dan tidak dianggap 'hak ilahi' seperti dalam gereja besar di kemudian hari."   

Mengenai jabatan gerejawi, teologi Protestan membedakan dua posisi yang saling bertentangan, yang membentuk dua kutub yang saling berbeda dan dalam sejarah gereja Protestan mengakibatkan ragam pemahaman tentang jabatan itu sendiri. 
Posisi A: "Kristus hanya menegakkan satu-satunya jabatan pelayanan yang berhadapan dengan jemaat", demikian Dieter Becker.   Jabatan pendeta pada dasarnya sebagai jabatan gembala dan tidak diberikan "kepada orang berdasarkan imamat am orang-orang percaya, melainkan langsung berdasarkan amanat agung Kristus kepada para rasul." 

Dalam kaitan itu, untuk kepentingan diskusi di seminar ekklesiologi HKBP, saya mengutip paparan Becker  selanjutnya: "Penahbisan memberi kepada pengemban jabatan suatu pemberian rohani yang tidak dimiliki sebelumnya dan tidak berarti bahwa setiap orang Kristen harus memilikinya ..." Jabatan sedemikian rupa adalah jabatan yang bersifat patriarkhalis, di mana "pendeta sebagai individu mengemban tanggung jawab secara  keseluruhan. Jemaat seolah-olah tidak dewasa, tergantung kepada pemeliharaan dan kepemimpinan pendeta."

Kutub lain (posisi B) ialah model jabatan di mana "pemberitaan dan pelayanan diberikan kepada jemaat secara keseluruhan. Tugas itu menjadi   konkret di dalam kepelbagaian jabatan. ...jabatan harus dilihat secara fungsional. Setiap anggota jemaat berhak melaksanakan 'pelayanan perdamaian' (2 Kor 5:18). Dalam pelaksanaannya adalah tugas-tugas tertentu diambil alih oleh individu tertentu, bisa saja dalam bentuk jabatan yang teratur secara institusional,  dan ada tugas lain yang tanpa keteraturan institusional. 

Pandangan posisi (B) ini ialah: "jabatan-sebagaimana dalam teologi Luther-tidak boleh lebih tinggi dari pelayan-pelayan lain, melainkan harus disamaratakan dengan tugas-tugas lain dalam jemaat. Pelayanan pendeta harus dibersihkan dari sisa-sisa pengertian jabatan yang patriarkhalis dan perlu disesuaikan berupa kerja sama di antara rekan yang sederajat."   

Di antara kedua kutub yang berseberangan tersebut (posisi A dan posisi B) lahir ragam ajaran dogma yang konfesional. Perbedaan-perbedaan itu bukannya berhenti, tetapi dipengaruhi pula oleh pemikiran-pemikiran baru sekitar  otoritas  dan jabatan dalam perkembangan sejarah dari zaman Reformasi Luther sampai abad ke-20. 

Prof. Dr. Dieter Becker mengajak kita melihat dan membandingkan kedua posisi yang berseberangan itu dengan melihat seperti apa jabatan dalam Alkitab Perjanjian Baru. Pendekatan ini sangat membantu gereja-gereja (Asia dan Afrika) yang lahir di luar perdebatan dogmatis-konfesional. 
Ekklesiologi HKBP yang dapat kita cari-cari dalam dokumen-dokumen peninggalan para misionaris kongsi Barmen yang sarat dengan kutipan-kutipan teks Alkitab, khususnya dari Perjanjian Baru. 

Itu adalah bukti bahwa mereka sadar tidak membawa gereja (Batak) yang sedang lahir dan bertumbuh memasuki dua gelombang ajaran dogma yang terus berlaga mencari kebenaran ajaran yang dianutnya, sekalipun warna konfesional itu secara tidak sadar  masuk ke ajaran-ajaran gereja yang mereka ajarkan. 

Roh pietisme memagari para misionaris kongsi Barmen berada di luar ajaran-ajaran dogma konfesional, dan sekaligus mereka mempelajari Alkitab dengan kaca mata roh pietisme, yang bertujuan mengembangkan Kerajaan Allah di dunia ini, mengajak manusia pribadi lepas pribadi memasuki Kerjaan Allah tanpa pertolongan gereja-gereja konfesional di tanah air mereka di Eropa. 

3.1. Kembali ke Perjanjian Baru: Jabatan Gereja 
Mari kita kutip uraian mantan dosen bidang Dogmatika di STT-HKBP Pematangsiantar, Prof. Dr. Dieter Becker: "Jabatan rohani pada hakekatnya dimengerti sebagai pelayanan dan bukan sebagai kedudukan yang lebih tinggi. Yang memegang jabatan adalah hamba, bukan tuan. Otoritasnya tidaklah tergantung dari keberadaannya, melainkan dari isi pemberitaannya. Yang memegang jabatan bukan seorang yang luar biasa, melainkan dia menyampaikan sesuatu yang luar biasa. Jabatan harus dilihat terutama di dalam pengertian suatu fungsi, bukan sebagai suatu posisi. Yang memegang jabatan hanyalah salah satu dari banyak anggota tubuh Kristus."   

Pernyataan-pernyataan teologis-alkitabiah oleh  Dieter Becker ini dapat mencerahkan kita agar kita hati-hati menafsirkan kata-kata dalam uraian tugas kependetaan dalam Agenda HKBP. 

Pertama, khusus untuk para pendeta HKBP, saya mengutip kembali dua dari pernyataan Dieter Becker: Pendeta HKBP "bukan seorang yang luar biasa", tetapi Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang disampaikannya  adalah "sesuatu yang luar biasa". Jabatan kependetaan yang diterima setiap pendeta HKBP "harus dilihat terutama di dalam pengertian suatu fungsi, bukan sebagai suatu posisi atau kedudukan." 

Saya rasa, kedua pernyataan sekaligus peringatan dari seorang pendeta dan teolog yang pernah melayani pendidikan teologia di STT-HKBP tersebut sangat  relevan mencerahkan hati dan akal sehat kita saat membaca buku panduan "Seminar Ekklesiologi HKBP Wilayah II" : "Pendeta Representasi Figur Kristus" (hlm. 30-31). 

Kedua, masih tetap relevan pula apa yang dikemukakan Becker dalam paparannya tentang gereja dan jabatan di bawah ini. Beliau sependapat dengan pandangan bahwa "walaupun yang memegang suatu jabatan setara dengan anggota-anggota tubuh Kristus lain, namun benar bahwa dia adalah suatu anggota tubuh yang khas." Dieter Becker merujuk pada bahasa figural/kiasan rasul Paulus tentang satu tubuh banyak anggota (1 Kor 12:12-31). 

Berdasarkan kiasan tubuh itu, Dieter Becker mengatakan: "Sebagaimana tangan tidak sama dengan kaki dan kaki tidak sama dengan tangan, maka yang memegang jabatan berbeda juga dari anggota-anggota jemaat lainnya. Walaupun benar bahwa semua anggota jemaat memperoleh karunia-karunia tertentu, namun yang memegang jabatan harus mengobarkan suatu kharisma yang khusus (2 Tim 1:6)."  Jadi antara satu anggota tubuh dengan anggota tubuh lainnya punya jabatan yang sama, setara satu sama lainnya, namun dalam kesetaraan itu ada "suatu kharisma yang khusus" dari anggota tubuh yang diangkat memangku jabatan gerejawi. 

Ketiga, seperti apa suatu kharisma yang khusus, mari kita simak pada kalimat berikut ini: "Yang diberi jabatan adalah setara dengan jemaat lainnya, namun demikian ia harus menyapanya secara profetis. Dia dipekerjakan oleh jemaat (Kis 6:3-6; 2 Kor 8:19) dan sekaligus ditugaskan oleh Allah yang Tritunggal (Kis 20:28; Ef 4:11). Dia hanya memegang suatu fungsi  pada tubuh Kristus, namun dia bukanlah seorang fungsionaris, melainkan seorang gembala."  

Keempat, dari segi sejarah jabatan itu sendiri, Becker mengurainya dengan singkat dan jelas. Beliau mengatakan bahwa penugasan akan suatu jabatan pada awalnya di tengah jemaat-jemaat Kristen Helenis terjadi  sesuai dengan "pekerjaan Roh Kudus" yang bebas, dan baru pada perkembangan selanjutnya diatur dalam seluruh gereja melalui upacara ordinasi. 

Becker lebih lanjut menyebutkan bahwa dalam Perjanjian Baru nampak kepelbagaian yang sangat mencolok: sebagian dilaksanakan hanya oleh para pemegang jabatan saja (Kis 14:23; 2 Tim 1:8; Tit 1:5), sebagian lagi oleh seluruh anggota jemaat  (Kis 6:3-6; 2 Kor 8:19). Ordinasi kadang kala dilaksanakan dengan 'penumpangan tangan' (Kis 6:6) , dan kadang kala tanpa penumpangan tangan (Kis 14:23).  

Kesimpulan Becker berlandaskan uraian historis di bawah ini  patut kita cermati untuk diskusi ekklesiologi HKBP: "Dalam Perjanjian Baru tampak suatu kebebasan terhadap upacara ordinasi yang menunjukkan bahwa upacara itu tidaklah berlandaskan 'hak manusiawi' dan tidak dianggap 'hak ilahi' seperti dalam gereja besar di kemudian hari." 

Uraian Becker tersebut patut kita cermati, karena dibalik rumusan-rumusan yang terhidang dalam buku panduan seminar "Ekklesiologi HKBP" (hlm. 30-31) sarat dengan bahasa-bahasa figural yang menyampaikan tanda bahwa ordinasi pendeta mengabaikan 'hak manusiawi' dan sebaliknya menganggap ordinasi adalah suatu akta pemberian   'hak ilahi' bagi setiap pendeta, apalagi kepada seorang pendeta yang jadi ephorus. Pemahaman ini sangat mengganggu arti dan makna ordinasi yang dianut HKBP selama ini. Apakah HKBP mau mengikuti jalan dari gereja Katolik Roma, yang mendekatkan diri ke kutub 'patriarkhalisme' atau 'papalisme' sebagai perkembangan pasca jabatan Perjanjian Baru? 

Kita sebagai pendeta hendaknya jangan mengikuti perkembangan arah ke sana, tetapi tetap pada prinsip Protestantisme Luther: "jabatan (pendeta) tidak boleh lebih tinggi dari pelayan-pelayan yang lain, melainkan harus disamaratakan dengan tugas-tugas lain dalam jemaat."  Inilah prinsip yang mendamaikan antara sesama partohonan yang sejak awal sejarah HKBP adalah majemuk bukan manunggal, seperti di gereja-gereja negara di Eropa, termasuk Jerman. Pendeta dalah satu-satunya jabatan gerejawi di gereja Rheinland atau gereja Westfalia, yang mendukung misi zending kongsi Barmen sejak dulu hingga kini, namun kongsi Barmen pengutus para misionaris ke Tanah Batak bebas dari urusan-urusan ajaran-konfesional gereja-gereja Injili Jerman.  

Kalimat dalam buku panduan seminar "Ekklesiologi HKBP" (hlm. 30-31) memahami rumusan-rumusan liturgis Agenda HKBP saat pengukuhan jabatan hapanditaon seolah-olah  dibarengi oleh suatu roh magis yang mengubah kemanusiaannya yang biasa kepada status yang 'luar biasa' (istilah Dr. Becker). 

Kalimat dalam buku panduan seminar itu  merepresentasikan 'keluarbiasaan' figur pendeta, bahkan mirip dengan jabatan imam Katolik dengan 'carakter indelebis'nya: "Sebab tahbisan kependetaan yang diterimanya  melekat dan menyatu dan menjadi jati diri pibadi seorang Pendeta. Makna tahbisan kependetaan yang diterima seseorang menjadi charakter, perilaku-pangalaho: partonaan ni Kristus, singkat ni Kristus dan manghamham ulaon ni Kristus dalam diriseorang Pendeta." .. Figur  Ephorus yang memberikannya seolah-olah bertransfigurasi menjadi sosok lain yang berasal dari dunia surgawi, seorang pribadi yang punya kekuatan magis. 

Kecenderungan ke arah itu memang didukung oleh latar belakang magis budaya Batak yang  menjadi dasar teologi  para datu Batak dulu, juga oleh figur magis Raja Singamangaraja dan para anggota Parmalim kini. Figur ephorus yang magis bisa saja memancarkan cahaya yang membuat orang jadi mampu untuk mendapatkan fungsi menyerupai ephorus itu sendiri. 

Artinya figur-figur manusia lain bisa bertransformasi serupa dengan ephorus. Bisa saja isteri dari seorang ephorus, karena kedekatannya kepada figur ephorus, yang langsung menyaksikan ibadah pengukuhan seorang ephorus, apalagi kalau diundang melangkah dua tiga langkah menaiki altar (tempat sakral),  bisa sesewaktu representasi figur ephorus itu sendiri, apalagi kalau sang isteri diberi gelar kehormatan sebagai 'Ompu boru' , 'Ompung boru' atau 'Ompui ompu boru'. 

Kalimat-kalimat yang saya kutip dari buku panduan seminar Eklesiologi itu merepresentasikan figur pendeta yang punya kekuatan plus dari para partohonan lainnya dan itulah mendasari dugaan-dugaan di atas. 

Dalam rentetan kutipan kalimat di atas, sangat sulit mencari batas antara jabatan pendeta HKBP dengan jabatan imam Katolik Roma. Bahkan ajaran tentang jabatan kegerejaan itu sudah bergeser ke arah kutub A dalam uraian Dr. Becker, menuju puncaknya, yaitu  sistem papalisme atau patriarkhlisme. Apakah ini tujuan dari "Seminar Ekklesiologi HKBP"?  Jika ini tujuannya, sebaiknya diberikan juga kesempatan mendiskusikan dan merenungkannya  kepada jemaat-jemaat HKBP dan  partohonan di HKBP yang majemuk itu.   Karena jabatan hapanditaon tak terpisahkan dengan jemaat-jemaat HKBP. 

Kelima, dalam buku panduan seminar Ekklesiologi terdapat tesis  tentang: "... struktur hierarkhis dan sistem serta mekanisme pengambilan keputusan HKBP persis sama dengan gambaran tubuh Kristus, di mana orang-orang  percaya adalah anggota tubuh dan Kristus sendiri adalah kepala tubuh." Juga tesis tentang: "Tahbisan Pendeta adalah analogi figurative Kristus, baik secara fungsional dalam struktur maupun secara posisional dalam struktur kepemimpinan HKBP. 
Dengan demikian penerima tahbisan Pendeta merupakan representasi kehadiran Kristus di dalam gereja dan dunia." 
Kedua tesis di atas  melupakan apa yang ditemukan Dr. Dieter Becker bahwa jabatan itu (1) hakikatnya dimengerti sebagai pelayanan dan bukan sebagai 'kedudukan yang lebih tinggi'; (2) Pemegang jabatan adalah  'hamba', bukan 'tuan'; (3) Otoritasnya tidaklah  tergantung dari keberadaannya, tetapi dari isi pemberitaannya; (4) Yang memegang jabatan bukan seorang yang luar biasa-entah apa pun alasan yang dibangun ciptakan untuk itu-"melainkan dia  menyampaikan sesuatu yang luar biasa"; (5) "Jabatan harus dilihat terutama di dalam pengertian suatu fungsi, bukan sebagai suatu posisi. Yang memegang jabatan hanyalah satu dari banyak anggota  tubuh Kristus."   

Serangkaian pernyataan-pernyataan teologis-dogmatis  ahli Dogmatika Dr. Becker membuat kita meragukan keabsahan tesis dalam buku panduan seminar Ekklesiologi HKBP yang berbau struktur gereja papalisme-magis atau patriarkhalisme-magis. Tesis ini sekaligus pula menistakan sturktur gereja HKBP yang menurut Dr. Andar Lumbantobing, ahli Dogmatika pertama di Fakultas Teologi HKBP Universitas HKBP Nommensen 1950-an-1960-an  adalah 'presbiterial-sinodal-episkopal'.  Hingga saat ini sistem itu masih eksis pada AP HKBP, sekalipun jabatan 'kerkbestuur' atau 'parhalado pusat'/'majelis  pusat' sudah digantikan oleh posisi 'majelis pekerja sinode' beserta jajarannya yang berbentuk 'badan' itu. 

Ephorus, sejak AP 1951 hingga kini, dipilih oleh Sinode Godang untuk "Manguluhon sandok HKBP niurupan ni ...", yaitu keempat uluan lainnya seperti Sekjen serta tiga   Kepala departemen. Ungkapan figuratif  'niurupan' adalah rumusan yang dipakai sejak AP sebelumnya, misalnya AP 1982 tentang Sekjen: "Mangurupi Ephorus laho mandalanhon ..." (I.D2.b1, hlm. 27). Artinya 'mangurupi' Ephorus sebagai 'parmahan', 'hamba', bukan 'tuan' atau 'raja' dengan memakai mahkota figural Kristus. Tidak ada pihak-pihak yang meragukan posisi/kedudukan ephorus sebagai pimpinan tertinggi, namun pribadi ephorus tidak berubah menjadi seorang figur anomali, pribadi antara manusia dan malaikat atau Kristus, di mana batasnya dikaburkan.

Keenam, kita wajar belajar dari pengalaman jemaat-jemaat Kristen perdana dalam menyikapi perbedaan paham teologis-dogmatis menyangkut hubungan anggota jemaat dengan para pemimpinnya. Rasul Paulus pernah memberikan nasihat agar jemaat Korintus tidak pecah akibat rasa atau sikap mereka yang lebih menghargai seorang tokoh tertentu dari tokoh lain. 

Rasul Paulus mengindikasikan bahwa di antara angota jemaat Korintus ada yang menokohkan Paulus, Apollos atau Kefas bahkan "Kristus" sebagai tokoh idola masing-masing kelompok di jemaat Korintus. Lalu Rasul Paulus mengucapkan kata-kata yang sarkastis-sinis ketika dia berucap demikian: "Adakah Kristus terbagi-bagi?..." (1 Kor 1: 13). 

Pdt. Dr. Andar Lumbantobing, salah satu tokoh HKBP 1960-an, berucap lebih sarkastis/sinis dalam sebuah pertemuan akbar di aula (STT-HKBP kini): " Naung dijaljali hamu do daging ni Kristus i?" Demikian secara figural seorang tokoh HKBP menunjukkan kerinduannya supaya HKBP kembali menggunakan tenaga dan pikiran melakukan ragam pelayanan yang langsung berguna untuk jemaat dan masyarakat sekitar, dan menghentikan pembentukan golongan-golongan atau tim sukses untuk memenangkan tokoh-tokoh gereja yang diidolakan masing-masing partei/golongan.   

Pada waktu hidupnya, Dr. Andar Lumbantobing merindukan agar HKBP lebih mementingkan pelayanan konkret, aksi, kreasi ketimbang perebutan kuasa yang tak ada akhirnya alias 'membagi-bagi tubuh Kristus'. 

Pada saat muncul pikiran dan usaha supaya golongan pendeta mengurusi urusan organisasi kepemimpinan di HKBP melalui rapat Pendeta dan kuasa Ephorus saat ini, maka ada baiknya rintihan tokoh gereja, Bishop Dr. Andar Lumbantobing kita jadikan representasi pendahulu para tokoh gereja sebagai pemimpin yang melayani di gereja Tuhan di Indonesia dan sebagai suara profetis figuralnya berikut ini: "Tu dia hita maporus, tu ise hita mangalualu? Tu pingkiranta do, tu gogonta do, tu hamaloonta do, tu hagogoonta do manang tu huaonta? 1. Ndang marhuaso manang ise pe jolma di HKBP, ai Huria ni Tuhanta do i, ai Ibana do na marhuaso disi. Ibana do nampuna Huria i, songon Ibana nampuna au asa marhuaso di diringku dohot di sude na pinasahatNa tu ahu. 2. Na jinou do hita ganup, sude ruas, sude parhalado, dijou mangula di porlakna. NDANG LAHO MARHUASO DI PORLAKNA..."  

Imbauan Bishop Dr. Andar Lumbantobing di atas seolah-olah mengatakan bahwa sampai di sinilah uraian dan tanggapan tentang isi sebuah tulisan dalam "Buku Panduan Seminar Ekklesiologi HKBP Wilayah II", dengan harapan agar roh untuk 'membagi-bagi tubuh Kristus' itu hendaknya jangan menguasai pribadi, pikiran dan kegiatan para pendeta HKBP, khususnya para pemimpin HKBP dari golongan pendeta. 

Penutup
Pesan profetis rasul Paulus kepada jemaat di Galatia dihadirkan menjadi penutup tulisan ini: "Hai anak-anakku, karena aku menderita sakit bersalin lagi, 'sampai rupa Kristus  menjadi nyata di dalam kamu" (Gal 4:19). Biarpun kita kini hidup di abad ke-21, tetapi pesan profetis yang dikumandangkan pada abad pertama itu masih berlaku bagi kita. 

Pada saat pertobatan kita melalui baptisan yang sudah kita terima 'di dalam Kristus'-'morphotee Christos hen humin' (Gal 5:6; Rom 16:7), dan  Kristus berdiam dalam diri kita 'selaku pola dan kuasa hidup'  kita yang baru. Itulah yang dirindukan oleh rasul Paulus dan para pelayan Tuhan lainnya dalam sejarah gereja Tuhan di dunia ini. 

Tuhan Yesus Kristus meninggalkan damai untuk setiap orang yang percaya padaNya, itulah yang selalu memberikan kekuatan bagi kita untuk saling berbagi pikiran dan pendapat tanpa membangkitkan batas-batas 'kawan dan musuh'. Kita semuanya bersaudara dalam Kristus. (Selesai)
  BeritaTerkait
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keempat)

    10 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukII. Bahasa Figuratif dalam Sejarah Penafsiran Alkitab1. Interpretasi Alegoris dan TipologisBahasa figuratif rupanya jadi alat tafsir buat para bapa gereja yang  

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kedua)

    10 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukI. Bahasa Figuratif dalam Pengertian Umum dan KhususKita dapat menemukan cukup banyak informasi tentang apa yang dimaksud dengan "bahasa figuratif", yang satu dengan

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kelima)

    10 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk5. Refleksi  Pemakaian kata "figur" atau "figuratif" memberikan peluang yang sangat lebar bagi setiap orang yang akan membahasakan atau mengenalkan seperti apa s

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keenam)

    10 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIII. Ungkapan "Representasi"1. Pengertian UmumUngkapan "representasi" masih acap digunakan dalam komunikasi tulis dan komunikasi lisan. Sebenarnya kata "representasi"

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

    10 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan KeempatJabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet