• Home
  • News
  • Oknum Kades Mengaku Miliki Pinus, Pengusaha Gunduli Hutan Martimbang
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 19 Mei 2018 10:55:00

Oknum Kades Mengaku Miliki Pinus, Pengusaha Gunduli Hutan Martimbang

Warga Banuaji Demo, Pengusaha Tak Dapat Tunjukkan Izin
BAGIKAN:
Jeje Tobing
Lokasi penebangan pinus
Laporan Jeje Tobing

Posisi Dolok Martimbang diketahui berada pada ketinggian 1.860 Dpl merupakan wilayah tangkapan air khususnya bagi penduduk yang bermukim dalam wilayah Tiga Desa, yaitu Desa Banuaji I, II dan IV. Gunung Martimbang atau Dolok Martimbang oleh para ahli disebut sebagai gunung berapi yang masih aktif.

Nama "Dolok Martimbang", konon pernah didaulat sebagai nama pesawat resmi Kepresidenan diawal pemerintahan Presiden Soekarno berkuasa.

Sejak dahulu, warga dari Ketiga desa yang bermukim pada lembah Martimbang dilarang menebang secara sembarangan dan kalaupun lereng gunung itu diusahai tetapi warga hanya diperkenankan berkebun dengan tanaman Kemenyan.

Kronologi:

Berawal dari foto copy surat tertanggal 2 November 2017 bernomor 01/SHB/XI/2017 yang buat oleh oknum Kepala Desa Banuaji II, Dayan Hutapea (DH); yang isinya berupa pengakuan memiliki hak atas tanah seluas 3 HA yang didalamnya ada Pinus dan disebut sebagai hasil budidayanya sendiri.

Selanjutnya, menjawab surat dari DH tersebut,  Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Utara, sebagaimana tertuang dalam suratnya bernomor 522.21/3657: meminta beberapa point persyaratan yang harus dipenuhi oleh DH dan salah satu poinnya meminta agar oknum Kepala Desa Banuaji II itu melengkapi persyaratan dengan membuat surat pernyataan yang diketahui atau disaksikan oleh minimal 2 orang saksi bahwa Pinus yang berada dalam areal lahan seluas 3 hektare yang diakuinya sebagai hak milik adalah murni merupakan hasil tanaman (budidayanya) sendiri.

Aneh bin ajaib, meski belum ada ijin tebang tapi Pinus yang berada dalam hutan lindung itu sudah ditebas tanpa perasaan, tanpa memperhitungkan dampak yang sudah pasti akan muncul, cepat atau lambat.

Pasca Pengoakan Pinus di Lembah Dolok Martimbang empat tahun yang lalu (thn 2014), yang dihentikan oleh warga melalui cara demo, kini, pengrusakan pada lereng Martimbang  kembali terulang.
Pengrusakan kali ini justru lebih massif dan mengerikan karena Pinus yang dibabat berada dalam kemiringan lereng, ditebang tanpa pilih bulu, diratakan tanpa ampun tanpa celah, sehingga dikawatirkan akan terjadi erosi atau akan mendatangkan banjir bandang yang besar yang  akan mengancam ribuan jiwa yang bermukim pada lembahnya

Dilatari rasa kawatir dan tak terima dengan penebangan tersebut, Warga dari ketiga desa melakukan Demo dan memaksa pengusaha Robert Hutauruk(RH) untuk menghentikan aksinya.

Awalnya, demo hari pertama dihadiri oleh sekitar 30 an orang dan bermaksud meninjau Tempat Kejadian Perkara (TKP) lalu memasang Plang larangan percis pada pintu keluar atau jalan masuk alat berat pengangkut kayu Pinus.

Sempat terjadi insiden kecil karena seorang pria (Marga Tobing) yang tinggal disekitar TKP menolak pemasangan Plang tersebut dan membongkarnya.

"Ini tanah saya kenapa kalian tutup jalan ini, jadi turun harga diriku kalian buat," katanya dengan emosional.

Pendemo menjelaskan, bahwa pemasangan plang tersebut dimaksudkan sebagai peringatan kepada pekerja atau pengusaha  supaya alat berat pengangkut kayu tidak lewat atau beroperasi; bukan untuk menghalangi dirinya. Namun Bapak paroh baya itu tetap membongkar Plang larangan.

"Naung dijalo bayon ma ra batu ni sulang sian pengusaha on ateh," ujar Herdianto Sipahutar, warga Banuaji II. (Kayaknya sudah menerima upeti sikawan ini ya)
Selanjutnya, pendemo memindahkan plang percis di atas alat pengangkut kayu dan tepat pada lokasi penebangan

Tak lama berselang, Pengusaha RH hadir dilokasi karena pendemo meminta supaya ditelp oleh Tobing.
Di hadapan pendemo, awak media Pelita Batak, yang juga berasal dari wilayah tersebut memintai keterangan dari oknum pengusaha sebelum pengusaha Sawmill dari Sipoholon itu hendak beranjak tanpa pamit.

Lebih jauh, awak Pelita Batak menanyakan perihal ijin penebangan sambil merekam dengan video; dimana video itu telah dipublish pada media sosial, dan hingga jumat pagi, telah tayang atau ditonton oleh sekitar 52 ribu orang dan dishare ulang (red= dibagikan) oleh sekitar 300 orang netizen.

Hasil wawancara penulis dengan RH di Tempat Kejadian Perkara (TKP), ternyata  Hutauruk tidak atau belum dapat menunjukkan surat ijin penebangan.

"Surat ijin masih tinggal di rumah kepala desa, saya mau menjemputnya ke sana," ujarnya beralasan.

Hari kedua demo, massa yang ikut berdemo semakin bertambah dan mencapai ratusan orang, padahal menurut laporan salah seorang warga oknum Kades Banuaji I, Ruhut Sipahutar; melarang warganya berdemo dengan menyampaikan bahwa demo itu disebutnya berbau politis karena memang yang menggagas dan mengambil inisiatif untuk melakukan aksi itu, kebetulan merupakan  salah seorang pendukung Pasangan Calon Bupati Taput dan berbeda kubu dengan dukungan oknum Kades.

Pada demo kedua tersebut, hadir Anggota DPRD Taput, Dapot Hutabarat. SE dari Komisi C; Polsek Adiankoting dan dua anggota & Babinsa Adiankoting. 

Dari TKP,  Anggota Dewan menelpon Pihak Kehutanan Provinsi meminta agar kegiatan penebangan Pinus dihentikan sampai ada status hukum yang jelas dan karena Anggota Dewan masih akan mengadakan rapat komisi di DPR terkait persoalan perambahan hutan tersebut.
Anggota Dewan juga meminta pihak Kapolres/Kapolsek agar melakukan pengamanan di TKP dan supaya menjamin alat bukti perambahan hutan itu tetap berada di TKP, sesuai dengan permintaan warga pendemo.

Warga sepakat menghentikan Demo untuk sementara waktu dan meminta pihak terkait untuk melakukan tindakan tegas berupa sanksi  keras kepada para perusak lingkungan, dan demi tegaknya aturan hukum serta UU yang berlaku di NKRI.(*)
  BeritaTerkait
  • Warga Paratusan Parmonangan Protes Penebangan Pinus di Kawasan Hutan

    tahun lalu

    Taput (Pelita Batak) : Penebangan pohon pinus secara besar-besaran di kawasan hutan Paratusan Desa Manalu Dolok Kecamatan Parmonangan Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) menuai protes keras dari m

  • Dianggap Cemari DAS, Keberadaan Base Camp Penyadap Getah Pinus Dipersoalkan Warga Pollung

    tahun lalu

    Pollung,Humbahas(Pelita Batak): Air adalah sumber kehidupan. Karena air merupakan salah satu faktor pendukung kesehatan bagi setiap manusia dan  yang mengkonsumsinya. Lantaran itulah, pemerintah

  • Pinus Tak Bertuan Menumpuk di Siponjot

    2 tahun lalu

    Kayu pinus tak bertuan terlihat menumpuk di Jalan Sigaranggarang, Desa Siponjot Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Pinus bentuk gelondongan itu diduga dilansir dari beberapa titik hutan di kawasan Siponjot dan beberapa desa

  • Aduh, Ada Video Polantas Minta Uang ke Pengendara di Jalinsum

    2 tahun lalu

    Jalinsum (Pelita Batak) :Video berdurasi 1 menit 45 detik mengungkap aksi seorang polisi lalu lintas (polantas) meminta uang kepada pengendara yang diduga pelanggar lalu lintas, beredar di situs jejaring sosial Facebook dan Youtube.

  • Awas! Calo Tanah akan Berurusan dengan KPK

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :Menjadi harapan baru, konflik tanah kerap menjadi ajang pertumpahan darah. Namun kini, calo tanah yang kerap menjadi biang kisruh konflik di atas lahan akan berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebab, KPK telah memi

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb