• Home
  • Opini
  • Dibalik Pidato Perdana Gubernur DKI Jakarta yang Mengutip Umpasa Batak
KSP Makmur Mandiri
Kamis, 26 Oktober 2017 09:48:00

Dibalik Pidato Perdana Gubernur DKI Jakarta yang Mengutip Umpasa Batak

BAGIKAN:
Ist
Master P Batubara
Oleh  Master P Batubara, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisipol Unja

Jakarta sebagai pusat peradaban, menyimpan berbagai latar belakang sejarah, berperan sebagai pusat perekonomian dan juga pemerintahan  serta banyak hal lain yang menjadikan Jakarta disebut sebagai barometer. Situasi politik di Jakarta baru-baru ini bisa menjadi snowball ke seantero nusantara. Pemilihan orang nomor satu di provinsi tersebut menjadikan  rakyat terpolarisasi. 

Provinsi dengan anggaran terbesar di Indonesia ini tidak lepas dari pemberitaan, bumbu-bumbu aneka peristiwa. Di Pilkada menjadi santapan empuk media untuk dihidangkan ke masyarakat. Proses demokrasi telah usai, pemimpin barupun telah dilantik, serah terima jabatan telah dilakukan meskipun tidak dihadiri oleh yang sebelumnya menjabat sebagai gubernur yang memilih untuk memperhatikan provinsi lain dengan alasan liburan, ditambah lagi pengakuan tidak dapat undangan. 

Hal ini tentunya menjadi sebuah keganjilan di tengah masyarakyat yang sudah semakin dewasa dalam berpolitik. Panasnya politik mestinya telah usai sejak KPU mengumumkan siapa yang terpilih dari ke 3 kandidat calon yang terpilih. Polarisasi  di masyarakyat harusnya telah tidak ada lagi, tugasnya adalah merajut Jakarta kembali. Dengan berbagai kebijakan untuk mencairkan suasana, kiriman karangan bunga juga sudah menghiasi pelantikan gubernur, sebagai pertanda menerima dengan bahagia sebagai gubernur terpilih.

Untuk pidato politik perdana dari gubernur pun menuai kontroversi dari masyarakat. Mereka memperbicangkan hal yang sama berbagai unggahan di media sosial, berbicara tentang pidato gubernur yang  baru dilantik, penyebutan kata pribumi dan tuan rumah menjadi ulasan dan juga perhatian banyak kalangan di netizen.  Hal ini dikarenakan adanya suatu larangan tentang penggunaan kata "pribumi" sebagaimana tertera dalam Instruksi presiden nomor 26 tahun 1998 yang berbunyi " menghentikan penggunaan istilah pribumi dan non pribumi dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan, perencanaan program, ataupun pelaksanaan kegiatan penyelenggaran pemerintahan."

Adapun bagian yang menarik untuk dibahas bukan hanya perkataan istilah pribumi. Ada sisi lain yang bagi penulis, menjadi sebuah tanda tanya. Hal ini wajar saja dikarenakan gubernur sekelas ibukota negara yang berbicara.  Titik dan koma menjadi perhatian rakyatnya. Hal yang menarik tersebut adalah ketika Sang Gubernur dalam awal-awal pidatonya berkata "holong manjalak holong, holong manjalak domu". Bagi kalangan Batak, pepatah ini sangat lazim digunakan dan kalimat ini pun menjadi lirik dari sebuah lagu populer di masyarakat Batak. Karena selain ungkapannya yang menarik dan gampang diucapkan diikuti lagi dengan makna dari pepatah tersebut yang berorientasi kepada kasih sayang .

Terlihat bahwa ungkapan itu bukanlah merupakan spontanitas dari gubernur yang baru dilantik, karena melihat lembaran yang dipegang dalam mimbar, artinya sengaja diucapkan untuk warga Jakarta.  Dalam menggunakan bahasa Batak tersebut, tentunya Anies telah menakar apa yang menjadi akibat dari kalimat demi kalimat yang akan dibawakan pada saat pidato perdananya,  tidak terkecuali perihal peristilahan kata pribumi yang menjadi dianggap controversial. Tetapi penulis tidaklah ingin membahas bagian yang dianggap kontroversi tersebut melainkan pepatah Batak yang menjadi perajut perdamaian dalam pidato tersebut dikarenakan penulis bersuku Batak.

Dilihat dari Wikipedia bahwa penduduk DKI- Jakarta jika dihitung berdasarkan etnis maka akan terlihat bahwa persentasenya menunjukkan  Jawa(35,16%) Betawi (27,65%), Sunda (15,27%) Tionghoa (5,53%) Batak (3,61%) Minang Kabau(3,18%) Melayu (1,62) Bugis (0,59%) Madura (0,57%) Banten (0,25%)  Banjar (0,1%) dll. 

Dengan melihat suku batak yang hanya barada di kisaran 3%  dan tergolong jumlah yang sangat sedikit, menimbulkan suatu pertanyaan mengapa bahasa dari suku  ini yang kemudian digunakan sebagai pepatah perdamaian tersebut? Sementara Jawa memiliki pepatah yang sangat banyak, dan mengapa juga tidak menggunakan pepatah Betawi yang digunakan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah tuan rumah bagi DKI Jakarta?

Semuanya itu  punya makna tersendiri yang bisa jadi hanya gubernur tersebutlah  yang tahu, dan penulis sebagai masyarakat hanya bisa memberikan prediksi. Ada beberapa kemungkinan yang menjadikan alasan bagi gubernur menggunakan bahasa tersebut. Pertama, bahwa rival politiknya sebut saja Ahok, didukung oleh beberapa tokoh politik yang mempunyai suku Batak, sehingga bentuk penghargaan ataupun sindiran dapat digunakan dengan bahasa tersebut. Apalagi didalam kampanye sebelum pemilihan juru bicara Ahok itu adalah orang Batak. Yang sangat optimis dukungannya akan menang.

Hal lain yang mendasarinya bisa jadi karena sebentar lagi jutaan pasang mata akan mengarah kepada Jokowi sebagai presiden yang akan mantu dengan anak Medan dari etnis "Batak". Bisa jadi hal ini adalah pemicu. Tentunya Jokowi sebagai presiden yang ditambah lagi dengan putrinya yang akan menikah dengan suku Batak, bisa jadi akan semakin peka dengan pepatah-pepatah yang dimiliki oleh Batak itu sendiri. Selanjutnya adalah bandara internasional yang baru akan diresmikan langsung oleh Presiden di Tanah Batak, yang bernama Bandara Silangit demi menunjang progres dari pariwisata. 
Ditambah lagi semakin seringnya Presiden ke Tanah Batak itu sendiri, menjadikan bahasa ini semakin akrab ditelinga para elite politik kita saat ini. Menjadi pejabat publik, terutama yang diperoleh melalui proses demokrasi, tentunya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi pemimpin. Amanah yang diberikan masyarakat, mewajibkannya punya tanggung jawab penuh bagi masyarakat yang diperintahnya, tetapi bilamana pemimpin amnesia akan janjinya dan hanya pandai dalam retorika apa nasib masyarakatnya?  

Sebab Ttugas pemimpin bukan mengirimkan ratapan, tapi mengirimkan harapan, pesan tersebut juga merupakan pesan dari Gubernur DKI saat ini sebelum berstatus nomor satu di provinsi DKI. Lembaran baru sudah dimulai Anies Sandi telah mulai bekerja, masyarakat tentu saja mengharapkan pemerintah akan memenuhi janji politiknya, bukan sekedar janji tetapi itulah kewajiban bagi pemimpin. Saat ini DKI- Jakarta semoga tidak hanya batu loncatan bagi pemerintahan yang ada untuk menyusuri Pemilihan Presiden d itahun 2019. 

Apa yang terjadi di Jakarta kini dan nanti, akan diketahui oleh masyarakat sebelum rencana pemindahan ibukota negara direalisasikan. Semua hal tersebut memang terjadi di Jakarta, pesona ibukota sebagai central segala hal menjadikannya tidak luput dari liputan media, efek yang ditimbulkan juga tidak jarang memberikan polarisasi dan kerap juga memberikan rasa peduli dari seluruh warga negara. Jakarta sebagai barometer harus mampu menunjukkan eksistensinya dan membuat seluruh warga Indonesia berbangga akan adanya monumen nasional. 

Selamat bekerja Gubernur yang baru DKI- Jakarta, masyarakat ingat sekali akan janji-janji jadi tolong dipenuhi, supaya maju kotanya, dan bahagia warganya.(*)
  BeritaTerkait
  • Ini isi Lengkap Nota Keberatan Ahok di Pengadilan

    2 tahun lalu

    Jakarta Pelita Batak): Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yang saya muliakan, Sdr. Jaksa Penuntut Umum yang saya hormati, Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang saya hormati, &

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Ketua WIEF Foundation Tun Musa Hitam Menutup Perhelatan WIEF ke-12 di Jakarta

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): World Islamic Economic Forum ke-12 resmi ditutup, Kamis 4 Agustus 2016, oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani dan Ketua WIEF Foundation Tun Musa Hitam. Forum

  • Inilah Petunjuk Tentang Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi di Pemprov dan Pemkab

    2 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Asman Abnur pada 20 September 2016 lalu telah menandatangani Surat Edaran (SE) Nomor B/3116/M.PANRB/09/2

  • Jelang 2 Desember, Ormas Islam Gelar Konsolidasi

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Ratusan perwakilan organisasi kemasyarakatan melakukan konsolidasi menjelang Aksi Bela Islam III pada 2016. Konsolidasi ini diadakan di Masjid Agung, Jalan Diponegoro, Medan, Jumat (25/11/2016). Sejumlah ulama dan perwakilan ormas me

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb