• Home
  • Opini
  • Pembangunan Danau Toba Tak Boleh Hilangkan Budaya Batak
Rabu, 08 Februari 2017 05:52:00

Pembangunan Danau Toba Tak Boleh Hilangkan Budaya Batak

Oleh: Anton Sihombing, anggota Komisi V DPR RI
BAGIKAN:
Berita Simalungun
Anton Sihombing
Geliat pembangunan di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara, mulai terlihat sejak 2016. Kala itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 49/2016 tentang Badan Otorita Pengelola Danau Toba tertanggal 1 Juni 2016 menjadikan Danau Toba sebagai satu dari 10 tujuan/destinasi utama untuk menarik 20 juta kunjungan wisatawan manca negara. Sebagai tindak lanjut, program berskala nasional yang dikoordinir Kementerian Koordinator Bidang Maritim, telah dibentuk Badan Otorita di setiap kawasan tersebut. 
 
Badan Otorita itu pula yang menyusun rencana induk (master plan) di masing-masing destinasi wisata. Yakni, Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo–-Tengger-–Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi dan Morotai. 
 
Khusus Danau Toba, Badan Otorita setempat merencanakan Toba sebagai Monaco of Asia. Satu kawan wisata indah yang untuk pengembangannya membutuhkan anggaran tidak kurang dari Rp 20,6 triliun. Dana sebesar itu direncanakan berasal pemerintah sebesar Rp 11,36 triliun dan sisanya Rp 8,7 triliun berupa investasi swasta. Dengan guyuran dana yang demikian besar, menarik untuk dicermati kemudian adalah bagaimana wajah kawasan Toba di kemudian hari. Akankah masyarakat di sana ikut menikmati perkembangan yang ada? Atau justru akan terjadi ketimpangan yang semakin lebar, lantaran tergilas investasi swasta yang masif? 
 
Infrastruktur Penggerak Wisata
 
Keberadaan infrastruktur sejatinya adalah modal sosial masyarakat (social overhead capital), yaitu barang-barang modal esensial sebagai tempat awal perkembangan ekonomi. Infrastruktur merupakan prasyarat mutlak, untuk menggerakan roda berbagai aktivitas masyarakat. Dengan kata lain, infrastruktur merupakan katalisator di antara proses produksi, pasar, dan konsumsi akhir. Keberadaan infrastruktur tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan ekonomi suatu wilayah/negara. Infrastruktur adalah juga merupakan gambaran nyata tentang kemampuan masyarakat berproduksi dan sebagai tolok ukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Tanpa adanya infrastruktur yang memadai adalah sangat sulit suatu wilayah mencapai kemakmuran atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan demikian, infrastruktur merupakan basic determinant atau kunci bagi perkembangan ekonomi, termasuk pemerataan dan kesamaan harga barang kebutuhan pokok. 
 
Dalam konteks wilayah Danau Toba, keputusan pemerintah membangun wilayah Toba layak diapresiasi. Hal ini bisa dipandang sebagai bentuk keperpihakan dan pemerataan pembangunan di wilayah Toba yang mencakup tujuh (7) kabupaten; Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Taput, Karo, Humbang, dan Dairi. Sebagaimana tercatat dalam rencana strategi pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), akan dibangun dua ruas tol (Tebing Tinggi-Siantar dan Siantar-Parapat). 
 
Hal ini bisa dipastikan akan memberikan dampak besar. Selain wajah Toba yang berubah, infrastruktur tol tersebut telah menumbuhkan harapan baru bagi kemajuan ekonomi setempat. Banyak studi ekonomi menyebutkan, perbaikan infrastruktur akan diikuti dengan meningkatnya investasi yang berbuntut pada penyerapan tenaga kerja, dan berujung adanya pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur yang baik juga akan merangsang aktifitas ekonomi yang semakin meningkat sebagai akibat mobilitas faktor produksi dan aktivitas perdagangan yang semakin tinggi. 
 
Hal itulah pula yang akan terjadi di Toba. Keberadaan jalan tol, akan menggerakkan roda ekonomi. Contohnya gampangnya adalah terjadinya percepatan mobilitas barang dan orang dari Medan ke Danau Toba, yang selama ini butuh lima jam, bisa dipercepat hinga dua sampai tiga jam. Mobilitas tersebut akan bertambah karena adanya infrastruktur pendukung. Antara lain peningkatan status sejumlah jalan menjadi jalan nasional. Diantaranya adalah jalan lingkar luar Danau Toba sepanjang 360 kilometer. 
 
Jaringan konektivitas itu semakin lengkap dengan pembangunan Jembatan Tano Ponggol di di Kabupaten Samosir. Selain itu juga dilengkapi dengan program pendukung seperti normalisasi saluran Tano Ponggol, pelayaran di Pulau Samosir,dan pembersihan tanaman eceng gondok di Danau Toba.
 
Menjadikan Toba sebagai "Bali Kedua"
 
Dengan berbagai infrastruktur yang dirancang sedemikian lengkap, sejatinya Toba adalah harapan nyata untuk menyemai kesejahteraan. Tidak ada lagi alasan infrastruktur sebagai kendala. Karena itu, sudah selayaknya warga di sana mendukung dan aktif mengambil peran, menyambut Toba baru. Perlu dicatat, bahwa peningkatan perekonomian suatu negara, selalu diikuti dengan tren peningkatan wisata. 
 
Oleh karena itu, keberadaan dan pengembangan kawasan wisata menjadi suatu kebutuhan. Pengembangan infrastruktur wisata Toba bukan saja untuk memanjakan wisatawan, tapi juga sebagai stimulus bagi investor untuk menanamkan dananya. Sebab, pengalaman telah menunjukkan bahwa investasi di kawasan wisata memberikan potensi keuntungan menarik. Itu yang terjadi di Bali misalnya, dimana para investor yang menanamkan dananya di sana 20 tahun lalu, kini menikmati keuntungan besar. 
 
Demikianlah Toba, jamrud wisata yang selama ini “tertutup” karena kendala infrastruktur, kini telah terbuka. Tidak berlebihan kiranya, jika keindahan Toba yang disejajarkan dengan kawasan wisata terkenal Monaco di Eropa itu, menjadi lumbung baru penarik investor dan selanjutnya para wisatawan. Wisata Toba, menurut hemat penulis adalah “Bali Kedua” dengan nilai plus alamnya. Magnet utama Toba adalah lingkungan yang terbentuk akibat ledakan besar gunung vulkanik pada 75 ribu tahun lampau. Selayaknya pula, sedari awal warga di sana menyambut gembira ‘panen raya wisata’ itu.
 
Mempertahankan Budaya
 
Mencermati dinamika pembangunan di Toba, sudah selayaknya pula sedari awal berbagai pihak memperhatikan segala kemungkinan perubahan positif dan negatif yang mungkin timbul. Perubahan positif, sebagaimana diuraikan di atas adalah terjadinya pertumbuhan ekonomi di wilayah Toba, yang pada ujungnya akan memberikan sumbangan bagi pertumbuhan bagi Sumatra Utara dan pertumbuhan nasional pada umumnya. 
 
Pertumbuhan wisata Toba, dipastikan juga akan mengubah mata pencaharian sebagian warga di sana. Termasuk juga kemungkinan perubahan mindset warga dari agraris ke wisata dengan segala macam aspeknya. Sementara dampak negatif yang mungkin muncul adalah dari sisi lingkungan dan sosio kultural Toba. Bisa dibayangkan, kehadiran satu juta wisatawan ke Danau Toba per tahun sebagaimana target Kementerian Pariwisata, sudah pasti akan memberikan suasana baru bagi masyarakat setempat. 
 
Interaksi di antara mereka (wisatawan, termasuk juga investor dan pekerjanya) dengan masyarakat setempat, yang pada gilirannya bukan tidak mungkin membawa perubahan-perubahan. Peningkatan income yang secara drastis, manakala tanpa dibarengi dengan penguatan budaya, diperkirakan akan memberikan dampak negatif. 
 
Karena itu, penting kiranya, dari awal pemerintah dan masyarakat harus peduli; bahwa tidak akan ada artinya suatu pembangunan manakala tidak memberikan rasa nyaman dan berkeadilan secara sosial maupun ekonomi bagi masyarakat setempat/lokal. Penting dijaga pula, wisata Toba tumbuh dan berkembang dengan tetap menjaga kelestarian alam, budaya, dan adat istiadat setempat. Janganlah Toba menjadi daerah wisata yang tumbuh kebarat-baratan dan meninggalkan kekayaan budaya aslinya.(Anton Sihombing, anggota Komisi V DPR RI/Sumber:gatra.com). 
  BeritaTerkait
  • Konser PARKASA Serentak Bernyanyi "O Tano Batak" Mengawali Acara Konser Kolaborasi Ratusan Artis Samosir (PARKASA) di Jakarta

    4 bulan lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Persatuan Artis Kabupaten Samosir (Parkasa) dibuka dengan penampilan lagu berjudul "O Tano Batak" secara serantak. Tampak hadir tokoh pemerhati musik asal Kabupaten

  • Kunjungan Raja Salman Memberi Pesan Penting Bahwa Berwisata Tak Terkait dengan Gagasan Zonasi Halal di Danau Toba

    4 bulan lalu

    Medan(Pelita Batak): Anggota Komisi C DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan, ST mengatakan pilihan Raja Salman terhadap Bali sebagai tempat berlibur memberi pesan penting. Tempat berlibur ternyata tidak

  • Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Bersama 8 Kabupaten Launching 17 Kegiatan Pariwisata

    3 bulan lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Delapan Kabupaten di Sumatera Utara bekerjasama dengan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia merilis 17 kegiatan pariwisata yan

  • Rizal Ramli : "Bunuh Diri Saja Kalau Otorita Danau Toba Ngak Jadi"

    tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): "Bunuh diri saja kalau sampai Otorita Danau Toba ngga jadi,". Kalimat ini menjadi closing statement  Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya DR. Rizal R

  • 'Monaco Asia' Belum Terwujud, Danau Toba Mau Dijadikan 'Bali Baru'

    tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Mesin A-B-G-C-M yang dinyalakan Menpar Arief Yahya terus bergulir dan menemukan bentuk konkretnya. Menjadikan gabungan Academician, Business, Government, Community dan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet