• Home
  • News
  • Marandus Sirait : Hutan Kemasyarakatan Memerlukan Kerjasama
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 23 Agustus 2016 21:35:00

Marandus Sirait : Hutan Kemasyarakatan Memerlukan Kerjasama

BAGIKAN:
Marandus Sirait
Pelita Batak :
Keberhasilan pengelolaan hutan kemasyarakatan memerlukan kerjasama dengan barbagai pihak sehingga tujuan akhirnya berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa dicapai.
 
Pendapat itu dikemukakan pengelola Taman Eden-100 (TE-100) Marandus Sirait49 tahun , hari ini, berkaitan dengan adanya keinginan pemerintah mewujudkan hutan kemasyarakatan untuk dikelola oleh masyarakat hukum adat (MHA).
 
TE-100 merupakan lahan seluas 45 hektar milik keluarga Marandus berada di dusun Lumbanrang, desa Sionggang Utara, kecamatan Lumbanjulu, kabupaten Tobasamosir, dikelola oleh keluarga Marandus sejak 1999 hingga berkembang menjadimenjadi obyek wisata hutan.
 
Lokasi itu berupa hamparan berbukit pada ketinggian 1.150 meter dpl (diatas permukaan laut). Letaknya di kaki pegunungan Bukit Barisan dan setempat dikenal sebagai gunung Pangulu-Bao (2.150 meter dpl). Jaraknya dari kota turis Parapat sekitar 17 km, dari Balige 40 km, dan dari bibir Danau Toba terdekat di desa desa Pangaloan sekitar 8 km.
 
Semula, terdapat puluhan jenis vegetasialam, sebagian sudah langka namun bernilai ekonomis tinggi yang dilestarikan dan dalam bahasa setempat antara lain dikenal sebagaisampinur bunga, sampinur tali, hoting, sialagundi, simartolu, api-api, ingul, halembang, attarasa danandalehat. Andalehat, jenis kayu keras dan sudah hampir punah, bisa tumbuh besar (garis tengah sampai 150 cm) dan karena itu lazim dijadikan bahan pembuatan solu (perahu). Selain itu adapiu-piu tanggule, buahnya manis, memiliki nilai budaya tinggi karena dijadikan bahan pembuatan tongkat tunggal panaluan (Tongkat raja dalam upacara adat Batak).
 
Awal Agustus lalu dalam suatu acara penghijauan di Hutaginjang, Marandus menyerahkan bibitnya kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, yang kemudian meminta pihak Kehutanan membantu pembudidayaannya di kawasan Danau Toba.
 
Keluarga Marandus memperkaya vegetasi lokal itu dengan ratusan jenis pohon berbuah (sebagai dasar penamaan TE-100) termasukandaliman. Andaliman adalah sejenis rempah hutan yang sejauh ini diketahui hanya tumbuh di kawasan Toba, terkenal --bersama kincung-- sebagai penyedap kuliner arsik, ikan mas yang dimasak bersama berbagai jenis sayur (terong, kacang panjang). 
 
Para perantau asal Toba mengeringkan dan menggiling buah andaliman yang mirip buah merica menjadi tepung sebagai oleh-oleh yang khas. Selain ada pohon-pohonan, juga ada sampuran (air terjun alam pegunungan). Dan berkat kerja keras dan ketekunan, maka TE-100 berkembang menjadi salah satu obyek wisata alam bagi para pelancong Danau Toba.
 
Mengelola hutan, menurut penerima penghargaan Kalpataru itu, sangat tidak mudah. Diperlukan setidaknya dua syarat untuk bisa berhasil, yakni komitmen tinggi dan juga kerjasama. Komitmen meliputi tekad bulat melestarikan hutan yang masih ada, apa pun "harga" yang harus dibayar. Sering, idealisme untuk bersahabat dengan dan melestarikan hutan pada suatu titik melemah bersmaan dengan kelelahan atau berbenturan dengan kepentingan lain seperti ekonomi.
 
"Kadang kita bisa juga kehabisan napas, tetapi tetap menolak uluran tangan teman karena tidak sejalan dengan tujuan pelestarian. Lalu kita disebut 'gila' dan hal semacam itu sudah biasa terjadi," kata Marandus.   
 
Pengelolaan hutan oleh MHA dan terlebih-lebih oleh perseorangan pasti membutuhkan kerjasama dengan pihak lain --pemerintah, swasta-- sepanjang tidak mencederai idealisme dan tujuan pelestarian hutan. TE-100 sendiri pernah menjalin kerjasama dengan Dinas Pariwisata Sumatera Utara dan Dinas Pariwisata Tobasamosir.
 
Kemudian dengan Otorita Asahan, industri peleburan aluminium Inalum dan industri pulp TPL (PT Toba Pulp Lestari) untuk membantu pengadaan bibit. TPL secara khusus membangunkan pembibitan standar dan jugasopo (bangunan) tempat bertemu para pengunjung dan pecinta alam. Dengan demikiankerjasama berfungsi meningkatkan kapasitas (capacity building) dan pendampingan. Berkat kerjasama itu pula maka TE-100 mampu membagi-bagikan secara cuma-cuma sekitar 20 jenis bibit pohon --termasuk pohon langka--  kepada ribuan penerima.
 
Dalam kaitan hutan kemasyarakatan atau hutan adat, keberadaan MHA diakui sepanjang menurut kenyataannya memang masih ada. Keberadaan MHA diakui jika memenuhi sejumlah unsur, antara lain: masyarakatnya masih dalam bentuk paguyuban (rechtsgemeenschap), ada kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adatnya, ada wilayah hukum adat yang jelas, ada pranata dan perangkat hukum khususnya peradilan adat yang masih ditaati, serta masih mengadakan pemungutan hasil hutan di wilayah hutan sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Satu syarat lainnya, dikukuhkan berdasarkan Peraturan Daerah.
 
MHA yang diakui berhak melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, serta melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang. MHA juga berhak mendapatkan pemberdayaan untukmeningkatkan kesejahteraannya. Pengelolaan hutan adat oleh MHA tidak mengubah fungsi hutan itu sendiri. Jika hutan adat berada di kawasan hutan produksi (HP) maka fungsinya tetap sebagai hutan produksi. Demikian juga halnya bila berada di kawasan hutan lindung (HL) dan konservasi maka tidak berubah, tetap berfungsi lindung dan konservasi.     
 
Pelibatan masyarakat menjadi mitra-usaha di bidang pengelolaan hutan pada era kabinet kerja Presiden Joko Widodo 2015 - 1019, dirumuskan dalam lima bentuk HTR (hutan tanaman rakyat), HKm (hutan kemasyarakatan), HD (hutan desa), HA (hutan adat) dan HR (hutan rakyat) dan perwujudannya sedang berproses. Target pencapaiannya 12,7 juta hektar melalui pemberdayaan 2.500 komunitas atau 22 ribu orang.
 
Bila saat pengelolaan hutan oleh masyarakat itu sudah tiba, Marandus berharap para pemangku kepentingan terutama pemerintah lokal dan korporasibersedia membantu pemberdayaan MHA --yang umumnya tidak punya cukup modal--melalui berbagai konsep kerjasama. Ini penting agar tujuan mulia pemberian peran kepada masyarakat ikut mengelola hutan secara lestari sekaligus meningkatkan kesejahterannya, lebih mudah tercapai. Ia mengingatkan, tujuan pengelolaan sumber daya alam(SDA) hutan oleh pihak mana pun sebenarnya sama, yakni untuk menghasilkan sebesar-besar manfaat bagi masyarakat. Pengelolaan hutan melalui korporasi juga tidak terlepas dari tujuan tersebut melalui penyediaan lapangan kerja, lapangan usaha (kemitraan bisnis), penyisihan dana CSR, serta pelunasan kewajiban terhadap negara. "Kini saatnya semua elemen bangsa bersinergi, bukan sebaliknya," kata pemusik yang pernah lama berkiprah di gereja ini. (TAp) 
  BeritaTerkait
  • Sumut Terima Helikopter SAR, Erry Ingatkan Daerah Waspada Bencana

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) menerima satu unit helikopter jenis AW139 buatan Italia tahun 2016 dari Badan SAR Nasional

  • Pdt Basoeki Probowinoto Dinilai Pantas Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

    2 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2016, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kerjasama dengan Yayasan Komunikasi Indonesia (Yakomi) menggelar simposium "Me

  • Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) Merilis Kegiatan Sepanjang Tahun 2016

    2 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Detik-detik pergantian waktu, Tahun 2016 tinggal hitungan hari, sebagai organisasi kemasyarakatan Orang Batak, Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) merilis kegiatan-kegiatan y

  • Ini Daftar Susunan Pejabat Pemprov Sumut Sejak 2017

    2 tahun lalu

    Nama-nama pejabat eselon II yang dikukuhkan dan diangkat sesuai dengan keputusan Gubernur Sumut Nomor 821.23/411/2017 dan Keputusan Gubernur Sumut Nomor 821.23/412/2017 yakni:

  • Pembukaan Jambore Kesiapsiagaan Bencana

    9 bulan lalu

    Deli Serdang (Pelita Batak):Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi mengungkapkan Sumut memiliki risiko tinggi untuk terpapar dan terkena bencana. Selama kurun waktu 2015-2016 telah terjadi

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet