• Home
  • Opini
  • Spontanitas Bunga dan Lillin Penuh Makna Untuk Ahok
Minggu, 21 Mei 2017 18:59:00

Spontanitas Bunga dan Lillin Penuh Makna Untuk Ahok

Oleh: Jonson Rajagukguk
BAGIKAN:
Ist|PelitaBatak
Jonson Rajagukguk

Berawal  dengan karangan bunga yang penuh dengan cinta dan kasih, kemudian muncul gerakan seribu lilin untuk Ahok sebagai ungkapan yang penuh dengan cinta dan kasih atas apa yang dialami oleh Ahok. Sekali lagi, nak gerakan people power ribuan papan bunga menghiasi Kantor Balaikota Gubernur DKI Jakarta sebagai ucapan simpati (sympathy) kepada Ahok dan Djarot. Kemudian dimana-mana menjalar dan mewabah gerakan seribu lilin untuk Ahok. Gerakan people power  yang diwujudkan dalam versi bunga dan lilin ini agak lain dari gerakan “people power” sebenarnya yang biasa kita dengar. Kalau gerakan people power yang dipahamai oleh masyarakat adalah gerakan untuk menjatuhkan pemerintahan dikaktator yang spontan dan terorganisir oleh masyarakat seperti pada saat menjatuhkan Presiden Soeharto, Presiden Marcos, dan fenomena Arab Springs lainnya. Tetapi gerakan people power bungan ini adalah damai dalam bentuk wujud simpati publik penuh makna dengan memberikan karangan bunga sebagai simbol cinta, kasih, perpisahan manis dalam suasana suka dan duka, serta juga ungkapan simpati yang datang dengan spontan dan tanpa rekayasa sosial (without social engeering).

Ini adalah sebuah fenomena sosial baru (new social phenoma) di negara Indonesia. Bahkan bisa jadi tradisi baru sebagai cikal bakal dan starting point untuk membangun adab politik (politics) yang lebih bermartabat di negara kita ini. Sebagaimana yang kita ketahui bersama selama ini akhir dari Pilkada sering bermuara kepada Mahkamah Konstitusi karena pihak yang kalah melakukan gugatan (make a lawsuit). Artinya, yang kalah tidak siap menerima kekalahannya dan menuding yang menang melakukan kecurangan. Kemudian prasangka pun dialamatkan kepada panitia penyelenggera pemilu seperti seperti KPU dan BAWASLU memihak kepada yang menang. Selama kelemahan kita dalam hal berpolitik adalah sulit mengakui keunggulan orang lain. Akibatnya banyak Pilkada di negara Indonesia yang berujung ke pengadilan (Mahkamah Konstitusi). Akibatnya banyak Kepala daerah yang diputus oleh MK. Ini adalah salah satu wajah buruk peradaban politik kita dan masih perlu dikoreksi secara total.

Bahkan secara nasional penyakit ini masih menghinggapi masyarakat Indonesia kebanyakan. Sangat sulit anak bangsa ini untuk mau mengakui keunggulan orang lain. Bagaimana bisa maju kalau kita tidak bisa mengakui keunggulan orang lain. Sementara pengakuan kepada keunggulan orang lain adalah sebuah karakter yang sangat bagus karena dengan adanya pengakuan keunggulan orang lain bisa melahirkan iklim kualitas atau membangun budaya mutu. Budaya mutu adalah jawaban bagi persaingan ketat yang sedang kita hadapi dewasa ini. Tetapi Ahok dengan segala fenomenalnya membelah sekat –sekat ini dengan  memberikan pendidikan politik yang sanga bagus kepada rakyat DKI secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum dengan mengakui keunggulan (recognize exellence) Anies R Baswedan dan Sandiaga Uno. Ini adalah sebuah pendidikan politik dan lompatan kemajun demokrasi kita.       

Kembali kepada kekecewaan para pendukung Ahok yang bersimpati melalui karangan bunga. Kekalahan Ahok yang memang punya kinerja bagus, bahkan berdasarkan berbagai Indeks Kepuasan selalu di atas 70 persen memang sangat menyakitkan. Ahok yang merupakan simbol pemimpin tegas, berkaraktaer, dan sangat cocok untuk tipikal pimpinan di DKI karena Jakarta yang sangat keras akhirnya kalah oleh pasangan Anies dan Sandiaga. Sekalipun menyakitkan tetapi harus diterima karena itulah proses demokrasi. Bagaimana mendorong proses demokrasi ke arah yang lebih baik adalah tanggung jawab bersama. Bagi pendukung Ahok, kekalahan Ahok bukan akhir segalanya dan masih ada ruang mungkin yang lebih besar kedepan untuk Ahok berpartisipasi dalam membangun negara ini melalui jalur lain. Artinya, positive thinking adalah hal yang perlu dibangun bahwa kekalahan Ahok bukan akhir segalanya.  

Ada saat-saat tertentu kita harus mengalah, sekalipun kita berada pada jalan yang benar. Begitulah pepatah orang bijak yang mungkin bisa jadi masukan bagi kita semua dalam menyikapi sebuah atau sesuatu peristiwa. Dalam sebuah illustrasi yang digambarkan di sebuah jejaring media sosial (facebook) seekor kerbau sedang menyeberang jalan dengan tiba-tiba dan si kerbau berhenti. Dari jarak 100 meter si pengemudi mengklakson tetapi kerbau tidak mau bergerak. Akhirnya si pengemudi pun mengambil jalan dari trotoar supaya bisa lewat tanpa mengumpat. Apa yang bisa kita lihat dari illustrasi ini, kita memang benar tetapi kita harus mengalah karena si kerbau yang  ada di jalan tidak mengerti apa yang kita inginkan.

Kadangkala dalam hidup kita sering diperhadapakn dengan berbagai hal-hal yang spele yang sesungguhnya tidak perlu kita prdebatkan. Sebagai contoh, ketika kita sedang antri di kasir Indomaret pada saat mau melakukan transaksi pembayaran atas barang yang kita beli, tiba-tiba ada yang nyelonong duluan tanpa menghiraukan budaya antri. Bisa saja sikap yang kita ambil adalah “positive thinking” mungkin dia mau cepat karena urusan sesuatu hal. Kalau pun kita berdebat pada akhirnya tidak berguna dan hanya menghabiskan waktu yang tidak efektif. Sekali lagi, sekalipun kita benar, tetapi ada waktunya kita memang perlu mengalah.

Terlepas daripada itu, pilkada DKI Jakarta telah selesai dan pemenangnya adalah Aines R Baswedan dan Sandiaga Uno dengan suara mencapai sampai lebih kurang 56%. Bahkan kubu Ahok dan Djarot sebagai rival juga sudah mengucapkan selamat dengan iklas kepada Anies dan Sandiaga. Ini adalah kemajuan demokrasi kita karena Ahok dan Djarot sebagai petahana mau memberikan ucapan selamat dan mengakui kekalahan mereka. Tidak ada upaya dari kubu Ahok melakukan gugatan atau tuduhan curang dalam Pilkada DKI. Ahok dengan tegas mengatakan Pilkada DKI sukses dan inilah yang terbaik untuk masyarakat DKI. Bahkan Ahok dengan tegas mengatakan Tuhan yang memberikan kekuasaan dan Tuhan yang mengambil. Terima kasih kepada semua pendukung saya, tegas Ahok lagi dengan iklas.

Diplomasi Bunga dan Lilin

Apa yang kita lihat dengan tumpahan bunga (spill flowers) dan gerakan seribu lilin yang sangat banyak adalah sebuah wujud cinta dan kasih para pendukung Ahok. Bahkan kalau bisa bicara Bunga dan lilin itu akan mengatatakan Pak Ahok jangan pergi karena kami masih sangat mencintaimu. Tetapi fakta berkata lain. Ahok harus meninggalkan Balaikota pada bulan Oktober ini. Kemana Ahok dan Djarot bakal pergi kita tidak tahu, karena takdir politik tidak bisa kita baca. Hanya saja harapan kita (our expectation) adalah Ahok tetap menularkan karakternya (transmit the character) yang tegas dan tanpa kompromi dengan korupsi kepada siapa saja agar budaya antikorupsi bisa terbangun di negara ini.

Bunga pun menjadi simbol dan ungkapan simpati publik kepada Ahok. Artinya ini sebuah tradisi baru yang harus jadi pembelajaran yang sangat berharga kepada kita semua. Diplomasi bunga adalah adalah diplomasi yang mengedepankan kesantunan, cinta, kasih yang memang harus dikedepankan oleh semua anak bangsa ini. Mengingat selama ini ketegangan sosial (social tension) antara kedua pendukung selama Pilkada DKI Jakarta sangat intens dengan berbagai perdebatan –perdebatan yang menguras energi (drain energy), maka saatnya rekonsiliasi dilakukan dengan mempersatukan (unite) semua elemen yang berbeda.

Sudah saatnya kita melihat kedepan dengan meninggalkan masa lalu yang suram. Pada akhirnya semua harus menyadari bahwa kita adalah semua satu dan satu keluarga yang hidup bersama di negara ini. Perbedaan pendapat adalah dinamika sosial yang memang tidak bisa kita hindari. Perbedaan pedapat sesungguhnya adalah anugerah karena dengan adanya perbedaan pendapat kita bisa memperoleh pengayaan ide yang mungkin bisa dikonversi dalam bentuk potensi yang lain. Hanya saja kita tidak terbiasa dengan budaya perbedan pendapat selama ini yang membuat kita jatuh dalam berbagai ketegangan sosial.

Kini, semuanya harus diakhiri untuk Jakarta yang lebih baik. Diplomasi bunga dan lilin adalah sebuah simbol cinta, kasih, kebersamaan dalam suasana suka dan duka. Cinta, kasih, simpati adalah modal sosial yang perlu dikelola untuk membangun bangsa ini. Hanya dengan cinta dan kasihlah  bangsa kita bisa maju untuk membumikan peradaban bermartabat sebagai sebuah bangsa. Artinya, diplomasi bunga ini harus kita jadikan tradisi baru bahwa persaingan bukan segalanya. Persaingan (competition) hanya unsur kecil sebagai perajut kebersamaan (knit togetherness). Persaingan jangan dipahami sebagai sesuatu urusan hidup atau mati (life or death). Untuk itu, paradigma baru berpikir revolusioner dengan mengedepankan cinta dan kasih dalam pilkada adalah hal yang harus dipelihara oleh semua anak bangsa. Pendukung Ahok dengan cinta dan kasih menerima kekalahan dengan iklas tanpa melakukan gugatan ke MK atau mencari kanbing hitam. Kalah ya kalah dan katakan selamat kepada yang menang bukanlah hal yang sulit untuk diucapkan jika cinta dan kasih itu ada dalam diri semua anak bangsa ini.

Penutup

Kita harus mengedepankan masa depan bangsa ini dengan cinta dan kasih sebagaimana diplomasi bunga dan lilin yang dilakukan oleh pendukung Ahok. Dengan adanya diplomasi bunga dan lilin ini, maka segala bentuk pertikaian, perbedaan pendapat yang tajam, ujaran kebencian, dan segala bentuk ketegangan sosial lainnya karena PilkadaDKI harus diakhiri. Kita harapkan Anies dan Sandiaga Uno bisa membangun DKI Jakarta yang lebih baik. Beri mereka kesempatan untuk berkreasi dengan kepemimpinan yang bakal mereka praktikan. Saatnya semuanya berpikir “positive thinking” berlandasakan cinta dan kasih (based on love) untuk membangun bangsa ini menuju bangsa beradab dan bermartabat (a civilized and dignified nation) sebagaimana yang dipesankan oleh diplomasi bunga di Balaikota dan gerakan seribu lilin dimana-mana oleh para Pendukung Ahok dan Djarot dengan spontan dan penuh makna tanpa ada rekayasa sosial.

Penulis adalah: Pengajar Tetap FISIP Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan/Kaprodi Ilmu Administrasi Negara  


 

  BeritaTerkait
  • Dibalik Pidato Perdana Gubernur DKI Jakarta yang Mengutip Umpasa Batak

    2 bulan lalu

    Oleh  Master P Batubara, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisipol UnjaJakarta sebagai pusat peradaban, menyimpan berbagai latar belakang sejarah, berperan sebagai pusat perekonomian dan juga pemerinta

  • RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos

    tahun lalu

    Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan sikap dan tekad untuk mengajukan ulos sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Rencana dan pekerjaan yang mulia, jika masih ada orang maupun kelompok yang mau memperjuangkan

  • Pertemuan Kapolri dengan Firman Jaya Daeli, Ini yang Dibahas

    tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian bertemu dengan Firman Jaya Daeli (Mantan Tim Perumus UU Polri Di Pansus DPR-RI) yang membahas tentang komitmen dan konsistensi akan reformasi Polri, pemaknaan dan percepatan program Polri, pen

  • Salahkah Ahok Dalam Kasus Surat Al Maidah 51

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : <br></br> Kisruh yang menggelayut penduduk DKI Jakarta jelang Pilkada, terlebih dengan munculnya kasus dugaan penghinaan terhadap ayat suci Alquran yang dituduhkan kepada calon Petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

  • Tim Gabungan Kembali Amankan Jalan Sutomo

    2 tahun lalu

    Para pedagang kaki lima terkejut saat melihat tim gabungan kembali melakukan penertiban di Jalan Sutomo dan sekitarnya, Selasa (10/5) dinihari. Mereka tidak menyangka jika penertiban kembali berlanjut setelah sekitar tiga pekan terhenti. Bagi pedagang y

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online