• Home
  • News
  • YPKB Gelar Pollung na Marimpola di Medan
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 22 Juni 2019 20:30:00

YPKB Gelar Pollung na Marimpola di Medan

BAGIKAN:
IST|pelitabatak
Kegiatan "Pollung na Marimpola" YPKB di Rumah Budaya Tonggo, Medan, Jumat 21 Juni 2019, menghadirkan pembicara Prof. Dr. Albiner Siagian, Jim Siahaan, Manguji Nababan dan moderator Dian Purba.
Medan (Pelita Batak):
Bagaimana Batak dulu, kini dan masa depan? Tantangan terhadap budaya Batak kini semakin kuat di tengah arus modernisasi. Inilah yang menjadi topik diskusi Pollung na Marimpola yang diselenggarakan Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak (YPKB) di Rumah Budaya Tonggo, Jl. Letjend Suprapto, No. 11, Medan, Jumat 21 Juni 2019 sore.

Pada pollung tersebut hadir tiga narasumber yang peduli dengan kelestarian budaya Batak, di antaranya Prof. Dr. Albiner Siagian (Universitas Sumatera Utara), Jim Siahaan (penggiat budaya Batak pendiri Rumah Budaya Tonggo), Manguji Nababan (penggiat literasi Batak dari Universitas HKBP Nommensen) dan moderator Dian Purba.

Jim Siahaan, dalam pandangannya melihat dari asal-usul orang Batak yang berasal dari Indocina dan merupakan salah satu kesatuan dari identitas Nusantara. Namun, budaya Batak sudah mulai terpengaruh ketika masuknya Budha dan Hindu pada awal Masehi. Kemudian, masuknya pengaruh Islam dari Turki Ottoman pada abad ke-15 menggantikan Budha dan Hindu.

Kemudian pada masa Sisingamangaraja memerintah ada Parbaringin, di mana orang Batak menutup diri dengan sistem sosial yang erat berkaitan dengan kebudayaanya. Sehingga, masuknya orang Barat ditentang oleh masyarakat dan Raja Sisingamangaraja XI ketika itu.

"Namun ada beberapa nama seperti Raja Pontas Tobing, Ompu Batutahan, Ompu Salisi Hutauruk yang bekerjasama dan menyediakan komplek untuk misi pengkristenan. Cekcok dan perang pun terjadi di antara para raja huta di daerah Silindung," papar Jim Siahaan.

Menurutnya, selama peperangan masyarakat dan Raja Sisingamangaraja XII, pembaratan dan pengkristenan terus berlangsung. Banyak sekolah didirikan. Banyak perlawanan terutama dari Parbaringin sebagai benteng terakhir habatahon.

"Pembaratan dengan sendirinya membuka pandangan orang-orang Batak keluar. Orang Batak yang dulunya tertutup, sekarang terbuka. Orang Batak mulai mengikuti pendidikan dan gaya hidup Barat. Adat budaya bisa dikatakan hampir semua hilang," jelasnya.

Adapun Prof. Dr. Albiner Siagian, mengemukan pandangannya mengenai orang Batak masa kini terkait dengan kebudayaannya yang mengalami sebuah loncatan sangat jauh, atau dalam bahasa Batak disebut "mangaljak" tanpa melewati proses perubahan yang semestinya.

"Kita akui Batak sudah sangat maju, terutama dalam hal pendidikan. Namun, dalam kemajuan yang mengalami loncatan sangat jauh itu, terjadi peninggalan terhadap budayanya. Sehingga, sekarang ada orang Batak yang tidak bisa bahasa Batak dan tidak mengetahui filosofi budaya Batak (habatahon) atau adat, tapi tingkat pendidikannya sudah sangat tinggi," katanya Albiner, yang merupakan Guru Besar dari Universitas Sumatera Utara itu.

Argumen itu kemudian dikuatkan oleh Manguji Nababan yang mengatakan banyak orang Batak yang mengaku bangga dengan identitasnya, namun susah untuk menemukan jalan pulang.

Pertanyaan besarnya, katanya, bagaimana kebudayaan pada masa mendatang dan bisa aktual untuk menuntun pemiiknya dan bisa berkompetisi di tingkat global pada masa-masa mendatang? Pada kenyataannya, Batak tidak bisa lagi terkungkung oleh kebudayaan kita sendiri. Sebab, ada adaptasi dari luar yang menerpa.

"Orang Batak sudah terasing dari budayanya sendiri. Dalam pergaulan dunia modern, kurang berlandaskan nilai habatahon," katanya. Menurut Manguji, Batak boleh belajar dari Jepang yang tetap mempertahankan tradisinya, namun mampu berkompetisi secara global dalam hal kemajuan modernisasi dan teknologi. Sehingga, dua nilai, tradisi dan modernisasi, dapat berjalan saling beriringan, tanpa harus ada yang ditinggalkan.

Tonggo Simangunsong, selaku salah satu koordinator kegiatan itu, mengatakan, Pollung na Marimpola akan menjadi agenda rutin YPKB yang rencananya dijadwalkan sekali dua minggu. Beberapa topik terkait dengan Batak, seperti literasi, seni, musik, arsitektur, keilmuan, tenun, kuliner, adat, etos kerja dan masih banyak lagi, akan diangkat dengan menghadirikan pembicara yang relevan di bidangnya. (TAp|*)
  BeritaTerkait
  • Masyarakat Sudah Merasakan Hasil Pertanian Jagung di Humbang Hasundutan

    2 tahun lalu

    Doloksanggul (Pelita Batak): Walaupun terik matahari dan gerimis termasuk menelusuri semak-semak, Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor SE bersama Asisten Pemerintahan Drs Tonny Sihombing, Seketaris Dina

  • PB AMCI Gelar Rakernas I Tahun 2017

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I 2017 yang pertama PB (Pengurus Besar) Aliansi Media Cyber Indonesia yang diselenggarakan di Kafe RF Coffe Jalan Sei Batang Hari Medan yang dihad

  • Gila ! Napi Bisa Produksi Narkoba Dalam Rutan Tanjung Gusta

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Seorang narapidana kembali tertangkap di dalam Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IA Tanjung Gusta. Ia kedapatan menyimpan alat cetak yang diduga dijadikan untuk membuat pi

  • Taput Gelar Pagelaran Kesenian di PRSU, Dr RE Nainggolan MM : Tidak Ada Pemimpin yang Sempurna

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Bupati Tapanuli Utara periode 1999-2004, Dr RE Nainggolan MM, mengatakan tidak ada pemimpin atau manusia yang sempurna. Namun dengan dukungan semua masyarakat, pemimpin aka

  • Partandang na Bitik

    3 tahun lalu

    Adong do sada boru ni Ama ni Panukkunan, margoar si Lastiar Christina Margareth. Biasa dijou si Lastri. Na burju do Si Lastiar on jala pargaul. Nang pe boru siampudan. Unduk marnatua tua. Uli rupan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb