• Home
  • News
  • Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK bidang Perekonomian: Pondasi Ekonomi Bagus Jadi Modal Dasar
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 17 Oktober 2017 17:54:00

Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK bidang Perekonomian: Pondasi Ekonomi Bagus Jadi Modal Dasar

BAGIKAN:
Ist
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito
Jakarta (Pelita Batak):  Menko Darmin Nasution menegaskan, ekonomi Indonesia terus menunjukkan perbaikan yang menggembirakan. Hal itu ditunjukkan dari berbagai indikator ekonomi, antara lain: kemiskinan yang menurun, per tumbuh ekonomi yang stabil, inflasi terkendali, ketimpangan pendapatan menurun dan pengangguran yang juga menurun.

"Untuk inflasi, tiga tahun terakhir selalu di bawah persen," kata Darmin Nasution dalam paparan tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo- Wakil Presiden Jusuf Kalla di Bina Graha, Selasa, 17 Oktober 2017.

Dalam konferensi pers yang diinisiasi Kantor Staf Kepresidenan bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Menko Darmin didampingi Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala BKPM Thomas Lembong, dan Kepala Bekraf Triawan Munaf. Acara dipandu Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi.

Menurut Darmin, pertumbuhan ekonomi yang tadinya melambat, kini berbalik lebih cepat lagi. "Kita beharap bergerak ke 5,2 persen. Syukur-syukur  lebih sedikit," katanya.

Pondasi ekonomi kita, lanjut Darmin, sangat bagus. Ini jadi modal dasar bagi perekonomian kedepan. Terlebih dari sisi infrakstruktur, kini sudah merata di seluruh  Indonesia.

Dari sisi inflasi, kata Darmin, pemerintah berhasil mengelola dengan baik. "Sejarah ekonomi Indonesia, sebelum krisis 1998, inflasi kita selalu double digit. Setelah krisis eknomi, inflasi pelan-pelan menurun. Tiga tahun terakhir selalu di bawah 4 persen," jelasnya.

Darmin optimistis, inflasi akan terus menurun hingga 3,5 persen plus minus 1. "Di pemerintah mendatang, bila terus terjaga bisa jadi 3 persen, lalu 2 persen plus minus 1. Saat itu, kita bisa sejajar dengan negara maju yang lain," tegas Darmin.

Sektor Pariwisata jadi Primadona

Pada sesi yang sama, Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan bahwa sektor pariwisata nasional kini menjadi primadona baru bagi pembangunan nasional. Sumbangan devisa maupun penyerapan tenaga kerja dalam sektor ini amat signifikan bagi devisa negara. Bahkan, diperkirakan pada tahun 2019 sudah mengalahkan pemasukan devisa dari industri kelapa sawit (CPO).

"Presiden Jokowi sudah menyadari dan meminta agar pariwisata menjadi sektor unggulan terbesar nasional," jelas Menpar Arief.

Arief menjelaskan dari hasil riset World Bank 2016, sektor pariwisata adalah penyumbang yang paling mudah untuk devisa dan pendapatan domestik bruton (PDB) suatu negara. Pasalnya, dampak turunan dari investasi di sektor pariwisata terhadap PDB memang amat besar.

"Untuk Indonesia, pariwisata sebagai penyumbang PDB, devisa dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah." kata Arief.

World Bank mencatat hanya dengan investasi di industri pariwisata sebesar US$1 juta mampu menyumbang 170% dari PDB. Ini merupakan dampak ikutan tertinggi suatu industri kepada negaranya. Sebab, industri pariwisata mampu menggerakkan usaha kecil menengah seperti kuliner, cinderamata, transportasi dan lainnya.

"Perolehan devisa negara dari sektor sektor pariwisata sejak tahun 2016 sudah mengalahkan pemasukan dari migas dan di bawah pemasukan dari CPO. Diperkirakan pada tahun 2019, sektor pariwisata menjadi penhyumbang utama devisa utama Indonesia sebesar US$24 miliar," tukasnya.

Satu hal, Indonesia dinilai oleh media top Inggris, The Telegraph sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan paling cepat di sektor pariwisata. Dikatakan, pertumbuhan pariwisata Indonesia dalam kurun waktu Januari-Agustus 2017 mencapai 25,68%. Sedangkan industri pelesiran di kawasan ASEAN hanya tumbuh 7% dan semantara dunia hanya berkembang 6%.

Selain itu, dibandingkan dengan negara jiran seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, Indonesia juga lebih unggul dalam hal Tourism Branding 'Wonderful Indonesia' dan Paket Destinasi dengan berbagai penghargaan internasional yang diraih Indonesia.

Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia menurut World Economy Forum (WEF) menunjukkan perkembangan menggembirakan. Peringkat Indonesia naik 10 poin dari 50 pada tahun 2015 menjadi 42 pada tahun ini.

Satu hal dari peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang meningkat selama tiga tahun terakhir dari 10 juta orang pada tahun 2015 menjadi 12 juta pada tahun lalu menambah tebal pemasukan devisa negara dari US$12,336 miliar menjadi US$12,441 miliar. Adapun dalam paruh pertama tahun 2017 ini tercatat jumlah pelancong asing sudah mencapai 7,8 juta orang.

Demi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dengan targetnya 20 juta kunjungan pada 2019, Kementerian Pariwisata mempromosikan 10 destinasi wisata baru di Indonesia.

Menpar menjelaskan bahwa destinasi pariwisata Indonesia yang gencar dipasarkan karena sudah berkembang, serta ada juga destinasi yang masih dikembangkan. Berbagai destinasi memang dikategorikan berdasarkan kesiapan amenitas (saranan dan prasarana), atraksi dan akses masing-masing, untuk menyambut wisatawan.
Destinasi yang pengembangannya prioritas ada 10, meliputi: Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Mandalika, Morotai, Borobudur, Danau Toba, Kepulauan Seribu, Bromo Tengger Semeru, Wakatobi, dan Labuan Bajo.

Sementara itu, 10 daerah yang sektor pariwisatanya sudah berkembang dan lebih siap menyambut banyak turis meliputi 3 destinasi diving: Wakatobi, Raja Ampat, Bunaken, serta 3 destinasi pemasaran utama: Bali, Jakarta, Kepri, serta Banyuwangi, Bandung, serta Joglosemar.

Kekuatan baru itu bernama Ekonomi kreatif

Sektor ekonomi kreatif, terbukti bisa jadi sumber kekuatan ekonomi baru. Di tengah melambatnya harga komoditas dan bahan mentah secara global, sektor ekonomi kreatif, memberikan sumbangan yang positif bagi perekonomian Indonesia.

"Di masa depan, ekonomi tidak semata-mata,  bergantung pada sumber daya alam mentah," tegas Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf  dalam paparan 3 Tahun Jokowi-JK di Kantor Staf Presiden.

Tugas ekonomi kreatif adalah memberikan nilai tambah. Sehingga dapat menghasilkan produk yang bernilai tinggi dan berkontribusi besar pada perekonomian.

Berdasarkan data terakhir, dalam catatan Triawan Munaf, ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar 7,38 persen terhadap total perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp. 852,24 Triliun.

"Dari total kontribusi tersebut, sub-sektor kuliner, kriya dan fashion memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif," jelas Triawan.

Tercatat sub-sektor Kuliner berkontribusi sebesar 41,69%, disusul sub-sektor Fashion sebesar 18,15% dan Kriya sebesar 15,70%. Kepala Bekref juga menambahkan bahwa terdapat sekitar empat sub-sektor yang juga sangat potensial menjadi kekuatan ekonomi baru  yakni Film, Musik, Art dan Game (Animasi).
Empat sub-sektor ini tercatat mengalami pertumbuhan paling pesat, yakni Film mencatatkan pertumbuhan sekitar 10,28%, Musik 7,26%, Art/Arsitektur 6,62% dan Game tumbuh sekitar 6,68%.

Namun Triawan menyampaikan ada beberapa hambatan dan kendala dalam pengembangan ekonomi kreatif ini, terutama terkendala oleh ekosistem bisnis dan investasi.

Menurutnya, ekosistem bisnis nasional belum mendukung dalam proses pengembangan ekonomi kreatif, terutama dalam hal infrastruktur untuk menunjang kegiatan kreatif para pelaku usaha ekonomi kreatif dan masyarakat.
Kedua, menurutnya, banyak sektor ekonomi kreatif yang masih masuk dalam daftar negatif investasi, terutama untuk investasi asing.

Padahal menurutnya adanya investasi masuk berperan penting untuk menunjang minimnya infrastuktur dan teknologi dalam negeri.

"Kita bisa bekerja sama, menjalin co-production, dari sini kita bisa mengembangkan film nasional misalnya. Itu bisa membantu dan positif untuk perekonomian", katanya

Namun Triawan mengaku Badan Ekonomi Kreatif masih terus melakukan upaya untuk mengembangkan sektor kreatif di Tanah Air. Terutama dalam hal ketersediaan data dan informasi statistik yang menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan serta keputusan, baik bagi pemerintah maupun pelaku ekonomi kreatif

Realisasi Target Investasi

Target investasi 2017 adalah 678 triliun. Sementara itu, bicara realisasi investasi pada semester I-2017 mencapai Rp337 triliun atau 49,6% dari target 2017, di mana komposisinya Rp207 triliun PMA dan Rp130 triliun PMDN.

Bila dibandingkan semester I-2016, berarti terjadi kenaikan sebesar 12,9%. Walaupun jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, realisasi investasi di semester I sudah di atas 50% dari target.

Terkait itu, Kepala BKPM Thomas Lembong membeberkan salah satu penyebab melambatnya investasi. Yakni, sambung dia, karena harga komoditas turun.

Bagi iklim usaha di Indonesia, menurut Thomas, naik dan turunnya harga komoditas memiliki pengaruh dengan realisasi investasi PMDN. "Sedangkan, bicara realisasi PMA masih didominasi oleh Singapura, Jepang, Tiongkok, Hongkong, dan Amerika Serikat," katanya, dalam Diskusi Media bertema "Pembangunan Ekonomi Baru dan Peningkatan Produktivitas untuk Menunjang Pemerataan," kata Thomas Lembong.

Meski demikian, BKPM tetap yakin pada akhir tahun nanti target investasi dapat tercapai. Untuk itu BKPM akan menggelar promosi investasi di banyak negara. Menarik dicatat di sini, menurut UNCTAD posisi Indonesia berada di peringkat keempat tujuan utama investasi di dunia 2016-2018. Urutan pertama ialah AS, kemudian disusul Tiongkok dan India.

Juga penting disimak bagaimana sejak krisis moneter 1997, S&P Global Ratings kembali mendudukkan posisi Indonesia sebagai negara layak investasi dengan kata kunci 'stabil' .

Sedangkan merujuk survei Ease of Doing Business (EODB) 2017 yang dilakukan World Bank-International Finance Corporation (World Bank-IFC) Indonesia menduduki peringkat 91 dari 190 negara, naik 15 peringkat dari posisi 106 di 2016.

Indikator penting lainnya ialah naiknya kontribusi investasi terhadap PDB. Jika pada 2013 tercatat tumbuh 31,7% maka pada 2016 nilai prosentasenya naik jadi 32,6%. Sedangkan yang menonjol di bidang investasi ini ialah mulai maraknya Sumatra dan Sulawesi sebagai daerah tujuan investasi. Ini menunjukkan sudah mulai muncul atau tercipta tren investasi di luar Jawa, sekaligus menunjukkan mulai bekerjanya skema membangun Indonesia dari pinggiran.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito menjelaskan, pemerintah terus menggenjot revitalisasi pasar tradisional. "Kita mengusahakan bagaimana pedagang pasar tradisional bisa mendapatkan alternatif sumber pendapatan serta akses harus bisa mudah didapat. Setiap renovasi revitalisasi pasar omset pasti meningkat contoh Pasar Sindu, di Denpasar. Di sana bisa terlihat bagaimana mengelolanya dengan sangat baikm juga bersih, tidak bau. Bahkan, di koridornya pun orang bisa duduk di lantai," kata Enggar.(ril)
  BeritaTerkait
  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  • Yayasan Pencinta Danau Toba Kritisi Kinerja Badan Otorita yang Belum Hasilkan Rencana Induk

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Sejak dicanangkan pengembangan Kawasan Danau Toba (KDT) sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan terutama setelah dibentuk Badan Otorita Pengelola Kawasan Pari

  • Wali Kota Medan Titip Pesan untuk 42 Pejabat yang Baru Dikukuhkan

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi melantik sekaligus mengukuhkan 42 pejabat pimpinan tinggi pratama dan administrator di lingkungan Pemko Medan di Balai Kota Meda

  • Pembumian Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika serta Penguatan NKRI dan UUD 1945

    2 tahun lalu

    Indonesia Raya selalu berdiri kuat dan semakin bergerak kokoh dari dahulu, kini, dan seterusnya karena memiliki ideologi Pancasila dan konstitusi UUD 1945, yang mengakui, melindungi, memfasilit

  • DKI Jakarta : Rumah Kita Bersama

    tahun lalu

    PILKADA serentak tahun 2017 telah terselenggara secara langsung, demokratis, aman, selamat, dan sukses. Penyelenggaraan tahun 2017 ini melanjutkan kesuksesan dan semakin melengkapi keberhasila

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet