KSP Makmur Mandiri
Minggu, 12 Agustus 2018 13:32:00

KABAR DARI SEBERANG

Lampu Nyala, Semprong Panas

BAGIKAN:
Ist
Lampu semprong
Oleh Bachtiar Sitanggang

DI pengujung tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an di kala remaja atau anak baru gede (ABG) gandrung sastra dengan pantun dan pepatah, dalam menghadapi kritikan ada ungkapan singkat untuk mematahkannya,  yaitu: *lampu nyala, semprong panas" yang dalam bahasa Batak " lampu galak, samporong mohop".

Di zaman now ungkapan itu mungkin relevan  disinggung kembali mengingat riuh-rendahnya kehangatan suhu politik menjelang Pemilihan Presiden/Wakil Presiden, anggota DPR, DPD serta DPRD Provinsi dan Kota/Kabupaten.

Ya,  memang harus dimaklumi, namanya saja tahun politik jadi seolah-olah hidup harus bergelimang politik, kalau tidak ngomong politik dianggap ketinggalan zaman. Mengikuti perkembangan politik adalah suatu kewajaran bagi warga negara yang baik, sebab politik   menyangkut keberadaan, hak, dan kewajiban warga negara yang dipelihara dan diselenggarakan secara demokratis,  sebagaimana diatur oleh peraturan perundang-undangan. Tetapi, dalam kenyataannya, sering timbul pemaksaan kehendak sehingga timbul bentrokan kepentingan  bahkan fisik dan menjadi ranah hukum seperti terjadi di beberapa daerah pada Pilkada yang baru lalu.

Dalam penyalahgunaan hak-hak demokrasi tersebut jugalah sering berlaku ungkapan, "lampu nyala semprong panas".  Yang bertarung hanya empat atau lima pasang calon,  tetapi rakyat pendukung yang panas minta ampun dan emosi tinggi.

Hal itu juga barusan kita alami setelah  Joko Widodo menetapkan Prof. Dr. KH Ma'ruf Amin sebagai calon Wapres dan Prabowo Subianto menetapkan Sandiaga Uno sebagai calon Wapres pada Pilpres 2019 nanti.

Mengapa Jokowi menjatuhkan pilihan kepada KH Ma'ruf Amin, mengapa tidak Prof. Dr. Mahfud MD, SH., menjadi bahasan panjang dan mendalam, dan bahkan ada yang merasa iba dan berbagai luapan perasaan. Analisisnya juga macam-macam, bahwa PKB tidak senang dengan Prof. Mahfud sebab "orang dekat Gus Dur (mantan Presiden Abdurrahman Wahid)".  Demikian juga Golkar yang pernah di-"bubar"-kan Gus Dur, dengan perkiraan itu pasti sepengetahuan Mahfud, yang waktu itu Menhankam dan lain-lain.

Dan yang paling menarik disebutkan adalah bahwa partai koalisi pendukung  Jokowi khawatir apabila Prof. Mahfud jadi Wapres 2019-2024, maka akan memiliki kesempatan dan modal untuk jadi capres unggulan pada periode berikutnya, sementara kalau KH Ma'ruf Amin sekarang saja sudah 75 tahun, jadi sudah tipis kemungkinan mencalonkan diri. Kalau Mahfud sempat jadi Wapres, maka kesempatan bagi para pemimpin partai yang masih muda-muda sekarang akan tereliminasi karena prestasi, kepribadian Mahfud,  apalagi kalau sudah jadi wapres.

Itu juga masuk akal, dan benar tidaknya yang tahu adalah mereka-mereka yang menjadi pelakunya. Prof Mahfud sendiri tidak mempersoalkannya, kok para analis membuat segudang perkiraan. Apakah ini termasuk pada ungkapan "lampu nyala, semprong panas?", terserahlah.

Lain lagi di koalisi Prabowo Subianto yang menggandeng teman separtainya Gerindra, yaitu Wakil Ketua Dewan Pembina Sandiaga Uno, karena Prabowo selain Ketua Umum juga Ketua Dewan Pembina. Ijtima Ulama menganjurkan dua nama bakal calon wapres yaitu Ustad Abdul Somad dan Salim Segaf Al-Jufri, sementara dari Partai Demokrat,  walaupun dibantah diusulkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),  putra Susilo Bambang Yudhoyono, sedang dari PAN sendiri seperti tarik ulur mungkin karena masih "dalam" koalisi pendukung pemerintah.

Menjelang deklarasi, karena bukan AHY jadi cawapres Prabowo, Andi Arif sebagai Wakil Sekjen Partai Demokrat "marah" dengan menyebutkan "jenderal kardus" serta menuduh adanya transaksional ke partai lain masing-masing Rp 500 M dalam kaitan pemulusan Sandiaga Uno, yang sempat membuat "panas" hubungan Demokrat dengan Prabowo, tapi saat pendeklarasian hadir juga  AHY, berarti sudah akur-akur. 

Kedua pasangan itu sudah resmi menjadi Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024, terserah  masyarakat memilih siapa. Katanya rakyat sudah mampu memilah dan memilih, kita tunggu saja. Hanya tidak jadi "semprong" serta menganggap "jagonya" paling cantik se-dunia yang lain bopeng, pesek, serta pendek-gembrot,  seperti ABG lagi dirundung cinta.

Mari kita laksanakan Pilpres dan Pileg sebagai tugas bersama dalam memilih pemimpin serta wakilnya untuk 5 tahun ke depan guna peningkatan harkat dan martabat serta kesejahteraan masyarakat dari Sabang sampai Merauke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Penulis adalah wartawan senior dan advokat)
  BeritaTerkait
  • Kapal Gili Cat 2 yang ditumpangi 35 WNA Diduga Meledak di Bali Karena Tabung BBM

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Kapal Gili Cat 2 yang ditumpangi 35 wisawatan asing dan 4 orang ABK kecelakaan di Pelabuhan Padangbai Bali Kamis, 15 September 2016. Kapolres Karangasem Bali AKBP Sugeng Su

  • Akhyar Nasution Tinjau 3 BUMD Pemko Medan

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Pasca pelantikan, Wakil Wali Kota Medan, Ir Akhyar Nasution MSi langsung meninjau tiga Badan Usaha Milik Daerah

  • Wagub Nurhajizah Marpaung: Remaja Harus Jadi Pelopor Gerakan Memakmurkan Masjid

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Wakil Gubernur Sumut Brigjen TNI Purn Dr Nurhajizah Marpaung SH MH mengharapkan para pemuda dan remaja menjadi pelopor menggerakan masyarakat ke Masjid. Hal ini dikatakan Wagub

  • Ini Dia 130 Perda yang Telah Dicabut di Sumatera Utara

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Pemerintah memberi perhatian serius terhadap peraturan daerah (perda) yang bertentangan dengan aturan yang di atasnya dan yang menghambat investasi. Telah dihapus 3.143 perda.

  • Warga Medan Harus Pakai Batik Medan & Songket Deli

    2 tahun lalu

    Seluruh busana hasil rancangan Hj Rita ini bisa diperoleh di Maharani Galeri Batik Medan dan Songket Deli. Tidak hanya busana batik Medan dan songket Deli, galeri ini juga memajangkan hasil produk unggulan UMKM Kota Medan, seperti kursi rotan, tutup lampu

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet