• Home
  • News
  • Martabatisasi Memiliki Multi Tafsir yang Menyakitkan Bagi Warga Sumut
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 15 Mei 2018 16:15:00

Martabatisasi Memiliki Multi Tafsir yang Menyakitkan Bagi Warga Sumut

BAGIKAN:
ist|pelitabatak
Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur (Cagub-Cawagub) Sumatera Utara nomor urut satu Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah dan Pasangan Cagub - Cawagub nomor urut dua Djarot Syaiful Hidayat- Sihar Sitorus saat acara debat publik kedua yang digelar KPU
Medan (Pelita Batak):
Kata martabatisasi yang dipopularkan pasangan Edy Rahmayadi  dan Musa Rajekshah dalam visi misinya kini menjadi kata vital bagi masyarakat Sumatera Utara (Sumut). Baik sebagai guyonan maupun sebagai jargon dinilai memiliki multi tafsir yang sangat menyakitkan. 

Hal tersebut dipaparkan salah satu penggiat sastra Juhendri Chaniago dalam bincang-bincang bersama wartawan di salah satu restoran siap saji baru-baru ini. Penggiat sastra  ini mengatakan, kata yang masuk dalam visi misi pasangan Calon Gubernur (Cagub) Sumut nomor urut satu tersebut menunjukkan bahwa masyarakat belum memiliki martabat sehingga harus dimartabatkan. 

Karena dari segi penggunaan kata, martabat memiliki arti sebagai tingkat harkat kemanusian atau harga diri. Sehingga jika ditambah akhiran atau sufiks dalam proses penggunaan kata tersebut maka menyatakan proses menjadikan atau penambahan.

"Dengan kata lain menjadikan, atau jadi sebelumnya tidak punya martabat sehingga harus dimartabatkan. Sementara martabat sendiri tolak ukurnya banyak, apakah agama, budaya atau hukum. Sehingga martabatisasi menghasilkan multi tafsir yang sangat menyakitkan. Karena jika disebut martabatisasi maka sebelumnya masyarakat Sumut tidak punya martabat, sayangnya dengan tolak ukur yang beragam tidak jelas ukuran martabat itu apa," terang penggiat sastra, Juhendri, Senin (14/5/2018) malam.

Juhendri yang pernah menjabat sebagai ketua salah satu komunitas sastra di Medan mengatakan bahwa pada prinsipnya ada kelatahan dalam pengucapan istilah-istilah yang bertujuan politis. Yang pada akhirnya istilah itu sendiri yang menjadi boomerang dalam pengembangan politik itu sendiri. Di sisi lain tolak ukur bermartabat itu sangat banyak, contohnya dari ukuran agama, yang mana masing-masing orang berbeda, demikian juga budaya yang tolak ukurnya sangat berbeda-beda.

"Mungkin dari aspek hukum saja yang bisa kita tolerir. Mengingat saat ini banyak anggota dewan dan kepala daerah terjerat kasus korupsi. Karena para anggota dewan dan kepala daerah tersebut tidak bermartabat dari aspek hukum dan undang-undang. Sementara dari aspek agama dan budaya masyarakat tidak mungkin mau disebut tidak bermartabat, karena tolak ukurnya berbeda beda sesuai agama dan budaya yang di anutnya. Sehingga akan marah jika dikaitkan dengan martabatisasi, karena tidak bisa diukur," jelasnya.

Sekadar untuk diketahui, kata martabatisasi menjadi salah satu trending topic bagi sejumlah kalangan. Bukan hanya  masyarakat, Calon Gubernur (Cawagub) Sumut, Sihar Sitorus juga mempertanyakan muatan arti kata martabatisasi, koletif-simbiotik yang tertuang dalam visi misi pasangan Eramas tersebut. Pertanyaan dilontarkan oleh penggiat sepakbola tersebut kepada pasangan nomor urut satu yang selama ini mempopularkan Sumut Bermartabat sebagai jargon politiknya saat debat publik kedua yang dilaksanakan KPU.(bcl comm)
  BeritaTerkait
  • Alperklinas: Pembangunan Listrik PLTPB PT SOL di Taput Sarat Pelanggaran

    tahun lalu

    Bali (Pelita Batak) : Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (Alperklinas) sangat mendukung program pemerintah dalam pembangunan Listrik Nasional 35.000 Mega Watt, yang telah dica

  • Konferensi Nasional FKUB se-Indonesia, Sumut Jadi Contoh Kerukunan

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Kerukunan umat beragama merupakan faktor penting untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup di negeri ini.Karenanya dengan keberagaman yang dimiliki, harus bisa dikelola dengan ba

  • Bangun Rasa Kebersamaan dan Persaudaraan Melalui Perayaan Deepawali

    10 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Ribuan umat Hindu yang ada di Kota Medan menyaksikan  Perayaan Deepawali 5119 Kaliyuga  di lahan kosong bekas Taman Ria Jalan Gatot Subroto Medan, Sabtu (28/10) malam. M

  • Salahkah Ahok Dalam Kasus Surat Al Maidah 51

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : <br></br> Kisruh yang menggelayut penduduk DKI Jakarta jelang Pilkada, terlebih dengan munculnya kasus dugaan penghinaan terhadap ayat suci Alquran yang dituduhkan kepada calon Petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

  • Hebat ! Festival Budaya Batak di Kalbar Dihadiri Ribuan Orang

    2 tahun lalu

    Kalbar (Pelita Batak) : Merantau jauh dari kampung halaman, bukan berarti harus terlepas dari akar budaya dan kebersamaan dengan kerabat. Hal itu tampaknya yang ingin dibuktikan ribuan orang

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet