• Home
  • Opini
  • PILKADES TANPA REKONSILIASI KEDEWASAAN DEMOKRASI
KSP Makmur Mandiri
Jumat, 03 Mei 2019 15:00:00

PILKADES TANPA REKONSILIASI KEDEWASAAN DEMOKRASI

Oleh : Drs Thompson Hutasoit
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak
Drs Thompson Hutasoit
SALAH satu perbincangan, diskusi paling seksi pasca Pilpres, Pileg Serentak 17 April 2019 adalah kedewasaan kompetisi demokrasi "Siap Menang-Siap Kalah" dari kontestan pesta demokrasi rakyat terbesar di dunia ini. 

Pesta demokrasi rakyat seperti pemilihan presiden (Pilpres), pemilihan kepala daerah (Pilkada), pemilihan legislatif (Pileg), pemilihan kepala desa (Pilkades) bukanlah barang baru di negeri ini. Pilkades salah satu pesta demokrasi paling tua melibatkan rakyat paling bawah serta bersentuhan langsung dengan tatanan sosial, harmoni interaksi tak berjarak karena berhubungan ikatan kekeluargaan, tempat domisili yang sama. Sehingga berpotensi menimbulkan gesekan satu sama lain. 

Akan tetapi Pilkades telah mampu menunjukkan kedewasaan kompetisi "Siap Menang-Siap Kalah" tanpa rekonsiliasi macam-macam. 

Rakyat Desa selalu menjunjung etika moral dan kearifan budaya lokal telah mampu menunjukkan secara implementatif norma-norma sosial ditengah kehidupan masyarakat lokal. Sehingga setiap orang ingin maju calon kepala desa (Cakades) harus terlebih dahulu mempersiapkan mental sebelum mengikuti Pilkades yang tentu saja ada Menang, ada Kalah. Sebab, bila tidak ada menang dan ada kalah bukan kompetisi namanya. Karenanya, setiap Cakades harus mempersiapkan diri menerima apapun hasil pemilihan itu. 

Kedewasaan dan kematangan berdemokrasi Pilkades seharusnya menjadi contoh tauladan bagi kontestasi politik lebih tinggi levelnya agar tidak jadi bahan tertawaan dan olok-olok di ruang publik. 

Setiap kontestan, baik Pilpres, Pilgub, Pilbup, Pilkot maupun Pileg seharusnya lebih dewasa dan matang berdemokrasi karena tingkat pendidikan bisa dipastikan jauh lebih tinggi dari rakyat pedesaan. 

Elite-elite politik seharusnya mempunyai "urat malu" apabila kualitas kedewasaan dan kematangan berkompetisi dibawah grade rakyat pedesaan "Siap Menang-Siap Kalah". 

Sungguh amat menyedihkan dan memalukan ketika sebelum kontestasi berlangsung masing-masing kontestan "menanda tangani komitmen atau kesepakatan SIAP MENANG-SIAP KALAH" tapi ingkar dan abai dikala kalah dalam pemilihan. Perilaku ingkar janji atau ingkar kesepakatan sejatinya sebuah perilaku buruk paling memalukan di mata publik. 

Kompetisi tanpa sportivitas, serta mengingkari komitmen politik "Siap Menang, Siap.Kalah" adalah bukti konkrit "Ketidakdewasaan" kompetisi demokrasi. Dan hal itu, tidak sepatutnya ditunjukkan seorang calon presiden/wakil presiden, gubernur/wakil.gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota maupun legislatif (DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota) yang levelnya lebih tinggi dari Kepala Desa (Kades). 
Tapi nyatanya kematangan dan kedewasaan demokrasi sangat jauh lebih tinggi yang mendegradasi kepercayaan publik (public trust) terhadap Pilpres, Pilgub, Pilbup/Pilkot, Pileg, khususnya Pilpres, Pileg Serentak.2019 yang menimbulkan karut-marut berbangsa bernegara saat ini. 

Apakah tidak malu, munculnya ide "Rekonsiliasi Nasional" pasca Pilpres, Pileg Serentak 2019...??? Untuk menyelesaikan dampak potensi terpecah dan terbelah harmoni  Persatuan Indonesia dan keutuhan bangsa karena kontestan Pilpres, Pileg Serentak 2019 tidak menunjukkan kedewasaan berkompetisi.....??? Sedangkan Pilkades walau sekeras, seketat apapun kompetisinya, ketika hasil Pilkades sudah diketahui tidak membutuhkan rekonsiliasi macam-macam.....??? 

Inilah bahan instropeksi diri bagi elite-elite di negeri ini agar ketidakdewasaan demokrasi memalukan tidak terulang kembali dikemudian hari. 

Bangsa ini membutuhkan para negarawan sejati, bukan politisi haus kuasa menghalalkan segala cara meraih nafsu birahi berkuasa. Semua calon pemimpin harus harus sadar, kekuasaan sangat penting, tapi Persatuan Indonesia, Persaudaraan sesama anak bangsa, keutuhan bangsa jauh lebih penting agar INDONESIA TERHINDAR DARI PERPECAHAN. 

Ingat......Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh. 

Belajar lah kepada rakyat pedesaan bagaimana  kedewasaan berdemokrasi Pilkades tanpa rekonsiliasi macam-macam. 

Medan, 03 Mei 2019. 
Salam NKRI......!!! MERDEKA......!!! 
Drs. Thomson Hutasoit.
  BeritaTerkait
  • MENGHADIRKAN NEGARAWAN PEMIMPIN OTENTIK

    4 bulan lalu

    HARI Rabu, 17 April 2019 sejarah mencatat Negara Republik Indonesia telah melaksanakan pemilihan umum (Pemilu) ke 11 kali sejak tahun 1955. Pemilu telah dilakukan di republik ini menjadi catatan sejar

  • Spontanitas Bunga dan Lillin Penuh Makna Untuk Ahok

    2 tahun lalu

    Berawal  dengan karangan bunga yang penuh dengan cinta dan kasih, kemudian muncul gerakan seribu lilin untuk Ahok sebagai ungkapan yang penuh dengan cinta dan kasih atas apa yang dialami oleh

  • KEDEWASAAN BERKOMPETISI

    4 bulan lalu

    HARI Rabu, 17 April 2019 bangsa Indonesia baru saja melaksanakan kompetisi nasional, pemilihan presiden (Pilpres), pemilihan legislatif (Pileg) Serentak 2019 yanjg merupakan perhelatan demokrasi terbe

  • MENGHORMATI HAK PILIH RAKYAT

    3 bulan lalu

    PEMILIHAN Umum (Pemilu) pemilihan presiden (Pilpres), pemilihan legislatif (Pileg) Serentak 17 April 2019 adalah wujud kedaulatan berada ditangan rakyat, dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar (

  • Rekonsiliasi Tanpa Transaksi Kursi

    4 minggu lalu

    PERTEMUAN Presiden terpilih hasil Pilpres 2019, Joko Widodo dengan Prabowo Subianto beberapa waktu lalu sangat positif. Media sosial pun kini tidak lagi dihuni oleh cebong dan kampret. Meskipun ada pi

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb