• Home
  • News
  • Tri Dukung Karya Anak Bangsa Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
KSP Makmur Mandiri
Rabu, 16 November 2016 11:52:00

Tri Dukung Karya Anak Bangsa Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

BAGIKAN:
Int|PelitaBatak

Jakarta (Pelita Batak) :
Generasi muda saat ini bisa dikatakan punya lebih banyak keuntungan dalam berbisnis dari pada generasi sebelumnya, dengan tersedianya berbagai teknologi yang dapat digunakan sebagai sarana pendukung. Seperti teknologi digital misalnya, yang relatif mempermudah berjejaring dan melakukan pemasaran, hingga seharusnya tidak ada lagi halangan untuk memulai usaha sendiri. Namun nyatanya hal ini belum cukup kuat mendorong para generasi muda dalam negeri untuk  berwirausaha. Bahkan data pemerintah tahun 2016 menunjukkan bahwa dari total jumlah penduduk 250 juta jiwa, jumlah wirausahawan di Indonesia belum mencapai target idealnya sebesar 2%. Hal ini tentu membuat kita bertanya-tanya, apakah yang ditakuti dan menjadi kendala bagi generasi muda untuk memulai bisnis sendiri.

Tri telah sukses menggelar Roadshow Festival #Ambisiku di tiga kota kreatif di Indonesia yaitu Yogyakarta, Makassar, dan Bandung pada 16 September hingga  9 Oktober 2016. Acara ini menjadi tempat di mana berbagai ambisi anak muda dipertunjukkan, baik lewat talkshow dan workshop yang melibatkan banyak profesional muda yang telah sukses di berbagai bidang, panggung musik dan seni oleh artis lokal maupun nasional, serta bazar yang diisi oleh 150 merek lokalyang dimiliki oleh wirausahawan muda dari berbagai daerah dengan berbagai produk inovatif yang menarik. Dari tiga kota diselenggarakannya gelaran ini, Tri memperkenalkan 3 merek lokal paling favorit pilihan pengunjung yang hadir maupun yang memilih melalui media sosial. Para merek lokal favorit ini berkesempatan untuk dipromosikan di  media promo luar ruang Tri di kota asal mereka.

"Kami sangat bangga bisa menampilkan karya para anak muda kreatif Indonesia dalam parade #Ambisiku, merek lokal terbukti tidak kalah dengan merek global. Sebagian besar dari mereka memaksimalkan pengembangan material maupun ciri khas lokal dengan menggabungkan desain dan fungsi yang sifatnya kekinian. Dengan pemasaran yang memanfaatkan kekuatan internet, produk-produk tersebut dapat diterima dengan baik oleh generasi muda Indonesia karena mampu menyesuaikan dengan selera mereka” Ujar Dolly Susanto Chief Commercial Officer Tri Indonesia.

Mekanisme pemilihan merek favorit dilakukan  melalui vote di Facebook Tri Indonesia, vote dari para pengunjung dan mereka yang paling banyak dikunjungi pengunjung saat Parade #Ambisiku berlangsung. Ketiga  merek lokal favorit tersebut adalah Papa.Tea dari Makassar, UniKraf dari Yogyakarta, dan NZStrap dari Bandung.

Papa.Tea – Thai Tea & Green Tea Premium (Merek Favorit Makassar)



Ardiansyah (26tahun) bersama Papa Tea nya berhasil menjadi merek lokal favorit
dari kota Makassar. Papa Tea menyuguhkan homemade Thai Tea & Green Tea dengan rasa premium.

Papa.Tea dirintis sejak Juni 2015 oleh pasangan suami istri muda, Ardiansyah (26th) dan Farha (25th) dengan modal awal Rp. 100.000 dan peralatan seadanya, mereka pun memulai memasarkan produknya melalui keluarga, sahabat, dan media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Path. Tak jarang Papa.Tea juga mengikuti bazar kuliner dan berjualan di sekolah-sekolah. Komposisi minuman nya yang unik, tanpa bahan pengawet, dan terjangkau membuat Papa.Tea banyak diminati oleh semua kalangan. Berkat usahanya yang tak kenal menyerah, kini Papa.Tea sudah memiliki cabang di beberapa tempat di Makassar, serta franchise di Pare-pare, Mamuju, Sidrap & Samarinda.

Uni.Kraf - Universe Crafting, asesoris berbahan dasar kayu (Merek Favorit Yogyakarta)


Dua para muda Yogyakarta, Camilla dan Zaidil pemilik usaha UniKraf yang menjadi
merek lokal favorit dari kota Yogyakarta. UniKraf mengangkat kerajinan kriya atau kraf dengan
membuat aksesoris berbahan dasar kayu atau kulit.

Berinovasi dalam bidang kriya (craft) merupakan hal yang unik dari UniKraf, bukan hanya membuat produk, namun UniKraf juga mengusung nilai-nilai Ethical Products, Fair Trade, dan Eco-Friendly. Dirintis oleh sekelompok anak muda penuh ambisi, menurut Zaidil (23th), salah satu founder-nya, UniKraf merupakan Co-Crafting Space, wadah berkarya dan berkolaborasi. UniKraf menghadirkan kembali budaya kriya penuh karsa dan bekerjasama dengan pengrajin lokal, khususnya di Yogyakarta. Sekelompok anak muda ini bukan hanya ingin menciptakan sesuatu yang dibutuhkan oleh pasar, namun juga ingin menciptakan pasar. UniKraf dipasarkan melalui media sosial, dan berbagai acara offline dan pameran. Yang menjadi ciri khas UniKraf adalah cara penyampaian konten dengan metode Storytelling dan menjaga curiosity pasar dengan cara tidak pernah menyebutkan harga di media sosialnya. Untuk mempertahankan eksistensi produk, Zaidil dan tim pun selalu melakukan riset terhadap topik yang sedang trending dan happening sehingga tepat guna membidik komunitas calon pasar.

NZStrap – (Merek Favorit Bandung)


Dua para muda Yogyakarta, Camilla dan Zaidil pemilik usaha UniKraf yang menjadi merek
lokal favorit dari kota Yogyakarta. UniKraf mengangkat kerajinan kriya atau kraf
dengan membuat aksesoris berbahan dasar kayu atau kulit.

Berangkat dari keinginan untuk memiliki kebebasan waktu, kebebasan finansial dan juga bisa membantu membuka lapangan kerja untuk orang banyak, Nauvan Maulana pria berumur 24 tahun ini berinovasi, membuat usaha di bidang asesoris tepatnya tali jam tangan. Menurutnya usaha dibidang ini memiliki peluang yang sangat besar, karena belum banyak penjual asesoris serupa. Dimulai pada tahun 2012 dengan hanya menjual 12 stok barang, Nauvan memasarkan NZ Strap melalui forum-forum jual beli di internet. Seiring berjalannya waktu, Nauvan pun mulai melihat pentingnya media sosial untuk menjual produknya, ia pun membuat akun Instagram, Facebook, dan website untuk NZ Strap. Dengan mengikuti bazaar Festival #Ambisiku, menurutnya sangat mengakomodir anak muda untuk memamerkan usaha kreatifnya kepada masyarakat. Karena usaha-usaha kreatif yang berskala UKM masih sangat perlu dibantu terutama dalam hal promosi.

 

Wujud dukungan Tri pada ketiga merek lokal terpilih tersebut dengan membantu memperluas jangkauan promosi melalui radio talkshow dibeberapa radio di Indonesia, juga dipromosikan ke 56.6 juta pengguna Tri, dan akun sosial media Tri Indonesia. Selain itu, produk mereka juga akan ditampilkan dalam billboard di beberapa titik di tiga kota tersebut.

Rangkaian kegiatan dari Festival #Ambisiku masih akan terus berlanjut. Dengan kampanye dan dukungan ini, Tri mengajak anak muda Indonesia untuk menumbuhkan semangat creativepreneur dan menjadi bagian dari generasi muda berambisi.

Tri sebagai penyedia layanan telekomunikasi dengan reputasi kuat sebagai penyedia layanan mobile internet, telah dipergunakan oleh 56.5 juta penduduk Indonesia. Sebuah sindikasi survey independen yang dilakukan oleh perusahaan riset terkemuka Roy Morgan dengan metode Single Source mencatat bahwa 80% pelanggan Tri adalah mereka yang berusia 15 hingga 25 tahun. "Kami adalah operatornya anak muda, dan kami ingin memberikan inspirasi dan pengaruh positif bagi mereka untuk mewujudkan apa yang telah menjadi mimpi dan amibisi dalam hidupnya," tutup Dolly.(TAp/rel)

  BeritaTerkait
  • Bishop GKPI Resmikan Koordinasi Wilayah VII untuk Dukung Perayaan Natal Nasional di Doloksanggul

    2 tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Bishop GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) Pdt Oloan Pasaribu MTh meresmikan wilayah VII yang meliputi Humbang Hasundutan - Tobasa – Samosir, dan sekaligus m

  • Hadiri Pelantikan Jawa Langkat Bersatu, Erry : Pelestarian Budaya Kukuhkan Identitas Bangsa

    2 tahun lalu

    Stabat (Pelita Batak) : Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi menegaskan budaya bergotong royong yang merupakan tradisi nenek moyang harus tetap dilestarikan.   &ldquo

  • Nikson Silalahi, Membangun Kabupaten Dairi Lewat Pendidikan

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Sebagai anak dari seorang petani, Nikson Silalahi yang lahir dan besar di Parongil/Dairi merupakan anak kampung tulen. Dia penggemar olahraga bola kaki dan bulu tangkis yang k

  • Friedrich Silaban Disebut "By the Grace of God" Oleh Soekarno

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, Friedrich Silaban hanya bersekolah di HIS Narumonda, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dan Koningin Wilhelmina School, sebuah sekolah teknik di Jakarta.

  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb