• Home
  • Opini
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kelima)
Selasa, 11 Juli 2017 13:32:00

Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kelima)

BAGIKAN:
Ist
Pdt Dr JR Hutauruk
Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk

5. Refleksi  
Pemakaian kata "figur" atau "figuratif" memberikan peluang yang sangat lebar bagi setiap orang yang akan membahasakan atau mengenalkan seperti apa sosok tokoh yang mau dikenalkannya. Apakah tokoh itu yang menjadi idolanya atau sebaliknya yang menjadi sosok gelap bahkan yang tidak disukainya. Seseorang dapat melukiskan dengan kata-kata yang halus dan sopan hingga kata-kata yang kasar maupun sinis. Seseorang dapat menggunakan kata-kata figuratif  seluas spektrum seperti digambarkan oleh  ragam majas atau kiasan yang telah kita sebut di atas dan sudah diadopsi bahasa Indonesia. 

5.1. Figur Pendeta 
Dalam spektrum ungkapan-ungkapan figuratif di atas, kita dapat menempatkan figur atau sosok pendeta (HKBP) dalam bahasa figuratif warga jemaat HKBP. Umumnya warga HKBP melukiskan sosok pendetanya sebagai orang suci, orang yang paling dekat kepada Tuhan, yang doanya paling disukai oleh Tuhan, sosok yang "badia", yang keluarganya paling baik. 

Namun sebagian anggota jemaat, juga melihat sisi kelemahan figur atau sosok pendeta. Mereka melihat bahwa figur pendeta sudah mulai meninggalkan sosok-sosok 'lama' (badia) kependetaan, sudah meninggalkan kehidupan sederhana, bahkan sudah mirip-mirip figur selebriti atau figur bintang film apalagi para istrinya telah mengenakan dandanan ala istri pejabat pemerintahan pada zaman feodal otoriter. 

Bagi sebagian warga jemaat yang lebih moderat, walaupun melihat perubahan figur pendeta ke arah hidup materialistis dan selebritas bahkan hidup hedonis itu, mereka mengatakan bahwa semua itu adalah persoalan figur pendeta kepada Tuhan yang memanggilnya jadi hamba Tuhan: "Kita sebagai warga biarlah hanya menerima khotbah pada ibadah-ibadah. Mari kita pisahkan figur pendeta itu dari firman Tuhan yang mereka khotbahkan. Perihal menghakimi mereka bukan tugas kita warga jemaat."  Para warga gereja melihat bahwa  penghakiman itu adalah wewenang Tuhan yang di atas sana.

Begitulah terdapat beragam figur pendeta yang dibahasakan para warga jemaat dengan ungkapan-ungkapan simbolis, metaforis atau figuratif. Sama halnya seperti  "figur Yesus" maupun "sosok Yesus" sebagaimana ditampilkan di layar putih sesuai naskah karya sutradara film, lalu  diterima oleh mata para penonton, demikianlah sosok pendeta di 'layar putih' ciptaan warga jemaat HKBP seiring dengan komunikasi mereka dengan pendetanya, seiring dengan pengamatan pribadi mereka kepada pendeta HKBP, seiring dengan kata mata rohani mereka. 

Pada umumnya warga jemaat sangat menghormati pendetanya dan peduli kepada kehidupan pendetanya. Figur pendeta sebagai pelayan yang mengikuti Yesus sebagai pelayan yang menghamba (Mrk  10:45)-bukan sebagai raja feodal ototiter -  akan mampu menampilkan sosok pendeta yang "pandita!" Atau dengan kata lain, semua kata-kata kiasan yang figuratif itu terfokus  pada  figur pendeta sebagaimana  terekam dan terukir pada ungkapan-ungkapan figuratif pada Agenda HKBP, yang  dibalut dengan akta sakral melalui pengukuhan ordinasi oleh pimpinan gereja, yaitu Ephorus. 

5.2. Figur Ephorus: Ompui-Ompu-Ompunta
Khusus tentang  sosok atau figur seorang Ephorus yang  sudah sejak zaman zending kongsi Barmen menyandang gelar kehormatan sebagai "Ompui", yaitu kepada tokoh zending perdana Ingwer Ludwig Nommensen (1834-1918). Gelar ini diciptakan oleh orang-orang Kristen Batak yang kagum atas keberhasilan pekabaran Injil yang membawa "Hamajuon" kepada kaum Batak, yang mengangkat harkat Batak dari keterbelakangan ke era modernisasi (Hamajuon Batak). 

Semua kisah-kisah sukses zending berkulminasi pada gelar kehormatan itu, yang barangkali dibaluri oleh budaya magis Batak, yang tersimpan dalam ungkapan abadi yaitu "sahala", semacam sifat atau karakter 'hasangapon' (kemuliaan), wibawa dan bahkan kekayaan dan banyak keturunan. 
Gelar populis-magis ini dicatat oleh Wilhelm Landgrebe (1954). Beliau mengatakan bahwa kaum pribumi Batak telah memberikan "Ehrentitel 'Ompu' (Grossvater)" kepada Ephorus I.L. Nommensen.  Secara genealogis-kultural setiap orang Batak menghargai dan mengormati "ompungnya", yaitu ayah dari ayah kandungnya, bukan hanya pada masa hidupnya, tetapi masa kematiannya, yaitu "sumangot"nya atau rohnya. Gelar "Ompui" bukan tanpa reaksi atau kritik sejak 1970-an dan khususnya sejak 2000-an. Ada yang mempertahankannya, bahkan ada suara yang mengatakan supaya Ompui Ephorus disejajarkan dengan Paus di Roma. 

Dalam sosok seorang Ephorus yang bergelar "Ompui" tersirat ragam pandangan yang bermuatan mitos-mitos Batak yang magis. Ini juga dibarengi kerinduan agar kaum Batak punya figur agung ditengah masyarakat Batak dan kaum sekitarnya, supaya kaum Batak itu dipandang sama mulianya dengan kaum lain. Namun pada pihak lain, banyak pula warga jemaat yang merasa risih mendengar gelar itu, dan menganggap  gelar "Amang" lebih hormat dan lebih dekat kepada  umat, sama halnya gelar kehormatan yang diberikan kepada setiap orang yang lebih tua, lebih berpengalaman.  

Jonathan Nommensen, anak kandung Ephorus Nommensen menulis buku (1921) tentang ayahnya, di mana sosok Nommensen digambarkan sebagai "Ompui".  Kaum Batak mayoritas penganut agama arkhais Batak alias sipelebegu, memandang sosok Nommensen sebagai orang sakti yang punya kekuatan gaib, karena tongkat yang selalu dipegangnya itu dianggap sakti. 

Jonathan Nommensen menggambarkan tongkat Nommensen itu sebagai berikut: "Adong do di ompu i tungkot sitobu bionanna sian Parausorat, sai tongtong do i diboan, jala dihabiari halak do i, ai dipangke ompu i do i nian mangalele biang dohot babi, ia majonokhu i tu ibana di angka huta; alai ia masosakku ibana dibahen natorop jala ia naeng laho ompu i sian i, tarsomal do ditudutudu dohot tungkot i dalan sidalananna jala pintor dipasiding jolma i dalanna." Bagi Jonathan Nommensen untuk mengenalkan Ephorus I.L. Nommensen sepanjang narasinya itu cukup menyebutkan "Ompu i" sebagai representasi sosok I.L. Nommensen, Ephorus kongsi Barmen dan Ephorus gereja Batak. Sosok Nommensen punya nilai simbolis tersendiri dibandingkan dengan sosok-sosok  misionaris lainnya. 

Lain dengan biografi I.L..Nommensen kreasi  Johannes Warneck, Ephorus kedua menggantikan I.L. Nommensen. Warneck tidak pernah menggunakan gelar figuratif  "Ompui" kepada sosok yang menjadi subjek tulisannya, sekalipun  gelar itu sering  didengarnya dari kaum  Kristen Batak selama pelayannya sebagai Ephorus di Tanah Batak (1920-1934). Pada sebuah bab berjudul "Fuehrer" (Pemimpin Besar), beliau memberikan gelar "Fuehrer", "Pemimpin Besar"  kepada tokoh Nommensen, namun bukan sebagai "Vorgesetzer" atau  "Bos" yang memperlakukan pelayan lain sebagai bawahannya, tetapi  pemimpin yang selalu merepresentasikan sosok sebagai "Freund und Vater", sebagai sahabat dan bapa.  

Mungkin semangat nasionalisme Jerman saat itu sudah mulai menggema, yang memuncak pada bangkitnya pemerintahan rezim Hitler, di mana Hitler  digelari sebagai "Fuehrer", Pemimpin Besar Nasion Jerman. Figur Nommensen sebagai "Fuehrer", Pemimpin Besar Batak-Mission dan Gereja Batak dibangkitkan atau dihidupkan oleh perubahan zaman yang dialami Johannes Warneck sejak beliau kembali ke Negeri Jerman 1934, yaitu zaman Fuehrer Hitler. 

Penulisan sosok I.L. Nommensen dalam ranah figuratif sosok "Ompui" jelas dipengaruhi oleh pandangan budaya-kultural pertengahan abad ke-20. Nommensen yang kepadanya disandangkan gelar kehormatan "Ompui" tidak pernah menunjukkan tanda setuju , tetapi didiamkan  tanda ketidaksukaannya, atau bahwa gelar penghormatan itu sama halnya dengan tongkatnya "tukkot sitobu" yang adalah tongkat yang sama dengan tongkat lain, tetapi bagi kaum Batak yang masih dipengaruhi oleh budaya magis dan mistis tungkot Nommensen itu sakral dan punya kekuatan gaib. 

Para misionaris memanggil sesama misionaris dengan sapaan "Bruder", artinya "saudara". Mereka pun tidak pernah menyapa Ephorus Nommensen dengan gelar kehormatan "Ompui".  
D. van der Meulen,  seorang pejabat pemerintah Belanda di Samosir yang punya hubungan baik dengan zending Mission Batak mengenalkan Nommensen yang sudah berusia lanjut. Meulen menyebut bahwa Nommensen sering disapa  atau dikenalkan kaum  Batak 'Omputta' (onze grootvader). Namun bagi Meulen, Nommensen adalah "de apostel der Bataks" atau  'rasul Batak'. Informasi ini menguatkan pandangan bahwa gelar penghormatan ala Batak itu bukan dengan sapaan manunggal seperti 'ompui', tetapi juga ada sapaan 'ompunta' atau 'ompu', sapaan yang umum diberikan kepada ompung genealogis. Sapaan yang majemuk itu hingga kini terdengar, bahkan dengan sapaan 'ompung'. 

Demikian figur Nommensen dalam konteks budaya-adat  Batak. Sapaan itu dalam konteks historisnya berada pada ranah budaya Batak, bukan pada ranah jabatan gerejawi. Sapaan itu dibawa masuk ke dalam gereja Batak oleh kaum Kristen Batak sendiri, tanpa gagasan dari kongsi Barmen. Gelar kehormatan tersebut tetap menggema pada tataran budaya Batak, tidak pernah memasuki ranah gereja, misalnya menjadi nama jabatan gerejawi. 

Tentu bagi gereja (HKBP) tidak ada manfaatnya menteologikan gelar "Ompui" sebagai bagian tak terpisahkan dari jabatan Ephorus. Kalau kepada figur Ephorus di mata budaya dan emosi Batak, gelar itu bebas bergerak kepada figur yang menjadi idola Batak. Sapaan 'Ompunta' misalnya selalu diberikan kepada Praeses Cirijllus Simanjuntak dari Distrik Toba tahun 1950-an-1970-an. Pada simpul ini pula, tiada keharusan bagi setiap warga jemaat dan para pelayan HKBP menyapa seorang Ephorus HKBP dengan sapaan "Ompui" atau "Ompunta".(Bersambung)
  BeritaTerkait
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

    5 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan KeempatJabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    5 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Tulisan Kedua: Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?

    7 bulan lalu

    Oleh: Ephorus Emeritus HKBP Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk   Paparan ini merupakan lanjutan dari paparan terdahulu yang telah terkirim kepada Komisi Teologi HKBP via email, 17 April lalu

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Pertama)

    5 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukPendahuluanTulisan ini merupakan sambutan ketiga atas seminar Ekklesiologi HKBP, April 2017 lalu, yang kali ini fokus tentang ungkapan figuratif  "Pendeta Repres

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kedua)

    5 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukI. Bahasa Figuratif dalam Pengertian Umum dan KhususKita dapat menemukan cukup banyak informasi tentang apa yang dimaksud dengan "bahasa figuratif", yang satu dengan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online