• Home
  • Opini
  • PILKADA SUMUT, Mampukah Bertarung Program dan Menghindari Politik Primordial ?
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 17 Maret 2018 15:22:00

PILKADA SUMUT, Mampukah Bertarung Program dan Menghindari Politik Primordial ?

BAGIKAN:
Ist
Dr Emrus Sihombing
Oleh: Dr. Emrus Sihombing

Pilkada Sumut sangat menarik perhatian bagi seluruh warga ber-KTP Sumut, warga Indonesia asal Sumut dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Mengapa?

Sumut, selama ini terkenal dengan pluralisme yang mengakar pada tradisi ke-Sumatera Utara-an. Salah satu kekhasan budaya Sumut yang kental dengan logat dan pilihan kata yang tegas, bersahabat, hangat dan bersahaja. 

Salah satu ciri menonjol dari warga Sumut, yaitu sangat senang berterus terang. Perilaku komunikasi panggung belakang relatif tidak begitu berbeda dengan panggung depan. 

Oleh karena itu, setiap Paslon Pilkada Sumut 2018 ini harus membawa "nafas" pluralis dan keterusterangan dan ketulusan membawa masyarakat Sumut maju pesat lima tahun ke depan. Paslon harus menjauhkan diri dari isu pengkotak-kotakkan warga Sumut atas dasar apapun utamanya kepercayaan.

Jangan sampai salah satu Paslon, baik langsung atau tidak langsung, atau tim sukses melakukan kontrak politik atas dasar primordial, seperti  keberpihakan terhadap kepercayaan tertentu. 

Misalnya, membangun ini  itu untuk satu golongan kepecayaan tertentu, sementara untuk sekelompok warga dari kepercayaan tertentu sama sekali tidak dilakukan.

Pemimpin semacam ini, disadari atau tidak, sangat tidak mengindahkan sila kelima dari Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ke depan  yang bersangkutan berpotensi menjadi pemimpin yang tidak adil.

Politik identitas semacam itu tidak sesuai dengan nilai Pancasila, apalagi  di era zaman now, saat ini.

Sebab, bila ada paslon mengeksploitasi atas dasar politik primordial, itu menunjukkan ketidakpercayaan diri Paslon tersebut dan sekaligus bukti ketidakterandalan program yang ditawarkan untuk  memecahkan berbagai persoalan yang sedang dihadapi warga Sumut, antara lain persoalan infrastruktur, kesehatan, ketertinggalan pendidikan, kesejahteraan ekonomi, tingkat pengangguran dan sebagainya.

Bahkan bila ada sekelompok orang mengeksploitasi politik primordial, yang boleh jadi dari luar tim sukses, dalam rangka mengeksploitasi persepsi publik, maka  para Paslon, utamanya yang diuntungkan dari politik primordial tersebut, harus menolak dengan tegas yang disampaikan ke ruang publik melalui media massa dan sosial media. Tidak boleh ada pembiaran, utamanya dari paslon yang diuntungkan oleh politik primordial tersebut. Sebab bersikap netral saja pun pada krisis moral, sama saja amoral.

Untuk itu, para paslon harus membuat dan menawarkan program yang terukur secara kuantitatif dan kualitatif. Misalnya sebagai berikut:

Pertama, paslon menjelaskan program yang mampu meningkatkan pendapatan per kapita dari angka yang sekarang menjadi naik secara signifikan pada setiap tahun.

Kedua, membangun pelayanan publik dengan model jemput bola. Dengan perkembangan teknologi, para pegawai Pemda Sumut, tentu kerjasama dengan instansi pemerintah pusat yang ada di Sumut, mengunjungi rumah penduduk untuk memberi pelayanan publik dengan kenderaan sepeda motor yang dilengkapi seperangkat teknonologi pelayanan publik yang mampu membuat KTP, Akte Kelahiran, Sertifikat Tanah dan sebagainya. Kenderaan ini berkeliling dari desa ke desa dengan menggunakan pengeras suara yang menyampaikan, "PELAYANAN PUBLIK, PELAYANAN PUBLIK"

Ketiga, membeli satu helikopter ambulans untuk setiap pemda tingkat dua yang digunakan mengangkut pasien darurat dari rumah atau tempat kejadian ke Rumah Sakit.(Penulis: Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner)
  BeritaTerkait
  • Ketika DJAROT "Menjual" Pengalaman dan Track Record

    3 bulan lalu

    Oleh: Antoni Antra PardosiStrategi memojokkan Djarot Saiful Hidayat sebagai "kandidat import"  pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018 belum kendor. Cap kurang menguasai teritorial

  • Di Mata Para Akademisi, Sihar Sitorus Sosok Politikus Santun

    3 bulan lalu

    Medan (Pelita Bataj):Berbagai penilaian positif muncul menggambarkan sosok Sihar Sitorus yang merupakan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara (Sumut). Sejumlah akademisi menilai bahwa Sihar Si

  • Mengapa Djarot Sihar Terus Diserang Hoax?

    satu bulan lalu

    Sejak ditugaskan sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Djarot Sihar seperti tak putus dirundung fitnah dan hoax. Alasannya sangat sederhana, pasangan ini berbahaya bagi kelompok tu

  • DKI Jakarta : Rumah Kita Bersama

    tahun lalu

    PILKADA serentak tahun 2017 telah terselenggara secara langsung, demokratis, aman, selamat, dan sukses. Penyelenggaraan tahun 2017 ini melanjutkan kesuksesan dan semakin melengkapi keberhasila

  • KPK Pantau Proses Pemilihan Wakil Gubernur Sumut

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan semua pihak, khususnya DPRD Sumut untuk menghindari perilaku korup  dalam proses dan pemilihan Wakil Gubernur Sumatera U

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet