• Home
  • Opini
  • MENGEMBALIKAN KARAKTER LUHUR BANGSA INDONESIA
KSP Makmur Mandiri
Jumat, 19 April 2019 21:15:00

MENGEMBALIKAN KARAKTER LUHUR BANGSA INDONESIA

Oleh : Drs Thompson Hutasoit
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak
Drs Thompson Hutasoit
PERGESERAN, perubahan karakter luhur bangsa Indonesia era belakangan ini, terutama di era reformasi sungguh amat sangat memprihatinkan dan menyedihkan. 

Karakter luhur rakyat Nusantara sopan, santun, hormat,  jujur, bersih, ramah, sejuk, bersahabat, solidaritas, gotong-royong, beretika, beradat, beradab, beriman serta saling menghormati, saling menghargai kini terdegradasi dari hati, pikiran anak-anak bangsa akibat munculnya pengaruh globalisasi di segala sektor kehidupan. Sikap, sifat indualisme, hedonisme, konsumtif, unsolider telah menggeser dan menyingkirkan karakter luhur bangsa tumbuh subur di bumi Nusantara. 

Perubahan, pergeseran itu, sadar atau tidak hal itu sering menimbulkan gesekan sosial serta terganggunya harmoni interaksi sosial ditengah masyarakat, bangsa dan negara aman, nyaman, tertib, damai selama ini. 

Bangsa Indonesia pluralistik-multikultural telah terbiasa hidup aman, nyaman, damai serta menjunjung tinggi solidaritas antar dan/atau intra sesama diatas perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan Indonesia. Saling menghormati, saling menghargai, saling percaya atas kebhinnekaan adalah karakter luhur bangsa Indonesia warisan leluhur bangsa. Hidup berdampingan diatas kebhinnekaan salah satu keistimewaan bangsa Indonesia di atas bumi ini. Dan bangsa-bangsa di dunia sungguh kagum dan tercengang menyaksikan kerukunan hidup anak-anak Ibu Pertiwi Indonesia. 

Akan tetapi, sayang.....seribu kali sayang.....!!! Karakter luhur bangsa Indonesia di era belakangan ternoda dan terciderai ulah orang dan/atau kelompok tak bertanggungjawab telah merusak "Mutiara" kehidupan bangsa Indonesia dengan ujaran kebencian, fitnah, hoax atau kebohongan, hujat, hasut, adu domba, provokasi, agitasi, permusuhan, perpecahan melalui kampanye-kampanye hitam semata-mata perebutan kekuasaan temporer dan sesaat pada kontestasi politik Pilpres, Pileg, maupun Pilkada era belakangan ini. 

Sungguh sangat disyangkan dan disesalkan kerusakan karakter mental bangsa saling curiga, saling tak percaya, satu sama lain, termasuk terhadap institusi negara resmi berdasarkan konstitusi. Dan paling menyedihkan lembaga-lembaga akademik seperti lembaga survey berbasis keilmuan atau akademisi dicurigai dan tidak dipercaya lagi kredibilitasnya hanya demi membangun opini menjustifikasi klaim kemenangan Pilpres, Pileg Serentak 17 April 2019 lalu. 

Bila kerja-kerja akademik atau keilmuan tidak mendapat kepercayaan (trust) publik, apakah masih berguna menyekolahkan anak atau generasi yang notabene menimba dan menambah kualitas keilmuan atau akademisi....??? Dan apakah masih dipercaya bila seseorang menyandang gelar akademik seperti; Profesor, Doktor, Sarjana strata 1, SAMA/SMK, SMP, SD, serta predikat Keagamaan, profesi, dll.......??? 

Ketika suatu bangsa dan negara telah dilanda aneka ragam kecurigaan, ketidakpercayaan maka bangsa dan negara itu akan porak-poranda, hancur berkeping-keping.

Suami-Istri saling curiga dan tak percaya, Bapak/Ibu-Anak saling curiga dan tak percaya, rakyat dengan rakyat saling curiga dan tak percaya, rakyat dengan pemerintah saling curiga dan tak percaya, umat dengan tokoh agama/kepercayaan saling curiga dan tak percaya. SIAPA PUN TAK ADA DIPERCAYA SELAIN DIRI SENDIRI. Inilah bencana sosial paling dahsyat yang dibonceng agen-agen setan dan iblis merusak semesta alam. 

Kebencian membawa penderitaan hidup paling mematikan. Padahal, Nelson Mandela mengatakan, "Tidak seorang pun lahir dalam keadaan membenci orang lain karena warna kulit, atau latar belakang, atau agamanya. Orang belajar membenci, dan jika mereka bisa belajar membenci; mereka juga bisa diajar untuk mencintai, karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada lawannya. 
Ia sungguh-sungguh percaya bahwa cinta adalah kondisi alami dari hati, bahwa kebencian merupakan beban yang sama beratnya bagi yang membenci maupun yang dibenci". Dan Ibu Teresa mengatakan, "CINTA DIMULAI DI RUMAH". 

Situasi bangsa dibayangi rasa cemas, resah dan takut akibat pertarungan politik perebutan kekuasaan atau orang penting sungguh sangat disyangkan dan disesalkan. Mereka lupa apa yang dikatakan Hoegeng Imam Santoso Kepala Kepolisian Republik Indonesia (1968-1971) "Baik menjadi orang penting. Tapi yang lebih penting adalah orang baik". Nasehat Polisi Teladan, Teladan Polisi di republik ini patut dijadikan renungan paling dalam di hati sanubari, pikiran seluruh anak bangsa, terutama mereka-mereka selalu berteriak lantang seorang nasionalis dan patriot sejati.

Ibu Pertiwi Indonesia memanggil anak-anaknya memiliki karakter luhur, negarawan, putera-puteri terbaik untuk mengemban amanah kepercayaan rakyat dengan baik dan benar. Bukan sekadar orang PENTING untuk memegang tampuk kekuasaan, apalagi super ambisi kuasa menjadikan Ibu Pertiwi Indonesia "meraung dan menangis" melihat anak-anaknya saling bermusuhan, membenci, tercerai-berai satu sama lain akibat perbedaan pilihan politik. 

Siapakah seorang ibu senang dan gembira melihat anak-anaknya saling bertengkar, bermusuhan, berkonflik satu sama lain hanya akibat perebutan orang PENTING.......??? 

Hai saudara-saudara ku sebangsa dan setanah air, marilah kita rajut kembali PERSATUAN INDONESIA, PERSAUDARAAN SESAMA ANAK IBU PERTIWI INDONESIA dalam PELUKAN SATU INDONESIA sebagaimana dikatakan Presiden Republik Indonesia Ketujuh Ir. H. Joko Widodo (Jokowi). 

ATAS NAMA CINTA.........!!!
ATAS NAMA CINTA.........!!!
BETAPA SEBETULNYA SAYA INGIN MENYALAMI BAPAK-IBU SEMUANYA. 
MEMELUK......SAUDARA-SAUDARA SEMUANYA
DALAM SEBUAH PELUKAN SATU INDONESIA. (Jokowi, 13/04/2019). 

Inilah karakter luhur bangsa Indonesia, penuh cinta kasih sayang, merangkul bukan memukul,  percaya bukan menista, mencintai bukan membenci, menghormati bukan menciderai, menghargai bukan mencaci maki, menghidupi bukan mengeksploitasi, bersahabat bukan saling melumat, bersaudara bukan angkara murka. 

Dengarkan getaran seruan Ibu Pertiwi Indonesia "DAMAI LAH ANAK-ANAK KU, KALIAN BERSAUDARA KANDUNG ANAK IBU PERTIWI INDONESIA. ANAK YANG BAIK TAK PETNAH MEMBUAT IBUNYA MENANGIS DAN BERSEDIH". 

Medan, 19 April 2019. 
Salam NKRI.......!!! MERDEKA.......!!!
Drs. Thomson Hutasoit. 
Penasehat Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (DPC ISRI) Kota Medan. (Pendapat pribadi).
  BeritaTerkait
  • Pendidikan yang Berbudaya Lokal

    3 tahun lalu

    Mengingat masa lalu untuk memetik sejumlah pelajaran kemudian menjadikannya bekal dalam upaya meningkatkan kualitas hidup merupakan tindakan bijak dari seseorang yang  menginginkan masa depan.

  • Ini Kekuatan Orang Batak Toba Menurut Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):   Orang Batak Toba memiliki kelebihan-kelebihan. Demikian disampaikan Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh,

  • Bupati Humbahas:Jambore Kader PKK Harus Dapat Membawa Perubahan Bagi Masyarakat

    2 tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor SE diwakili Plt Asisten Administrasi dan Kesra Drs AP Marbun membuka kegiatan jambore kader PKK tahun 2017 yang diselenggarakan di Aula H

  • Pembina Pramuka Memiliki Tantangan Tersendiri

    2 tahun lalu

    Tebingtinggi (Pelita Batak) :Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) HT Erry Nuradi sangat mengharapkan peran Pramuka dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. Pembinaan, pelatihan dan pengkaderan dan kegiatan sosial lainnya sejauh ini cukup baik dan perlu

  • Presiden Jokowi: Banyak Budaya Batak Sejalan dengan Nilai Islam 'Rahmatan Lil Alamin'

    2 tahun lalu

    Tapteng (Pelita Batak) : Usai meresmikan pembangunan asrama haji di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Negara Iriana beserta rombongan meng

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb