• Home
  • Opini
  • Sipincur di Desa Pearung, Lokasi Perjuangan Melanchton Siregar
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 26 Januari 2019 20:23:00

Sipincur di Desa Pearung, Lokasi Perjuangan Melanchton Siregar

BAGIKAN:
Ist
Melanchton Siregar
Oleh: Ronald M. Sihombing

Sipincur di Desa Pearung,  Kecamatan Humbang Hasundutan, lokasi Perayaan Natal Tingkat Nasional Partai Golkar, Sabtu,  26 Januari 2019, adalah salah satu jalur perjuangan Melanchton Siregar dan pasukannya pada perang mempertahankan kemerdekaan, tahun 1947.

Rencana perayaan nasional di Sipincur dikemukakan oleh Anton Sihombing,  Ketua Umum Natal Nasional Golkar, seusai melakukan survei lokasi serta pendeklarasian penentuan lokasi, di Sipincur, Jumat (11/1), sebagaimana diberitakan New Tapanuli. Com.
Semula Melanchton dan pasukannya bermarkas di Pematang Siantar. Tatkala Pasukan Belanda menyerang Pematang Siantar, pada perang kemerdekaan pertama 1947, Melanchton  memindahkan markas perjuangannya ke Muara,  Kabupaten Tapanuli Utara, tidak jauh dari Pearung, pinggiran Danau Toba.  Sipincur dijadikan salah satu jalur penting perang gerilya yang digerakkan oleh Melanchton dan pasukannya. Di jalur perjuangan ini para pejuang menempati satu gua di Sitio-tio, sebagai tempat mengamati pergerakan pasukan musuh.

Hasil pengamatan dijadikan petunjuk untuk menentukan tempat persembunyian Melanchton selanjutnya, sehingga pasukan Belanda tak pernah berhasil menangkap pejuang dan pendidik tersebut.
 Dalam kiprah perjuangan ini, rakyat setempat memberikan  banyak bantuan kepada pasukan Melanchton. Itulah salah satu episode perjuangan Melanchton, sebagai pendidik, pejuang, dan negarawan. 

Untuk mengabadikan peristiwa heroik tersebut,  belasan tahun lalu Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (ketika itu) mendirikan patung Melanchton Siregar di sana.  Dibangun pula satu lapangan, yang biasa dipakai  para pelajar untuk menyelenggarakan  upacara 17 Agustus. Di bawah lokasi monumen inilah jalur lintas perjuangan Melanchton dan jalur perniagaan masyarakat. 

Usul Gelar Pahlawan 

Berkaitan dengan perjuangan Melanchton, sejak 2013 masyarakat luas sudah mengusulkan kepada Pemerintah Indonesia untuk menganugerahi gelar pahlawan nasional  kepada Melanchton Siregar.  Sebagai pendidik,  pejuang dan negarawan,  Melanchton dinilai pantas menjadi pahlawan nasional. Diharapkan permohonan masyarakat tersebut dapat dikabulkan Pemerintah tahun ini.  

Melanchton, kelahiran Lumban Silo, Pearung, pada 7 Desember 1912, ketika berusia delapan atau sembilan tahun masuk Gouvernement Hollandsch Inlandsch School (Gouw HIS - sederajat  SD) di Balige dan kemudian, 1928, melanjutkan studi ke Christelijke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) (sederajat SMP) di Tarutung.

Dari MULO Tarutung, Melanchton meneruskan pendidikan ke Cristelijke Hollands Indische Kweekschool (Christelijke HIK) (sederajat SGA atau SPG), mula-mula di Probolinggo dan kemudian diselesaikan di Solo pada 1935. 

Semangat dan kehausannya akan pendidikan yang lebih tinggi tidak berhenti, karena itu dia langsung meneruskan pendidikan ke Gouvernement Hoofdacte Cursus (sederajat Sarjana Muda atau D III Pendidikan) di Bandung dan tamat pada 1938.
Setelah tamat Hoofdacte di Bandung, babak baru kehidupan Melanchton dimulai. 

Ada dua hal yang mendorong bermulanya kehidupan baru itu. Pertama, panggilan pendidikan yang digumulinya selama ini, yaitu HIK dan Hoofdacae. Kedua, "Panggilan tanggung jawab dan kewajiban" kepada keluarga. Jauh sebelum menyelesaikan pendidikan di Probolinggo, Solo, dan Bandung, ibunya meninggal dunia dengan meninggalkan enam anak. Kesadaran sebagai putra sulung menempatkannya pada pilihan, bekerja untuk meringankan beban keluarga.  

Melanchton mengawali karier sebagai pendidik  di Joshua Institute di Medan selama beberapa bulan. Kemudian, menjadi guru di Christelijke HIS di Narumonda. Selanjutnya, dia meninggalkan Narumonda dan bersama sejumlah temannya tamatan HIK dan sekolah guru yang lain, mendirikan HIS HKBP Sidikalang. 

Kemudian, Melanchton diangkat menjadi guru HIS pemerintah di Tebingtinggi dan di kota ini Melanchton bertemu dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai suku bangsa, yang mengajarkan untuk saling menghargai dan saling membantu. Pengalaman di Tebingtinggi menjadi latihan dan landasan bagi perjalanan karier selanjutnya.

Empat tahun Melanchton menjadi guru di Tebingtinggi dan sempat menjabat kepala sekolah. Ketika Jepang menduduki daerah ini pada 1943, Melanchton dipindahkan menjadi guru Tyu Gakko (sederajat SMP) di Medan. Tetapi, itu tidak lama, karena dia bersama teman karibnya, Achmad Delui Rangkuti, ditangkap Kempetai (Polisi Rahasia Jepang) serta dikurung dalam tahanan selama dua bulan dan sempat dijatuhi hukuman mati oleh Jepang, dengan tuduhan mata-mata. Tapi, kemudian dia dibebaskan dan menjadi guru di Tyu Gakko Pematang Siantar, tahun 1944. Pada 1945, Melanchton diangkat menjadi Direktur Sekolah Teknik Menengah di Pematang Siantar.

Setelah Bung Karno dan Bung Hatta  memproklamasikan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus  1945, Melanchton bersama teman-temannya, Marnix Hutasoit, Philip Lumban Tobing, AMS Siahaan, dan lain-lain, mendirikan Sekolah Menengah Umum, Sekolah Pertanian, Sekolah Guru, Sekolah Ekonomi, dan Sekolah Teknik di Pematang Siantar. Para pelajar sekaligus sebagai tentara pelajar, sehingga sekolah-sekolah itu menjadi tempat pembinaan sumber daya manusia intelektual dan pejuang. 

Beberapa jabatan dalam dunia pendidikan pernah dia pegang. Maka, dia pun dikenal luas sebagai pendidik. Dia mendirikan beberapa sekolah dengan maksud agar semua rakyat dapat menikmati pendidikan.

Sekalipun sudah tidak menjadi guru, jiwa kependidikannya tetap membara dan mendorongnya tetap memperhatikan pendidikan. 

Perkembangan selanjutnya, Melanchton beserta kawan-kawannya di Pematang Siantar, mendirikan Partai Politik Kaum Kristen (PPKI). Ketua pertama  PPKI dipilih Dr. Jasmen Saragih kemudian  digantikan oleh Melanchton. PPKI berubah nama menjadi Partai Kristen Indonesia (PARKI), dan selanjutnya dalam pertemuan bersama (kongres) di Solo disatukan dengan Partai Kristen Nasional yang ada di Jawa menjadi Partai Kristen Indonesia (Parkindo), pada 10 November 1945. Penyatuan PARKI ke Parkindo disahkan pada kongres di Parapat 10-20 April 1947.

Parkindo Sumatera Utara membentuk laskar pasukan bersenjata yang dikenal "Divisi Panah" dengan  Melanchton sebagai Panglima. Markas Besar Divisi Panah berkedudukan di Pematang Siantar. 

Pasukan ini kemudian pindah markas ke Muara dengan jalur perjuangan antara lain Sipincur.
Beberapa posisi penting yang pernah dipegangnya, antara lain, anggota Dewan Pertahanan Sumatera, Gubernur Militer III, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Utara, dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI). Dengan berbagai posisi itu ditambah lagi dengan perkembangan keadaan dan suasana perjuangan, maka tidak mengherankan Melanchton sering terlibat dalam pasukan yang bergerak di lapangan dan sebagai penyedia logistik pasukan tempur. Ia memanggul senjata dan mengatur strategi agar masyarakat tidak kesulitan memperoleh bahan pokok, seperti beras. Untuk keperluan itu Melanchton menyusun mata rantai hubungan sampai jauh ke daerah musuh. 

Bersama Bosar Sianipar, bergelar sandi Mundar Mandir, Melanchton yang mempunyai nama sandi Partahuluk Raso, bergerak sebagai Pejuang yang berasal dari rakyat. Maka, keduanya disebut Pemimpin Gerilya Rakyat. Keduanya menjadi orang-orang yang masuk daftar yang paling dicari oleh Belanda. 

Selain itu, beberapa kali Melanchton mendampingi pimpinan tentara dalam perundingan dengan Belanda, khususnya mendampingi Kapten Bawady Simatupang, Komandan Militer di Humbang, pada waktu itu. 

Negarawan 

Melanchton Siregar pernah menjadi Anggota Badan Pekerja Dewan Kota Pematang Siantar (1946), Anggota DPR Sumatera Timur, anggota DPR Sumatera Utara, dan anggota KNIP. Pada 31 Januari 1950, Melanchton menjadi salah satu dari lima Anggota Badan untuk Menjalankan Hak dan Kewajiban Pemerintahan Provinsi Aceh, selama Dewan Pemerintahan Daerah Provinsi Aceh belum terbentuk.

Keanggotaan dalam perwakilan rakyat diperolehnya kembali melalui keberhasilan Parkindo Sumatera Utara memperoleh dukungan suara yang memberikan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta. Demikianlah kemudian Melanchton dilantik sebagai anggota DPR hasil Pemilihan Umum 1955, mewakili Parkindo Sumut. 

Perubahan politik secara mendasar kembali terjadi setelah pemberontakan G30S/PKl ditumpas. Pembersihan dan penataan kembali MPRS-Rl menetapkan pimpinan yang baru, diketuai Jenderal A.H. Nasution. Melanchton Siregar menjadi salah seorang Wakil Ketua MPRS-Rl mewakili Kristen/Katolik. Jabatan ini dipegangnya sampai anggota MPR-Rl hasil pemilihan umum yang pertama setelah Orde Baru dilantik tahun 1972. 
Selama menjadi Wakil Ketua MPRS, Melanchton berhasil menyelesaikan berbagai masalah pelik dan peka yang menyangkut negara dan pemerintahan. Maka, Ketua MPRS AH Nasution menjulukinya trouble shooter. Baik di panggung nasional maupun internasional dia menunjukkan sosok negarawan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). la pernah bersuara lantang di pertemuan PBB mengenai NKRI dan Pancasila.
Tenaga, pikiran, dan pengabdian Melanchton untuk negara belum berakhir selepas dari MPRS.

Pemerintah kemudian mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Pada saat berbakti di DPA, Melanchton wafat, setelah menderita gangguan jantung bertahun-tahun. 

Melanchton dikenang sebagai pendidik, pejuang, dan negarawan. Orientasi pemikirannya sangat jauh ke depan. Landasan dari konsep pendidikan yang ditawarkan adalah Kasih. Ia juga menjadi demokrat sejati yang memiliki "percaya diri" dari "hati nurani". 
Melanchton  tutup usia 24 Februari 1975 dan  dimakamkan keesokan harinya dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Atas jasa dan karyanya, Melanchton menerima Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961) dan Bintang Mahaputra Adiprana II (1973). *

(Penulis adalah Sekretaris Panitia Nasional Mengenang 100 Tahun Melanchton Siregar Pengusul Pahlawan Nasional)
  BeritaTerkait
  • Menunggu Gelar Pahlawan Nasional untuk Melanchton Siregar

    4 minggu lalu

    JAKARTA(Pelita Batak):  Masyarakat masih menunggu Pemerintah Pusat menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada  Melanchton Siregar, pendidik, pejuang, dan negarawan kelahiran Humbang Hasu

  • Ini Lokasi Wisata Bagus di Humbahas

    3 tahun lalu

    Kabupaten Humbanghasundutan menyimpan panorama alam yang luar biasa untuk dunia pariwisata. Wisata alam, kuliner, wisata air dan yang lainnya bisa memberikan sentuhan pengalaman yang alami dan spektakuler.

  • Tolak Kebijakan Pemkab Tapsel Bongkar Kuburan, Peti Mati Diusung ke DPRD Sumut

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Tidak terima dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, seratusan massa yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Daerah Posko  Perjuangan Rakyat (DPD Pospera)

  • Penyerahan Bantuan Bibit Ternak Bagi 8 Kelompok Tani/ Ternak di Kabupaten Tapanuli Selatan

    9 bulan lalu

    Tapanuli Selatan (Pelita Batak): Kegiatan Pengembangan Pembibitan dan Produksi Ternak Sapi Potong 2018, dengan sumber dana APBD 2018 di Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Pemerintah Provinsi Sumate

  • Melalui Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Kerakyatan Menuju Humbang Hasundutan Hebat dan Bermentalitas Unggul

    satu bulan lalu

    PendahuluanKITA patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kini Kabupaten Humbanghasundutan usianya mencapai 16 Tahun setelah terbentuk menjadi daerah pemekaran otonomi daerah baru salah satunya di I

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb