• Home
  • Opini
  • Menyatakan Yang Ya di Atas Yang Ya
KSP Makmur Mandiri
Rabu, 06 Juni 2018 20:38:00

Menyatakan Yang Ya di Atas Yang Ya

BAGIKAN:
Ist
Weinata Sairin
Oleh: Weinata Sairin

"Quod dixi, dixi. Apa yang sudah kukatakan ya tetap telah kukatakan"

Salahsatu kekuatan sosok manusia dalam interaksinya dengan manusia lainnya terletak pada "kata-kata" yang ia ucapkan, termasuk dalam memilih istilah, terminologi, dan atau diksi yang dianggap paling tepat. Tatkala manusia berdiam diri, apatis atau abai dan tidak merespons apapun terhadap berbagai dinamika yang terjadi disekitar dirinya, maka akan muncul berbagai tafsir terhadap realitas kediam-diaman atau kebungkaman itu yang pada level tertentu bisa membuat citra dan posisi seseorang tidak begitu positif.

Dalam pengalaman empirik kita mencatat dengan sungguh-sungguh bahwa ketidakhati-hatian dalam memilih diksi, ketidakmampuan dalam mengemas kata-kata, apalagi kata-kata itu berhubungan dengan sesuatu yang sakral-transendental, bisa berakibat fatal bagi pribadi seseorang, membuat distorsi dalam relasi antar umat beragama, dan yang pada gilirannya bisa membawa seseorang berada dibalik jeruji besi. Apalagi jika hukum dan kebenaran tidak lagi mampu mengelak dari tekanan publik yang besar, yang atas nama keadilan, agama atau atas nama apapun, menjadi sangat sangat powerfull.

Harus juga diperhatikan bahwa pemilihan kata, diksi itu bukan segala-galanya. Itu biasanya baru sebuah tahap, tahap lain adalah bagaimana merangkai kata itu menjadi sebuah kalimat bernas yang simpatik dan menyampaikannya dalam aksentuasi dan artikulasi yang diapresiasi positif oleh publik. Pada tahap itu dibutuhkan "seni" dan kebijaksanaan tersendiri sehingga pemikiran dan gagasan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh pihak lain.

Kata-kata, sikap dan cara yang bijaksana amat dibutuhkan dalam interaksi kita dengan banyak orang. Pengucapan kata yang tidak jelas, merangkai kata yang tidak pas, acapkali memghadirkan suasana dialog dan interaksi yang tidak kondusif bahkan yang pada akhirnya bisa membuat sebuah pertemuan tidak mencapai hasil yang diharapkan.

Sikap dan kata-kata bijaksana amat diperlukan khususnya dalam berhadapan dengan sosok yang ada dalam kondisi tertentu, yang acap memiliki daya sensitif yang amat tinggi. Kisah ini bisa menjadi inspirasi yang menolong. Pada saat selesai makan malam seorang pelayan menyodorkan mangkuk untuk mencuci tangan kehadapan Harold Russel yang adalah seorang mantan tentara yang _tidak lagi memiliki tangan_. Ia sangat terkenal sesudah ia bermain dalam film "The Best Years of Our Lives". Menyadari kesalahannya itu sang pelayan kelihatan sangat malu. Harold segera mencairkan suasana dengan tersenyum lebar sambil berkata: "Maaf nak aku tidak pernah menyentuh barang itu!"

Menyodorkan mangkuk pencuci tangan kepada seseorang yang 'tidak memiliki tangan' bisa dianggap sebagai pelecehan atau penghinaan, yang ujungnya bisa panjang, dan bisa menghadirkan golok, badik atau rencong. Sikap bijak dan kata-kata yang persuasif dari Harold ,membuat suasana menjadi lebih baik. Itulah sikap bijaksana dari seorang Harold Russel. Dan sikap bijaksana bisa lahir dari siapapun, dari orang yang memiliki kondisi fisik apapun, termasuk dari orang yang kehilangan tangan!

Pepatah yang dikutip dibagian awal artikel ini mengingatkan agar kita konsisten dengan kata-kata (dan pendirian) kita. Kita tak boleh bersikap "mencla-mencle", nanti bilang A kemudian bilang X, mudah dipengaruhi dan kemudian berhianat yang disebabkan banyak faktor : ekonomi, ideologi, politik dan agama.

Sikap yang mudah berubah, yang sering disebut "politik bunglon" itu bukan cerminan pribadi yang  mature dan mandiri. Sikap labil dan naif seperti itu apalagi dalam konteks kehidupan beragama tidak elok untuk dikembangkan dalam kehidupan kita. Seseorang bisa saja pada awalnya berpandangan F tentang sesuatu hal; jika kemudian atas dasar argumentasi akademis dan pertimbangan khusus ia kemudian berpandangan Y , realitas itu harus diapresiasi.

Pandangan yang benar dan legitim, yang memiliki referensi yang kuat dari berbagai aspek kita berkewajiban untuk mempertahankannya.Apalagi dalam konteks ajaran agama, kita harus konsiten. Dalam hal-hal yang berhubungan dengan Pancasila, UUD NRI 1945, BhinnekaTunggal Ika kita harus konsisten.

Konsisten dan setia dalam mempertahankan pandangan dan atau ajaran agama yang kita anut adalah hal yang positif. Sikap seperti itu tidak berarti kita 'memusuhi' yang lain yang berbeda dengan kita. Mari kita konsisten dengan kata, pandangan dan pendirian kita, tetapi kita tetap mengasihi semua yang berbeda dengan kita.

Selamat berjuang. God bless (*)
  BeritaTerkait
  • Inilah Pokok-Pokok UU Pengampunan Pajak yang Disahkan Presiden

    2 tahun lalu

    Dalam UU itu ditegaskan, bahwa Pengampunan Pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap Harta dan membayar Uang Tebusan sebagaimana dia

  • Pemprov Sumut Diminta Segera Ambil Alih Lahan di Bandung

    2 tahun lalu

    Santer disorot publik Sumut kini adalah adanya tanah seluas 3.000 meter persegi, di jalan Batu Tulis III, Kelurahan Batu Nunggal, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, yang terdaftar sebagai aset pemerintah provinsi Sumut. Terkait tanah ini, Komisi C menda

  • Investor Asal Australia Lirik Danau Toba

    2 tahun lalu

    Gencarnya promosi dan rencana pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat terhadap pengembangan kawasan Danau Toba menarik perhatian para investor. Informasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengidentifikasi minat investasi dari Australia di

  • Warga Jalan Rakyat & Jalan Pelita Minta Wali Kota segera Tertibkan PKL

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Warga Jalan Rakyat dan Jalan Pelita, Kelurahan Sidodame Timur, Kecamatan Medan Perjuangan mengaku sangat resah atas keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di pinggir jalan. Selain menyebabkan penyempitan ruas jalan sehi

  • Ini Pendapat Ephorus Emeritus HKBP Pdt JR Hutauruk tentang Pdt Robinson Butarbutar

    2 tahun lalu

    Sipoholon (Pelita Batak) :<br></br> Emeritus Ephorus HKBP (Periode 1998-2004) Pdt Dr JR Hutauruk meminta kepada seluruh warga jemaat dan para calon untuk tetap menjaga semangat kedamaian serta persatuan HKBP dalam melaksanakan Sinode Godang d

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb