• Home
  • Opini
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 11 Juli 2017 13:52:00

Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

BAGIKAN:
Ist
Pdt Dr JR Hutauruk
Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk

IV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?

1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan Keempat
Jabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal.  Menurut Aturan Peraturan HKBP (2002, pasal 24 'Tohonan di HKBP') ada 6 jabatan gerejawi di HKBP, yaitu:  pendeta, guru huria, bibelvrouw, diakones, evangelis dan sintua. Kekurangan tenaga pelayan di Tanah Batak selalu dirasakan sejak awal hingga kepergian para misionaris kongsi Barmen kembali ke Eropa 1940 dan sesudahnya. 

Jadi munculnya jabatan itu, karena kebutuhan tenaga pelayanan di tengah jemaat. Jabatan itu lahir di dalam jemaat dan melayankan firman Tuhan di dalam dan di luar jemaat. Mereka yang menerima jabatan tersebut adalah anggota jemaat yang sah. Latar belakang historis ini yang mempersatukan mereka.  Itulah yang pertama yang harus kita ketahui. Tidak ada model konkret yang tersedia bagi para misionaris kongsi Barmen untuk dijadikan sebagai acuan  pada saat mempersiapkan tenaga pelayanan. 

Secara historis, urutan  jabatan itu adalah sebagai berikut: Jabatan pertama yang lahir di tengah  jemaat Batak ialah jabatan sintua.  Seorang sintua adalah anggota jemaat dari jemaat tertentu, yang berperilaku baik, sopan dan teladan di tengah anggota jemaat. Umumnya para sintua punya wibawa yang sama dengan seorang raja desa. 

Misionaris I.L. Nommensen di jemaat Hutadame 1860-an telah memilih beberapa anggota jemaat jadi sintua di jemaat Hutadame.  Nommensen menyerahkan tugas penggembalaan kepada para sintua yang terpilih itu, yang kelak dipandang sebagai "raja atas hidup spiritual", sedangkan kepada para raja tugas-tugas menimbang perkara-perkara sosial atau adat, yang dipandang sebagai "raja atas hidup jasmani".  

Nommensen sempat kebanjiran orang-orang yang datang membawa perkara masing-masing kepadanya, sehingga sangat merepotkan Nommensen. Kemudian jemaat-jemaat lainnya memilih sintua dari antara mereka anggota jemaat. 

Jabatan yang kedua adalah evangelis. Dalam pelayanannya, seorang sintua sudah melayani sebagai evangelis karena sering dibawa misionaris mengunjungi desa-desa yang belum pernah dikunjungi oleh misionaris. Jadi pada awalnya evangelis dipilih dari antara sintua, misalnya St. Laban Siahaan yang mengunjung berbagai daerah sambil mengenalkan sekaligus menjual Alkitab Perjanjian Baru yang masih tertulis dalam akasara Batak Toba. Pada perkembangannya kemudian setiap misionaris setempat memberikan bimbingan khusus kepada beberapa anggota jemaat untuk diangkat jadi evangelis.  

Jabatan yang  ketiga  adalah jabatan guru "zending", yang mengajar di Sekolah Dasar di jemaat induk tertentu, sekaligus membagi waktu untuk membantu pelayanan di jemaat induk, misalnya di jemaat induk (huria sabungan) Balige yang sudah berdiri 1883. Sekolah Guru dibuka pertama kali di Parausorat 1868, alumni pertama lulus 1870. Angkatan kedua dibuka 1871.  

Jabatan keempat ialah jabatan pendeta sejak 1885, untuk kaum laki-laki sedangkan perempuan baru sesudah 101 tahun kemudian (1986). Jabatan kelima adalah jabatan bibelvrouw (1935) lulusan Sekolah Bibelvrouw yang didirikan oleh kaum pelayan perempuan dari Jerman untuk pelayanan khusus di tengah kaum perempuan Batak. Penggagas dan pendirinya adalah zuster Efriede Harder, yang sekaligus pengarang Buku Ende "Haluaon Na Gok", lulusan Jerman (Seminari Zending RMG atau Universitas Negeri Jerman). Jabatan keenam adalah  jabatan Diakones (1984) yaitu jabatan khusus untuk pelayanan diakonal di tengah jemaat dan masyarakat sekitar.  Inilah jabatan termuda di dalam daftar jabatan kegerejaan di HKBP.

Disamping keenam jabatan di atas  masih ada jabatan penatalayanan yang dikenal dengan nama "kerkeraad" (dari bahasa Belanda "kerkraad") yang dikenalkan Dr. Andar Lumbantobing sebagai "bendaharawan", bertugas di bidang aset jemaat dan hal-hal berhubungan dengan keuangan jemaat sejak 1922. Kalau sintua melayankan tugas "rohani", maka kerkeraad di bidang "duniawi",  di mana yang "rohani" dan yang "duniawi" tak terpisahkan dalam kehidupan berjemaat, ibarat tubuh dari roh. Dalam urutan historis, jabatan "kerkeraad" tergolong pada bagian pertama. Sejarah jabatan kerkkeraad berakir 1962, ketika Aturan Peraturan (AP) 1951 digantikan oleh AP 1962. Inilah adalah contoh bahwa  setiap jabatan ada awalnya dan ada akhirnya. 

Guna lebih memahami tentang sintua dan kerkeraad, sebaiknya kita membuka Agenda (HKBP) 1904 (edisi pertama)  dan 1918 (edisi kedua). Sintua maupun kerkeraad   menerima jabatan itu di depan jemaat dengan memakai liturgi Agenda: "Pabangkithon sintua"  dan  "Pabangkithon led ni Kerkeraad." 

Rupanya komisi liturgi kongsi Barmen, yaitu beberapa misionaris kongsi Barmen belum mempersoalkan penggunaan kata-kata dalam liturgi tersebut. Misalnya, ketika pendeta/misionaris setempat "pabangkithon" para kerkeraad, pendeta liturgis mengatakan demikian: "Antong masijalangan tangan ma hita, paboa hot ni padanta. Saut ma hamu manjalo tohonan Kerkeraad i di adopan ni huria i...." (Agenda 1918, hlm. 44). Sedang untuk Sintua: "Antong masijalangan ma hita paboa hot ni padanmuna i, jala paboa na olo hamu mangula ulaon ni Debata rap dohot hami...." (Agenda 1918, hlm. 41). 
Agenda 1918 menggunakan ungkapan "tohonan" kepada pendeta maupun kepada kerkeraad.  Juga penggunaan kata "pabangkithon" bukan hanya pada saat akta pemberian tohonan pandita, tetapi juga pada judul liturgi untuk sintua dan kerkeraad seperti kita kutip di atas. Ini mengingatkan kita agar teks-teks Agenda itu jangan kita perlakukan sebagai teks teologis-dogmatis persis seperti teks-teks yang tertulis pada rumusan-rumusan dogamatis gerejawi, seperti dalam buku Konfesi HKBP.

Bagi gereja (HKBP) pada zaman zending kongsi Barmen (1860-an-1940-an) yang utama ialah akta gerejawi pemberian jabatan itu kepada seorang sintua, evangelis, guru, pendeta, kerkeraad dan bibelvrouw di depan Tuhan dan di depan jemaat atau gereja. Juga penting supaya setiap penerima jabatan itu tahu akan tugas mereka, dan mereka berjanji melakukannya di hadapan Tuhan dan di hadapan sesama.  

Apabila Agenda 1904 dan 1918 tidak mencantumkan liturgi "pamasumasuon" guru, belum berarti bahwa para guru tidak pernah menerima "pamasumasuon" tohonan guru usai mereka tamat dari dari seminari Sekolah Guru. Andar Lumbantobing dalam disertasinya (1951) memberikan informasi otentik tentang kapan guru mendapatkan "pamasumasuon" jadi guru. 
Berdasarkan  penelitian beliau pada dokumen-dokumen RMG (kini VEM) di Wuppertal Barmen, Dr. August Schreiber pendiri dari Sekolah Kateket (Guru) di Parausorat mengadakan "segnet" , artinya mamasumasu para tamatan/lulusan Sekolah Kateket, sekaligus menempatkan mereka di tempat tertentu. "Segnet" diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata " meneguhkan"  atau "mengukuhkan", yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Batak: "pabangkithon". Ungkapan "pabangkithon" ini digunakan dalam Agenda 1904 dan 1918 untuk sintua dan kerkeraad. 

Namun para guru (misionaris) di Seminari Pansurnapitu dan Sipoholon tidak memberikan pengukuhan jabatan guru hingga tahun 1938. Pimpinan Seminari Sipoholon, Ds. H.F. de Kleine, melakukan peneguhan jabatan guru kepada para tamatan Seminari, setelah melalui diskusi panjang pada konferensi Tahunan para misionaris kongsi Barmen. Nampaknya ada keseganan para misionaris memberikan peneguhan jabatan guru,  karena pimpinan pusat kongsi Barmen tahun 1915 sudah memberikan saran agar kepada para guru diberikan pengukuhan di depan jemaat tempat mereka bekerja.   

Keseganan itu mungkin dilatarbelakangi oleh kedudukan guru yang tidak sepenuhnya berada dalam naungan pimpinan misionaris, tetapi juga di bawah naungan kementerian pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Seorang guru lulusan seminari selalu ditempatkan di jemaat (pargodungan/komplek gereja), di mana sekolah desa/rakyat enam tahun telah berdiri di sana. Para guru lulusan seminari itulah yang diakui kementerian pendidikan Hindia Belanda menjadi guru di sekolah-sekolah. 

Setiap sekolah  zending itu mendapat subsidi pemerintah, termasuk gaji guru. Sering terjadi, guru zending meninggalkan jemaat dan menjadi guru penuh waktu di sekolah negeri atau pindah ke jabatan  lain di  bidang pemerintahan daerah, demang atau asisten demang atau di perkebunan swasta di Pantai Timur Sumatera. 

Dalam Almanak HKBP dicatat tanggal "pamasumasuon" tiga jabatan gerejawi di atas, yaitu: tohonan pandita (19 Juli 1885), bibelvrouw (15 Agustus 1935) dan diakones (28 Agustus 1984). Pada pamasumasuon pendeta, 27 Juli 1986, beberapa dari pendeta yang menerima tahbisan terdapat kaum perempuan. Namun tanggal "pamasumasuon" guru tidak tercatat dalam Almanak HKBP.  

1.2. Refleksi 
Pertama, untuk sementara dapat kita simpulkan bahwa pembentukan keenam jabatan gerejawi (plus jabatan kerkeraad) di gereja Batak (HKBP), bukan berdasarkan sebuah teori atau model jabatan tertentu, lalu diterapkan di tengah jemaat-jemaat Batak. Tetapi keberadaan jabatan gereja itu melulu berdasarkan kebutuhan jemaat dan masyarakat sekitar yang mayoritasnya masih menganut agama animis-magis (hasipelebeguon). Kebutuhan tersebut berdasarkan hasil pengalaman dan pengamatan para misionaris sebagai pemimpin-pemimpin gereja Batak, mulai dari  jemaat, resort, distrik dan pusat. 

Kedua, keenam jabatan yang dipangku oleh para pelayan pribumi (Batak) berfungsi untuk menolong para pemimpin mereka yaitu misionaris manca negara, di segala bidang pelayanan. Khusus pendeta Batak, resmi dianggap sebagai penolong para pendeta utusan Jerman. Ini akan kita urai lebih lanjut nanti. 

Ketiga, suatu hal yang paling penting kita perhatikan ialah ungkapan-ungkapan liturgis (Agenda), seperti kata-kata 'pabangkithon', 'manjanghon', atau 'pasahathon',  adalah ungkapan allegoris/tipologis yang menggambarkan kekhususan masing-masing untuk melayani gereja Tuhan sebagai Tubuh Kristus dan Kristus Kepala Gereja. Kemajemukan ungkapan itu menyatakan keragaman tugas masing-masing partohonan seperti kaki, tangan, mata, kuping dan lain-lain pada satu tubuh manusia, demikian pula mereka dalam Tubuh Kristus, tanpa ada yang berani menempatkan diri secara figural pada kedudukan Kristus yang adalah Kepala Gereja.   

2. Mental Pembantu pada Pendeta Batak (1881-11 Juli 1940)
Persamaan para pemangku jabatan gerejawi dari kaum pribumi (Batak) masih dapat kita lihat apabila mereka dihubungkan dengan kelompok para misionaris yang berfungsi sebagai pendeta utusan dan berstatus sebagai pemimpin struktural.  Kaum Batak yang memangku jabatan gerejawi adalah pembantu, penolong yang harus menunaikan tugas mereka sesuai dengan uraian tugas masing-masing seperti yang mereka janjikan di depan Tuhan dan depan jemaat/gereja termasuk di depan para pimpinan mereka. Mereka belum direpotkan oleh bidang organisasi gereja yang berupa kerucut atau piramida itu. 

Namun ada kedekatan khusus seorang pendeta pembantu dengan pendeta pemimpin yang bukan (sepenuhnya) pendeta HKBP, tetapi  pendeta kongsi Barmen. Justru sebagai pendeta kongsi Barmen, mereka  mengemban tugas menjadi pemimpin di gereja Batak, yang sejak AP 1881 sudah punya struktur yang hierarkhis-piramida.  Garis hierakhis, mulai dari jemaat hingga ke pusat, dilayankan oleh para pendeta utusan kongsi Barmen, yang biasa dipanggil "Tuan Pandita".  

Semakin besar Gereja Batak (HKBP), maka semakin bertambah pula beban para pendeta utusan dalam kepemimpinan hierarkhis. Pada saat bersamaan, juga semakin bertambah beban tugas para pendeta Batak di bidang administrasi, antara lain menulis data-data jemaat, warta jemaat, dan lain-lain. Seorang pendeta Batak wajib menulis laporan tahunan (bericht/barita jujur taon) yang dikirimkan kepada atasannya. Hubungan hierarkhis-patriarkhalis itu berakhir akibat perang dunia II untuk semua warga negara Jerman di Hindia Belanda (Indonesia), 10 Mei 1940.

Untuk diskusi kita, perlu kita catat bahwa pendeta Batak bekerja sebagai pendeta pembantu untuk sesamanya pendeta yang punya status pimpinan. Mungkin selama dinas kependetaannya muncul mental pembantu, yang tidak punya pengalaman pemimpin jemaat atau resort, apalagi jadi praeses dan ephorus. Jalan menuju ke tangga pimpinan itu memang selalu dijanjikan, namun kapan terealisasi tergantung pada kebijakan para pimpinan.(bersambung)
  BeritaTerkait
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kedua)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukI. Bahasa Figuratif dalam Pengertian Umum dan KhususKita dapat menemukan cukup banyak informasi tentang apa yang dimaksud dengan "bahasa figuratif", yang satu dengan

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keempat)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukII. Bahasa Figuratif dalam Sejarah Penafsiran Alkitab1. Interpretasi Alegoris dan TipologisBahasa figuratif rupanya jadi alat tafsir buat para bapa gereja yang  

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kelima)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk5. Refleksi  Pemakaian kata "figur" atau "figuratif" memberikan peluang yang sangat lebar bagi setiap orang yang akan membahasakan atau mengenalkan seperti apa s

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keenam)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIII. Ungkapan "Representasi"1. Pengertian UmumUngkapan "representasi" masih acap digunakan dalam komunikasi tulis dan komunikasi lisan. Sebenarnya kata "representasi"

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet