• Home
  • Opini
  • Menelusuri Liku-liku Jalan di Bonapasogit dan Merajut Semangat Leluhur
Selasa, 02 Mei 2017 15:05:00

Menelusuri Liku-liku Jalan di Bonapasogit dan Merajut Semangat Leluhur

Laporan Perjalanan Ronsen LM Pasaribu
BAGIKAN:
http://ordinary-people12.blogspot.co.id
Pusuk Buhit
Pulang ke kampung saya, Sigolang di lereng pebukitan Bukit Barisan di deretan Tapanuli Selatan sangat berkesan. Keberangkatan kali ini, diawali dihari Kamis, tanggal 27 April 2017 dengan bangun sangat pagi pukul 03.30 untuk mengejar pesawat yang membawa ke Kualanamlo pukul 05.00 pagi.
 
Ikut dalam perjalanan kali ini Ito Mutiara boru Marbun, ingin melihat wilayah bonapasogit di Tapanuli Selatan, bergabung dengan Halani Damanik. Mutiara Marbun, seorang yang sangat konsen dalam membantu kepengurusan Forum Bangso Batak Indonesia sebagai Kepala Kantor. Bertanggung jawab dalam menangani apa saja kegiatan FBBI. Sedangkan Halani Damanik, Ketua DPC FBBI Kota Siantar juga berminat untuk ikut bersama kami, dimana dia harus mendahului menunggu kehadiran kami di Silangit Siborongborong.
 
Cukup repot perjalanan karena perjalanan ini dilakukan dengan membawa satu paket Balai Pustaka yang kami tempatkan di Pakpak Bharat. Bagaimana tidak repot, ada 9 pak kardus-kardus besar, harus kami bawa melalui pesawat udara. Bukan tidak bisa dikirim lewat Bis supaya biaya murah, namun ada perasaan ragu kalau kiriman bisa sampai tapi tidak utuh karena rusak ditengah jalan. Seminggu baru sampai di tujuan, sementara jika kami naik pesawat, hari itu juga akan sampai di tujuan setidaknya di Silangit sudah sampai. 
 
Jadilah kami membayar biaya kelebihan berat sebanyak 49 Kilo. Mengingat berat yang gratis seorang 20 kg, maka yang masuk bagasi dua kali dua orang masing-masing 20 kilogram atau 40 kilogram. Namun, yang heboh bukan pada bagasi. Petugas, menyarankan membawa 3 bagasi yang ukuran kecil. Alhasil, kami membawa tas pribadi ditambah satu kardus walau ukuran kecil.
 
Apa yang terjadi? Ternyata tidak seperti yang kami bayangkan. Jakarta Kualanamo, memang memakai pesawat besar, Jumbo Lion Air yang memuat sangat banyak dengan tiga bersap tempat duduk atau 9 orang. Proses membawa ini tidak menjadi masalah. Ternyata begitu transit di Kualanamo-Silangit, bawaan tertahan sebanyak tiga unit barang. 
 
Nampak ketegasan petugas tak bisa ditawar, namun apa yang terjadi, tasnya sendiri tidak terbawa. Harus pasrah, besoknya dibawakan oleh pesawat lain. Kami berdua, ssusah payah, tak ada malu lagi tapi demi sebuah cita-cita dan semangat melayani masyarakat di Bonapasogit, pekerjaan ini harus kami kerjakan.
 
Teringat juga beberapa hari terakhir, teman-teman kami di kantor FBBI Delly Sinaga, Johannes Situmorang, Aan Hamonangan Rumahorbo lembur sampai larut malam menyelesaikan tugas menata balai pustaka ini dengan memberikan nomor dan urutannya sama dengan daftar yang disiapkan sebagai buku panduan guna memudahkan peminjam buku kelak. Semoga upaya yang sangat melelahkan ini akan bermanfaat ganda bagi generasi muda di Pakpak Bharat, sebagai salah satu unsur orang Batak yang menjadi anggota FBBI.
 
Arta Peto Sinamo, Jansen Sianamo, Guru Etos, sebagai perantau dari Desa Parongil Jehe, tempat balai pustaka itu kami tempatkan, menerima ditempat dan selanjutnya mengatur tempatnya bersama Jajaran SD Negeri Parongil sebagai host tiap hari pengguna balai pustaka itu.
 
Liku-liku Perjalanan
 
Perjalanan berikut, kami lakukan dengan menikmati perjalanan dari Silangit menyelusuri jalan dengan pemandangan yang asri. Mata kami menikmati indahnya alam bonapasogit dengan udara sejuk. Silangit-Tarutung, kiri kanan berliku memperlihatkan dikiri kanan penuh dengan perkebunan dan berbagai tanaman petani. 
 
Ada jagung yang masih muda, sehingga daun hijau yang menunjukkan ternyata lahan disini cocok untuk tanaman jagung. Tidak semua hamparan ditanam jagung, bervariasi, ada padi, yang kebetulan ada sumber air. Relatif sedikit. Ada tanaman sayur mayur, yang dijual ke luar daerah. Saya tahu bagaimana petani Kol ini tidak mendapatkan harga yang stabil, kadang lagi panen sangat banyak membuat harga rendah kalau tidak bisa dikatakan tidak berharga. 
 
Pernah saya saksikan, hanya Rp. 5000,00 (lima ribu) rupiah. Bahkan dengan wajah kecewa sedih dan mungkin sangat marah hati petani itu. Berapa lama dia merawat itu, berharap mendapat harga yang baik tapi ternyata hampir tak laku. Bahkan ada yang berpendapat biarkan saja tak dibawa, biarkan membusuk lebih baik digunakan untuk pupuk sehingga dapat digunakan menjadi pupuk dikebun untuk menanam jenis lainnya. 
 
Tapi, menurut kesaksian, cerita ini walau sesaat datang begitu tapi saat lainnya dapat saja mendapatkan harga yang menguntungkan. Laku Rp. 25.000,00 (dua puluh lima ribu) satu karung sudah merupakan rejeki yang membuat "tersenyum".
 
Kami tertarik dengan Kacang Sihobuk, sebagai andalan Tapanuli Utara ini. Dipinggir jalan mereka dengan setia menunggui warungnya dengan menjajakan kacang sihobuk ini. Berjejer, dengan plastik dalam tiga ukuran. Tiap ukuran dibedakan dengan volume dengan harga yang berbeda. Yang kecil bisa dihargai Rp.5000,00, menengah Rp.20.000,00 dan yang besar Rp. 30.000,00. Tidak jelas, apakah barang jajakan kacang ini laku dalam waktu yang singkat atau kacang ini berlama lama baru habis. Rasanya sangat manis enak dan harum. Maklum cara memprosesnya kacang sihobuk ini dengan hanya menggunakan api dan pasir. Tidak menggunakan alat bantu lain, seperti minyak goreng. Inilah yang membedakan kacang dan memang bisa bertahan lama, dengan kiat khusus yaitu bungkusnya dengan hampa udara. 
 
Ada pemikiran, untuk membudidayakan kacang ini. Pemikiran inilah yang menjadi pokok diskusi dengan Ketua DPC FBBI Kabupaten Tapanuli Utara, Bistok Nahampun yang menunggu kami di Tarutung. Kami diperkenalkan dengan pak Panjaitan, mantan Kades di Kecamatan Sipahutar , yang akan diangkat menjadi Ketua DPR (Ranting) FBBI Desa Sipahutar.. Konsep Pemberdayaan Masyarakat dengan berbasis kelompok yang khusus menanam kacang dan didampingi oleh bapak angkat. Kelompok yang direncanakan sebanyak 20-25 orang, dengan luas masing-masing minimal 1 atau 2 Hektar. Dengan mengatur masa panen agar produksi terjaga bisa di beli oleh perusahaan yang akan dijadikan pembeli tetap seperti Garuda Food. Proses bisnis nya akan diatur sedemikian rupa dimana petani bekerja dilapangan dengan modal dan pemasaran dari Bapak Angkat, dengan persetujuan pembagian keuntungan yang disepakati kemudian. 
 
Ini menarik, sebab esensi pemberdayaan bertitik tolak dari sejarah produk yang pernah cocok di satu wilayah ini. Dalam hal ini, kacang adalah produk unggulan, dimana masyarakat petani sudah awair atau akrab dengan tanaman ini. Mereka sudah berpengalaman menanamnya, merawatnya dan memanennya. Jadi tidak terlalu sulit lagi jika memilih ini sebagai pilihan terbaik, tinggal menindak lanjuti dengan penjajakan harga jual, ongkos kirim dan biaya produksinya. Tantangannya adalah bagaimana kemauan peserta, mungkin semangat ada, tapi konsistennya masih dipertanyakan. Inilah tantangan pembentukan kelompok khusus petani kacang yang saling memberikan solusi jika ada masalah yang dihadapi.
 
Tarutung-Simangambat
 
Selama perjalanan, Mutiara dan Halani melihat beberappa tanaman yang jarang mereka lihat, tetapi ditemat ini tumbuh di sepanjang jalan. Sebutlah, tanaman Sanggar. Tanaman yang tumbuh ditengah ilalang, sering digunakan untuk "huru-huruan" tempat burung oleh masayrakat di Bonapasogit. 
 
Ada tumbuhan "arsam", sejenis pakis namun ukurannya kecil yang tumbuh juga bersama ilalang. Ilalang sendiri, dominan tumbuh di wilayah dataran mulai Tarutung sampai Simangambat. Konon, tanaman ini menggambarkan akan kurang suburnya tanah akibat strukutr tanahnya dikenal tanah liat dengan warna merah. Cocok untuk tabah batu bata. Ada lagi "tahul-tahul", jenis angrek yang tumbuh di sekitar pepohonan, masih ditengah-tengah ilalang itu. Tahul-tahul dengan bunga berbentuk mangkok berisi air. Hanya saja, angrek ini hanya bisa hidup diwilayah hutan dibonapasogit jika dibawa kekoata, akan mati. Mungkin akibat iklim yang tidak sesuai.
 
Eksperimen Perkebunan oleh Perantau
 
Sepanjang mata memandang, tampak ada usaha untuk membudidayakan lahan yang luas namun terlantar. Kami lihat bekas tanaman seperti Sawit, pohon Kopi, Karet, Alpukat, Nenas dan lainnya. Menurut informasi, kebun yang seprtinya dikelola secara modern itu, pada awalnya efektif dikelola. Namun, seiring berjalannya waktu, perkembangan tanaman itu tidak menggembirakan. Ujung-ujungnya, kebon yang tidak terawat, bahkan kembali di tumbuhi ilalang menjadi pemandangan yang dominan. Hanya beberapa tanaman yang menajdi saksi eksperimen itu. Apa yang terjadi?
 
Semangat perantau untuk membangun bonapasogit, nampaknya mengalami kegagalan. Saya belum pernah membaca laporan mereka, kecuali cerita lisan dari tokoh masayrakat setempat. Diperoleh informasi, bahwa perantau yang beralih menajadi petani, tidak menggunakan cukup ilmu pertanian yang memadai. Mereka hanya melaksanakan pikiran mereka sendiri, tanpa mengetahui halhal yang menyangkut "aspek tanah" atau "soil". 
 
Ini serius. Sebab, investasi membuka lahan, land clearing, tentu sudah besar, diikuti dengn bibit, tenaga bahkan ada yang memasang listrik memakai genset, seperti yang dilihat dalam perkebunan modern. Tanaman tidak berkembang. Apalagi, menghasilkan buah yang baik, maka lama lama, tanaman itu ditinggal begitu saja. Ini sangat ironis. Sebab banyak hal yang perlu dipertanyakan. Mulai dari tingkat asam tanah di tempat itu. Lalu, kiat untuk menurunkan tingkat asam yang cocok untuk diterima oleh bibit. 
 
Selanjutnya, bagaimana dengan pupuk, sejak ditanam, pohon membesar sampai pada pupuk untuk pembuahan??. Pertanyaannya, apakah ini semua mereka tahu pentingnya informasi tehnologi pertanian ini sebelum program dimulai?. Tampak pula, pekerjaan ini dikerjakan secara sendiri sendiri. Jika ada masalah, tak bisa diselesaikan sendiri. Pemerintah apalagi, tak dapat menolong masalah petani ini.
 
Mungkin perlu dilihat, bahwa sesungguhnya petani ini, sebelumnya bukanlah berpengalaman dibidang pertanian namun hanya karena merubah nasib dari kota ingin bertani. Ini fenomena yang kami amati selama perjalanan. 
Yang berhasil nampaknya adalah kopi Arabica disebut kopi Ateng. 
 
Mulai dari Tarutung, Sipahutar, Pangaribuan, Simangambat, Sipagimbar, Sipirok, Arse, Bungabondar dan desa lain yang lahannya relatif datar, nampaknya berhasil. Sedangkan, untuk daerah pegunungan, yang cocok adalah kopi Robusta, dimana batangnya tinggi. Mampir di Kota Sipirok, menikmamti kuliner dan beli barang produk Tapsel, berupa gantungan kunci, tas, peci dan bahan baju motif dari Tapanuli Selatan.
 
Hiking di Pusuk Buhit
 
Keinginan untuk mengunjungi tanah leluhur saya, di Gunung Pusuk Buhit, Samosir sudah lama sekali tercetus dalam hati. Namun baru kali ini ada kesempatan. Perjalan ke leluhur orangtua sendiri di Sigolang telah dilaksanakan, dan dilanjutkan ke Gunung Pusuk Buhit. Ini suatu perjalanan yang memerlukan tenaga ekstra akibat alamnya yang terjal serta kondisi jalan yang sulit.
Didodorong oleh keinginan tahuan yang kuat, maka setinggi apapun dijalani, mulai start pukul 03.00 pagi dari Silinjuang, terus ke Boho, Desa Limbong dan merambat mengikuti jalan setapak dengan kondisi jalan bebatuan. 
Untung, perjalanan ini menyangkut aspek hubungan asal muasal terkait turunan leluhur maka semakin menarik untuk dilanjutkan sampai ke tujuan akhir di puncaknya.
 
Siraja Batak dan Turunannya.
 
Secara singkat, walau tidak saya ketahui secara lengkap, namun dari buku dan cerita orangtua pada awalnya Si Raja Batak, menikahi seorang istri dari Kayangan. Lahirlah Ompung Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Guru Tatea Bulan, mempunyai, 5 anak, yaitu Raja Uti (Miok-miok), Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja. Sedangkan 4 Wanita, Boru Pareme, dan lainnya.
Mendaki sampai puncak gunung Pusuk Buhit yang terkenal ini suatu kebanggaan tersendiri sebab selain bisa memahami sejarah juga dapat merajut semangat leluhur orang batak, terutama kami dari turunan Ompu Guru Tatea Bulan. 
 
Sisi lain, saya bersyukur berpengalaman mendaki gunung yang tinggi dan bersejarah, sejak Tahun 2006 berhasil mendaki Gunung Sinai di Mesir. Gunung Sinai, tempat Nabi Musa berdoa. Cerita lebih detail tentang perjalanan di tempat leluhur, akan dituliskan dalam cerita khususnya, karena selain panjang dan juga perlu referensi yang lengkap. Saya mau cerita tentang konsolidasi FBBI.
 
Missi Konsolidasi FBBI
 
Adalah kebiasaan saya, selaku Ketua Umum FBBI memanfaatkan suatu perjalanan dinas guna melaksanakan tugas organisasi, dengan maksud mengoptialkan kesematan dan dana. Kali ini membawa buku dokumentasi administrasi FBBI yang kami serahkan kesemua pengurus daerah sebagai pedoman kerja.
 
DPR (Ranting) Desa Sigolang 
 
Pertemuan dengan pengurus DPR Desa Sigolang, diskusi tentang program 2017 sebagai hasil Rapimnas dimana DPR membantu masyarakat untuk mengatasi masalah hama tanaman. Jadilah saya berikan uang Rp. 500.000 (limaratus ribu rupiah) dengan ketentuan, barang siapa yang membawa satu ekor tikus dihargai Rp. 5.000,00. Satu ekor Babi dihargai Rp. 50.000,00. Sedangkan Lainnya diserahkan kepada panitia, dengan mempertimbangkan ada perlindungan atas habitat "Bodat". Dana ini akan ditambah FBBI bila benar benar efektif. 
 
DPC FBBI Kab Tapanuli Utara
 
Pertemuan dengan DPC FBBI Kab Tapanuli Utara. Bapaak Bistok Nahampun akan mendirikan DPR di Sipahutar, dan pertemuan dengan Bapak Panjaitan, Calon Ketua telah saya arahkan kegiatan pemberdayaan tanaman "Kacang" dengan bentuk kelompok. Jenis ini potensil dan cocok untuk Tapanuli Utara seperti Kacang Sihobuk, yang terkenal. 
Proses bisnis dari hulu sampai hilir terutama penampungan hasil dengan harga yang menguntungkan diperlukan sebelum pekerjaan ini dimulai. Kebetulan, penampungan sudah saya bicarakan dengan seorang sahabat Dirut PT Garuda Food, Dr. Sudhamek S di Jakarta sewaktu reuni FE UKSW beberapa hari lalu di Kantornya dibilangan Jakarta Selatan.
 
DPC (Calon) FBBI Kab Humbahas.
 
Hasil pembicaraan Mutiara Marbun, dan Jimmy Lumbangaol, Ketua DPD FBBI Prop Sumsel, kami tindak lanjuti guna menjajaki pengurus di tempat ini. Semoga pertemuan dengan Jerry Lumbangaol, bisa terwujud. Selain itu, kegiatan kami lanjutkan dengan Sosialisasi di Radio Pelita Batak, dengan thema FBBI, pemanfaatan tanah menuju kemandirian dan kesejahtraan. Dua jam tak terasa, dari acara ini muncul hal menarik tentang tanah milik adat yang belum dibagi dengan luasan yang luas sekali namun terlantar sejak lama. Solusi yang kami tawarkan, identifikasi dengan penentuan batas. 
 
Lalu pemda berkoordinasi dengan pemilik (banyak sukses di Perantauan), untuk di manfaatkan menjadi perkebunan oleh petani yang tidak atau punya tanah 0,5 hektar. Pola pemberdayaan yang terkoordinir, akan membawa dampak penghasilan kepada masyarakat itu sendiri, selain pendekatan win-win solution katimbang terlantar hanya akan mengundang konflik baru.
 
DPC FBBI Kota Pematang Siantar dan Kab Simalungun
 
Kedua pengurus ini, selama dibentuk memiliki dinamika sendiri sendiri. Namun berbeda, jika Simalungun nampaknya belum bergerak, sedangkan Siantar bergerak namun kurang kompak. Pertemuan dengan tokoh disana, mengusullkan agar diadakan regrouping dua daerah menjadi satu. Nampaknya usul ini menarik dan potensi yang ada menjadi bisa dikembangkan kearah lebih baik. Berdasarkan Anggaran Dasar FBBI diberikan peluang untuk pergantian pengurus guna diseragamkan masa berlakunya per Februari, berpatokan pada Anggaran Dasar. Ada dua sasarannya, penyeragaman dan revitalisasi bagi kepengurusan yang belum efektif.
 
DPD FBBI Propinsi Sumatra Utara.
 
Pertemuan dengan Ketua DPC FBBI Kota Medan merangkap Wakil Ketua DPD FBBI Prop Sumut, bapak Kornel Napitupulu, Sekretaris pak Sinaga, telah meyepakati kegiatan yang dapat menghasilkan pemasukan. Ambil bagian dari kegiatan ekonomi di Pasar, bentuknya masih dijajaki, setidaknya ambil 2 Toko bidang Jasa Pengiriman. Satu untuk DPP dan satu untuk DPD. 
 
Kedua, sepakat membuat Program Senandung Rindu Bonapasogit di Medan dan Siantar. Soal efektif organisasi diserahkan sepenuhnya kepada pengurus disini. Demikian catatan perjalanan Ketum, Kepala Kantor dan Ketua DPC Kota Siantar di Bonapasogit. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.(Horas, Horas, Horas Njuahjuah-juah juah, Horas Tondi Madingin Pir Tondi Matogu, Ronsel LM Pasaribu, Ketua Umum DPP FBBI)
  BeritaTerkait
  • Akhyar Nasution Harapkan Marga Panggabean Dukung Pembangunan Kota

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Wakil Wali Kota Medan Ir Akhyar Nasution Msi, mengharapkan Pomparan Marga Panggabean mendukung pembangunan Kota Medan. Sebab dukungan semua pihak termasuk Marga Panggabean

  • Akhyar Nasuiton Apresiasi Reuni Akbar Perguruan Al Azhar

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Wakil Wali Kota Medan, Ir Akhyar Nasution MSi sangat mengapresiasi dan menyambut positif digelarnya Reuni Akbar Ikatan Keluarga Alumni Al-Azhar Medan 1987-2016. Slain untuk membina kembali tali silaturahmi, kegiatan ini merupakan mom

  • Aek Sibundong in Harmony Peduli Korban Kebakaran di Humbahas

    tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Sebagai tindak lanjut konser amal bertajuk "Aek Sibundong in Harmony" di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu 22 Oktober 2016. Panitia penyelenggara konser yakni Pars

  • Tokoh Batak Nasional Meriahkan Senandung Rindu Bonapasogit yang Digelar FBBI

    tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Acara "SENANDUNG RINDU BONAPASOGIT/Kampung Halaman" berlangsung meriah di Lapo CODIAN (Codian Resto), Jakarta Timur / Depan Badan Kepagawaian Negara BKN), Jalan May

  • Ada Ronggeng Melayu di Panggung PSB

    12 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak) : Panggung Seni Budaya (PSB) yang diusung Dinas Pariwisata Kota Medan untuk mengobati kerinduan masyarakat Kota Medan guna menyaksikan budaya etnisnya sekaligus melestarikann

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet