• Home
  • Opini
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keenam)
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 11 Juli 2017 13:41:00

Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keenam)

BAGIKAN:
Ist
Pdt Dr JR Hutauruk
Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk

III. Ungkapan "Representasi"

1. Pengertian Umum
Ungkapan "representasi" masih acap digunakan dalam komunikasi tulis dan komunikasi lisan. Sebenarnya kata "representasi" dan kata "figur" tidak terpisahkan satu sama lain, keduanya saling melengkapi dalam dunia bahasa  figuratif. Ada sosok atau figur yang mewakili sosok lain atau sekelompok orang atau bahkan satu bangsa atau dunia ini. 

Di bawah ini kita meliput beberapa tulisan yang di dalamnya ada kata "representasi"  dan kata "figur".
Sebuah tulisan dengan judul: "Butuh Figur Muda sebagai Representasi Anak Muda." Di sini kata  "representasi" mengungkapkan   sosok atau figur yang mampu mewakili sesama generasi kaum muda. Mewakili visi dan misi, bahkan kehadiran kaum muda. Melalui sosok yang merepresentasikan itu, benar-benar hadir sosok atau kumpulan sosok yang direpresetasikan kepada dunia sekitar. 

Ada kelompok studi yang meneliti seperti apa  "representasi figur orang Indonesia dalam iklan televisi top coffee". Ada pula kelompok yang mengenalkan "representasi simbol feminisme dalam iklan televisi." Kelompok ini berasumsi bahwa "perempuan direpresentasikan dalam bahasa simbol audio visual yang selama ini dianggap wajar."  Ada pula "representasi figur burung Garuda yang digunakan sebagai lambang negara." Semua ini memperlihatkan betapa kata "representasi" mengungkapkan sosok yang mewakili figur tertentu, menggantikan kehadiran figur pada saat tertentu. 
Dalam bahasa figuratif lain, bisa kita katakan bahwa representasi itu adalah duta dari sang figur (kaum muda, orang Indonesia dalam iklan televisi, burung Garuda, dan lain-lain).

Trifena Wijaya dalam sebuah tulisannya ingin mengenalkan kepada dunia pembaca global seperti apa "representasi" spiritualitas Kristen pada arsitektur gedung gerejanya di Surabaya.  Ini adalah topik yang jarang diperhatikan, bahkan tak pernah jadi persiapan seorang arsitek gereja atau tim arsitek pembangungan gereja. Menurut Wijaya, ada pesan-pesan spiritualitas yang diwakili  arsitektur gedung gereja "Pregolan Bunder Surabaya", yang bisa ditangkap oleh mata yang memandangnya. 

Seorang penulis mencermati "simbol buaya (cicak) sebagai representasi  "Yang Ilahi" bagi masyarakat Atoni Pah Meto di Nusa Tenggara Timur. Ia mengusulkan agar simbol buaya itu diakui mampu menjadi "representasi Kristus".  Setiap orang yang melihat motif buaya yang menyatu pada sebuah tenunan, akan melihat sosok Kristus yang memberi kehidupan kepada mereka. Artinya simbol "buaya" mewakili "keilahian Kristus". 

Dikatakan, "Sampai saat sekarang saya belum mendengar pewartaan akan Kristus yang dikaitkan dengan buaya. Mungkin akan terasa aneh dan janggal untuk menyebut Yesus Kristus sebagai "sang buaya kehidupan". Tetapi, pertanyaan yang kemudian muncul adalah "apakah hal itu berarti kita tidak boleh memberitakan Kristus dalam bahasa dan ungkapan-ungkapan yang berlaku pada waktu dahulu nenek moyang kita berikan kepada buaya?"  Demikian perenungan penulis. 

Kalau disebutkan bahwa 'simbol buaya sebagai reperesentasi 'Yang Ilahi'-Yesus Kristus, artinya ialah sesuatu itu merepresentasikan sesuatu yang lain (represents another thing). Ada hubungan timbal-balik yang hidup antara sosok yang merepresentasikan dan sosok yang direpresentasikan.   
Agak beda dengan muatan sosok-sosok figur di atas, kalimat Imam Subkhan merujuk kepada sosok sejarah masa kini. 

Pada bagian akhir  tulisannya di detikcom, April 2017, Subkhan mengemukakan sebagai berikut: "Warga Jakarta dan Indonesia sudah ratusan tahun memiliki modal dan kelenturan sosial hidup damai dalam keragaman yang perlu terus dirawat. Dan, ini akan semakin mendapatkan pengokohan jika Anies-Sandi bergerak atas nama konstitusi, bukan representasi kelompok tertentu dalam kebijakan pemerintahannya nanti."  Ia berharap, Anies-Sandi "bukan representasi kelompok tertentu", artinya menjadi perwakilan atau yang menjadi wakil kelompok tertentu, tetapi menjadi representasi dari semua kelompok.

Dari ragam contoh pemakaian kata  "representasi"  di atas, kita melihat bahwa kata  "representasi"  erat berkaitan dengan hal mencari figur. Ada satu kelompok, antara lain kaum muda mencari figur pemuda yang mampu menjelaskan seperti apa visi dan misi kaum muda yang diwakilinya. Bisa juga seseorang mencari satu orang jadi representasinya dalam satu ruang dan waktu dan  tertentu. 

2. Representasi dalam Film "Yesus di Hollywood"
Suatu peristiwa boleh juga menjadi representasi sosok seseorang. Dari uraian Imam Karyadi Aryanto dalam bukunya 'Yesus di Hollywood', dapat kita ambil tiga contoh pemakaian kata "representasi". Pertama, "Meskipun di dalam 'penjara' yang dapat merepresentasikan 'cobaan' atau 'ujian' yang membuat orang mengalami 'penderitaan'...."  
Kedua, "Jalan salib adalah representasi bagi perjalanan hidup seseorang, penderitaan dan cobaan yang lebih berat dan memiliki  hasil yang 'final', yaitu 'mati'".  Ketiga, "Perjalanan rohani yang menyakitkan ini adalah representasi tentang kenikmatan penderitaan yang dapat penulis hubungkan dengan semangat martir atau kemartiran ... yang ada dalam Kristen." 

Di balik kutipan-kutipan tersebut, figur Yesus dilukiskan sebagai figur yang anomalis, artinya garis pemisah antara Yesus sebagai manusia biasa dan Yesus sebagai Tuhan atau Kristus sangat cair, sama halnya batas antara tanah dan air yang sangat relatif itu: "Dua term 'Yesus' dan 'Kristus' dapat dimaknai sebagai representasi superhuman atau manusia dengan talenta menakjubkan yang datang dari unsur ilahi, namun tidak menanggalkan kemanusiaannya."  

Dengan demikian, film 'Yesus di Hollywood' itu membawa ragam pesan kepada para penonton film tersebut, antara lain sebagai tokoh pembebas dari penindasan penguasa Romawi. Bagi industri film, para tokoh alkitabiah yang menjadi   'figur anomalis' seperti figur Yesus, yaitu: Nuh, Abraham, Musa, Elia, dan lain sebagainya.  

Para pemerhati teologi dari dunia budaya masing-masing (Cina, Afrika, Amerika Latin, dan lain-lain) menyaksikan Kristus sesuai figur yang dilahirkan dari perut budaya setempat. Para ahli seni lukis mendandani Kristus dengan pakaian kerajaan setempat atau dengan wajah seorang pahlawan. "Der andere Christus" (Kristus yang lain atau asing), demikian judul buku yang meliput hasil seminar para teolog dari seluruh pelosok benua.  

Orang Kristen Jerman akan melihat "Kristus asing" yang dibalut oleh budaya Cina, sebaliknya orang Kristen Cina akan melihat "Kristus asing" yang dilukis dengan gaya pahlawan Jerman. 

Wolfgang Greife, salah satu editor buku tersebut, menyatakan bahwa satu-satunya kriteria dari semua figur Kristus yang plural itu ialah Manusia Yesus dari desa Nazareth.  Senada dengan ini, Gregory J. Riley dalam bukunya "One Jesus, Many Christs", menyebut bahwa figur  Kristus yang plural itu sudah hadir pada awal kekristenan itu sendiri, di kalangan Kristen Yahudi dan Kristen Helenis: "...There was at the core one Jesus, but as soon as they  began to try to understand what he was, they created a bewildering array of answers-they produced many Christs."    

3. Kata "Representasi" dalam Teologi Gereja Katolik Roma
Dalam percakapan pastoral, seorang Romo menjawab seorang anggota umat Katolik yang  ingin  bertindak 'in persona Christi' (representasi Kristus) kala dia membawa damai dan memberitakan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari? 
Jawabannya sekaligus memberikan pemahaman akan arti teologis-dogmatis dari ungkapan 'representasi': "Istilah lengkapnya adalah in persona Christi capitif  artinya imam dalam jabatannya (imamat jabatan) melaksanakan tri-tugas Kristus : memimpin-menguduskan-mengajar, ia bertindak dalam  pribadi Kristus sebagai Kepala. Dalam pengertian ini tindakan imam lebih  dari istilah "atas nama" atau "representasi" atau "mewakili", walaupun ketiga istilah itu sering digunakan: imam bertindak atas nama Kristus, atau mewakili Kristus, atau tindakan imam merupakan representasi dari Kristus."  

Lebin lanjut dijelaskan bahwa dalam pengertian umum, orang yang mendapat delegasi itu mewakili atau representasi dari seseorang yang memberi, dia hadir, berbicara dan bertindak atas nama seseorang yang memberikan delegasi kepadanya. Secara khusus dalam gereja Katolik Roma, seorang imam "bertindak in persona Christi capitif dan merupakan representasi dari Tuhan, bukanlah ia bertindak atas nama seseorang yang tidak hadir, tetapi imam bertindak dalam pribadi Kristus yang bangkit itu sendiri, sebagai kepala gereja, yang hadir dalam gereja, di tengah umat yang berhimpun untuk mendengarkan sabda Tuhan, merayakan ekaristi dan sakramen lainnya. 

Apa yang dilakukan imam (karena rahmat tahbisan suci), Kristus sendiri yang bertindak secara efektif dan merealisasikannya secara kongkrit nyata: mengkonsekrasi roti dan anggur menjadi Tubuh dan DarahNya, sebagai tanda kehadiran nyata Tuhan (Kristus), memberi pengampunan dosa, dan lain-lain. Tuhan menghadirkan karyaNya yang menyelamatkan melalui orang yang melakukan karya Tuhan. Tri-tugas imam (imamat jabatan) : mengajar-menguduskan dan memimpin, merupakan representasi dari tindakan Kristus yang menyelamatkan."  Demikian pemahaman gereja Katolik Roma tentang "representasi Christi". 

Dalam kaitan itu, mari kita simak pernyataan ini: "Those apostles ordained others after them, who ordained others after them, and so on, until we reach the bishops of today's Church. Our bishops therefore stand in a continuous line of succession which stretches back to Jesus Christ himself. Just as in the early Church, when the apostles were endowed with a special outpouring of the Holy Spirit to enable them to fulfil their mission, so in today's Church, ordination witnesses the outpouring of the Spirit on the candidate. This is signified in episcopal and priestly ordinations (which are also known as consecrations) by anointing with holy oil and the imposition of hands."  

Imam yang bertindak in persona Christi capitif  itu tak terpisahkan dari ajaran dogma tentang suksesi jabatan dan  juga tentang  "ordinasi" jabatan. Pada saat proses ordinasi, imam sekaligus menerima karakter khusus yang sakral-adikodrati, yang melekat pada diri seorang imam Katolik, yang memampukannya melakukan pelayanan sakramental.(Bersambung)
  BeritaTerkait
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan KeempatJabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Tulisan Kedua: Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?

    tahun lalu

    Oleh: Ephorus Emeritus HKBP Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk   Paparan ini merupakan lanjutan dari paparan terdahulu yang telah terkirim kepada Komisi Teologi HKBP via email, 17 April lalu

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kedua)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukI. Bahasa Figuratif dalam Pengertian Umum dan KhususKita dapat menemukan cukup banyak informasi tentang apa yang dimaksud dengan "bahasa figuratif", yang satu dengan

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keempat)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukII. Bahasa Figuratif dalam Sejarah Penafsiran Alkitab1. Interpretasi Alegoris dan TipologisBahasa figuratif rupanya jadi alat tafsir buat para bapa gereja yang  

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb