• Home
  • Opini
  • Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, Tidak Tercela
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 14 Juli 2018 11:33:00

KABAR DARI SEBERANG

Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, Tidak Tercela

Oleh: Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
IST|pelitabatak
Bachtiar Sitanggang dalam suatu kesempatan
SISWA SMA di era Orde Baru pasti sering mendengar istilah PDLT yaitu kependekan dari Prestasi, Dedikasi, Loyalitas dan Tidak Tercela (PDLT), suatu standar baku dalam menilai seseorang yang diterapkan Pemerintah terutama oleh organisasi pendukungnya, kekuatan sosial politik Golongan Karya (Golkar),  dalam merekrut serta mendudukkan seseorang dalam suatu posisi.

Jangan harap bisa duduk dalam satu jabatan kalau tidak memenuhi unsur PDLT. Harus memiliki kemampuan intelektual keilmuan dengan prestasi di atas rata-rata,  memberikan perhatian khusus tenaga, pikiran dan waktu dalam berkarya, dengan loyalitas tinggi lahir batin terhadap komunitas serta tidak tercela, atau harus baik di mata umum, memiliki tingkat etika dan moral.

PDLT tersebut mewarnai kehidupan di era Orde Baru sebagai suatu ketentuan tak tertulis oleh Pemerintah,  walaupun yang mengumandangkan Golkar. Golkar adalah organisasi sosial politik (orsospol) yang berfungsi seperti partai politik dan ikut Pemilihan Umum bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Demokrasi Indonesia (PDI), karena ketiganyalah (satu orsospol dan dua parpol) peserta Pemilu serta yang duduk di MPR maupun DPR, DPRD I dan DPRD II, walaupun yang duduk di pemerintahan harus loyal ke Golkar.

Perlu diketahui, pada Pemilu 1971, awal Orde Baru,  ada sembilan partai dan satu Golkar yang ikut Pemilu.  Kemudian terjadi fusi, menjadi dua partai, PDI dan PPP,  dan satu Golkar. PDI berkembang menjadi PDI-Perjuangan dan di era Reformasi, Golkar menjadi Partai Golongan Karya.

Selain PDLT memang ada syarat mutlak untuk bisa menjadi pimpinan formal atau non-formal yaitu bersih diri dan bersih lingkungan, artinya tidak "keturunan" anggota partai terlarang sesuai dengan Tap MPR, serta tidak ada dari lingkungan keluarganya yang terlibat dengan organisasi terlarang itu. 

Dan ada satu lagi walau secara diam-diam, kerukunan rumah tangga (masalah keluarga), sesuai dengan UU Perkawinan, satu wanita untuk satu pria dengan kekecualian yang diperkenankan agama dan negara. 

Di era Orde Baru, organisasi ibu-ibu pejabat sangat berpengaruh dengan berbagai organisasinya mulai dari Desa sampai di tingkat Pusat Dharma Wanita. Istri pejabat-pun secara tak langsung turut serta dalam penyelenggaraan negara, contoh: istri para pejabat provinsi sering menjadi Anggota MPR mewakili Utusan Daerah biasanya lima orang, karena di era itu belum ada DPD yang sekarang sebagai hasil pemilihan langsung oleh rakyat.

Jadi, Pemerintah didukung semua pihak termasuk PPP dan PDI, karena tidak mungkin membuat program sendiri sebab kalah suara di mana-mana. Golkar menguasai kursi 70-73%, jadi kedua parpol itu pelengkap demokrasi saja.
Golkar sendiri didukung ABG (Angkatan Bersenjata RI, TNI-Polri), serta Birokrasi karena semua aparat pemerintah harus monoloyalitas, yaitu Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) dan Golongan Karya sebagai orsospol yang berada di bawah seorang pemimpin, yaitu Presiden sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan  juga Ketua Dewan Pembina Golkar dan Panglima Tertinggi ABRI.

Semua tatanan "di bawah satu komando" itu buyar ketika Presiden Soeharto lengser, termasuk dalam penyelenggaraan dan pengelolaan negara dan pemerintahan juga memulai dari awal dengan mencari bentuk baru. Terjadilah amendemen UUD Tahun 1945 sampai empat kali, lembaga kenegaraan banyak yang berubah, ada yang hilang dan ada yang baru. Bentuk negara yang presidential bergeser menjadi seolah-olah Parlementer.

PDLT itu pun terlupa dari benak masyarakat, sehingga siapa cepat dia dapat dan semua belomba-lomba untuk mencari kesempatan, tidak peduli dalam kesempitan, menghalalkan segala cara, melupakan etika dan moral, akhirnya buahnya terlihat sekarang, banyak yang mengenakan rompi oranye.

Rakyat sendiri terbawa arus dan euporia, kehilangan nurani dan tidak punya kepribadian dan kehilangan akal sehat, maka terpilihlah loyang yang disangka emas, mungkin akibatnya dua Gubernur Sumatera Utara masuk bui, karena korupsi, serta 38 Anggota DPRD menunggu antrean.

Berita terbatu, Jumat, 13 Juli 2018, seorang anggota DPR dari Fraksi Golkar terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi karena diduga menerima suap.
Menjelang Pemilu 2019 tahun depan, parta-partai politik hendaknya menerapkan PDLT, terutama masyarakat jangan membeli "kucing dalam karung", kalau tidak "tikus-tikus" akan masuk perangkap.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat.
  BeritaTerkait
  • Ibnu Plt Sekda, Tengku Erry Sebut Gaya Kepemimpinan Hasban Patut Dicontoh

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Hasban Ritonga, yang selama dua tahun terakhir menjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, resmi mengakhiri masa tugas sebagai Aparatur Sipil Negara. Pelepasan masa purna

  • Lamhot Sinaga : Demi Golkar, Setnov Harus Mundur

    12 bulan lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Kesediaan Setya Novanto mundur dari kursi Ketua Umum DPP Partai Golkar dan Ketua DPR RI disambut positif. Bahkan beberapa kader Partai Golkar mengatakan lebih cepat lebih baik.L

  • Sudung Situmorang Jabat Sesjampidsus Tomo Sitepu Jabat Koordinator JAM Pidsus

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Sudung Situmorang dimutasi menjadi Sekretaris Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Sesjampidsus) dan Asisten Pidana Khusus Kajati DK

  • Akbar Turun Gunung

    3 minggu lalu

    DJANDJI Akbar Zahiruddin Tandjung, politisi ulung Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golongan Karya, putra Tapanuli, si-Peta Kemiskinan, kelahiran Sorkam Sibolga-Tapanuli Tengah, turun gunung. Bang

  • Eldin Minta Pramuka Terus Berkarya

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi mengajak seluruh jajaran pramuka untuk terus berkarya dan selalu mendarmabaktikan dirinya tanpa pernah memandang suku, agama maupun ras. Selain itu melalui gerakan pramuka, juga diharapka

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb