• Home
  • Opini
  • Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 18 April 2017 08:34:00

Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?

Oleh: Pdt.Dr. J.R.Hutauruk
BAGIKAN:
Ist
Pdt.Dr. J.R.Hutauruk
Tulisan ini ditujukan kepada Komisi Teologi HKBP yang sedang menggelar Seminar Ekklesiologi HKBP di tiga kota sesuai dengan informasi Ephorus HKBP Pdt.Dr.Darwin Lmbantobing pada  kata sambutan beliau atas adanya Seminar tersebut. Sebagai pendeta HKBP, diminta atau tidak diminta saya merasa ikut berpartisipasi  dalam tugas berteologi di tengah Gereja Tuhan di dunia ini, termasuk HKBP. 
 
Sebagai pendeta senior saya tertarik pada konsep Pdt.Dr.Darwin Lumbantobing tentang Ekklesiologi HKBP yang Kristologis dan bagaimana dampaknya kepada kedudukan para pendeta di HKBP dan seorang pejabat  Ephorus, sekaligus terkejut dengan pernyataan-pernyataan yang menjurus supaya HKBP nanti menjadi sebuah gereja yang pendeta sentris dan seorang Ephorus adalah pemmpin tunggal berdasarkan Ekklesiologi yang Kristologis. Kiranya tulisan singkat ini diterima sebagai sumbangan pemikiran berdasarkan kedudukan kita orang-orang percaya  kepada Tuhan Allah Bapa, AnakNya Yesus Krstus dan Roh Kudus dan yang dipersatukan Tuhan Allah sebagai Tubuh Kristus dan imamat am orang-orang percaya.  
 
I. Kristologi Alkitabiah dan Kepemimpinan Kristokratis.
 
Pertama: Pikiran / Refleksi teologis saya terhadap  tafsiran Dr.Darwin Lumbantobing  tentang surat Rasul Paulus kepada jemaat di Epesus ( pasal 4:1-16 ) dan kepada jemaat di Korintus ( pasal 12:12-28), yang akhirnya bermuara pada pernyataan ini:”Jadi Kristuslah Kepala itu, yang memerintah seluruh anggota tubuh-Nya. Pengabdian dan ketaatan seluruh anggota tubuh hanya ditujukan kepada Kristus, sang kepala itu....” ( alinea terakhir dari poin 2 ). 
 
Kedua:Pernyataan berikut ini masih sejiwa dengan pernyataan di atas: “Pemahaman ekklesiologi yang kristologis adalah gambaran kehidupan jemaat sebagai persekutuan orang-orang percaya di dalam dan oleh Yesus Kristus persis seperti tubuh Kristus , di mana orang percaya adalah anggota tubuh dan Kristus adalah kepala. Struktur hierarkhis dan sistem dan mekanisme pengambilan keputusan juga sama seperti gambaran tubuh Kristus.” ( alinea pertama di poin 4 ). 
 
Ketiga: Pernyataan  tentang “Pendeta” sebagai “Representase Figur Kristus” ( poin 4 c.) : “Apabila dihubungkan dengan gambaran tubuh Kristus sebagaimana disebut dalam Ep 4:1-9 dan 1 Kor 12: 12-28, maka kepala tubuh itu,yaitu Kristus adalah yang memimpin keseluruhan tubuh itu. Oleh karena Kristus adalah kepala tubuh, dan orang-orang percaya kepadanya anggota tubuh Kristus, maka figurative kepala tersebut, yaitu Kristus, hanya dapat direpresetasikan oleh penerima tahbisan pendeta....” ( poin 4c, alinea 3).  
 
Ketiga pernyataan di atas menghasilkan dasarteologis-dogmatis dan juga dasar kepemimpinan gerejawi, yang kristokratis: “... Dalam kepemimpinan kristokrasi, yang menjadi kepala tubuh adalah Kristus, yang secara representasi figurative adalah seorang pendeta yang menjabat Ephorus.”  
 
II. Membaca 1 Kor 12:12-28
 
Dalam buku  “Tafsiran Alkitab Masa Kini” 3/1981( Norman Hillyer, 524 dst  ) tentang   1 Kor 12:12-28 , pembaca tak menemukan tafsiran tentang kepemimpinan kristokrasi dari sosok Kristus sebagai kepala, tetapi sebuah kiasantentang cara berfungsinya tubuh jasmani, demikianlah   kita patut memahami keanekaragaman dalam kesatuan di dalam jemaat, tubuh Kristus. Setiap anggota tubuh mulai dari kepala hingga kaki punya fungsi yang saling membutuhkan satu sama lain, tidak ada dari anggota tubuh itu yang lebih dipentingkan. Penafsir Normann Hillyer menyatakan bahwa “perumpamaan Paulus tentang tubuh itu secara langsung diterapkan kepada jemaat setempat di Korintus, sebab di dalam Kristus mereka mewujutkan satu tubuh, artinya: tubuhNya – dan mereka masing-masing adalah anggotanya( ay 27/hl 524) 
 
Dari bacaan 1 Kor 12 itu kita diberi informasi bahwa dalam  tubuh Kristus itu, “Allah telah   menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Dan kemudian ada orang yang “mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk penyembuhan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam roh.” ( ay.28).  Perhatian kita tertuju pada jabatan “memimpin” (bhs Junani: kubernesis) sebagai salah satu jabatan yang ditetapkan oleh Allah sendiri, sama halnya dengan jabatan-jabatan lainnya.  
 
III. Agenda HKBP.
 
Nats ay 28 ini dikutip  pada “Agenda HKBP” dalam bagian “Pasahathon tohonan hapanditaon” ( Agenda HKBP 1998, hl.39). Dan  “Agenda HKBP”  menyatukan semua jabatan itu dengan  jabatan “pandita”: “Mangihuthon hata ondeng, sai dipabangkit Debata di tongatonga ni HuriaNa angka pandita, mulai intap ni dung ojak Huria i di tano on ro di tingki nuaeng.” (hl.39) Artinya, para calon pendeta diingatkan tempat mereka dalam Gereja yang am itu, yaitu tubuh Kristus. Sejarah hapanditaon HKBP dimulai dari sejarah jemaat Korintus,  Epesus atau Roma, artinya sejak zaman para rasul itu. 
 
Aneka ragam pejabat/pelayan di jemaat Korintus itu, bagi Agenda HKBP diikat oleh satu nama yaitu “pandita”. Informasi ini adalah bagian dari pesan liturgis kepada setiap orang yang hendak menerima jabatan “pandita” itu dari Tuhan Allah melalui suatu akta liturgis di depan jemaat. Jabatan itu adalah karunia dan sekaligus pelayanan, demikian Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus. 
 
Jabatan itu adalah plural, bukan tunggal, karena semuanya berasal dari Tuhan Allah.Para pelayan  yang dianggap kurang penting itu jangan disepelekan, karena mereka melengkapi pelayan-pelayan yang kuat. Jabatan di sini ialah pelayanan (fungsi ), bukan status dalam sebuah struktur. 
 
IV. Kesimpulan.
 
Berdasarkan refleksi teologis di atas, maka saya tidak dapat menerima gagasan-gagasan yang mau merubah struktur kepemimpinan HKBP yang sekarang jadi Kepemimpinan yang terpusat pada  partohonan pandita. Gagasan yang mengatakan supaya “unsur pimpinan HKBP” yang melayankan kepemimpinan di HKBP dalam garis pelayanan dari “Pusat” ( Hatopan ), Distrik,Resort dan Huria dicalonkan oleh Rapat Pendeta HKBP. Inilah langkah awal menuju HKBP sebagai Gereja Pendeta(Klerus). 
 
Gagasan ini akan mempertentangkan apa yang pernah terjadi dalam Sejarah Gereja, antara kaum “klerus” ( punya kualitas sakral oleh karena tahbisannya ) dan kaum “awam” (bodoh). Gagasan tentang Ephorus (HKBP) sebagai pemimpin tunggal berdasarkan teologi Kristologi kepemimpinan, adalah gagasan yang mengacaukan bentuk kepemimpinan HKBP kini. Gagasan ini perlu mendapat diskusi yang lebih luas di HKBP.
 
Usul: Kalau kita mencari seperti apa bentuk kepemimpinan di HKBP, marilah kita pelajari sungguh-sungguh dokumen-dokumen HKBP seperti Konfesi HKBP, AP-HKBP, Agenda HKBP, RPP-HKBP, Kathekhismus Kecil Martin Luther dan keputusan-keputusan Sinode Godang, dll. Mari kita berangkat dari prinsip M.Luther :”Imamat am orang-orang percaya”.
 
V.Penutup: Doa menyambut Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus di HKBP :”Ale Tuhan Debata, Amanami Parasiroha! Mauliate ma rohanami jala pujionnami Ho, ala naung ditubuhon Ho hami paduahalihon sian godang ni asi ni rohaM tu pangkirimon na mangolu marhitehite haheheon ni Tuhan Yesus Kristus sian na mate. Nunga gabe Sipalua jala Sipangolu AnakMi di hami, jala Ibana Tuhannami, Ibana Ulunami, siihuthononnami. ...Sai papos ma rohanami manghaporseai, naung mardame jala naung mardomu hami tu Ho ala di pardengganan na pinatupa ni AnakMu....Amen. (Agenda HKBP 1998, hl.97).Medan, Paskah II, 2017 (Pdt.Dr. J.R.Hutauruk, Ephorus Emeritus HKBP)
  BeritaTerkait
  • Tulisan Kedua: Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?

    2 tahun lalu

    Oleh: Ephorus Emeritus HKBP Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk   Paparan ini merupakan lanjutan dari paparan terdahulu yang telah terkirim kepada Komisi Teologi HKBP via email, 17 April lalu

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan KeempatJabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal

  • Sumbangsih Pemikiran untuk Diskusi Tentang Ekklesiologi HKBP

    2 tahun lalu

    1. Longang jala mansai longang situtu roha, boasa gabe adong laho PATIMBOHON SETINGGI LANGIT TOHONAN HAPANDITAON. SEDANG TOHONAN PANDITA ndang adong ditaringoti di PB, nanggo apala 1 pe, sian mulai

  • Robinson Butarbutar Effect, KRP, dan Masa Depan HKBP

    tahun lalu

    KETIKA Ketua Rapat Pendeta HKBP 2017-2021 mampu membawa kualitas pelayanan pendeta naik kelas dengan sejumlah prestasi yang bermulplipief effect (efek besar) bagi jemaat HKBP, saya menyebutnya dengan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb