KSP Makmur Mandiri
Jumat, 06 April 2018 08:24:00

Jalan Dengan Segala Aspeknya

BAGIKAN:
Ist
Ronsen Pasaribu
Oleh: Ronsen Pasaribu

Ingin tahu, kita bicarakan ihwal pentingnya pengaturan jalan bagi manusia.

Jalan ya jalan. Tanpa butuh definisi, kita paham apa arti jalan. Hanya ada yang membedakan istilah di berbagai daerah atau setidaknya pengklasifikasiannya berbeda-beda, sesuai fungsinya sendiri. Misalnya, saya teringat cerita lucu tapi nyata saat test masuk Perguruan Tinggi dan karena jawaban itu diterima masuk perguruan tinggi. 

Dialah  Abang Elman Saragih , yang kita kenal Wartawan senior di Metro TV,  suatu ketika ditanya oleh bapak penguji J.Sardi, "coba sebutkan jenis-jenis pasar". Dijawab, pasar hitam sebagaimana istilah di Sumatra untuk penamaan sebuah jalan. Haha, begitu jalan hitam ternyata digunakan untuk transaksi jual beli sehingga dikaitkan dengan teori jenis pasar, ada pasar bebas dimana permintaan dan penawaran tanpa ada intervensi dari pemerintah.

Jalan yang dikenal umum, jalan negara, yang menghubungkan antar Propinsi dengan Propinsi lain sehingga Indonesia tersambung tanpa terputus, kecuali jalannya longsor, untuk perawatannya bersumber dari APBN oleh Kementerian PU dan Perumahan. Ada Jalan Propinsi, yang dikelola oleh Gubernur, menghubungkan Kabupaten dengan Kabupaten/Kota dengan fungsi yang sama. Ada juga dikenal Jalan Desa, menghubungkan lokasi satu dengan lainnya. Ada lagi jalan buntu atau gang buntu, menjelaskan berakhirnya sebuah jalan. 

Kita kenal juga nama jalanpada zaman penjajahan, yaitu "brandgang" yang menjelaskan fungsi jalan antar rumah namun bisa dilewati mobil untuk pemadan kebakaran jika terjadi peristiwa kebakaran. Tidak boleh terhambat, maka jika perumahan jaman Belanda, selalu tersedia brandgang yang memadai. Masih jaman Belanda, dikenal jalan inspeksi, jalan paralel di pinggir jalan yang gunanya khusus untuk inspeksi kalau terjadi banjir atau pengangkut sampah bisa melewati jalan isnpeksi. 

Masih jenis jalan, kita kenal juga pedestarian, jalan khusus pejalan kaki harus terbebas dari segala kenderaan bermotor, baik roda dua dan roda empat  serta fasilitasnya pun disesuaikan sebagus mungkin agar aman dan berdampak pada keamanan dan kesehatan. 

Begitu beragamnya jenis jalan ini, ternyata sangat penting bagi kehidupan manusia itu sendiri, jika tidak diatur maka akan terjadi kesemrawutan. Sampai dibuat regulasi khusus soal jalan. Kita lihat, pemberian jalan harus dengan Perda, biasanya diberikan nama pahlawan. Tidak ada jalan yang tidak punya nama bahkan penulisannya juga dengan tulisan daerah yang berkebumian. 

Rambu lalu lintas, mengatur arus jalan, boleh berjalan sebelah kiri, tidak sebelah kanan seperti di Eropah. Guna tertib, dibuat rambu jalan, yang disiapkan Pemda setempat. Kapan lambat, kapan cepat dengan ukuran kilometer supaya pengguna lainnya waspada, kapan berhenti, kapan boleh parkir, kapan tidak boleh parkir. Rambu lampu dengan simbol merah,kuning , hijau pun menjadi bagian bahasa simbol hukum bagi sebuah jalan, jika dilanggar bisa nyawa taruhannya.

Begitu juga, apabila ada persilangan jalan antara dua atau lebih moda yang berbeda, juga disepakati aturan main yang sudah menjadi budaya sejak dahulu kala seperti zebra cross hati-hati dan pelan-pelan ada pejalan yang menyeberang,  ada anak-anak lewat. Zebra corss untuk persilangan kereta api, ini lebih galak lagi, ada petugas khusus membuka tutup plang jika kereta lewat, dimana harus diprioritaskan kereta apilah yang harus lewat dahulu. Walau sudah ada yang jaga, toh sering sekali mobil tidak waspada terjadi tabrakan antara kereta api dengan mobil.

Lalu lintas dijalan ini menjadi lebih komplek kalau pengguna jalan tidak tertib. Semua orang menggunakan jalan untuk menuju tujuan masing-masing, saking sulitnya maka pemerintah membuat bermacan rekayasa atas lalu lintasnya. Jika penumpukan terlalu banyak maka dibuat kebijakan Gangen, nomor ganjil untuk tanggal ganjil, nomor genap untuk nomor genap. 

Berbagai negara menerapkan ini. Jakarta, menerapkan jalan berbatas untuk Bis Trans Jakarta yang tak boleh lainnya jika tidak mau ditilang dengan tarif mahal. Jika di Surabaya, jalan berbatas untuk sebelah kiri sepeda motor sebelah kanan kenderaan roda empat. Ada aturan memakai dengan  indikator waktu juga, kapan boleh lewat kapan tidak boleh. Begitu ruwetnya jalan di Indonesia ini, berbeda dengan di luar negeri.

Indonesia, kemacetan sering terjadi karena ketidakmampuan pengguna taat pada rambu. Bahkan sampai dibangun "patung polisi" bahkan polisi tidur. Ini pertanda rendahnya kesadaran hukum dijalan raya, pengguna taat kalau secara kasat mata melihat ada polisi. Begitu juga, kemacetan ini dipengaruhi dengan parkir sembarangan. Tempat parkir kadang tidak tersedia sehingga parkir disembarang tempat bahkan ditempat yang terlarang sekalipun. Polisi cepek, swasta, preman, sukarelawan tanpa digaji pemerintah muncul juga mengatur lalu lintas. Campur baur inilah pemandangan di Indonesia. 

Luar negeri, terbalik, tak ada seorangpun tampak polisi yang mengatur lalu lintas. Hal ini karena kesadaran pengguna sudah tinggi. Semua secara otomatis diatur oleh rambu lalu lintas. Lihatlah Singapura, Jepang ada sebuah persimpangan lima sebagai jalan terramai di dunia, semua bisa bergerak bebas tanpa ada yang bertabrakan dengan tingkat kecelakaan nihil. Petugas datang tanpa pakaian dinas yang mencolok kalau terjadi sebuah insiden dijalan. Tidak semuanya persil dipinggir jalan boleh keluar akses langsung ke jalan utama, sebab akan berpengaruh pada lalu lintas. Harus mutar jauh, untuk bisa masuk ke badan jalan padahal jalan persis didepannya. Bandingkan di kota Indonesia, setiap rumah dipinggir jalan, sejumlah rumah itu boleh lansung ke jalan. Pasti laju kenderaan diperlambat, karena antisipasi ada masuk ke jalan raya. 

Pemanfaatan jalan atas sumber kehidupan masarakat sangat tinggi, maka mengaturnya menjadi sulit bila pengawasan tidak tegas. Kaki lima, sebenarnya pedagang informal yang menggunakan jalan hanya jika mendekati calon pembeli. Tidak perlu diatur, karena sifatnya melanggar aturan. Adalah salah jika jalan malah diresmikan untuk kepentingan pedagang kaki lima ini, bertentangan dengan undang-undang jalan. Hanya dimungkinkan dengan kewenangan dekresi oleh Kepolisian dengan pertimbangan keamanan tertentu misalnya menutup karena ada upacara, ada demo, ada hajatan keluarga tidak mampu. Ini sifatnya sementara, jika selesai harus dikembalikan lagi. Contra flow, misalnya dikenal bila jam jam tertentu, arusnya sangat padat semenara sebelahnya kosong, maka lagi lagi kewenangan diskresi kepolisian merekayasa jalan dimungkinkan.

Kaitan jalan dengan Tata Ruang juga perlu kita bahas. Tata Ruang yang detail atau DTRK (Detail Tata Ruang Kota), telah mampu memberikan deleniasi atau garis detail batas jalan bahkan sempadan jalan. Peringatan kepada pengambil kebijakan, mana batas yang boleh ditetapkan hak privat seperti sertipikat, mana yang wajib disisakan untuk rencana kepentingan umum. Negara berwenang menetapkan batas itu tanpa boleh penyimpangan. Perda itu ibarat conductor yang wajib diikuti. Jika dilanggar akan kena sanksi pidana. Ketentuan akibat pemberlakuan DTRK adalah bila lahan publik masuk fasilitas umum, maka pemerintah wajib membebaskan dengan ganti rugi. Hak Atas Tanah pun, sepanjang sempadan jalan tidak boleh diberikan Hak Atas Tanah, misalnya Hak Milik, HGB atau Hak Pakai. Sebab, jenis hak itu mengikuti penggunaan haknya seperti HGB yaitu hak mendirikan bangunan, atau hak memakai untuk Hak Pakai atau Hak terpenuh jika Hak Milik. 

Lebih jelas kita saksikan di pinggir sungai Ciliwung misalnya. Ijin tak boleh terbit di bibir sungai, jalan inspeksi, karena sempadan sungai sudah ada ketentuannya berapa meter yang boleh dan yang tidak boleh dibangun. Biasanya tidak linear, dihilir sungai misalnya sempadan lebih luas dengan mempertimbangkan jika ada luapan banjir di hilir lebih banyak jumlah air meluap katimbang di hulu dimana debit air masih sedikit. Kalau toh ada sertipikat yang terbit, kemungkinannya statusnya bukan tanah negara tapi tanah adat (girik), namun di atasnya tak boleh ada IMB. Sifat tanah negara adalah prioritas hak diberikan kepada Pemerintah. Harus ditanya terlebih dahulu, mau bangun apa dilokasi tanah negara itu? Adakah rencana fasum atau tidak. Jika sempadan, maka garis itulah yang otomatis jawaban boleh tidaknya diberikan hak atas tanah. Tanpa pertimbangan Dinas Perencanaan Kotapun sudah harus dipotong, tak boleh diukur oleh petugas ukur. Seumpama, sempadan belum dibebaskan, maka silahkan dipakai asal tidak menyentuh sempadan jalan atau sungai.

Bahasa alam yang harmonis, harus ditangkap oleh kita manusia. Jangan melawan alam. Tepatlah pepatah orangtua, jika takut dihantam ombak, jangan dirikan rumah dipinggir pantai. Jika takut banjir jangan dirikan rumah dipinggir kali. Semua sudah diatur penggunaan dalam Tata Ruang. Jika lahan miring, apalagi diatas 45 derajat lebih pada tanah serapan air. Maka tak boleh dibangun jalan dan gilirannya didirikan bangunan. Sebab, biasanya jalan terlebih dahulu baru diikuti bangunan.

Jadi, bicara jalan ini ternyata sangat banyak kaitannya terutama kepada penggunaannya. Oleh karena itu, perilaku disiplin pengguna jalan yang diutamakan kemasa depan supaya tidak terjadi kecelakaan, dan arus kendeaan boleh berjalan dengan tertib dan selamat. Rambu-rambu jalan, baik untuk kecepatan, tonase berat, lampu lalulintas, harus kita tempatkan sebagai Undang-undang yang wajib dipatuhi. Semakin banyak bersentuhan dengan petugas semakin "tidak" baik. Apalagi berdebat dengan polisi atau KKN adalah sikap tidak terpuji jika ada pelanggaran. Patung polisi, polisi tidur dan rekaman speaker yang memekakkan telinga itu sejatinya tidak diperlukan bila budaya lalu lintas kita patuhi. Budaya menghargai nyawa, jauh lebih penting ketimbang kita berperilaku ngawur di jalanan dengan kebut-kebutan, karena itu kebrutalan yang mengancam keselamatan pengguna jalan lain.(Ketua Umum FBBI)
  BeritaTerkait
  • Pembangunan Danau Toba Tak Boleh Hilangkan Budaya Batak

    2 tahun lalu

    Geliat pembangunan di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara, mulai terlihat sejak 2016. Kala itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 49/2016 tentang Badan Otorita Pengelola Danau Toba tertanggal 1 Juni

  • Spontanitas Bunga dan Lillin Penuh Makna Untuk Ahok

    2 tahun lalu

    Berawal  dengan karangan bunga yang penuh dengan cinta dan kasih, kemudian muncul gerakan seribu lilin untuk Ahok sebagai ungkapan yang penuh dengan cinta dan kasih atas apa yang dialami oleh

  • Hebat.....Putra Batak Rikoh Manogar Siringoringo Jadi Pembuka Jalan Selam Ilmiah

    2 tahun lalu

    SETELAH puluhan tahun berlangsung di Indonesia, kegiatan penyelaman ilmiah mulai mendapat jalan untuk proses standardisasi. Pembukanya adalah Rikoh Manogar Siringoringo, orang Indonesia pertama yan

  • Bishop GKPI Resmikan Koordinasi Wilayah VII untuk Dukung Perayaan Natal Nasional di Doloksanggul

    2 tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Bishop GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) Pdt Oloan Pasaribu MTh meresmikan wilayah VII yang meliputi Humbang Hasundutan - Tobasa – Samosir, dan sekaligus m

  • Perayaan Paskah Oikoumene Umat Kristiani Sumut Tahun 2017 di Rumah Persembahan

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Perayaan Paskah mengandung makna yang religius bagi umat kristiani yaitu merupakan hari kemenangan bagi orang yang percaya kepadaNya sebagai Juru Selamat. Demikian sambutan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb