• Home
  • Opini
  • Robinson Butarbutar Effect, KRP, dan Masa Depan HKBP
KSP Makmur Mandiri
Kamis, 26 Oktober 2017 12:21:00

Robinson Butarbutar Effect, KRP, dan Masa Depan HKBP

Oleh: Jonson Rajagukguk
BAGIKAN:
IST|PELITABATAK
Jonson Rajagukguk
KETIKA Ketua Rapat Pendeta HKBP 2017-2021 mampu membawa kualitas pelayanan pendeta naik kelas dengan sejumlah prestasi yang bermulplipief effect (efek besar) bagi jemaat HKBP, saya menyebutnya dengan "Robinson Butarbutar Efect" (RBB EFFECT). Dalam ilmu ekonomi ada istilah dikenal terminologi "multiplier effect" (Eefek ganda, efek besar) dimana peran itu harus mampu melahirkan berbagai perubahan besar yang menguntungkan dan berkelanjutan. Tentu ekspektasi kita bersama terpilihnya Pdt. Dr. Robinson Butarbutar dengan latar belakang akademis yang tinggi bisa melahirkan efek besar tentang peran strategis dan fungsi KRP yang signifikan dalam tubuh pelayanan HKBP.  
 
Terlepas daripada itu, pasca terpilihnya Pdt. Dr. Robinson Butarbutar sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP dengan jumlah suara mencapai 719  dari 1400-an suara tentu menumbuhkan harapan bagi jemaat HKBP tentang menguatnya peran strategis dan fungsi KRP di tubuh HKBP kedepan. Sebagaimana yang kita tahu, HKBP dengan sebuah visi besar "menjadi berkat bagi dunia" adalah sebuah program yang snagat bagus, apalagi sampai pada tahapan implementasi. Masalahnya, secara organisatoris, dalam teori organisasi apapun yang namanya visi dan misi organisasi adalah buah dari "team work" yang saling terintegrasi, dimana semua elemen dalam organisasi itu harus bersatu padu dengan pemahaman yang sama (the same understanding).
 
Berangkat dari sini, tentu kita juga harus paham, perwujutan visi HKBP menjadi "berkat bagi dunia" bukanlah kerja partial, tetapi pekerjaan kolektif yang membutuhkan team work yang tinggi agar bisa berhasil dengan baik. Nah, dapat kita lihat secara organisatoris, struktur Gereja HKBP kalau bisa dibilang adalah struktur yang mengikuti  perkembangan jaman (development era). HKBP sebagai organisasi gereja selalu mampu beradaptasi dengan kemajuan jaman (adapt to the advanced of the times) karena memang HKBP punya sumber daya manusia sebagai anugerah dari Tuhan. Hal ini wajar saja mengingat jemaat HKBP juga banyak yang kritis, punya pendidikan tinggi, punya latar belakang profesi yang berbeda. Tentu untuk menjawab kebutuhan pelayanan, mau tidak mau HKBP melakukan berbagai inovasi secara kelembagaan agar pelayanan kepada jemaat bisa maksimal dan berjalan dengan baik.
 
Ketika topik pembicaraan adalah pelayanan, sejauh mana pelayanan itu bisa diwujudkan dengan baik dengan melihat semua jemaat HKBP adalah sama di depan Tuhan sebagai sang pencipta? Setidaknya, akar masalah krisis pelayanan adalah status sosial jemaat yang mungkin berbeda, apalagi menyangkut status sosial ekonomi. Seringkali kita mendengar keluhan bahwa jemaat miskin mengalami marginalisasi dalam sistem pelayanan. Tentu kondisi ini tidak bisa dibiarkan, kalau pun itu terjadi harus dicegah sejak dini karena pada hakikatnya HKBP hadir untuk orang miskin dan HKBP hadir untuk memanusiakan manusia. Untuk itu, sebagai aktor pelayanan utama kehadiran pendeta sebagai pimpinan jemaat misalnya tentu harus dalam konteks pelayanan yang holistik kepada semua jemaat.

Kini, bagaimana menjadikan medan pelayanan kepada jemaat lebih holistik, menyentuh jemaat, menjangkau semua kalangan, dan penuh kasih adalah tantangan bagi pendeta di tubuh HKBP. Saat ini Ketua Rapat Pendeta (KRP) telah terpilih. Tentu jadi sebuah pertanyaan, sejauh mana peran strategis KRP, peran vital KRP dalam mendukung pelayanan yang holistik kepada semua jemaat HKBP dengan mengedepankan kesetaraan, kesamaan atas dasar kasih Tuhan? Mengharapkan peran strategis dan peran signifikan (meminjam istilah statistik) KRP dalam mendukung pelayanan holistik adalah sah-sah saja. Hanya saja, menyerahkan masa depan HKBP hanya kepada KRP adalah kesalahan fatal. KRP punya keterbatasan karena harus melakukan koordinasi lagi dengan atasannya (Ephorus dan Sekjen HKBP misalnya). Tentu yang kita harapkan dari KRP adalah munculnya berbagai pemikiran inovatif (innovative thinking), kreatif tentang bagaimana mendorong pendeta sebagai pelayan yang benar-benar hadir di tengah  kehidupan jemaat.
 
Kini Rapat Pendeta HKBP sudah selesai, dan Pdt. Dr. Robinson Butarbutar sudah dilantik sebagai Ketua Rapat Pandeta HKBP 2017-2021. Harapan kita menilai KRP janganlah KRP itu hanya sebagai loncatan untuk memilih Ephous HKBP kedepan. Artinya, pemikiran seperti ini harus kita hilangkan, yang kita inginkan adalah KRP adalah sebuah lembaga yang strategis dan signifikan dalam merumuskan, memikirkan bagaimana esensi pelayanan pendeta dalam tubuh HKBP sehingga kualitas rohani dan kualitas jasmani jemaat HKBP benar-benar bagus dengan berbagai parameter yang jelas, seperti jemaat yang patuh hukum, jemaat yang punya kepekaan sosial, jemaat yang peduli, jemaat yang taat pajak, jemaat yang punya skill, jemaat yang toleran, dan jemaat yang punya tanggung jawab berbangsa dan bernegara.

Menurut pendapat penulis, ada beberapa hal yang jadi isu krusial dan isu strategis yang musti dipikirkan oleh KRP kedepan sebagai sebuah isu global, isu sosial, dan isu yang sangat sensitif. Tetapi sebelumnya kita pahami dulu apa yang jadi agenda  KRP sebagaimana yang dikatakan dalam AP HKBP 2002. Pertama, mendoakan seluruh warga jemaat dan seluruh pelayanan HKBP, bangsa dan negara, gereja-gereja dan seluruh dunia. Kedua, membahas dan melakukan evaluasi pelaksanaan Konfesi, Ruhut Parmahanion & Paminsangon, dan Agenda HKBP. Ketiga, merumuskan dan menetapkan Konfesi, Ruhut Parmahanion & Paminsangon dan Agenda HKBP untuk disahkan oleh Sinode Godang. Keempat, merumuskan pernyataan iman HKBP tentang pokok-pokok pergumulan dalam kehidupan untuk disahkan oleh Sinode Godang. Kelima, menetapkan Pedoman Pengajaran Sekolah Minggu, Pedoman Pengajaran Remaja, Pedoman Pengajaran Pemuda, Pedoman Pengajaran Perempuan, Pedoman Pengajaran Kaum Bapak serta Pedoman Pengajaran Lansia.

Keenam, menetapkan Pedoman Katekisasi Pra Baptis Anak dan Dewasa, Pedoman  Katekisasi Sidi, dan Pedoman  Katekisasi Pra Nikah, serta Pedoman Katekisasi Calon Sintua. Ketujuh, memilih Ketua Rapat Pendeta. Sebelum pemilihan dilakukan, terlebih dulu diadakan ibadah. Kedelapan, memberikan masukan teologis khususnya eklesiologis kepada Komisi Aturan dan Peraturan HKBP. Kesembilan, memberikan masukan kepada lembaga-lembaga pendidikan teologi milik HKBP. Sepuluh, menumbuhkembangkan persaudaraan di antara semua pendeta HKBP. Sebelas membicarakan dan menerima kembali pendeta HKBP yang dikenai sanksi Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon HKBP. Terakhir, mendoakan seluruh keputusan rapat dan memohon pertolongan Roh Kudus untuk melaksanakannya (Tajuk Rencana Sib, 15/10/2017).

Tetapi dalam pemikiran yang lebih spesifik, bagaimana posisi HKBP dalam menyikapi berbagai isu global, isu nasional, isu lokal, seperti: Pertama, bagaimana KRP nantinya bisa mengelola kompetensi, integritas, administrasi pendeta sesuai dengan kebutuhan jemaat, kebutuhan jaman, dan juga bangsa ini. Banyak kasus-kasus yang tidak mengenakkan sering kita dengar. Ada pendeta yang kena SK Mutasi tetapi ditolak oleh pendeta, bahkan ada pendeta yang sering tidak cocok dengan jemaat. Mengapa hal demikian bisa terjadi harus bisa jadi bahan evaluasi menyeluruh bagi KRP sehingga kedepan tidak terjadi lagi. Harmonisasi jemaat dengan pendeta adalah kata kunci dalam menjadikan HKBP sebagai berkat bagi dunia. Sebelum berkat bagi dunia, diinternal harus kuat dulu.  

Kedua, bagaimana hubungan HKBP dengan pemerintah? HKBP dan Pemerintah adalah dua lembaga yang tidak terpisahkan. Apa yang jadi hukum negara tentu mengikat semua jemaat HKBP dan juga HKBP secara kelembagaan. Hanya saja HKBP sebagai organisasi gereja tidak bisa diintervensi oleh negara. Untuk itu, pola hubungan kemitraan staregis yang kritis (a critical strategic partnership relationship) adalah jalan terbaik. HKBP harus mampu menyuarakan suara kenabian kepada pemerintah agar pemerintah menjadi pemerintah yang takut kepada Tuhan. Pada poin ini, KRP kedepan harus bisa merevitalisasi dan mereaktualisasi ulang hubungan antara pemerintah dan HKBP. HKBP harus berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah adalah salah. Dengan demikian, peran dan fungsi HKBP sebagai  berkat bagi dunia  bukan hanya sebagai slogan.

Ketiga, bagaimana HKBP menyikapi aturan dan peraturan HKBP. Aturan itu sudah cukup baik, hanya saja berbagai implementasi masih harus jadi bahan evaluasi. Sebagai contoh, saat ini berbagai SK Mutasi Pendeta sering jadi bahan perdebatan karena tidak patuh terhadap SK itu. Belum lagi berbagai masalah lainnya yang dianggap melanggar aturan dan peraturan HKBP (AP HKBP). KRP harus mampu mendorong bagaimana implementasi AP HKBP ini bisa diwujudkan dengan baik untuk menjadikan HKBP sebuah role model kebenaran dan jadi contoh bagi organisasi yang lain, bahwa HKBP adalah sebuah organisasi yang berwibawa (authoritative organization), bersajaha karena aturan dan peraturannya dilaksanakan oleh semua jemaat dan juga sampai pimpinan yang paling tinggi. Artinya, KRP harus punya obsesi bahwa HKBP adalah contoh (role model) organisasi yang taat pada hukum (law abiding).

Keempat, HKBP harus punya sikap tegas mengenai pembiayaan pembangunan gereja. Saatnya pembuktian terbalik itu bisa diterapkan dari HKBP. Semua sumbangan yang masuk ke gereja harus diteliti latar belakang dananya. Artinya, jangan sampai gereja HKBP menjadi tempat penampungan uang judi, money laundring (pencucian uang), uang kepongahan dan berbagai uang haram lainnya. Dalam hal inilah KRP harus tegas menyuarakan (must be firmly voiced) ini kepada semua pendeta, sehingga gereja yang kudus tetap terjaga dan demi tegaknya wibawa gereja HKBP (the authority of the church HKBP).

Kelima, Gereja HKBP harus tegas pada isu-isu sosial seperti bagaimana HKBP menyikapi LGBT, korupsi, perkawinan satu marga, pernikahan sejenis, narkoba, dan juga kemiskinan jemaat. Sebagai contoh, apakah HKBP berani menerapkan siasat Gereja terhadap jemaat HKBP yang korupsi dan sudah mendapat kekuatan hukum tetap? Atau jika ada jemaat yang jadi pemakai, bandar narkoba apalah siasat gereja berlaku tegas kepadanya setelah mendapat kekuatan hukum tetap?  Kemudian bagaimana HKBP menyikapi LGBT, perkawinan satu jenis, kemiskinan jemaat dan berbagai penyakit sosial lainnya? Dalam hal inilah KRP harus punya konsep yang jelas dalam menyikapi hal-hal demikian agar HKBP benar-benar menjadi berkat bagi dunia.

Keenam, bagaimana HKBP menyikapi era millenial dimana perkembangan teknologi informasi semakin pesat dan tantangan jaman juga makin kompleks. Sebagai contoh, isu-isu digitalisasi Alkitab, digitalisasi jemaat, kotbah-kotbah digital dengan berbagai tampilan (website, FB, Twitter, Watshapp, Instragram dsb) menarik saatnya harus jadi pembahasan. Artinya, menyebarkan firman Tuhan bukan hanya lagi dalam bentuk tatap muka manual lagi. HKBP harus mampu menyebarkan firman Tuhan dengan menggunakan berbagai media sosial. Tetapi tujuannya tetap mendorong jemaat HKBP yang berkarakter Kristus (character Jesus). Ini juga bisa jadi isu yang harus dihadapi oleh KRP HKBP.   

Ketujuh, KRP harus mampu mendorong HKBP sebagai lembaga terdepan yang mampu merawat keberagaman (caring  for diversity) sebagai anugerah dari Tuhan. Radikalisme, intoleransi adalah musuh bersama saat ini. Untuk itu, jemaat HKBP kita harapkan bagaimana supaya bisa menjadi ujung tombak dalam mengembangkan sikap toleransi. Dengan demikian, HKBP menjadi berkat bagi dunia akan terimplementasi dengan baik. KRP saatnya mendorong kotbah pendeta adalah kotbah yang mengasihi sesama dengan merumuskan formula kotbah yang menyentuh akar masalah (touching the root of the problem).     
 
Harapan kita KRP bisa jadi institusi kelembagaan dalam HKBP yang mampu merumuskan apa yang dibutuhkan oleh pendeta, jemaat, dan HKBP secara kelembagaan di era teknologi modern ini. Saat ini disebut dengan era millenial, bagaimana pendeta bisa menyelaraskan era milleniaal dengan kehidupan jemaat dalam konteks pengajaran firman agar jemaat HKBP tumbuh dan berkembang mengikuti pribadi Yesus (follow Jesus personally).

Penutup

Tetapi perlu kita pahami, keberhasilan HKBP dalam misinya "menjadi berkat bagi dunia" adalah buah kerja kolektif (KRP hanyalah sebuah lembaga yang sangat strategis karena langsung menyentuh akar masalah. Hanya saja KRP perlu dukungan kuat (sinergis dan harmonis) dari Ephorus, Sekjen, Ketua Departemen (Koinonia, Diakonia, dan Marturia) tentang formula pengembangan kompetensi pendeta, terbit administrasi pendeta, isu-isu teologia terkini sehingga keputusannya adalah keputusan yang kuat dan saong terintegrasi. Kita harapkan "Robinisn Butarbutar Effect" bisa mendorong KRP HKBP menjadi lembaga yang punya visi besar (great vision),  inovatif, kreatif dalam mendorong HKBP menjadi berkat bagi dunia. Selamat kepada Amang Pdt. Dr. Robinson Butarbutar menjadi Ketua KRP 2017-2021.

Penulis adalah: Jemaat HKBP Koserna  Medan/Saat Ini Pengajar Tetap FISIP Universitas HKBP Nommensen Medan/Tulisan Ini Adalah Pendapat Pribadi Penulis
  BeritaTerkait
  • Ini Pendapat Ephorus Emeritus HKBP Pdt JR Hutauruk tentang Pdt Robinson Butarbutar

    2 tahun lalu

    Sipoholon (Pelita Batak) :<br></br> Emeritus Ephorus HKBP (Periode 1998-2004) Pdt Dr JR Hutauruk meminta kepada seluruh warga jemaat dan para calon untuk tetap menjaga semangat kedamaian serta persatuan HKBP dalam melaksanakan Sinode Godang d

  • Jamita Sadarion sian Pdt Dr Robinson Butarbutar, Dosen STT HKBP: Naposo ni Debata

    tahun lalu

    1. Tu Sipareon ni na umbege jala tu Roha ni na jumaha na parjolo ni panurirangon ni si Jesaya on, i ma nasida naung tarbuang, naung agoan masa depan, naung manghilala naung diuhum jala ditadingkon

  • Jamita Evangelium Minggu XXI Dung Trinitatis 5 Nopember 2017: Mika 3: 5-12 Pasombu Jahowa Paturehon Ngolum

    7 bulan lalu

    Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPMansai urgen do jamita na dienet sian buku ni Panurirang Mika di tonga-tonga ni hajolmaon di tingki on, ndang marimbar di tonga-tonga ni huria

  • Khotbah Evangelium Minggu XXIII Dung Trinitatis 19 Nopember 2017 Teks: Zephania 1: 7, 12-18 "Bersiaplah Menyambut Hari Tuhan"

    6 bulan lalu

    Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Parsamean STT-HKBP Pematangsiantar. 1.Bagi komunitas orang-orang yang percaya kepada Allah yang tidak hanya menciptakan umat manusia tetapi  juga menuntunny

  • Calon Sekjen HKBP, Pdt Daniel TA Harahap Pilih Mundur

    2 tahun lalu

    Sipoholon (Pelita Batak) : Pdt Daniel TA Harahap MTh yang lolos dalam penjaringan calon Sekjen HKBP dengan perolehan 186 suara pada Jumat (16/9/2016) di Auditorium Seminarium Sipoholon, Tarutung menyampaikan pengunduran diri sebagai calon dan tidak berse

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet