• Home
  • News
  • Ternyata Setelah Dikupas Kopi Itu Bijinya Dua
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 21 April 2018 21:08:00

Ternyata Setelah Dikupas Kopi Itu Bijinya Dua

BAGIKAN:
ist|Pelitabatak
Samosir (Pelita Batak):
Di sela sela kegiatan di alam bebas yang dilakukan Sihar Sitorus di kawasan Geopark Kaldera Toba (GKT) Samosir, dia menyapa salah seorang petani yang sedang memetik kopi. Dalam sapaannya berbahasa Batak, Sihar menawarkan diri untuk ikut memetik kopi. Dengan syarat petani yang merupakan seorang ibu yang diketahui bernama Rismawati Limbong (52), harus mengajarinya cara memetik kopi, Sabtu (21/4/2018). 

Setelah diizinkan Rismawati, Sihar pun langsung masuk ke kawasan kebun yang berada di kawasan Gunung Pusuk Buhit. Sambil berbincang-bincang dengan Rismawati, Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara (Sumut) nomor urut dua itupun dengan tekun memetik biji kopi yang sudah bisa di panen. "Ini kopinya bisa langsung dimakan atau dirasai," tanya Sihar pada Rismawati.

Sambil tersenyum Rismawati mempersilakan Sihar merasakan kopi merah yang baru dipetik sambil berkata bahwa kopi itu saat dipetik rasanya manis. Sihar yang mendengarkan cerita tentang biji kopi dari Rismawati memakan biji kopi yang dipetiknya. "Ia ternyata biji manis, setelah disangrai baru ada yang pahit dan asam," katanya.

Bukan hanya sampai di situ, Sihar yang mengupas kopi dari kulit cherry nya pun tersenyum sambil menunjukkan dua biji yang ada dalam buah kopi. "Ternyata setelah dikupas kopi itu bijinya dua dibungkus kulitnya. Mau coba? Katanya sambil menawarkannya pada fotografer yang mendokumentasikannya.

Sihar mengatakan bahwa kopi merupakan salah satu geoproduk dari GKT. Bahkan memiliki keunikan yang sangat istimewa. Karena kopi yang diproduksi di kawasan GKT merupakan kopi yang habitatnya tumbuh di bekas letusan Gunung Toba puluhan ribu tahun silam. Sehingga produk kopinya memiliki kualitas yang sangat baik. 

Menurut wakil dari Djarot Saiful Hidayat tersebut pengembangan kopi harus terus dilakukan dengan baik serta harus mampu berkontribusi untuk petaninya. Di sisi lain, lewat produk kopi dan riwayat produksinya masyarakat luas bisa mengenal kawasan Toba. Sehingga ada efek domino untuk kemajuan bersama.

"Kopi terbaik akan dicari oleh penikmatnya. Secara otomatis akan mempromosikan kawasan  habitanya. Karena  itu efek pemasarannya dirasakan petani, efek promosi wilayahnya dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan GKT," ujarnya.(bcl comm)
  BeritaTerkait
  • Resensi Buku Kisah di Balik "PK" Sengkon-Karta

    satu bulan lalu

    Oleh: Djalan SihombingIngat kasus  Sengkon dan Karta?  Ini tentang penderitaan dua penduduk Bekasi  yang masuk penjara dengan tuduhan membunuh pasangan suami-istri, tapi ternyata pembun

  • Humbang Hasundutan Tampilkan Andaliman di PRSU

    7 bulan lalu

    Doloksanggul (Pelita Batak): PRSU ke-47 telah dibuka secara resmi Gubsu Dr Ir HT Erry Nuradi MSi bersama Staf Ahli Kementerian Pariwisata Bidang Hortikultura Easty Reko Astuti dan Kepala Daerah se-Sum

  • Indahnya Persaudaraan: Orang Kristen, Muslim, Yahudi, Bersatu di Kebun Kopi

    2 tahun lalu

    Uganda (Pelita Batak): Hubungan yang tadinya jauh dan berjarak antara orang Kristen, Islam dan Yahudi, ternyata dapat diakrabkan lewat usaha koperasi pemasaran kopi.     Daripada

  • Kasus Pembunuhan Anak di Doloksanggul: Hakim Vonis Bebas Ayah Almarhum Aldi Sibarani. Jadi Siapa Sebenarnya Pembunuh Aldi Sibarani ?

    tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Tokoh masyarakat Kabupaten Humbanghasundutan Erikson Simbolon kepada pelitabatak.com mengaku terkejut setelah mengetahui hal ini. Ia menanggapi vonis bebas majelis hakim ke

  • BELI PISANG GORENG KE SIBORONG-BORONG

    tahun lalu

    DARI bulan Juni sampai Agustus 2017 kami sudah tiga kali singgah di Siborong-borong. Biasanya kami singgah di kota pacuan kuda itu selalu ingin membeli ombus-ombus, sejenis makanan yang terbuat dari t

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb