• Home
  • Opini
  • Ketika DJAROT "Menjual" Pengalaman dan Track Record
Minggu, 15 April 2018 06:35:00

Ketika DJAROT "Menjual" Pengalaman dan Track Record

BAGIKAN:
Ist
Dukungan umtuk Djoss
Oleh: Antoni Antra Pardosi

Strategi memojokkan Djarot Saiful Hidayat sebagai "kandidat import"  pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018 belum kendor. Cap kurang menguasai teritorial  pun masih mengemuka karena ia memang masih pendatang baru di Sumut. 

Nah, menghadapi itu, Djarot yang mantan Walikota Blitar dan Gubernur DKI Jakarta menyikapinya dengan santun. Ia membawa pesan bahwa kepemimpinan modern tidak boleh terjebak pada dikotomi putra daerah dan bukan putra daerah, tetapi menitikberatkan pengalaman, kinerja, serta tata kelola pemerintahan yang baik, amanah, dan bertanggung jawab.  

"Saya lebih berpengalaman. Satu-satunya calon gubernur (di Pilgubsu) yang pernah jadi gubernur, saya! Mungkin orang mengira bahwa Djarot itu lemah lembut. Lembut bukan berarti lembek. Juga bisa tegas. Mereka tahu bagaimana track record Djarot," tegas Djarot.

Kalimat itu dilontarkan Djarot menjawab pertanyaan J Kristiadi yang "menantang" Djarot kenapa dirinya pantas dipilih masyarakat Sumut dalam Pilgubsu nanti.  Dialog tersebut saya kutip dari tayangan Metro TV dalam acara talk show "Kandidat Bicara"  pada Kamis malam, 12 April 208.  Djarot didampingi pasangannya, Sihar Sitorus. Sementara panelis yang diundang terdiri dari  J Kristiadi (pakar politik), Enny Sri Hartati (Direktur Institute for Development of Economics and Finance/INDEF), Yayat Supriyatna (pakar tata kota), dan Usman Kansong (jurnalis senior). 

Dalam acara yang dipandu Zilvia Iskandar itu, keempat panelis dan sang presenter mengangkat berbagai isu hangat seputar Sumut seperti pembangunan infrastruktur, produk sumber daya unggulan, pariwisata, RUTR, dan sektor pengembangan ekonomi lainnya yang dijawab secara normatif oleh pasangan nomor urut 2 itu. 

Pada intinya,  impian besar yang akan diwujudkan pasangan Djarot-Sihar sesuai visi dan misi adalah menjadikan Sumut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Sumatera, meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumut,  meminimalisir korupsi dan pelayanan birokrasi yang semakin membaik, serta menjamin fasilitas kesehatan dan pendidikan dengan mengalokasikan dana yang sebesar-besarnya.

"Penataan birokrasi adalah saya. Pak Sihar akan fokus bidang pengembangan ekonomi," ujar Djarot. 

Keteladanan kepemimpinan dan konsistensi terhadap peraturan juga ditegaskan Djarot jika dipercaya memimpin Sumut.  "Harus konsisten terhadap apa yang direncanakan. Kalau nggak boleh, nggak boleh. Kalau boleh, boleh. Hitam putih saja. Terlanjur? Putihkan! Tidak boleh abu-abu. Kalau di Sumut kita tidak boleh abu-abu," tukasnya. 

Berbekal pengalaman yang matang di ranah eksekutif merupakan hal yang mengemuka dari sosok Djarot dalam menjawab pertanyaan panelis. Terhadap investasi, menurutnya harus diikuti pelayanan yang mudah dan transparan. Seperti di Jakarta, di Sumut akan dibangun "mall pelayanan publik" sehingga pelayanan perijinan yang dikeluarkan pusat, provinsi, dan kabupaten-kota berada dalam satu gedung sehingga menjadi mudah, cepat, dan murah.

Hal lain, yang antara lain juga menjadi perhatian Djarot-Sihar di Sumut adalah membangun stadion serupa Gelora Bung Karno di Jakarta yang memadukan sarana berbagai bidang olahraga sekaligus arena pertunjukan kesenian tradisional. Sarana dan prasana seperti itu, menurut Djarot belum ada di Sumut. 

Sudah jamak diketahui, selain mental korup kalangan birokrat, problem yang tidak pernah menemukan titik solusi di Sumut adalah jaringan infrastruktur jalan yang sangat buruk serta krisis listrik yang terus berkepanjangan. Terhadap infrastruktur jalan provinsi dan jaringannya, menurut Djarot akan dibenahi tuntas dalam waktu 5 tahun. Sementara untuk krisis listrik akan dibereskan dalam waktu 2 tahun. Terkesan bombastis memang, namun itulah jawaban lugas Djarot atas pertanyaan panelis dan presenter. Secara khusus, atas pertanyaan penanganan pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung, Djarot menyampaikan simpati dan akan menanganinya dengan baik.  

Nepotisme dan Premanisme

Sudah menjadi rahasia umum bahwa rekruitmen birokrasi di Sumut sangat buruk karena sering didasarkan pada kesamaan primordial baik suku dan agama. "Residunya masih banyak. Bagaimana cara membereskannya?" tanya salah seorang panelis. 

Menjawab pertanyaan tersebut, Djarot mengatakan pihaknya akan bekerja leluasa karena tidak punya kaitan dan kepentingan di lingkungan birokrasi Pemprov Sumut. Tidak boleh KKN dan musti menghindari praktik suap dalam menentukan suatu jabatan. "Saya bersyukur  karena tidak mempunyai ikatan emosional dengan mereka sehingga mempunyai keleluasan melakukan evaluasi secara objektif," kata Djarot. 

Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa premanisme di Sumut sudah akut, termasuk beberapa OKP yang sering dimanfaatkan kandidat untuk memenangkan pilkada, sebagaimana juga pernah terjadi pada dua pilkada sebelumnya. "Apakah Bapak akan melakukannya?" tanya panelis. Djarot dengan tegas menjawab tidak. 

"Bagaimana mengatasi premanisme untuk menghadirkan rasa aman bagi masyarakat Sumut?" susul panelis tadi.  

Menurut Djarot, negara dan pemerintah tidak boleh kalah dari premanisme, sehingga untuk itu penting diperkuat sinergi antara pemerintah, TNI, dan Polri.  "Premanisme akan berkembang pesat kalau kita tidak tegas dalam menerapkan aturan. Premanisme harus diberantas dengan meningkatkan kesejahteraan dan memberikan lapangan kerja," tandas Djarot.    

Djarot sendiri mengharapkan pilkada yang berkualitas di Sumut sesuai yang telah disepakati bersama dengan pasangan Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah, yaitu tanpa mengeksploitasi SARA dan sentimen identitas, tidak money politic,  serta tidak menyebar hoaks. Ia yakin masyarakat Sumut sudah cerdas dan hidup rukun puluhan bahkan ratusan tahun dalam keberagaman; dan berharap kerukunan itu tidak berujung pada konflik. 

Terlalu "Jawa"

Karena ini bukan debat, sudah barang tentu tanya jawab berlangsung santai. Terlalu kalem, sehingga J Kristiadi di tengah dialog sempat menyebut penampilan kedua pasangan kandidat "terlalu Jawa", kalem-kalem saja, tidak keras padahal ada Bataknya (maksudnya Sihar).

Tampaknya, menjelang debat kandidat nanti pasangan Djarot-Sihar sudah harus pintar-pintar untuk tidak terjebak pada wacana normatif sebagaimana sesekali diperlihatkan Sihar. Djarot sendiri tampil lepas dan lugas. Djarot tampak lebih menguasai permasalahan Sumut meskipun ia adalah "pendatang baru" dibandingkan Sihar.

Bagaimanapun, debat kandidat nanti yang kemungkinan besar akan ditayangkan salah satu stasiun televisi akan memengaruhi perilaku pemilih terutama mereka yang masih ragu menjatuhkan pilihannya kepada kandidat yang mana. 

Selamat berkompetisi.

Tambun, 14 April 2018. Pendukung Djarot-Sihar dari kesunyian.(*)
  BeritaTerkait
  • Ini Pendapat Ephorus Emeritus HKBP Pdt JR Hutauruk tentang Pdt Robinson Butarbutar

    2 tahun lalu

    Sipoholon (Pelita Batak) :<br></br> Emeritus Ephorus HKBP (Periode 1998-2004) Pdt Dr JR Hutauruk meminta kepada seluruh warga jemaat dan para calon untuk tetap menjaga semangat kedamaian serta persatuan HKBP dalam melaksanakan Sinode Godang d

  • Eks TPA Namo Bintang Jadi Taman Agrowisata Pertama

    2 tahun lalu

    Keinginan Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin untuk menyulap eks TPA Namo Bintang menjadi Taman Agrowisata tidak main-main.  Sebagai bukti  keseriusan, Wali Kota  bersama Wakil Wali Kota, Ir Akhyar Nasution MSi bersama unsur Forum Koordin

  • Masalah Narkoba Jadi Salah Satu Pertimbangan Deklarasi Relawan "SOEARA KITA" DJOSS

    7 hari lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Pada hari Sabtu, 14 April 2018 sekitar pukul 10.30 WIB, 'Soeara Kita' Djoss dideklarasikan di Jatiwaringin perbatasan Jakarta dan Jawa Barat.  Deklarasi dibacaka

  • DKI Jakarta : Rumah Kita Bersama

    tahun lalu

    PILKADA serentak tahun 2017 telah terselenggara secara langsung, demokratis, aman, selamat, dan sukses. Penyelenggaraan tahun 2017 ini melanjutkan kesuksesan dan semakin melengkapi keberhasila

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

    9 bulan lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan KeempatJabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet