• Home
  • Opini
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keempat)
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 11 Juli 2017 11:50:00

Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keempat)

BAGIKAN:
https://tokohbatak.wordpress.com
Pdt Dr JR Hutauruk
Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk

II. Bahasa Figuratif dalam Sejarah Penafsiran Alkitab
1. Interpretasi Alegoris dan Tipologis
Bahasa figuratif rupanya jadi alat tafsir buat para bapa gereja yang  mempertahankan kesatuan dua Perjanjian dalam Kitab Suci umat Kristen, yaitu Perjanjan Lama dan Perjanjian Baru, dan mempertahankan ajaran-ajaran yang alkitabiah dari ragam pandangan teologis dari gerakan religi gnostik abad-abad I-III. 

Marcion (wafat sekitar tahun 160), seorang tokoh Kristen abad ke-2 menolak kesatuan dua Perjanjian itu (Lama dan Baru) dan sekaligus mengembangkan ajaran/teologinya yang melihat diskontinuitas total antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, antara Israel dan Gereja, bahkan antara Allah  Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Yesus telah datang   untuk menyatakan Allah yang benar itu. 

Marcion telah membentuk kanon Alkitab sendiri, tanpa  Perjanjian Lama. Kanon Perjanjian Baru yang diciptakan Marcion tidak sama dengan kanon Perjanjian Baru yang disepakati bersama oleh para bapa gereja abad ke-2. Kanon Marcion hanya mencakup Injil Lukas dan beberapa surat Paulus. 

Bahasa figuratif dalam sejarah penafsiran Alkitab, sebagaimana kanon Alkitab  (39 kitab PL dan 27 kitab PB), kadang kala dikenal dengan nama interpretasi alegoris dan interpretasi tipologis (Kristen Yunani) atau figural (Kristen Latin). Di kalangan pengguna bahasa Latin (dunia Kristen Barat) biasa memakai ungkapan "figuratif" dan di kalangan pengguna bahasa Yunani (dunia Kristen Timur) biasa memakai ungkapan "tipologis". 

Interpretasi alegoris itu dikembangkan oleh orang-orang Yahudi terpelajar, kemudian diambil alih oleh para bapa gereja, sedang interpretasi tipologis dikembangkan oleh para bapa gereja sendiri. Interpretasi tipologis atau figuratif itu lebih dekat kepada suatu penilaian historis yang benar dari suatu teks, sedang hasil interpretasi alegoris sering berbeda dengan makna harfiah dari teks-teks yang asli, bahkan tanpa hubungan sama sekali dengan teksnya. 

Kedua ragam interpretasi tersebut kadang kala dikenal dengan interpretasi vertikal (tanpa hubungan dengan konteks historis) dan interpretasi horisontal (memerhatikan dan menghargai konteks historisnya).

2.  Bahasa Figuratif dalam Teologi Yunani Kristen: Antitupos
Sebagaimana kita jelaskan di atas, kata "figur" dalam bahasa Latin (Kristen Barat) serupa dengan kata "tupos" dan atau "antitupos" dalam bahasa Yunani. Kedua kata itu saling kait mengait. Pemikir Yunani Herodotus menggunakan kedua kata tersebut secara bersamaan, dalam arti serangan dan serangan balik. 

Ada tempat di mana dua angin terus berhembus. Serangan memberi jawab terhadap serangan (tupos  antitupos), atau penderitaan batin diletakkan pada penderitaan batin. Antitupos mengungkapkan suara yang menjawab balik (echo: gema atau gaung).  

Arti dan makna kata "antitupos" berkembang pesat di kalangan umat Kristen Yunani. Nigel Turner  mengatakan bahwa di kalangan orang-orang Kristen (Yunani) muncul pemahaman bahwa Antitupos adalah "an exact copy or corresponding object which resembles another by a true likeness without being the real thing" (sebuah salinan yang sebenarnya atau objek yang menyerupai yang lain dengan kemiripan yang nyaris sama tidak menjadi hal yang sesungguhnya).

Berdasarkan rumusan itu, Nigel Turner mengajukan beberapa contoh konkret dari Alkitab seperti objek-objek kudus (tupos/figur) di dalam Bait Allah (PL) dan  'figur-figur' (antitupos) sorga (PB) (Ibr 9:24). Atau air di atas mana  Nuh terapung-apung dan yang menyelamatkannya bersama keluarga,  sementara air itu juga yang menenggelamkan yang lain, dilihat sebagai suatu antitupos (figur) dari Baptisan Kudus yang kini menyelamatkan kita (1 Ptr 3:21).  

Rumusan tersebut berlaku sepanjang sejarah penafsiran figuratif itu, sejak para rasul, bapa-bapa gereja abad pertengahan (Agustinus atau Martin Luther): rumusan yang menghubungkan teks-teks PL (antitupos) dan teks-teks PB (tupos) secara timbal-balik dan hidup. 

Bahkan dalam uraian lebih lanjut dapat kita saksikan bahwa hubungan timbal-balik antara teks-teks PL dan teks-teks PB bukan hanya memperlihatkan masa lampau, tetapi  selalu  terhubung dengan masa depan yang akan datang. Tetapi kadang kala ada yang terbalik, misalnya sang Perawan Maria adalah antitipos dari Nuh. Namun secara umum adalah bahwa seluruh antitupos adalah sebuah 'simbol', bukan realitas dari yang disimbolkannya. Melkizedek adalah sebuah simbol dari sesuatu yang sempurna yang akan datang.  

Sebelum kita lanjutkan, mari kita pastikan: Pertama, bahwa segala sesuatu di dalam Perjanjian Lama dipahami oleh orang-orang Kristen perdana sebagai suatu antitupos dari hal-hal yang akan datang (PB). Pemahaman sedemikian rupa akhirnya menempatkan Kitab Suci umat Kristen sebagai sumber pembelajaran yang tertulis yang berlaku untuk semua umat Kristen, demikian pernyataan Rasul Paulus kepada jemaat Kristen Helenis di kota Roma (Rom 15:4). 

Kedua, antitupos (PL) dapat dipahami sebagai suatu allegoroumenon (allegori), dan berangkat dari pemahaman inilah Rasul Paulus melihat Hagar dan Sinai sebagai simbol-simbol dari Yerusalem di atas bumi ini, sebagai tipe-tipe Yudaisme yang tidak percaya. Inilah sebuah contoh yang diungkapkan oleh Paulus sebagai suatu simbol (allegori: Gal 4:24).  Pemahaman ini penting bagi diskusi kita pada bagian akhir tulisan ini.  

Ketiga, seperti kita singgung sepintas di atas  bahwa 'tipologi' (atau tafsir tipologis)  dan  'allegori' (atau tafsir allegoris) punya perbedaan yang tipis. Secara tradisional tipologi lebih mengedepankan peristiwa historisnya (horisontal), sedangkan allegori atau allegorisasi kurang memerhatikan historisitas suatu peristiwa (teks), sebaliknya memberi perhatian cukup banyak terhadap hal-hal yang sudah berada di luar peristiwa, kepada hal-hal di dunia atas (vertikal). Tipologi sering disebut sebagai pendekatan horisontal dan allegorisasi sebagai pendekatan vertikal (meta-historis).  

Lebih lanjut mari kita catat pengamatan dua tokoh gereja ini. Bishop Westcott memandang  yang tipologis bergantung pada korespondensi nyata dan historis, sedang yang allegoris  bergantung pada hal-hal yang digunakan sesuka hati.   Tipologi menafsirkan suatu peristiwa kini atau baru saja berlalu, sebagai pemenuhan suatu situasi yang mirip dengan situasi yang  pernah dicatat atau diramalkan Alkitab. 

Tipologi adalah penetapan ragam relasi historis di antara beberapa peristiwa tertentu atau pribadi tertentu atau hal-hal tertentu di dalam PL dengan peristiwa-peristiwa, pribadi-pribadi dan hal-hal paralel di dalam PB. Sedangkan alegori adalah penafsiran terhadap seseorang atau sebuah objek  yang diduga punya kemiripan dengan seseorang atau objek di PL, namun tindakan sesuka hati sangat berperan padanya. 

A.T.Hanson   telah mengamati, bahwa pemisahan di antara kedua bentuk tafsir  itu sebenarnya superfisial, namun dua-duanya cukup penting dalam pemikiran Kristen sejak dulu hingga kini.  Dan tipologi cenderung menyeberang pada allegori.  

Tipologi merupakan elemen esensial dalam penafsiran Kristen perdana terhadap Perjanjian Lama, dan tidak berdasar penafsiran sesuka hati para penulis PB , seperti dilakukan para rabbi dan bapa-bapa gereja Kristen generasi berikutnya, pasca kanonisasi PB. Pendekatan  para penulis Kristen perdana (PB) sering disebut naratif, yang beda dengan penulisan secara tipologis.   

Hanson menyebut bahwa 'kehadiran nyata' dari Kristus di dalam PL, itulah yang menjadi pusat interpretasi para penulis PB. Kristus tidak sekadar subjek konstan dari nubuatan PL. Kristus hadir dari tahun ke tahun. Para penulis PB, tandas Hanson, "sangat hati-hati menemukan kehadiran Kristus di dalam sejarah PL, menantang orang untuk beriman atau tidak beriman." Hanson menyesali bahwa para ahli tafsir Alkitab modern mestinya tidak dapat gagal menemukan metode-metode eksegesis, yang memampukan mereka menemukan Allah yang berbicara kepada mereka melalui  teks-teks Alkitab yang mereka baca dan tafsirkan.

3. Bahasa Figuratif dalam Teologi Yunani Kristen: Tupos
Ketika kita berbicara tentang "antitupos",  dengan sendirinya kita  berbicara tentang "tupos". Keduanya saling bergantung, saling mengisi, saling menjelaskan. Ibarat sepasang sepatu, apabila kita telah memakai sepatu kiri, maka kita pasti memakai sepatu pada kaki kanan, barulah kita benar bersepatu. Demikian pula kedua ungkapan  "antitupos-tupos" tidak terpisahkan satu sama lain. 

Kalau kita memberi perhatian secara khusus pada ungkapan "tupos", berarti kita hanya melihatnya dari segi Alkitab Perjanjian Lama  sebagai tempat tipologis-allegoris figur-figur alkitabiah PL (tipologi). Kita melihat dari segi pemenuhan apa yang sudah dituliskan dalam Alkitab Perjanjian Lama, atau dari segi tuposnya. Dengan demikian semakin nampak keterhubungan historis-allegoris antara kedua Perjanjian itu: PL dan PB. 

3.1. Bahasa Figuratif Rasul Paulus dan Penulis Surat Ibrani
Di bawah ini akan kita liput beberapa contoh bahasa figuratif, antara lain dari rasul Paulus dan penulis surat Ibrani. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma mengenalkan Adam adalah sebuah tupos dari Kristus: "Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran (tupos!) Dia yang akan datang" (Rom. 5:14). Dalam Bibel Batak-Toba kata gambaran atau tupos diterjemahkan dengan kata "sumansuman". 

Peristiwa-peristiwa di dalam Kitab Suci disebut pula sebagai tupoi kita (tipe-tipe) seperti rasul Paulus tulis kepada jemaat di Korintus: "Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh (tupoi hemon!) bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat" (1 Kor. 10:6). I.L. Nommensen dalam Bibel Batak-Toba  memilih kata 'tudosan'  untuk kata tupoi hemon: "Alai gabe tudosan panjoraan ma tu hita ...."

Pada surat yang sama rasul Paulus menasihati orang-orang Kristen Yunani-Helenis di Korintus sebagai berikut: "Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh (tupoi!) dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba." (ay. 11). Memang rasul Paulus melalui pendekatan tipologis (historis-horizontal)  maupun allegoris (vertikal) sangat bebas dan gampang melihat hubungan teologis-figuratif  antara peristiwa-peristiwa atau tokoh-tokoh PL dan PB.  
Awan merupakan tipe yang cocok untuk Baptisan Kudus; manna dan air memberikan bentuk awal dari Perjamuan Kudus. 
Penulis surat Ibrani melihat Harun, pendiri keimaman Lewi sebagai tupos Kristus. Harun digantikan Kristus, tetapi ia mempersiapkan Dia Kristus, dan korban binatang olehnya merujuk pada pengorbanan sempurna di kayu salib. Gereja melihat Habel juga sebagai suatu tipe (contoh) atau figur Kristus. Darah Kristus berbicara lebih hebat dari darah Habel (Ibr 12:24). Bibel Batak-Toba: "...parsoara na dumenggan unang mudar ni si Abel."

Demikian orang-orang Kristen perdana meneliti Kitab Suci tanpa meragukan sedikitpun akan keabsahan dan kebenarannya.  Semua gambaran atau contoh itu bagi kaum Kristen perdana menyiratkan zaman keselamatan dan kehidupan masa depan dari Tuhan Allah. Semua tupos itu merupakan contoh atau pola yang disediakan Allah untuk pengajaran bagi umat Kristen sepanjang zaman.  Seseorang yang menjahit dengan mesin penjahit, ketika dia menjahit sebuah baju kemeja atau celana, dia punya pola atau "muster" untuk itu. 

4. Respon para Tokoh Gereja dan Teolog Abad ke-20
Metode penafsiran figuratif masih menolong umat Kristen kini mendekat kepada firman Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci PL dan PB. 

Tokoh gereja, Father Herbert, telah menyemangati setiap orang Kristen untuk membaca PL dalam terang pemenuhannya dalam Yesus Kristus Mesias. Herbert mengatakan bahwa ketika kita menyanyikan 'korban', kita memikirkan pengorbanan Kristus dan persembahan ekaristi. Ketika sebuah Mazmur berbicara tentang 'Raja', kita akan dalam banyak hal merujuknya pada Kristus. Father Herbert tidak mengingkari adanya penafsiran mistis dalam tradisi penafsiran orang-orang Kristen perdana, tetapi "bagi orang-orang Kristen itu merupakan suatu keharusan."  

Seluruh Alkitab, demikian ahli dogmatika Protestan bernama Karl Barth, berbicara secara figuratif (vorbildlich) dan secara profetis tentang Yesus Kristus. Kitab Suci menyaksikan Kristus sejak kitab Kejadian hingga kitab Maleakhi. 'Firman (kata) dalam semua firman (kata) adalah Firman ini.' "Dialah Immanuel,  Kepala Umat PL dan PB, Representasi dari setiap orang percaya di hadapan Allah. Kita tidak dapat melihat Yesus tanpa melihat juga IsraelNya dan GerejaNya." Demikian Karl Barth melihat kesatuan dan kesinambungan sejarah Allah dalam PL dan PB. 

Pernyataan teologis ini: "Yesus Kristus adalah Representasi setiap orang percaya sepanjang zaman di hadapan Tuhan Allah Sang Bapa", dapat menolong diskusi kita selanjutnya dalam mencari arti dan makna pernyataan teologis-dogmatis rumusan "Pendeta Representasi Figur  Kristus". 

Sabine Hiebsch, dalam disertasinya tentang Lea dan Hagar dalam kumpulan khotbah Martin Luther dari cerita-cerita kitab Kejadian, mengatakan bahwa betapa besarnya semangat Luther untuk mendekatkan orang-orang Kristen Jerman yang baru saja mengenal Alkitab dalam bahasa Jerman melalui rangkaian khotbahnya dari kitab Kejadian dengan menggunakan pendekatan figural (tipologis), yang menitikberatkan unsur historis peristiwa-peristiwa atau tokoh PL, yang mensyaratkan yang bakal datang itu (PL) dan kepenuhannya, namun belum kepenuhan yang terakhir (PB). (Bersambung)
  BeritaTerkait
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan KeempatJabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Tulisan Kedua: Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?

    tahun lalu

    Oleh: Ephorus Emeritus HKBP Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk   Paparan ini merupakan lanjutan dari paparan terdahulu yang telah terkirim kepada Komisi Teologi HKBP via email, 17 April lalu

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kedua)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukI. Bahasa Figuratif dalam Pengertian Umum dan KhususKita dapat menemukan cukup banyak informasi tentang apa yang dimaksud dengan "bahasa figuratif", yang satu dengan

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Kelima)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk5. Refleksi  Pemakaian kata "figur" atau "figuratif" memberikan peluang yang sangat lebar bagi setiap orang yang akan membahasakan atau mengenalkan seperti apa s

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet