KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 13 Mei 2017 01:33:00

Jokowi dan HKBP

Oleh: Jonson Rajagukguk
BAGIKAN:
Ist|PelitaBatak
Jonson Rajagukguk

HARAPAN Jokowi agar HKBP menyuarakan semangat pluralisme di negara ini harus kita respon karena memang sudah menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa untuk mendorong kebhinnekaan sebagai anugerah dari Tuhan kepada bangsa ini. Keberagaman NKRI dalam banyak hal adalah kekuatan bangsa untuk mewujudkan pembangunan yang berkeadilan yang sesuai dengan cita-cita Pancasila dan UUD NRI 1945. Apa yang dipesankan oleh Jokowi pada HKBP merupakan bentuk “trust” yang harus dijaga dengan baik sebagai upaya melangsungkan tatanan sosial yang berkeadaban demi tegaknya NKRI. Dalam hal inilah HKBP sebagai organisasi gereja terbesar di Asia Tenggara saatnya melakukan revitalisasi peran dan fungsi bagaimana agar HKBP itu jadi berkat bagi Negara dan dunia dengan menggelorakan semangat kebhinnekaan.  

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Ompui Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing dan teamnya pada tanggal 27/03/2017 bertemu langsung dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara. Banyak yang dibahas oleh Jokowi dan rombongan HKBP, khususnya lagi terkait dengan masalah toleransi beragama di negara Indonesia. Kita tentu sangat mengapresiasi pertemuan ini betapa HKBP dengan jumlah 6000 Gereja diperhitungkan (be calculated) sebagai kekuatan perekat (adhesive force) semua unsur yang berbeda, terlebih lagi toleransi beragama (religious tolerance) di negara kita ini. Harapan Jokowi (hope Jokowi) tentu sama, HKBP harus berperan lebih besar dalam membangun bangsa Indonesia yang sangat plural. Ekspektasi Jokowi kepada HKBP patut kita apresiasi sebagai wujud nyata kepercayaan (concrete manifestation of trust) Jokowi kepada HKBP untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih inklusif (live more inclusive nation). Terlebih visi dan misi HKBP menjadi berkat bagi dunia harus mampu diterjemahkan (able to translate) dalam konteks berbangsa dan bernegara.    

Sebelum berbicara keluar dengan dampak yang sangat besar (garam dan terang) ada kalanya secara internal HKBP harus kuat agar bisa jadi berkat bagi orang lain (dunia). Mengingat HKBP adalah Gereja yang peduli pada kaum miskin, maka kepemimpinan yang dikembangkan di HKBP adalah kepemimpinan  yang punya karakter pastoral (pastoral character), kepemimpinan yang punya visi besar mengenai HKBP, kepemimpinan yang mampu mendorong HKBP sebagai Gereja mitra pemerintah (church government partners) dan mampu menjerjemahkan visi pemerintah kepada jemaat. Tentu harapan itu dengan satu tujuan, HKBP menjadi berkat bagi dunia. Masalahnya apakah secara internal HKBP telah kuat untuk jadi pendorong perubahan bangsa sebagaimana harapan Jokowi kepada HKBP?

Pertanyaan ini tentu sangat relatif dan normatif. Tetapi perlu sebuah pemahaman mengenai kondisi kekinian jemaat HKBP. Mengingat jemaat HKBP mengghadapi juga akan menghadapi peradaban ekonomi baru (MEA dan globalisasi ekonomi lainnya), jemaat HKBP akan menghadapi peradaban digital, jemaat HKBP akan menghadapi peradaban keberagaman agama dan suku sebagai realitas sosial, jemaat HKBP akan menghadapi peradaban politik baru (gelombang demokratisasi) yang kesemuanya itu tentu tidak akan bisa dilepaskan oleh jemaat HKBP.

Masalahnya, bagaimana HKBP secara kelembagaan bisa menuntun jemaat (guided church) ditengah multiperadaban yang makin kompleks sehingga identitas jemaat HKBP tetap dalam kodiror jemaat yang mengemban visi dan misi Tuhan di dunia ini? Inilah tantangan yang aklan dihadapi jemaat HKBP dengan jumlah lebih kurang 4,5 juta jiwa. Dalam alur pemikiran Jokowi, jika HKBP sudah mampu membangun jemaat HKBP ini berarti sudah ikut membantu negara karena jemaat HKBP adalah warga negara juga yang dipimpin oleh Jokowi.  

Barangkali ada pesan khusus Jokowi kepada  Ompui Ephorus HKBP untuk mendorong semua jemaat HKBP jadi warga negara yang lebih berkarakter, berinovasi, dan berkontribusi kepada negara ini, sekecil apapun itu. Untuk itulah HKBP sebagai gereja besar sudah saatnya melakukan beberapa hal menuju penguatan internal yaitu:

Pertama, pemberdayaan dan pengembangan jemaat. HKBP  harus fasih dan lugas menguraikan bagaimana kosep pemberdayaan (empowerment concept) dan pengembangan jemaat (social empowerment), termasuk pemberdayaan Pendeta dengan membuat pelatihan –pelatihan bagi pendeta supaya punya keahlian ditengah jemaat. Konsep pemberdayaan jemaat dengan melihat teori Indeks Pengembangan Manusia (IPM) dimana sektor pendidikan, kesehatan, dan daya beli jemaat (the purchasing power) harus ditingkatkan kalau kita ingin melihat jemaat punya potensi kedepan.

Untuk itu lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan perlu terus dikembangkan dalam tubuh HKBP. Muncul  sekolah tingkat TK, SD, SMP, SMU dan pendidikan tinggi  di HKBP dan harus dikelola dengan profesional bisa menjadi “starting point” dalam pemberdayaan jemaat. Semua itu dilakukan untuk mencerdaskan generasi anak-anak jemaat HKBP.

Kemudian berbagai bentuk penyuluhan kepada petani HKBP perlu dilakukan. Mengingat jemaat HKBP banyak dari kaum tani. Penyuluhan pertanian kepada jemaat sangatlah uregn dan penting. Bagaimana mengelola pertanian yang benar terus dilakukan mengingat mayoritas jemaat HKBP adalah petani. Belum lagi konsep ekonomi kerakyatan. Ketika saudara kita yang beragama Muslim sudah punya Bank Syariah, mengapa kita tidak bisa mengelola sebuah Bank, atau Bank HKBP misalnya? Ini harus menjadi pemikiran.

Kedua, memanfaatkan segala potensi yang ada dalam tubuh HKBP. HKBP harus bisa menguraikan dengan jelas dan mudah dipahami bahwa selama ini potensi HKBP kurang diberdayakan. Padahal banyak jemaat yang punya potensi hebat, baik di bidang ekonomi, politik, hukum, teknologi, yang bisa dimanfaatkan untuk saling menolong dan menguatkan. Konsep pemberdayaan potensi jemaat HKBP tetap dalam koridor pelayanan kepada semua jemaat. Perlu sebuah pemikiran yang baru (new mindset) bagaimana supaya segala potensi dalam HKBP didata, atau dibangun database sehingga ini bisa menajdi modal dasar dalam membangun HKBP.

Ketiga, HKBP harus bisa naik kelas dan jangan lagi tinggal kelas. Kalau HKBP hanya berguna untuk jemaatnya saja ini merupakan kemunduran bagi HKBP. Kedepan HKBP harus mampu mendorong perubahan dimana HKBP juga berguna bagi semua orang (termasuk suku dan agaman yang berbeda), berguna untuk bangsa ditengah masyarakat yang plural. Jemaat HKBP harus berguna bagi umat yang lain. Bagaimana supaya sampai kesana tentu butuh pemikiran yang baru. Maka pembenahan internal yang harus dilakukan sebelum berbicara pada manfaat HKBP bagi umat lain (berkat bagi dunia). HKBP harus mampu mengambil peran strategis peran sentral mendorong keberagaman, toleransi yang tinggi atas dasar kejujuran, mitra kerja bagi siapa saja yang berguna untuk kemanusiaan. Dengan demikian HKBP kedepan akan semakin kuat dan diperhitungkan (punya bargaining posision) dalam pengambilan keputusan dan kebijakan di negara ini. Di Sumatera Utara peran HKBP semakin terpinggirkan, maka perlu membangun jati diri agar dapat menentukan masa depan Sumatera Utara ini dengan segala dinamika yang terjadi.      

Keempat, HKBP harus punya sebuah pemikiran bahwa estafet kepemimpinan di HKBP harus dilakukan dengan baik, baik dalam hal suksesi dan evaluasi. Dengan demikian HKBP bisa jadi ”role model” dalam hal pergantian kepemimpinan. Seorang pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang mempersiapkan pemimpin yang lebih baik dari dirinya dan tahu dia kapan memberikan estafet kepemimpinan kepada yang lain. Kepemimpinan HKBP perlu dipersiapkan dengan baik dan matang melalui proses kaderisasi yang baik dan tepat. Bukan memberikan estafet kepemimpinan perkolegaan atau perkoncoan, ataupun hubungan emosional.

Bagaimana proses melahirkan seorang pemimpin dalam HKBP sudah saatnya melihat pertimbangan kemampuan (capacity), integritas (integrity), kemampuan loby (ability lobby), dan intelektualitas seseorang. HKBP butuh pemimpin yang punya kemampuan membangun dan mempersatukan, dan jeli melihat peluang (alert to opportunities). Dengan kepemimpinan yang visioner (melihat jauh kedepan) maka secara internal HKBP akan kuat. Kita tidak menginginkan unek –unek HKBP sampai ke meja Presiden, tetapi HKBP adalah pemberi solusi kepada negara ini.

Barangkali pesan Jokowi kepada HKBP bahwa HKBP adalah salah satu kontributor pembangunan bangsa saatnya kita tanggapi dengan melakukan pembenahan secara internal. Agar HKBP bisa jadi berkat bagi NKRI dan kehadirannya menjadi garam dan terang bangsa Indonesia, maka HKBP harus mampu mendorong semua jemaatnya berkontribusi bagi bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan yang digeluti oleh jemaat HKBP.
Disamping itu HKBP harus mampu mempelopori perlindungan kepada keberagaman bangsa sebagai aset dan anugerah Tuhan yang sangat besar. Kemudian memberikan masukan –masukan dalam bentuk kajian komprehensif mengenai hubungan agama dengan negara, harmoni sosial, penyelamatan lingkungan hidup, dan berbagai masukan lainnya.

Kita sangat bersyukur Jokowi menerima HKBP dan mari kita jadikan ini sebagai modal sosial dan spirit untuk berkontribusi bagi bangsa ini. Dengan demikian kehadiran HKBP sebagai berkat bagi dunia, sebagai turunan garam dan terang dunia bisa terwujud. Sekali lagi, Jokowi sangat berharap kepada HKBP dan harapan itu bisa kita wujudkan dengan baik. Hanya saja catatan yang perlu kita pahami bersama HKBP harus berubah. Berubah dalam arti mampu mengantisipasi hal –hal baru demi sebuah kemajuan. Dan kita memang harus tertantang untuk itu. Jokowi sudah memulianya kepada HKBP. Bagaimana kita menyikapinya dengan baik dan bijak adalah tugas kita bersama.***

Penulis adalah :Jemaat HKBP Koserna Medan dan Pengajar Tetap FISIP Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan/ Kaprodi Ilmu Administrasi Negara 

  BeritaTerkait
  • Jamita Evangelium: Roma 12: 9-21, Minggu XII Dung Trinitatis 3 September 2017: Parbuehon Haporseaon Ganup Ari

    tahun lalu

    Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, STT-HKBP, 0812-62472015I. Pamuhai1. Di bona ni ngolu ni Hakristenon di Bonapasogitta, ganup tardidi sasahalak tu bagasan goar ni Debata Sitolusada i, i ma angka na m

  • Bima Sakti Simanjuntak Pimpin N4J Tobasa

    3 bulan lalu

    Balige (Pelita Batak):Ketua Umum DPP Nusantara Untuk Jokowi (N4J), Dr RE Nainggolan MM melantik dan mengukuhkan kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) N4J Kabupaten Tobasa, Jumat (24/08/2018). Selur

  • Ketua FKW HKBP Jumongkas Hutagaol Prihatin Gerakan Calon Ephorus

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Ketua FKW (Forum Keprihatinan Warga) HKBP Jumongkas Hutagaol menyatakan keprihatinannya tehadap situasi saat ini di HKBP, khususnya menjelang Sinode Godang HKBP pada tanggal 12-18 September mendatang. Dia menyesalkan gerakan para c

  • Pertemuan Pendeta dan Peserta Sinode Godang HKBP dengan Plt Bupati Tapteng, Dipertanyakan

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Mantan Sekretaris DPD GAKMI-Sumut (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia-Sumatera Utara), Drs Gandi Parapat meminta pemerintah agar pelaksanaan Sinode Godang (SG) Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) berjalan aman dan sukses sesu

  • Sekum PGI Pilih Calon yang Muda dan Memiliki Spritualitas Tinggi

    2 tahun lalu

    Sipoholon Pelita Batak: Sekretaris Umum (Sekum) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom MTh  mengimbau peserta Sinode Godang HKBP memilih pimpinan yang spritualitasnya ti

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb