• Home
  • Opini
  • Demonstrasi Ricuh, "Kemerosotan Moral Mahasiswa"
KSP Makmur Mandiri
Kamis, 26 Oktober 2017 09:47:00

Demonstrasi Ricuh, "Kemerosotan Moral Mahasiswa"

BAGIKAN:
Ist
Master P Batubara
Oleh  Master P Batubara, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisipol Unja

Tepat di bulan Oktober, pemerintahan Jokowi-JK memasuki usianya yang ketiga tahun, ada beberapa cara yang diambil  oleh warga menanggapi perjalanan roda pemerintahan yang berjargon revolusi mental ini. Ada yang melakukan demonstrasi dan ada juga yang menyatakan dukungannya untuk Jokowi dua periode. Hal ini secara bersamaan dilakukan pada hari yang sama pada 20 oktober di ibukota.

Pada tanggal 20 oktober, penulis berada di ibukota negara.  Pesona memukau dengan gedung  yang menjulang tinggi dan taman yang tertata rapi serta kemacetan telah mulai terurai dengan baik.  Kementerian Riset Teknologi , dan Pendidikan  Tinggi pun yang dituju oleh penulis tidak jauh beda terlihat jalanan  ramai lancar, karena aksi demonstrasi tidak ada ketika itu masih pagi hari.

Setelah menjelang siang hari penulis bertolak dari gedung kementerian, dan mengalami yang namanya kemacetan yang sangat parah. Petugas mengalihkan kendaraan ke arah jalan yang lain, yang membuat perjalanan semakin jauh. supaya tidak terkena dengan aksi demonstrasi, sehingga beberapa ruas jalan terpaksa ditutup.

Adapun yang penulis lihat dalam aksi demonstrasi tersebut adalah para mahasiswa dengan memakai jaket almamater masing-masing, yang dilengkapi dengan atribut berupa spanduk yang bertuliskan kritikan terhadap Jokowi-JK  dan ada juga yang menuliskan turunkan pemerintahannya. Hal tersebut mewarnai aksi demo dalam menanggapi aksi 3 tahun pemerintahan Jokowi JK.
 
Aksi demo, kerap menjadi ricuh ketika aspirasi seperti tidak terakomodir, demonstrasi yang berorientasi terhadap penyampaian aspirasi pun kadang kala menjadi baku hantam. Tetapi jika dilihat secara langsung bahwa demo yang terjadi,  yang ikut serta adalah kebanyakan mahasiswa seperti pada tanggal 20 Oktober yang ditandai dengan balutan almamaternya. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah mahasiswa sekarang telah merasa hebat sekali dengan kondisinya untuk melihat negara ini? Apakah korlap yang berorasi untuk menyampaikan aspirasi  pada saat aksi demonstrasi telah mengganggap dirinya menjadi dewa pelindung bagi negara ini?  

Kebanyakan saat ini,  adalah ketika berpikiran bagaimana untuk dimajukan. Sehingga mendesak pemerintah supaya mengikuti apa yang menjadi kemauan dari para pendemo. Karena tidak ada ukuran bagi yang menyaksikan demo itu apakah murni untuk kepentingan rakyat atau hanya demo pesanan. Jika mahasiswa mau memajukan negara ini tentunya tidak usah aksi demo seperti yang terlihat di media sampai merusak fasilitas umum. Belum lagi harus ada yang berurusan dengan pihak kepolisian. 

Cukup menjunjung tinggi dan mengamalkan  Tri Dharma perguruan tingginya, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakyat. Jika peran dari mahasiswa kuat dalam hal ini, kata maju akan segera disandang oleh negara ini.

Dapat dipastikan ketika terjadi demo, maka akan banyak roda perekonomian yang akan terhalang yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kerugian. Apakah mahasiswa berpikir ketika telah melakukan aksinya pada saat demo membakar ban di jalan raya, pada saat bersamaan orang sakit yang akan dirujuk ke rumah sakit harus meninggal di jalan karena terperangkap kemacetan?  Apakah membayangkan berapa banyak orang yang harus terlambat bekerja dan harus mendapatkan sanksi karena aksi unjuk rasa tersebut? Apakah mahasiswa tahu jika demo dilakukan, berapa banyak  kerugian akibat demonstrasi yang digelarnya?

Integritas  mahasiswa diuji di sini, mahasiswa harus bersikap idealis tapi tidak harus menjadi parlemen jalanan, mahasiswa harus aktivis, tapi tidak usah mengemis.  Tanggal 20 oktober, sebuah spanduk terlentang di Jakarta yang berisikan demo 20 Oktober pesanan politisi, jika ini benar di mana letak idealisme dari mahasiswa yang merasa bangga berada di atas mobil dengan bak terbuka? Memegang toa dan juga mikrofon dengan bunyi membelah langit?

Hal ini perlu menjadi suatu pengkajian bagi masyarakat, terutama mahasiswa yang menyatakan dirinya sebagai mahluk cerdas yang dikatakan juga dengan insan intelektual. Pertanyaan selanjutnya adalah di mana   letak sesungguhnya kecerdasan dari mahasiswa itu sendiri? Apakah mereka hanya diajari untuk mengkritisi tanpa mampu memberi solusi? Sepertinya tidak!

Yang mau dipikirkan oleh Jokowi bukanlah hanya bagaimana Presiden bisa jalan-jalan, meresmikan sesuatu setiap kali kunjungan kerja, mempertahankan dukungan dari partai untuk Pemilu Presiden 2019 juga  bukan?  Tidak hal  itu melainkan Kepala Negara bergerak terus sampai  ke ujung pelosok negeri, memantau langsung situasi dan kondisi. Berjalan bersama menteri di kala senang dan susah pemerintah, menyusuri gunung dan lembah untuk melihat langsung realita secara nyata.

Papua disambangi, Aceh dikunjungi, Sumatera disinggahi, Kalimantan  dipantau, bukan hanya jarak jauh tapi sampai tepat di posisi sasaran. Begitu juga dengan daerah lain. Pernahkah terbayangkan oleh mahasiswa bagaimana menyeimbangkan dan menjalankan pemerintahan sekelas Presiden? Yang memegang pucuk pimpinan di bumi pertiwi ini yang sangat luas dan juga berbeda-beda antar daerah? Jangankan membayangkan presiden, seorang kepala daerah atau gubernur saja sepertinya jarang. 
Andaikan itu terbayang maka aksi demo itu akan minim, dan bisa jadi nihil, pernahkah membayangkan bagaimana cara untuk bisa mengorganisir itu semua oleh pemerintah? Pertanyaan ini bagi mahasiswa yang sering demo, biasanya yang sering dijuluki aktivis istilah kerennya bagi mahasiswa hal ini adalah anak organisasi. Sudahkah organisasi yang Anda ikuti ataupun Anda ketuai wahai mahasiswa sudah berjalan sesuai dengan visi misi? Atau tanpa pernah melakukan yang namanya korupsi? Serta tak pernah menggunakan jabatan anda untuk menjilat penguasa yang  di atas kalian? 

Kalau sudah sesuai dengan teori kepemimpinan yang baik, maka siapkan dirimu untuk menjadi punggawa di masyarakat. Sudah saatnya unjuk rasa tidak lagi dibudayakan,  Tantangan d idepan mata tidak butuh leha-leha. Masalah dapat selesai bukan hannya karena demonstrasi. Globalisasi perkembangannya semakin pesat, sampai kapan Indonesia akan seperti ini? Jika mahasiswa hanya mencari kesalahan tanpa pernah apresiasi akan sebuah prestasi, maka rusaklah moral anak bangsa ini. Mahasiswa yang diharapkan sebagai agen perubahan dan juga pembawa perubahan perlu untuk membenahi diri dengan berbagai kemampuan, dunia semakin cepat berubah, perubahan sosial setiap saat terjadi.(*)
  BeritaTerkait
  • Berikut Refleksi Penegakan Hukum Tahun 2016 Menurut Lembaga Pelayanan dan Bantuan Hukum Yayasan Komunikasi Indonesia

    2 tahun lalu

    Jakarta Pelita Batak): Lembaga Peyananan dan Bantuan Hukum (LPBH) Yayasan Komunikasi Indonesia menyebutkan sepanjang tahun 2016, banyak kasus hukum yang menarik perhatian publik. Penegakan hukum di

  • Firman Jaya Daeli Bersama Ketua NU Bahas Pancasila dan NKRI di Mataram

    2 tahun lalu

    Mataram(Pelita Batak): Forum Dialog Terbuka yang bertemakan "Silaturahim Kebangsaan : Membumikan Pancasila Dan Menjaga NKRI", digelar di Mataram - Lombok - Nusa Tenggara Barat / NTB.

  • Pengembangan Kepulauan Nias Dan Pembangunan Kawasan Strategis di Indonesia

    6 bulan lalu

    Oleh : Firman Jaya Daeli Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan Indonesia Raya dengan ideologi Pancasila, yang dapat diletakkan dan dipetakan dalam beberapa pertimbangan. Indonesia R

  • Urgensi Partisipasi elemen Organisasi Sosial dan Politik dalam Demokrasi

    5 bulan lalu

    A. PendahuluanManusia hidup dengan membangun peradaban dunia agar ia mampu mempertahankan kehidupannya di muka Bumi ini. Cara mempertahankan manusia tersebut berbeda-beda tergantung tingkat pemahaman

  • Frietz Tambunan Pimpin Unika St Thomas Medan

    2 tahun lalu

    Pengurus Yayasan Universitas Katolik (Unika) Santo Thomas Medan, Dr Cosmas Batubara melantik Rektor Unika St Thomas Medan periode 2016-2020, Dr Frietz R Tambunan,Pr, Senin (18/7/2016) di Bina Media Hall Komplek Kampus Unika St Tomas Medan Jl Setia Budi

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb