• Home
  • Opini
  • Khotbah Evangelium Minggu XXIII Dung Trinitatis 19 Nopember 2017 Teks: Zephania 1: 7, 12-18 "Bersiaplah Menyambut Hari Tuhan"
Rabu, 15 November 2017 14:44:00

Khotbah Evangelium Minggu XXIII Dung Trinitatis 19 Nopember 2017 Teks: Zephania 1: 7, 12-18 "Bersiaplah Menyambut Hari Tuhan"

BAGIKAN:
Ist
Pdt Dr Robinson Butarbutar
Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Parsamean STT-HKBP Pematangsiantar. 

1.Bagi komunitas orang-orang yang percaya kepada Allah yang tidak hanya menciptakan umat manusia tetapi  juga menuntunnya dengan setia agar umat manusia hidup dengan aman, damai , sejahtera dan adil dengan cara menuruti kehendak dan hukum-hukumNya, Allah dikenal sebagai Allah yang pada satu sisi memberkati umat yang melaksanakan  kehendakNya, tetapi pada sisi lain Ia juga dikenal sebagai Allah yang tidak tinggal diam melihat tindakan umat manusia yang melawan Allah dan kehendakNya dalam bentuk bertindak tidak adil terhadap sesamanya, dan menyembah Allah selain diriNya. Kalaupun kelihatanNya Allah tidak bertindak langsung terhadap para pelawan kehendakNya, Ia memiliki waktuNya sendiri untuk menindak yang berlaku jahat dan memberkati yang berlaku baik. Pada saat ia bertindak, dua hal dilakukan oleh Allah pada saat yang sama, yaitu menghukum yang jahat, menyelamatkan yang baik. Waktu itu dikenal dengan 'Hari Tuhan.'

a. Cakupan dari hari Tuhan itu bisa saja sangat menyeluruh, global, menyangkut seluruh bangsa, bumi dan jagad raya, tetapi bisa juga mencakup sangat terbatas, yaitu suatu komunitas bangsa tertentu, suatu keluarga tertentu, suatu pribadi tertentu. Di dalam nubuatan-nubuatannya, Jesus sang nabi dari Nasaret pada abad pertama juga memakai kedua pemahaman. Hal ini diungkapkannya pada waktu ia menubuatkan kejatuhan Jerusalem akibat ketidaksudian para pemimpin bangsa Jahudi pada jamannya untuk berobah (lihat Mateus 21-24, khususnya 24:15-28) yang memang terjadi sekitar 37 tahun kemudian, tetapi juga pada saat yang sama mengemukakan tentang masa akhir pada masa depan yang cukup jauh (Mateus 24: 29-51) yang masih belum terjadi hingga saat ini. 

b. Ketibaan 'Hari Tuhan' itu bisa saja berada jauh di masa depan, tetapi ia juga bisa saja berada tidak terlalu jauh di masa depan, malahan sangat dekat, sedang datang ke dalam situasi dan kondisi hidup sebuah bangsa, suatu komunitas, suatu keluarga atau kelompok dan keluarga. Akan tetapi kadang kala kedua cakupan waktu itu, yaitu masa depan yang sangat jauh dan masa depan yang sangat dekat dan segera, juga dimiliki oleh pengguna kata 'Hari Tuhan itu." Jika pemahaman kedatangan hari Tuhan dengan segera itu digunakan, motivasi penggunaannya adalah untuk menekankan pentingnya pertobatan. Akan tetapi bisa juga untuk menekankan keputusan Tuhan yang tidak akan berobah lagi karena Allah telah memutuskan akan menghukum pelaku kejahatan, dan menyelamatkan para korban mereka segera. Hal inilah yang dilakukan oleh Nabi Zefanya yang telah mengamati adanya pelanggaran massif yang dilakukan oleh para pejabat tinggi negara dan agama (Lihat 1: 8, 3: 3-4) pada periode tertentu dari pemerintahan raja Josia di kerajaan Israel Selatan (641-649 Sebelum Masehi).  

c. Periode tertentu tersebut diperdebatkan oleh para peneliti waktu penulisan kitab Zefanya ini, apakah sebelum reformasi budaya oleh Josia pada tahun 622 Seb.M, yaitu pada saat kekuatan kerajaan Assyria sangat dahsyat pada tahun 630 Seb.M sehingga mampu menggoda pola hidup bangsawan Jehuda yang ke-Assyiria-Asyiriaan, atau sesudahnya  ketika kekuatan kerajaan itu melemah, malah setelah kejatuhannya (tahun 614 Seb.M kejatuhan kerajaan itu, dan tahun 612 Seb. M kejatuhan ibukotanya, Nininve), tetapi juga pada saat dampak dari reformasi budaya oleh Josia itu tidak terasa lagi. Mengingat bahwa ungkapan penghukuman bukan hanya kepada Jerusalem (baca 1: 4-3:5) tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain termasuk Assyur dinubuatkan oleh Zefanya (baca 3: 6-11) adanya peneliti yang menyebut waktu nubuatan Zepanyia terjadi sebelum reformasi Josia dapat dimengerti. 

d. Menyangkut bangsa Jehuda itu sendiri, nubuatan tentang kedatangan 'Hari Tuhan' yang segera itu (1:14) untuk mereka memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah nubuatan hukuman terhadap para pelaku kejahatan (1: 4-3:5). Sisi kedua adalah nubuatan kabar baik, berkat untuk para korban mereka, yaitu kaum lemah dan rendahan. Untuk mereka Allah akan mendatangkan sukacita (2: 3, untuk tetap bertahan mencari Tuhan, melakukan kehendaknya, keadilan, kerendahan hati untuk kemungkinan bisa luput dari hukuman, dan 4: 12-18, janji Tuhan melepaskan mereka).  Teks kita berbicara tentang sisi pertama itu. 

2. Nubuatan kedatangan segera 'Hari  Tuhan' yang berisikan hukuman sangat berat itu disebut akan menimpa para pejabat tinggi negara dan agama bangsa Jehuda (Zefanyia 1:8, 3: 3-4): pemuka, para anak raja, dan semua pemakai pakaian asing. Yang terakhir karena pengaruh Assyiria. Para pejabat ini adalah singa yang mengaum, siap memangsa dan anggar kuasa (3:3a), para hakim penentu keadilan adalah serigala yang memakan korbannya tak berbekas (3: 3b), para nabi ceroboh dan tidak setia (3:4) dan para imam yang menajiskan yang kudus (3:4).  

3. Semuanya mereka ini memimpin di satu kota yang dijuluki pada pasal 3: 1-2 sebagai kota pemberontak, cemar, penindas, yang tidak menerima teguran, tidak menerima kecaman, koreksi, tidak meyakini  dan tidak mendekatkan diri pada Allahnya. Ini menunjukkan kesempurnaan kejahatannya: melawan Tuhan, najis, menindas orang kecil dan lemah, tidak mau bertobat, dan tidak membutuhkan Tuhan. Kejahatan mereka ini diungkapkan secara sederhana dengan pikiran yang mengatakan Tuhan pasif adanya melihat kejahatan dan kebaikan (1: 12b) sebagai "orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya (baca: orang yang sangat mapan) yang berkata: "Tuhan tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat." Malah lebih dalam, ini yang diungkap pada Zefanyia 2: 15, bahwa karenanya penduduk kota Jerusalem merasa aman-aman saja, sampai mengatakan, "Hanya ada aku dan tidak ada yang lain," sangat memikirkan diri sendiri, memikirkan diri sendiri dalam kenikmatannya dan tidak membutuhkan Tuhan. 

4. Karena itulah pada ayat 12a, 13-18 hukuman pada hari Tuhan yang dekat diungkapkan dengan sangat tegas. Hukuman-hukuman itu dapat diklassifikasikan dalam beberapa hal berikut: 

Pertama, hukuman terhadap harta benda hasil perasan yang dicari Tuhan dengan cahaya, lampu, sehingga tidak ada yang luput (ayat 12a, 13).  Harta-harta itu adalah harta benda, rumah, dan kebun anggur. Ketiganya merupakan representasi milik orang-orang kaya, orang-orang mapan. Ketiganya tidak akan ada lagi: harta benda hancur, rumah tak terdiami, tanah tak menghasilkan. Kembali di-nolkan pada hari Tuhan yang menghukum. 

Kedua, hukuman komprehensif (15-17). Bentuk hukuman yang segera didatangkan Tuhan bagi para pejabat  penjahat negara dan agama itu tidak sekedar materialis, melainkan kesengsaraan komprehensif yang tidak akan dapat disebuhkan karena kedahsyatan perasaan dalam hidup yang melihat wajah Tuhan yang menghukum yang ditandai dengan adanya tiupan sangkakala yang menakutkan justru pada kota-kota yang merasa aman, yaitu yang berkubu (ay 16): 
kegemasan, kesusahan, kesulitan, kemusnahan, pemusnahan, kegelapan, kesuraman, dan gejala alam yang menakutkan, yaitu berawan dan kelam (ay 15). Akibatnya orang-orang akan berjalan seperti orang buta karena keberdosaan mereka (ay 17a). Perasaan sama, hukuman psikologis diungkapkan Paulus ketika menyadari bahwa hukum dosa dan kematian menguasai tubuh kematian manusia (Roma 7:24: "Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?). 

Ketiga, hukuman total: Kehilangan hidup (aya 17b): Darah tercurah seperti debu, usus seperti kotoran manusia/i.  

Keempat, tak terselamatkan oleh harta benda perak dan emas (ayat 18a). Ini merupakan peringatan sangat keras untuk jiwa yang menggantungkan harapan kepada harta dan benda, yang merupakan dasar kekuatan pertahanan dan keamanan di mata manusia modern juga. 

Kelima, kehancuran dahsyat seperti itu merupakan prototipe akan kehancuran seluruh penduduk bumi saat api cemburu Tuhan membinasakan pendosa (ayat 18b). Di sini, nabi Zefanyia langsung memandang ke depan. Bukan hanya bangsa Jehuda yang jahat yang akan segera dihukum pada hari Tuhan, tetapi juga semua  bangsa-bangsa lain, termasuk Assyria, dan malah penduduk bumi seluruhnya, akibat dosa. 

5.Teks khotbah kita pada minggu XXIII setelah Trinitatis, yaitu satu minggu lagi sebelum Minggu Peringatan akan orang yang telah meninggal (26 Nop 2017 dengan teks khotbah evangeliumnya dari Matius 25: 31-46, tentang hadiah baik untuk yang berbuat baik kepada salah seorang dari saudara Yesus yang paling kecil, yaitu mewarisi kerajaan, ayat 34, dan hukuman kekal pada yang tidak melakukannya, ayat 46) tidak diambil dari Zefanyia 4: 12-18, yaitu berkat untuk para korban, melainkan dari bagian hukuman bagi para pelaku kejahatan (1: 8, 12-18), tentu dapat dipahami sebagai peringatan tegas bagi para pelaku kejahatan. Kita harus berbicara sungguhsungguh tentang datangnya 'Hari Tuhan' bagi penjahat. Dan 'Hari Tuhan' dimaksud bukan yang sangat jauh di depan, tetapi yang sangat dekat (2: 14). 

Ini tepat dengan salah satu tugas kita sebagai pendeta, yaitu mengingatkan umat Tuhan agar beranjak dari kejahatan yang mungkin masih ada di dalam hidup mereka, sebelum terlambat, dan mengingatkan ajaran Martin Luther tentang pentingnya pertobatan setiap hari. Apakah kejahatan-kejahatan para pemimpin negara dan agama Jehuda tersebut di atas (lihat butir 2-3) masih juga hidup di dalam warga kita? Perlu dipertanyakan dengan lembut tetapi pasti. Bentuk kejahatan itu pasti beragam dan kontekstual. 

6.Hal ini sangat penting kita suarakan kepada diri kita sendiri sebagai pemimpin umat Kristen di Indonesia ini, juga kepada warga kita yang adalah pemimpin di tengah-tengah negara kita. Hal ini justru sangat penting kita suarakan secara nasional untuk mengingatkan bangsa dan negara kita agar ketika membangun bangsa kita ini, ketika membangun negara kesatuan republik Indonesia, ketika membangun propinsi-propinsi kita, ketika membangun setiap unit pembangunan bangsa (legislasi, pemerintahan, pengadilan, keamanan, usaha dan kewirausahaan, maupun juga kehidupan moral dan peribadahan), untuk tidak mengulangi kesalahan para pemimpin negara dan agama sebelum dan pasca reformasi Josia dan pada kehidupan bangsa kita ini pasca reformasi 1998, maupun pasca perayaan 500 tahun reformasi Martin Luther di tengah gereja dan masyarakat. Jika kita masih mengulanginya sebagai keluarga, komunitas, perkumpulan, perusahaan, bangsa dan sebagai pribadi, maka jangan heran jika tindakan Tuhan seperti yang dilakukannya mendatangkan 'Hari Tuhan' jangka pendek kepada bangsa pilihanNya Jehuda akan terjadi lagi kini pada kehidupan kita, mungkin tidak sangat mirip, tetapi pasti. Hari Tuhan jangka panjang kepada seluruh penduduk bumi seperti yang dinubuatkan Zefanyia pasti akan terjadi.  

7. Hal ini sangat penting disuarakan pada saat sepertinya ada suara senyap dan malah terangterangan yang mengatakan bahwa walaupun tanda-tanda kehancuran bumi akibat ulah tangan jahat manusia semakin kelihatan, toh Tuhan tidak akan mendatangkan "Hari Tuhan" yang menghukum para penjahat, segera: Tuhan tidak akan berbuat adil pada yang jahat dan baik pada yang baik. Roh masa bodoh semakin menguat. 

8. Akibat kerja keras pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo selama tiga tahun  negara kita pada saat ini semakin diyakini sebagai negara aman di mana investasi oleh penanam modal dari dalam dan dari luar negeri dapat dilakukan dengan jaminan keamanan dan kembalinya modal dengan baik. Hal ini terjadi karena pembangunan ekonomi khususnya infrastruktur telah diimbangi dengan pembangunan penegakan hukum dan pembangunan yang merata khususnya di daerah-daerah yang selama ini tidak mendapat perhatian, yang dikenal dengan pembangunan dari pinggiran dan pembangunan yang menguatkan rakyat kecil dan miskin. Keseimbangan pembangunan yang adil dan merata harus terus dilakukan dan ditingkatkan, agar segera berbuah dan berbuah lebat untuk rakyat dan negeri tercinta. Ini akan mencegah pengulangan pembangunan yang tidak seimbang pada masa dua dekade terakhir zaman Orde Baru yang berakhir dengan datangnya mirip 'Hari Tuhan' pada tahun 1998 terhadap kejahatan rejim Orde Baru yang menelantarkan rakyat kecil dan tertindas, dan melanggengkan para penindas: Para kroni Soeharto. Sebaliknya bangsa ini semakin hari akan semakin sejahtera dan berkeadilan. Gereja harus terus menyuarakan hal itu agar ke depan hari Tuhan jangka pendek yang menghukum para penjahat penindas rakyat tidak akan datang. 

9. Sebagai para pengikut Yesus kita secara pribadi harus terus menerus bertobat dari segala bentuk kejahatan yang masih tinggal di dalam hidup kita yang sebenarnya sudah merupakan manusia baru. Itulah cara terbaik untuk bersiap-siap menyambut 'Hari Tuhan', bukan sebaliknya bergabung dengan penjahat, karena jika begitu maka 'Hari Tuhan' yang segera atau kemudian akan datang itu menjadi mala petaka bagi kita, bukan keselamatan, berkat dan sukacita. Karena tanpanya maka "Hari Tuhan jangka pendek" yang menakutkan karena sifatnya menghukum maupun hari Tuhan jangka panjang untuk seluruh pendosa di bumi ini pasti akan datang.  Pengalaman bangsa Jehuda yang telah terhukum karena para pemimpinnya tidak berobah, dan pengalaman-pengalaman umat manusia sepanjang sejarah baik untuk kita perhatikan dengan serius untuk tetap sadar bahwa Tuhan memang bertindak menghukum penjahat dan membela korban mereka pada 'Hari Tuhan.'(*)
  BeritaTerkait
  • Jamita Evangelium: Roma 12: 9-21, Minggu XII Dung Trinitatis 3 September 2017: Parbuehon Haporseaon Ganup Ari

    3 bulan lalu

    Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, STT-HKBP, 0812-62472015I. Pamuhai1. Di bona ni ngolu ni Hakristenon di Bonapasogitta, ganup tardidi sasahalak tu bagasan goar ni Debata Sitolusada i, i ma angka na m

  • Jamita Evangelium Minggu XIV Dung Trinitatis, 17 September 2017: Roma 14: 1-12 "Masianjuan di Angka Hagaleon"

    2 bulan lalu

    Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Dosen STT HKBP1. Tibu do tubu huria di jabu-jabu na di Rom, Ibu Kota Kekaisaran Romawi, songon parbue ni ulaon misi pinatupa ni ruas ni huria na mangolu jala martiga-

  • Jamita Evangelium, Minggu XV Dung Trinitatis 24 September 2017: Psalmen 145: 1-8 "Tung So Tardodo do Hatimbulon ni Jahowa"

    2 bulan lalu

    Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, STT HKBPMolo tatatap sian satelit sipitu koma onom milliar jolma na margulmit di portibion, sian angka huta na metmet situtu sahat tu angka kota na balga situtu, di

  • Jamita Evangelium Minggu XXI Dung Trinitatis 5 Nopember 2017: Mika 3: 5-12 Pasombu Jahowa Paturehon Ngolum

    2 minggu lalu

    Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPMansai urgen do jamita na dienet sian buku ni Panurirang Mika di tonga-tonga ni hajolmaon di tingki on, ndang marimbar di tonga-tonga ni huria

  • Ini Jadwal Pesta Akbar Festival Bunga dan Buah 2017 di Danau Toba

    5 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak) :Agenda heboh bakal tersaji di salah satu destinasi prioritas Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Danau Toba, Sumatera Utara. Salah satunya agenda Calender of Event Pariwisata Danau

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online