• Home
  • News
  • Rendahnya Tingkat Pengetahuan Keamanan Cyber di Asia Pasific
Jumat, 01 Juli 2016 15:18:00

Rendahnya Tingkat Pengetahuan Keamanan Cyber di Asia Pasific

BAGIKAN:
Ist
Cyber Security
Jakarta (Pelita Batak): Hasil penelitian terbaru ESET dengan fokus survei pada pengetahuan dan pemahaman pengguna untuk berselancar dengan aman di internet pada tahun 2016 dan dilakukan pada negara-negara di Asia yang memiliki intensitas penggunaan internet tertinggi menunjukkan hasil mengejutkan, terutama ketimpangan dan kesenjangan antara pemahaman responden dan praktek di lapangan mengenai internet aman.
 
Penelitian dilakukan di bulan Januari 2016 di Jepang, kemudian dikomparasi dengan penelitian serupa pada beberapa negara Asia lainnya seperti Malaysia, Singapura, India, Thailand, Hongkong, Indonesia dan Vietnam. Terlihat adanya kesenjangan dalam tingkat pengetahuan keamanan cyber dan dalam tindakan pencegahan responden saat berselancar di internet dan saat menghadapi situasi yang membahayakan.
 
Kesenjangan Pengetahuan
 
Secara keseluruhan tingkat perbedaan antar negara saling berdekatan, dipimpin Malaysia di tempat pertama dengan 29,9 persen, di atas Singapura 27.2%, India 27.3%, Thailand 26.7%, Hong Kong 25.6%, and Indonesia 25.1%.
 
Ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat kesenjangan pengetahuan dan pemahaman keamanan cyber paling buruk. Selain itu ranking Indonesia juga terpuruk dalam hal pengetahuan cyber dan mendapatkan skor buruk dalam langkah meningkatkan keamanan online dengan menduduki posisi kedua dari bawah, satu tingkat lebih baik dibanding India.
 
Namun uniknya pengguna internet di India dan Indonesia berada di posisi teratas dalam tindakan mengambil langkah pencegahan dengan mengamankan perangkat mereka saat melakukan aktivitas online. Tindakan pencegahan yang dilakukan adalah dengan mengubah password secara teratur, back up data, dan menginstal versi terbaru software keamanan.
 
Responden yang melakukan back up data secara teratur mencapai 37%, mengubah password secara berkala sebanyak 33%, sementara mengunduh media (video, musik, aplikasi) dari situs-situs resmi sebesar 49%, tanpa mereka mengetahui jika tindakan yang dilakukan membantu mereka untuk tetap aman dalam berselancar di dunia maya. Dan yang sangat menarik adalah karena kedua negara ini
paling sering melakukan aktivitas online sehingga posisi mereka sebenarnya sangat rentan terhadap serangan cyber.
 
Satu hal yang perlu menjadi catatan, negara seperti malaysia, Singapura dan Thailand yang mendapat poin tinggi secara keseluruhan dalam pengetahuan dan pemahaman keamanan cyber ternyata dalam praktek pengamanan untuk melindungi diri mereka sendiri malah menempati posisi bawah. Kesenjangan antara pengetahuan dan praktek di lapangan belakangan menjadi tren yang mengkuatirkan. Hacker pada umumnya mencari jalan dengan resiko seminimal mungkin, dengan pengguna yang lemah dalam langkah pengamanan pribadi, membuat mereka rentan terhadap serangan. 
 
Apabila kita bandingkan dengan survei yang diadakan di Jepang, secara keseluruhan pengguna di Jepang tidak terlibat dalam perilaku maya berisiko. Sebagian besar responden (86%) tahu untuk segera memutuskan perangkat dari Internet jika mengetahui ada upaya pelanggaran data dan 71 persen tidak membuka atau mengunduh lampiran dari pengirim yang tidak dikenal.
 
Pentingnya Edukasi
 
Korelasi dari masalah kesenjangan pengetahuan dan praktek lapangan mempunyai keterkaitan dengan kurangnya edukasi keamanan cyber di seluruh negara yang disurvei, seperti yang ditunjukkan oleh hasil survei dimana sepertiga dari responden menyatakan bahwa mereka tidak menerima pendidikan secara formal dan tidak memiliki pengetahuan sama sekali.
 
Hanya 24% responden melaporkan telah menerima edukasi tentang keamanan cyber melalui jalur formal seperti di sekolah ataupun di tempat kerja, sementara (31%) menyatakan bahwa merekamendapatkan pengetahuan keamanan cyber secara otodidak melalui membaca, dan (13%) mendapatkan informasi melalui keluarga, teman dan kolega, sedangkan 32% tidak pernah mendapatkan pendidikan secara formal. Sementara 78,2% responden yang tidak menerima pendidikan formal mengatakan mereka tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang keamanan cyber.
 
Apabila dibandingkan dengan survei yang dilakukan di Jepang sebanyak 70% responden mengaku tidak pernah mendapatkan pendidikan formal tentang keamanan cyber, namun 4 dari 5 responden mampu menjawab pertanyaan dasar keamanan cyber. Tingkat pengetahuan ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Pasifik.
 
Sebagai perwakilan ESET di Indonesia, Yudhi Kukuh, Technical Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, mengatakan "Dari survey ini ESET ingin melihat sejauhmana masyarakat memahami pentingnya proteksi diri, setelah sebelumnya secara rutin mendorong berbagai upaya dengan programprogram edukasi melalui seminar dan pelatihan pencegahan serangan cyber, selain rutin memberikan
informasi keamanan cyber memanfaatkan portal berita milik ESET dan sosial media seperti melalui Facebook dan Twitter. Kedepan, hasil survey akan menjadi parameter untuk menentukan langkahlangkah apa yang harus dilakukan sehingga dapat menggugah kesadaran masyarakat agar lebih peduli untuk mengasah pengetahuannya agar terhindar dan terlindungi dari bahaya cyber."
 
Dengan demikian dari hasil survei dari negara-negara di Asia Pasific dapat diambil sebuah kesimpulan, meskipun banyak diantara pengguna di negara-negara survei memiliki pengetahuan memadai tentang keamanan cyber namun sebagian besar mereka tidak mampu menggunakan pengetahuan keamanan cyber mereka dengan baik.
 
Semua negara memiliki kebutuhan edukasi yang sama, yaitu pendidikan yang dilakukan secara berkesinambungan dan bagaimana cara implementasi dari pengetahuan tersebut dengan baik sehingga mampu mengambil langkah-langkah preventif yang cepat saat menghadapi serangan dan upaya pelanggaran atau pembobolan data.(R6)
  BeritaTerkait
  • Lima Bidang untuk Inovasi Keamanan Cyber di 2017

    tahun lalu

    Dunia tidak pernah diam. Dalam ruang teknologi, ini berarti inovasi dan penemuan yang konstan merupakan kunci dari kelangsungan dan perkembangan penyedia solusi.   Dalam arena keamanan

  • Hebat.....Putra Batak Rikoh Manogar Siringoringo Jadi Pembuka Jalan Selam Ilmiah

    2 tahun lalu

    SETELAH puluhan tahun berlangsung di Indonesia, kegiatan penyelaman ilmiah mulai mendapat jalan untuk proses standardisasi. Pembukanya adalah Rikoh Manogar Siringoringo, orang Indonesia pertama yan

  • Belanja Online, Simpel Namun Berisiko Tinggi

    tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Statistik penggunaan smartphone yang dikemukakan oleh Skycure menyatakan bahwa selama 2016 uang sebesar $40.241 miliar telah dihabiskan sepanjang tahun 2016 menggunakan smart

  • Kajian QBE : Banyak Perusahaan Indonesia yang Tidak Siap Menanggulangi Risiko Bisnis

    9 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :Kajian terbaru dari QBE Insurance menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan Indonesia tidak memiliki kesiapan untuk menghadapi krisis. Hanya 54% dari perusahaan-perusahaan ya

  • Jalan Dengan Segala Aspeknya

    2 minggu lalu

    Oleh: Ronsen PasaribuIngin tahu, kita bicarakan ihwal pentingnya pengaturan jalan bagi manusia.Jalan ya jalan. Tanpa butuh definisi, kita paham apa arti jalan. Hanya ada yang membedakan istilah di ber

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet