• Home
  • News
  • Kronologi Tersendiri Penganiayaan Sebastian Hutabarat di TKP, Tempat Diskusi dan Minum Kopi
Selasa, 22 Agustus 2017 16:14:00

Kronologi Tersendiri Penganiayaan Sebastian Hutabarat di TKP, Tempat Diskusi dan Minum Kopi

BAGIKAN:
Ist
Sebastian Hutabarat
08:15-08:20 Sepeninggal JM, SH ditarik kembali ke tempat diskusi dan minum kopi mereka sebelumnya. JS dan anggotanya mulai memaki-maki dan memukuli SH. Berkali kali Jautir menyebut siapa dirinya, dan apa kepanjangan namanya. JS meluapkan amarahnya terus dengan sesekali anggotanya memukul, atau menendang. SH hanya bisa diam, sesekali menunduk di meja, atau menyandarkan kepala ke tembok. Mulut SH terasa asin dengan bibir yang mulai luka berdarah. Sebagian menetes di meja, di lantai dan di kaos. Kejadian ini ternyata berlangsung cukup lama.

08:20-08:25 Thomas Heinle (suami Ratnauli Gultom) dan Ibunya (orangtua perempuan) Kepala Desa datang. Mereka berusaha melembutkan hati JS. RG datang menyusul ke lokasi penggalian tambang batu sekitar 5-10 menit kemudian. JS masih ngotot marah dan tidak mau melepas SH. 
                  
08:25-08:30 SH minta izin ke toilet untuk buang air kecil. Saat SH pamit ke Toilet, SH mengingat sudah ada TH dan Inang, Ibunya kepala Desa di tempat tersebut. JS berteriak ke anak buahnya "jaga itu jaga itu, nanti dia lari". Saat di toilet, SH mencoba memotret wajah sendiri yang rasanya sudah banyak luka. Selain buang air kecil, SH juga cuci muka.

08:30-09:25 Keluar dari toilet, SH pun berjalan pelan-pelan menuju tempat Tommy Nainggolan (TN), anggota JS yang duduk di sepeda motor. (Tommy Nainggolan mengaku sebagai LSM juga, teman ngobrol dengan SH di meja). Saat itu TN duduk di sepeda motor, teman-temannya berada di arah Danau Toba. Lalu SH berupaya minta maaf, sudah membuat mereka marah. Yang lain diam, tapi TN yang saat diskusi cukup bicara lembut, tiba-tiba turun dari sepeda motor mulai memukul dan menendang, seraya berteriak teriak. SH menunduk dan kembali duduk setelah dipaksa untuk duduk oleh JS dkk, SH sudah berupaya untuk meninggalkan lokasi tambang akan tetapi JS dkk memaksa untuk tetap di tempat, dengan memaksa duduk ditempat sambil memukuli wajah SH.

JS kemudian teriak-teriak meluapkan kemarahannya. JS mengatakan bahwa SH punya tambang batu di Balige. JS juga mengatakan dari dulu orang Balige gak suka orang Samosir maju.

Dalam kondisi SH yang masih terluka, JS berteriak lagi dan mendekatkan wajahnya ke SH sambil teriak kuat: "Ini yang lama ditunggu-tunggu. LSM, wartawan, dan yang ribut di internet. Saya yang bernama Jautir Simbolon, yang pernah di penjara." JS mengajak duel dan SH hanya diam. Lalu "Plak!!!" Tangan kanan JS mukul dengan kuat ke wajah SH. Darah SH keluar lagi. SH hanya bisa diam duduk dan berdoa dalam hati. SH hanya menjawab pertanyaan seadanya ketika ditanya JS. JS tetap provokasi massa. Anggotanya ada yang berlari lalu menendang dan memukul SH. 

Berkali kali dengan suara lantang JS mengatakan bahwasanya SH mempunyai tambang batu di Balige. Tapi saat JS menanyakan, SH menjawab tidak ada.

TH dan teman lainnya hanya bisa melihat kejadian yang menimpa SH. Sepertinya tidak ada yang berani menghalangi JS, kecuali Inang kepala Desa dan RG yang dengan tegas mengajak "sekarang kita mau apa?"

Dengan teriak JS bilang kalau SH tidak akan dilepas. JS mengatakan: "Panggil temanmu kemari. Mana rekamannya." 
JS berkali kali minta SH memanggil JM, agar dapat rekaman foto dari HP JM. SH mencoba menelpon, pertama gak masuk, lalu JM menelpon balik SH sekitar pukul 09.00 WIB. 
Ditelpon, JM mengatakan tidak akan datang ke lokasi tambang batu dan mengusulkan agar fair di homestay RG atau di rumah Kepala Desa saja.

09:25-09:30 SH dan JS dkk bergerak ke rumah Kepala Desa. Disana sudah ada JM.

Kondisi pada Saat Sudah di Rumah Kepala Desa (SH dan JM serta JS dkk hadir disana)

09:30-12:50 (Kondisi rumah Kepala Desa ramai dihadiri massa JS. Dalam setiap pembicaraan JS selalu mendominasi dan menceritakan sisi emosi versinya yang hampir semua sudah dibelokkan.

Di antara hadirin ada Max Donal Situmorang (MDS) yang sejak dulu hanya namanya saja dikenal oleh SH sebagai tokoh dari Samosir yang vokal. Sesekali MDS bicara menenangkan suasana, mengupayakan damai.

Berkali-kali JS berkata bahwa dia (JS) bertanggung jawab dengan semua perkataannya dan apa resiko dari semua yang dilakukannya. Beberapa orang lain dari arah kerumunan berkata bahwa SH dan JM sudah beruntung bisa keluar dalam kondisi masih hidup.

12:50-14:00 Kepala Desa datang pukul 12:50 WIB menggunakan Mobil Hardtop. Kepala Desa memulai pembicaraan dengan tenang, dan mencoba mengenalkan keberadaan SH yang sudah beberapa kali ke Desa Silimalombu dan juga JM, dimana SH dan JM merupakan bagian dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT). Lalu saat hendak mempersilahkan kedua belah pihak bergantian berbicara, JS meminta agar diberi kesempatan berbicara terlebih dahulu, menceritakan kronologis versinya yang lagi lagi hanya menyalahkan SH dan JM.

Kepala Desa ikut menyalahkan kami yang masuk tanpa permisi ke lokasi tambang. Berkali kali ada upaya damai yang ditawarkan Kepala Desa tapi harus tuntas dengan ditandatangan di atas meterai oleh kedua belah pihak.
JS berkali-kali pula meminta agar JM mengambil Hpnya dan kemudian memberikan kepada Kepala Desa untuk ditahan. 
Kalau kemudian Damai, maka HP dikembalikan setelah dihapus, tetapi kalau ingin lanjut lapor ke Polisi, JS mengakui siap, karena sudah pernah dipenjara dan meminta agar HP ditahan oleh Kepala Desa. JS juga mengatakan bahwa beliaulah yang dulunya mengatakan isu ada Bom ketika sidang paripurna DPRD Toba Samosir, ketika itu Samosir belum dimekarkan.

SH sempat menyampaikan permohonan maaf JS dkk apabila perkataannya telah membuat tersinggung JS dkk. Dan SH melanjutkan dengan bertanya: "tetapi apakah perbuatan main hakim sendiri dibenarkan?" lalu dari arah kerumunan ada yang menjawab bahwa itu dibenarkan. Untunglah kalau kalian masih hidup", demikian dari arah kerumunan mengatakan. SH kemudian melanjutkan "Biarlah kita semua belajar dari peristiwa ini". Lalu JS dengan nada tinggi berkata "mau dilanjut ke hukum juga oke, mana tau mau sampai jual pom bensin untuk mengurus permasalahan ini".

Soal permintaan menahan HP JM, JM tidak menyetujui kalau HPnya disita karena data pribadi ada disana, tapi kalau hanya ambil foto-foto selama kejadian dan dihapus dihadapan JS dkk, tidak ada masalah.

Selanjutnya berhubung kejadian ini telah diketahui oleh Ketua Umum YPDT, Maruap Siahaan (MS), maka JM dan SH mengatakan tidak mau ambil keputusan sendiri. 
Pada kesempatan itu RG menyampaikan pendapat bahwa selain meminta pengakuan dari SH dan JM, ada baiknya untuk menyelesaikan konflik didengarkan juga pengakuan dari JS dkk. Namun pada saat itu, JS tidak menanggapi selain bahwa SH dan JM bersalah.  

Berhubung permasalahan semakin pelik dan tekanan massa JS terus menguat, JM meminta agar berunding dulu antara JM, SH, dan RG. Kepala Desa memberikan kesempatan ketiganya masuk ke dalam rumah Kades dan berdiskusi. Ada upaya damai yang didorong tetapi sepertinya damai dimaksud lebih kepada bentuk intimidasi agar kasus ini selesai dan tidak berlanjut. Selain itu dalam diskusi bertiga dibicarakan juga keberlanjutan masalah SH dan JM dari berbagai aspek. Usai berdiskusi bertiga, JM dan SH meminta RG untuk memanggil Kepala Desa. Lalu RG memanggil Kepala Desa ikut berdiskusi

Saat berdiskusi berempat, Kepala Desa berkata ya, harus sama-sama meminta maaf dan harus ada pengakuan dari masing-masing pihak termasuk yang melakukan pemukulan. Sebab sebelumnya pihak JS dkk tak pernah keluar kata-kata dan sikap bahwa mereka ikut salah, termasuk mengakui siapa saja yang melakukan pemukulan. Hanya ada satu orang yang ketika itu mengakui telah melakukan pemukulan dengan ciri-ciri badan kurus dan tidak terlalu tinggi.

Akhirnya Kepala Desa keluar lagi menemui JS dkk untuk menjelaskan bentuk perdamaian. Sekitar 5 - 10 menit Kepala Desa berbicara dengan JS dkk, Polisi tiba di lokasi dan juga ada dari Babinsa TNI (SH dan JM didalam rumah bersama Ibunya Kepala Desa). 

14:00-15:00 Setelah Polisi tiba di lokasi dan duduk diantara kerumunan massa, Kepala Desa mencoba menjelaskan versinya bahwa pertemuan sudah hampir selesai dan "sepakat damai" dan kemudian menyerahkan pertemuan di pimpin oleh Polisi. Polisi yang hadir berasal dari Polsek Onan Runggu dipimpin langsung oleh Kapolsek, Kanit Reskrim, dan beberapa orang anggotanya. 

Lalu Pihak Polsek Onan Runggu yang dipandu oleh Kanit Reskrim marga Panjaitan berusaha menengahi dan menggali informasi dari kedua belah pihak. Lagi-lagi JS mendapat kesempatan berbicara dan menjelaskan versinya. Setiap SH dan JM diminta bicara hampir selalu juga dipotong agar sesuai versinya, tanpa mau mengakui kesalahan maupun tindakan yang dilakukannya. Upaya damaipun mulai berobah. Dan Kepala Desa mengatakan "kenapa setelah Polisi datang jadi berobah?"

RG mencoba menjelaskan, karena dari pihak JS dkk tidak pernah ada kesadaran bahwa mereka salah dan mengakui tindakannya.  Kemudian SH mengatakan "apakah ada yang mau mengakui bahwa telah terjadi pemukulan?. Disini ada Bapak Polisi, silahkan dicatat Bapak Polisi, siapa diantara mereka yang telah melakukan pemukulan terhadap saya (SH) dan JM."

Kanit Reskrim Panjaitan, meminta anak buahnya mencatat, tetapi tidak satupun dari massa mengakui perbuatannya termasuk JS.  Dan RG yang kemudian bisa menghentikan JS yang selalu mendominasi dan memotong pembicaraan.

Melihat situasi tersebut JM menyampaikan  bahwa sepertinya tidak ada pengakuan, dan apabila pertemuan ini diteruskan tidak akan maksimal dan JM mengakui dalam kondisi seperti ini (baca: tertekan) tidak akan menghasilkan keputusan yang baik bagi semua pihak. 

Lalu Kapolsek Onan Runggu meminta waktu berdiskusi sebentar dengan Kanit Reskrim yang memimpin diskusi.
Tidak berapa lama, Satu mobil Kepolisian kembali tiba di lokasi dan memperkenalkan diri dari Kepolisian Sektor Simanindo yang dipimpin langsung oleh Kapolseknya dan beberapa orang anggota.

Setelahnya pihak Polisi Sektor Onan Runggu kembali ke kerumunan massa bersama dengan Kapolsek Simanindo.
Kanit Reskrim Onan Runggu lalu memutuskan bahwa mempertimbangkan beberapa aspek, maka sebaiknya SH dan JM dibawa ke kantor polisi. Lalu, Polisi meminta SH dan JM masuk ke mobil merah yang mereka bawa. SH duduk di belakang Pak Kanit Reskrim yang mengemudikan mobil, dan JM di belakang Pak Kapolsek Onan Runggu.

Sebelum pergi, JS menghampiri Kanit dan mengatakan "Pak Kanit, Handpbone JM supaya disita, berkali kali JS mengatakan jangan lupa,jangan lupa."

Setelah jalan, rombongan mampir sejenak di tempat RG untuk mengemasi barang, dan sempat mengisi perut yang sejak pagi tidak masuk apapun, SH makan buah pepaya dan minum  sedangkan JM sempat makan sedikit. Selanjutnya bersama petugas Kepolisian, JM dan SH berangkat ke Polres Samosir dan mobil yang digunakan JM dan SH sebelumnya dibawa oleh anggota polisi lainnya. 

Di perjalanan SH dan JM beberapa kali buang air kecil, dan SH meminta JM untuk memotret SH dalam kondisi baju berdarah.

18:00-19:00 Tiba di Polres Samosir, berbincang-bincang dengan petugas piket, dan JM kembali memotret kondisi SH dan juga baju yang bernoda darah.

19:00-19:50 Visum di RSU Pangururan. Dalam pemeriksaan SH divisum, dan dokter mengatakan bahwa ada luka satu di bibir kanan atas 1 cm x 1 mm. (esok harinya atau rabu, SH mencoba cek ternyata ada tiga titik yang luka). Di sisi lain, saat JM di periksa, Dokter menerangkan kepada asistennya yang sekaligus mencatat bahwa kondisi JM: Pelipis kanan antara mata kanan dan dahi kanan bengkak, mata kiri bermerah, bibir bagian bawah satu memar (biru kehitaman) dan satu lagi pecah, bibir bagian atas memar dan pecah, tulang bahu kiri bengkak dan ngilu, di bawah mata jempol bagian kiri bawah dan kanan bawah terluka. JM hanya mengingat beberapa ukuran bengkak atau memar sebagaimana disampaikan oleh dokter.

19:50-20:00 Perjalanan pulang dari RSU Pangururan ke Polres Samosir

20:00-23:15 SH membuat Laporan Polisi (LP) mewakili kedua korban, sebagaimana saran petugas dan pada saat yang bersamaan JM langsung di BAP sebagai saksi korban oleh Bripda (Pol) Roden Turnip di salah satu ruangan di bagian dalam selama 3 jam dengan 3 kali koreksi terhadap BAP. SH menyelesaikan LP sekitar 1 jam dan berlanjut ke BAP sebagai saksi korban.

21:00-23:45 SH di BAP Bapak Polisi Aritonang.

22:00 Pada saat BAP, Tety Naibaho (TN), wartawan online Top Metro menghubungi SH melalui telpon, menanyakan kebenaran berita pemukulan. TN langsung minta diijinkan datang bertemu di Kantor Polisi. Setelah tiba, saat di BAP, TN mengambil foto dan itulah foto pertama kejadian di kantor polisi di unggah ke Media Sosial. Teman-teman yang mengenal SH dalam berita tersebut langsung banyak memberi komentar. Selanjutnya SH khawatir, kalau istri nanti mendengar dari orang lain, maka SH memberitahu keadaannya kepada istri dan meminta menopang dalam Doa. Saat itu BAP masih berlangsung.

23:15-23:45 Seusai di BAP, JM mendatangi ruangan SH di BAP, di tempat tersebut JM berkenalan dengan TN dan juga salah satu wartawan lainnya Abidan Simbolon (AS) dari media online hetanews. Sambil menunggu SH selesai di BAP, TN mewawancarai JM kejadian yang telah dialami.

23:45-00:15 Pukul 23:45, SH selesai di BAP, kepolisian lalu berkoordinasi untuk mengawal JM dan SH keluar dari Pulo Samosir

00:15-01:15 (Hari Rabu, 16 Agustus 2017), SH dan JM keluar dari pulo Samosir dan di kawal sampai keluar dari Tele. Sekitar 15 menit kami keluar dari kantor Polisi, di jalan SH membaca berita yang ditulis oleh TN di media online Top Metro dan kemudian menjadi viral, banyak sekali dibagikan lewat media sosial.

03:30 Kami tiba di Balige, Kabupaten Tobasa.

Pada pagi hari Rabu sampai malam, SH dan JM menerima begitu banyak telepon dari keluarga, teman dan terutama wartawan. 

Catatan: Polres Samosir seharusnya menerapkan Pasal 170 KUHP tindak pidana Pengeroyokan, Pasal 333 KUHP tindak pidana penculikan, Pasal 298 tentang Pencabulan or Pelecehan seksual, JS dkk memeloroti celana SH,  kemudian mengucapkan kata kata yg tidak Pantas.(ril)


Hingga rilis ini diterbitkan, Jautir Simbolon telah membantah melakukan penganiayaan melalui media massa. Dia malah menyebutkan luka korban karena terjatuh saat mengejar fery.
  BeritaTerkait
  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (5)

    satu bulan lalu

    08:09-08.15 JS memanggil SH dan JM untuk jangan pergi dulu. Ketika SH dan JM menoleh ke belakang, anak buah JS berlari ke arah SH dan mulai menarik SH. Melihat situasi tersebut, JM berusaha memisahkan

  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (2)

    satu bulan lalu

    Medan(Pelita Batak): 06:12 Masih ambil beberapa foto pemandangan di depan rumah dan home stay RG di Silimalombu Samosir. SH melihat pantai yang muncul karena air Danau Toba yang menyurut. Dalam hati S

  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (3)

    satu bulan lalu

    07:35-07.40 Tidak berpikir lama, SH dan JM kemudian memenuhi permintaan seseorang tersebut sembari menunjukkan keberadaan si Tokke yang dimaksud, yang ternyata sedang bertelpon dengan seseorang yang t

  • Menelusuri Liku-liku Jalan di Bonapasogit dan Merajut Semangat Leluhur

    5 bulan lalu

    Pulang ke kampung saya, Sigolang di lereng pebukitan Bukit Barisan di deretan Tapanuli Selatan sangat berkesan. Keberangkatan kali ini, diawali dihari Kamis, tanggal 27 April 2017 dengan bangun san

  • YPDT Desak Kasus yang Menimpa Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat Ditindak Tegas Pelakunya

    satu bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :YPDT menghendaki kasus yang menimpa Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat ditindak tegas pelakunya secara hukum. Ini adalah tindakan penganiayaan, pengeroyokan, dan pelangga

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online